Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Epilog Arc Pertama Part 2


__ADS_3

"Terdengar kabar bahwa sekarang perang di Estrinx sudah berakhir. Dan ratu baru kini menjabat sebagai pemimpin kerajaan tersebut" Ujar Lucia saat ia sedang berada di balkon kamar Nata dan Aksa menemani kedua pemuda itu menggambar pola dan posisi bintang, sehari setelah Val dan Lily tiba.


"Kuharap dia bisa bijak memerintah kerajaannya" jawab Nata yang tampak menatap ke langit kemudian mulai menggambar diatas gulungan disebelah Aksa yang tampak sedang menulis sesuatu.


"Jadi setelah gagal menemukan jawaban dari sang Oracle, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Tanya Lucia memulai tema percakapan baru.


"Sebagai utusan dewa yang akan menegakkan keadilan didunia ini, kami akan kembali mencari relik legenda milik ku" saut Aksa masih tetap sibuk menulis.


"Entahlah, mungkin mencoba mencari gembok dunia ini. Supaya kita bisa memenuhi ramalan sang Oracle sebagai kunci nya" Kali ini Nata yang menimpali.


"Aku jadi merasa semakin dewasa selama bersama kalian berdua" ujar Lucia tiba-tiba seraya menatap langit.


Nata dan Aksa berhenti melakukan kegiatan mereka lalu menatap kearah Lucia dan kemudian saling berpandangan. Seolah sedang saling bertanya dan menjawab, mereka berdua terlihat saling mengangkat bahu dan menggerakan kepala membuat tanda.


"Kenapa mesti ada peperangan di dunia ini?" Ucap Lucia kemudian.


"Wajar saja. Karena kita hidup beragam, kita punya kebudayaan, aturan, dan kepentingan yang berbeda-beda. Kota-kota dan kerajaan-kerajaan yang pasti saling berinteraksi. Hal tersebut akan menimbulkan sebuah singgungan dan masalah" jelas Nata yang sudah kembali melanjutkan kegiatannya menggambar.


"Aku ingin menciptakan kota yang bebas, damai, dan tidak terikat dengan segala aturan dan budaya kerajaan-kerajaan lain di dunia ini'" ucap Lucia masih menatap langit malam.


"Naif sekali. Katanya sudah dewasa" celetuk Aksa tiba-tiba seraya masih sibuk menulis.


"Mustahil bagi anda membuat kota yang seperti itu" timpal Nata yang juga masih sibuk menggambar sesuatu diatas gulungan di hadapannya.


"Apa nya yang mustahil. Kalau kita punya niat, yakin, dan berusaha. Pasti bisa untuk menciptakannya" ucap Lucia yang kali ini menatap tidak terima kearah Nata dan Aksa.


"Usaha keras tak akan menghianati? Dipikir bikin kota segampang yang ada dilirik lagu?" Gumam Aksa masih tetap menulis.


"Menciptakan kota yang tidak mengikuti aturan dunia itu berarti anda harus memiliki kekuatan. Bukan hanya dengan niat, keyakinan, dan usaha saja" jelas Nata yang kini mau tak mau harus menghentikan kegiatannya menggambar.


"Kekuatan? Prajurit? Itu berarti tidak beda dengan kota-kota atau kerajaan lain di dunia ini" Lucia terlihat mendebat.


"Memangnya kenapa dengan memiliki kekuatan dan prajurit?" Gumam Aksa lagi yang masih tetap menulis. Ia selalu sewot saat sifat naif Lucia muncul.


"Memang sama. Bila kita ingin membangun kota yang tidak mengikuti aturan dunia, berati aturan lah yang membedakan kita dengan mereka, bukan kekuatan atau prajuritnya.


"Bukankah kekuatan dan prajurit itu yang menimbulkan peperangan selama ini?"


"Tidak selalu. Saat ingin menjalankan aturan atau sebuah ideologi, berarti perlu kekuatan untuk membuat nya benar-benar berjalan. Tapi bukan berarti kita harus berperang, harus menunjukan kekuasaan agar dipatuhi seperti kondisi yang sedang terjadi di Estrinx kemarin. Kita memerlukan kekuatan itu untuk bertahan"


"Bertahan?"


"Benar. Sebuah ideologi harus bertahan sebelum dapat disebarkan. Dan kita butuh kekuatan untuk itu. Semisal untuk melindungi kota, kita tak perlu bicara tentang kerjaan tetangga terlebih dahulu, tapi tentang perampok, bandit, yang akan menyerang kota kita. Kita butuh kekuatan untuk berlindung. Bukan harus dengan prajurit. Tapi bisa dengan benteng atau tembok"

__ADS_1


Tampak kali ini Lucia hanya terdiam mendengarkan Nata menjelaskan dengan seksama.


