Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
20. Terjebak Kekacauan


__ADS_3

Enam hari kemudian mereka sudah memasuki wliayah lingkar luar kotaraja Estrinx. Wilayah pusat dalam kotaraja sudah tampak benar-benar lumpuh sekarang. Gerbang lingkar luar sudah ditutup dari semua yang masuk maupun keluar.


Sisa-sisa penyerangan kota masih terlihat jelas dimana-mana. Banyak sekali bekas kereta yang terbakar dan anak panah menancap diseluruh bagiannya, terbengkalai begitu saja disisi jalan.


Mereka sudah memilih jalur perjalanan memutar sejauh mungkin dari tembok benteng kota tersebut. Namun meski begitu tembok tersebut masih terlihat kokoh menjulang.


"Berapa lama mereka membangun tembok seperti itu?" Tanya Nata yang tampak kagum melihat tembok besar yang mengelilingi kotaraja Estrinx tersebut.


"Konon katanya hampir lima puluh tahun" jawab Lucia kemudian.


"Dan butuh berapa pekerja?"


"Tiga ratus orang"


"Berapa banyak mereka mengeluarkan uang untuk membayar upah pekerjanya?" sela Aksa yang terdengar tidak seperti sedang bertanya.


"Mereka menggunakan budak. Jadi tidak perlu memikirkan tentang upah" kali ini Huebert yang berucap.


"Oh benar juga. Lebih efisien menggunakan budak" ujar Aksa kemudian.


"Budak? Oh, jadi disini juga ada budak" Nata terlihat tertarik.


"Menurut yang ada di gulungan Couran, mereka dulunya adalah tawanan perang atau orang-orang yang memiliki terlalu banyak hutang" jelas Aksa kemudian.


-


Dan setelah setengah hari berjalan menyusuri jalur tersebut ke arah timur laut, daerah yang semula didominasi padang rumput dan sungai itu kini mulai berubah menjadi perbukitan menanjak. Suhu pun semakin terasa dingin dan lembab.


Sudah dua kali hujan ringan turun dalam sesiang ini. Meninggalkan kabut tipis di udara. Masih tiga hari lagi untuk mereka sampai ke desa Dyms.


-


Dan saat mereka tiba di sebuah jalan lereng bukit yang memiliki jurang terjal di sisi kanannya, mereka terhenti karena mendapati delapan pria sedang menghadang dan mencoba membuka paksa sebuah kereta kuda bangsawan yang menutupi jalanan didepan.


"Sepertinya mereka bandit" ujar Jean mengamati. Tampak seorang gadis berhasil ditarik keluar secara paksa dari dalam kereta kuda.

__ADS_1


"Mereka akan mencelakai gadis itu" ucap Lucia yang tanpa pikir panjang segera berlari menuju gerombolan pria tersebut.


"Asli, gadis naif itu akan membawa kita dalam bencana" ucap Aksa.


"Tunggu tuan putri!" Teriak Jean yang terlihat sama jengkelnya dengan Aksa menghadapi sikap Lucia itu, seraya mengejarnya.


Melihat ada rombongan yang datang, terlebih karena seorang gadis bangsawa dan ksatria tampak berlari menghampiri mereka, para bandit tadi mulai menyiapan senjata dan berlari menghadang.


Melihat hal tersebut, Huebert dan Loujze juga langsung ikut berlari menuju para bandit tersebut. Sedang Deuxter mulai mengangkat busur dan panahnya siap membidik kedepan.


Aksa dan Nata menatap aksi mereka bersama Lily diatas kereta. Yang meski tampaknya hanya duduk diam disebelah Nata, namun gadis kelinci itu sudah bersiap-siap melakukan sesuatu bila hal buruk terjadi. Sedang Val masih diam tak beranjak dari atas kudanya.


Baru kali ini Aksa dan Nata melihat Jean beraksi. Dan melihat hal tersebut membuat mereka merasa ngeri membayangkan bila Jean benar-benar menyerang mereka. Ksatria wanita itu melawan 3 bandit berpedang seorang diri.


