
Dua hari setelah pelatihan tersebut, beberapa Yllgarian datang untuk menemui Nata dan Lucia di kota Tengah.
Mereka hanya datang berempat. Vurg si burung hantu, bersama dengan tiga ketua regu prajurit Yllgarian. Corvette si kelelawar, Evora si burung hantu, dan Jaguar si macan kumbang.
"Jadi ada keperluan apa hingga anda sekalian ingin bertemu kami?" Lucia bertanya setelah mereka sudah berada di gedung pertemuan.
"Setelah kami mendengar tentang tujuan yang tuan Nata sampaikan kemarin dari para ketua regu, tentang latar belakang kita bukanlah yang menentukan masa depan kita" Vurg menjawab. "Kami sempat mengadakan diskusikan setelahnya. Maka dari itu, mulai hari ini kami akan benar-benar mengabungkan diri dengan wilayah ini" jelasnya kemudian.
Terlihat Lucia dan Nata tidak mengerti apa yang dimaksudkan Yllgarian tersebut.
"Meski pun selama ini kami sudah bagian dari parlemen kalian, namun kami masih tetap menutup diri kepada kebudayaan wilayah ini" Vurg kembali melanjutkan. "Kami menutup diri karena tidak ingin berurusan dengan kebudayaan kaum manusia di dunia ini. Namun setelah kurang lebuh setahun kami disini, kami merasa kebudayaan wilayah ini bukanlah kebudayaan kaum manusia pada umumnya" jedahnya kemudian.
"Dan setelah memikirkannya dengan baik dan teliti, kami merasa harus membiarkan kebudayaan baik ini dimiliki juga oleh anak cucu kami" Vurg melanjutkan. "Karenanya kami akan mulai membuka diri. Membiarkan bila ada warga kami yang ingin tinggal diluar hutan, dan bekerja di bidang selain yang sekarang kami punya. Dan juga, kami akan menggabungkan prajurit kami menjadi satu kesatuan dengan prajurit wilayah ini" tutupnya kemudian.
Mendengar hal tersebut membuat wajah Nata dan Lucia segera berubah cerah.
"Kami sangat sanang sekali, tuan Vurg. Kami juga sangat ingin belajar dan menyerap kebudayaan Yllgarian untuk membuat kebudayaan yang lebih baik kedepannya" Nata segera berucap.
"Oleh karena itu, ijinkan kami juga ikut membantu dalam mempertahankan wilayah ini. Bila anda memerlukan prajurit untuk melakukan penjagaan ataupun untuk melakukan penyerangan, maka kalian bisa memerintah kami" Vurg menambahi.
"Saya mengerti, tuan Vurg. Ini merupakan tambahan kekuatan yang benar-benar membantu disaat-saat seperti ini" Nata berucap. "Setelah ini kita akan bicarakan secara lebih lanjut mengenai penempatan pasukan Yllgarian dalam milier. Juga pemberian tanah untuk para Yllgarian yang ingin tinggal di luar hutan Sekai" jelasnya kemudian.
"Kami akan menyerahkannya kepada anda" Vurg menganggu kecil.
Dan setelah itu Lucia mengundang Orland dan Caspian ke gedung pertemuan untuk membicarakan hal tersebut lebih rinci. Kemudian ditentukan bahwa lima ketua regu Yllgarian sekarang berada langsung dibawah kepemimpinan Caspian. Setara dengan posisi Helen dan Vossler.
-
Sementara itu di dasar Ceruk Bintang, tampak trio pemburu berkunjung ke tenda Aksa dan Nata.
Tampak Aksa dan Rafa sedang berbincang saat trio pemburu itu memasuki tenda.
"Oh, tumben kalian kemari? Ada urusan apa?" Aksa segera menyapa ketiga pemuda tersebut.
"Pagi, tuan Huebert, tuan Deuxter, tuan Loujze" Rafa berdiri dari tempat duduknya.
"Selamat pagi nona Penyihir Petarung" saut Loujze kemudian.
"Berhenti memanggil saya seperti itu" ucap Rafa seraya berjalan menuju meja kecil di belakangnya untuk mengambil gelas dan teko berisi teh.
"Memang seperti itu orang-orang memanggil anda, sekarang ini" jawab Loiujze.
__ADS_1
"Tapi gaya bertarung anda benar-benar hebat, nona Rafa. Kami menyaksikannya sendiri kemarin. Bahkan Loujze yang seorang pemburu Getzja ini, harus merasa malu terhadap anda" Deuxter menambahi.
"Sudah hentikan, tuan-tuan" ucap Rafa seraya menghidangkan gelas berisi teh ke tiga pemuda itu.
"Jadi ada tujuan apa kalian kemari?" Aksa bertanya lagi.
"Kami baru saja mengunjungi bibi" Huebert menjawab seraya menyeruput teh dalam gelasnya.
"Oh, nona Elaine. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Padahal kita tetanggaan sekarang" Aksa berucap.
"Ngomong-ngomong, kami kemari juga mau menanyakan sesuatu. Apa betul kalian berencana menyerang kota Guan berempat saja?" Deuxter langsung mengutarakan tujuan utama mereka ketempat itu.
"Tidak. Tapi berlima" saut Rafa cepat. Sebelum Aksa sempat menjawab.
"Oh, jadi memang benar" Deuxter mengangguk kecil. "Kalau begitu jadikan berdelapan" tambahnya kemudian.
"Hey, kalian ini kenapa? Kalian kehabisan binatang buas untuk diburu, di hutan Sekai?" Aksa segera bertanya tampak heran dengan tiga pemuda dihadapannya itu.
"Benar. Lagi pula sudah lama kami tidak melakukan sesuatu bersama kalian" Loujze menambahi.