Terlihat Huebert tampak unggul menghadapi seorang bandit yang memiliki perawakan bongsor seperti seekor beruang. Sedang setelah menjatuhkan 2 bandit dengan tembakan panahnya yang tepat menyasar pergelangan kaki dan lengan, Deuxter mulai mengalihkan bidikannya ke bandit yang lain. Sementara Loujze tampak mudah menghadapi 2 sisanya.


Tak dapat menandingi kemampuan Jean, Huebert, Deuxter, dan Loujze, delapan bandit tersebut akhirnya kabur melarikan diri dengan kuda-kuda mereka kedalam hutan dilereng bukit.


"Wah, itu tadi pasti skill Sword Art dan Martial Art kan?" Tanya Aksa ke dirinya sendiri yang memecah kesunyian yang mereka buat sebelumnya.


-


"Kau tak apa-apa?" Tanya Lucia sembari membantu gadis tadi bangkit berdiri. "Lugwin?" Tampak Lucia terkejut mengenal gadis yang baru saja ia tolong itu.


"Lucia?" Gadis itu juga sama terkejutnya mendapati Lucia dihadapannya.


"Putri Lugwin" kali ini Jean yang tampak terkejut melihat gadis Narva dengan jubah lusuh yang baru saja ia selamatkan itu.


"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Lucia kemudian.


"Mereka adalah para prajurit bayaran" jawab Lugwin kemudian seraya membenahi jubah dan mengangkat tudungnya kembali menutupi kepala.


"Siapa yang menyewa mereka dan apa tujuannya menghadang mu seperti ini?"


"Entah, aku sudah tidak tau lagi siapa yang menyewa mereka. Kerajaan ini sudah mulai kacau"

__ADS_1


"Maksudmu?" Tampak Lucia terlihat lebih bingung.


-


"Jadi setelah sang paduka raja dimakamkan, Dux Laurant dan Dux Vincent mulai melakukan agresi memperebutkan tahta. Mereka saling menuduh satu sama lain sebagai pembunuh sang raja. Dan dengan bantuan beberapa bangsawan lain mereka mulai menguasai kota dan desa di luar kotaraja" Nampak Lugwin mulai bercerita saat mereka sudah dalam kereta menuju desa terdekat.


"Apa raja tidak memilik putra mahkota?" Tanya Nata yang sedikit mengejutkan Lucia dan Lugwin.


"Seluruh keluarga inti Estros wafat disaat yang bersamaan" jawab Lugwin dengan nada getir.


"Jadi benar kabar burung mereka di racun saat makan malam?" Lucia tampak memastikan.


Sedang Lugwin hanya mengangguk kecil seraya menyembunyikan air matanya. Perawakan gadis ini lebih terlihat seperti seorang putri bangsawan dibanding Lucia. Parasnya cantik dengan rambut pirang bergelombang yang serasi dengan mata biru dan bibirnya yang bergincu merah. Pakaiannya jauh lebih feminim dan layak dibanding yang biasa dipakai Lucia.


"Lalu bukankah seharusnya ada sanak saudara raja yang akan mengambil tahta untuk sementara?" Nata bertanya lagi.


"Perjamuan makan itu adalah perjamuan keluarga besar, itu adalah perjamuan tradisi. Semua sanak keluarga kerajaan datang untuk menghadirinya"


"Astaga!" Teriak Lucia yang seolah baru saja memahami sesuatu. "Bagaimana keadaan keluargamu Lug?"


Lugwin yang sedari tadi berusa untuk tampak tegar akhirnya mulai melelehkan air mata. "hanya aku yang tersisa" jawabnya dalam balutan tangis.


Lucia segera memeluk gadis itu.


"Andai saja aku tidak menyelinap keluar dari perjamuan waktu itu..."


"Kau tidak akan bisa hidup sampai sekarang" ucap Lucia menyela.


"Aku tidak akan sendiri sebatang kara seperti sekarang" tambah Lugwin dengan lirih dan menyesakan.


"Siapa sebenarnya gadis itu Jean?" Bisik Nata bertanya pada Jean.


"Lugwin adalah keponakan dari raja Estrinx" jelas Jean kemudian.


-

__ADS_1


__ADS_2