"Nata pasti tidak setuju" Aksa menjawab cepat. "Lagi pula ini penyerangan langsung ke kota lawan. Apa kalian pikir lagi piknik?" Sewotnya kemudian.
"Pokoknya kalian harus setuju kami ikut. Bila tidak kami bersumpah akan menggagalkannya sekalian" Loujze berucap dengan seenaknya.
"Tidak. Tidak perlu dibicarakan lagi. Kami sudah pasti harus ikut" ucap Loujze lagi seraya beranjak dari tempatnya duduk. Diikuti oleh yang lain.
"Baiklah kalau begitu, kabari kami kalau kalian hendak membuat rencana. Kami pamit permisi dulu" Deuxter berucap. "Selamat pagi, nona Rafa" dan kemudian mereka bertiga meninggalkan tenda tersebut.
"Mereka kebanyakan gaul sama siapa sih? Jadi ga jelas gitu" ucap Aksa kemudian.
-
Sore harinya Aksa, Nata, Lily, Val, dan Rafa sedang berdikusi mengenai trio pemburu yang ingin ikut menyerang kota Guam.
"Apa pikiran mereka suka terbolak-balik? Mereka suka sekali mencari mati" Aksa berucap.
"Benar. Masalahnya adalah penyerangan ini berbahaya. Seumpama sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, bila hanya kita berempat saja pasti akan mudah untuk Val dan Lily melarikan kita" Nata berucap.
"Berlima" saut Rafa disebelah Lily.
"Ya intinya, kita saja sudah cukup" ucap Nata lagi, saat tiba-tiba beberapa orang datang mengunjungi tenda mereka.
__ADS_1
Tamu yang sangat jarang mendatangi tenda Aksa dan Nata. Itu adalah kelompok Bintang Api. Tidak lengkap anggota, namun masih cukup banyak untuk membuat tenda tersebut penuh sesak.
Ada Cedrik, Margaret, Axel, Ende, Sigurd, Shuri, dan Shyam.
Mereka terlihat serius. Hanya Cedrik, Margaret, dan Ende yang duduk di meja dihadapan Aksa dan Nata. Bersama Lily, Rafa, dan Val. Sisanya berdiri dibelakang Cedrik.
"Jadi ada keperluan apa anda sekalian datang kemari malam-malam begini?" Nata bertanya.
"Langsung saja. Kedatangan kami kali ini karena mendengar anda akan melakukan penyerangan ke kota Guam hanya dengan delapan orang saja. Maka dari itu kami ingin ikut serta untuk mengawal anda melakukan penyerangan tersebut" Cedrik menjawab dengan langsung pada intinya.
"Si trio pemburu itu pamer-pamer atau gimana sih?" Celetuk Aksa kemudian.
"Dari mana anda mendengar hal tersebut, tuan Cedrik?" Tanya Nata kemudian.
"Bukan itu yang jadi perhatian kita sekarang, tuan Nata. Mengapa anda masih melakukan rencana penyerangan itu sendiri? Bukankah kita semua sudah setuju untuk menjatuhkan Urbar" Cedrik berucap lagi.
"Ya karena mengambil alih kota itu harus dengan cara menjatuhkan pusat pemerintahan mereka. Dan itu harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi" Nata menjawab. "Lagi pula bila anda mendengarnya dari tuan Deuxter, tuan Huebert, atau tuan Loujze, kami juga belum memutuskan akan mengajak mereka. Kami berencana akan melakukan penyerangan hanya dengan empat orang saja agar lebih aman saat menyusup kota" jelasnya kemudian.
"Maksudnya berlima" celetuk Rafa kemudian.
"Tetap saja itu berbahaya untuk dilakukan, tuan Nata. Coba pikirkan ulang. Anda bisa membagi kami menjadi kelompok-kelompok kecil atau semacamnya untuk menghindari kecurigaan. Tapi setidaknya anda memiliki tenaga bantuan" Cedrik berucap lagi.
"Tapi anda dan kelompok anda diperlukan di tempat ini, tuan Cedrik. Karena saat penyerangan nanti, nyaris semua prajurit dan para pemimpin pasukan akan meninggalkan wilayah ini. Dan hanya anda dan kelompok Bintang Api lah harapan kita untuk melindungi wilayah ini dari serangan kejutan" Nata mencoba memberi penjelasan pada Cedrik.
"Kalau begitu biar saya sendiri saja yang ikut bersama anda" Axel tiba-tiba berucap. "Kurasa dengan sebelas orang, kalian masih mampu melindungi tempat ini, kan?" Ucapnya kali ini untuk teman-temannya.
"Apa-apa kau, Ax?" Shuri menyela.
"Setidaknya dua orang lah, biar genap" Sigurd menambahi.
Cedrik menatap kearah Axel dan Sigurd dengan wajah serius. Cukup lama dan diakhiri dengan helaan nafas panjang.
"Bagaimana, tuan Nata? Anda memilih dua orang atau dua belas orang" ucap Cedrik kemudian setelah kembali menghadap kearah Nata.
"Ketua?" Shuri terlihat ingin memprotes. Namun diurungkan ketika melihat Margaret yang memberinya tanda untuk berhenti.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian semua? Memaksa sekali" Aksa terlihat sewot.
"Karena memang harus dengan cara seperti itu bila menyangkut kalian berdua" saut Ende kemudian.
Nata menggeleng pasrah. "Baiklah. Besok pagi kita akan membahas hal ini lagi bersama-sama di gedung pertemuan" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Sudah, sekarang kalian beristirahtlah dulu sana. Bikin pusing saja" tambah Aksa seraya menyentuh keningnya dengan tangan.
-