"Atau sandang, pangan, papan" tambah Nata kemudian.


"Apa itu?"


"Kebutuhan hidup" sela Aksa mengejutkan sang putri yang tampak serius memperhatikan ucapan Nata.


"Kebutuhan hidup ini adalah bentuk dari kekuatan yang juga sangat menentukan bagaimana sebuah budaya atau aturan bisa bertahan dan berkembang" lanjut Nata.


"Kenapa kau selalu mengucapkan hal-hal yang rumit?"


"Semisal kita ada dipantai yang tidak bisa menanam gandum namun kita sangat membutuhkannya. Dan tidak bisa digantikan. Berarti kita harus membeli atau bertukar dengan kota lain kan?"


Sang putri mengangguk.


"Sekarang bagaimana bila kota penghasil gandum yang sangat kita butuhkan itu tidak mau menjual gandum nya ke kita kalau kita tidak mengikuti aturan tatacara dan budaya mereka? Meski kita sudah mencoba dengan cara berdiskusi macam apapun?"


Lucia terdiam. Tubuhnya bergetar pelan. Dia tau, tidak ada jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.


"Kan? Kita mau tidak mau harus mengikuti keinginan mereka bila ingin gandum tersebut"


"Itu karena kota itu memang ingin kita mengikuti apa yang mereka mau" ucap Lucia kemudian.


"Atau kita bisa memakai cara lain agar tidak perlu mengikuti keinginan mereka" saut Aksa yang kali ini sudah berhenti menulis dan menatap Lucia.


"Iya, dengan menyerang dan menaklukkan kota tersebut" jawab Lucia pelan.


"Nah, sekarang anda baru terlihat lebih dewasa tuan putri" sindir Aksa.


"Jadi memang mustahil?" Terlihat Lucia kembali masuk kedalam kamar dengan lesu.


"Kecuali kau punya daerah dengan sumber daya alam yang lengkap. Juga sumber daya manusia yang cukup dan berkualitas" ujar Aksa yang mengikuti Lucia masuk untuk menyimpan gulungannya.


"Maksud mu sumber daya alam dan sumber daya manusia?" Terlihat Lucia kembali tertarik.


"Maksud nya tempat yang luas dan subur. Juga masyarakat yang mampu untuk mengolah nya. Dengan kata lain kita bisa hidup mandiri hanya dengan bertumpu pada hasil dari wilayah kita saja" jawab Aksa kemudian.


Lucia berpikir sebentar. Kemudian bertanya, "apa wilayah gersang memang tidak mungkin untuk ditinggali?"


"Tergantung" sela Aksa.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya tergantung" kali ini Nata yang menimpali.


"Jadi masih memungkinkan? Meski tanah itu sudah mati?" Tanya Lucia saat Nata sudah selesai menggambar dan berjalan masuk kedalam.


"Benar. Masih memungkinkan. Pada dasar nya alam itu tidak bisa mati. Hanya kita saja yang tidak tau kenapa dan bagaimana cara kerja alam dalam sebuah wilayah tertentu" jelas Nata.


"Maksudnya?" Lucia bertanya.


"Iya, maksud nya?" Kali ini Aksa menambahi.


"Maksud nya tanah yang terlihat gersang atau mati itu bukan berarti tanah itu sudah tidak bisa ditanami lagi. Bisa jadi karena kita salah menanam jenis tanaman, atau kita tidak tau cara mengolah nya. Apa tanah itu harus di beri air karena terlalu kering atau harus digemburkan karena terlalu padat"


"Jadi masih ada harapan untuk tinggal di tanah yang gersang?" Jawab Lucia dengan nada yang berubah senang.


"Iya, tapi itu juga harus dengan usaha lebih"


"Tapi selama masih ada harapan itu saja sudah cukup"


"Hei putri, kenapa anda jadi senang seperti itu? Jangan-jangan anda punya tanah gersang yang ingin anda bangun menjadi sebuah kota?'


"Benar sekali" jawab Lucia dengan cepat.


"Cih, tapi tidak akan cukup untuk menjadi sebuah kota yang besar bila anda hanya mempunyai satu jenis wilayah saja. Anda harus punya wilayah yang besar dan beragam agar bisa mendapat sumber daya untuk hidup secara mandiri" kali ini Aksa memastikan bahwa Lucia benar-benar memiliki wilayah seperti kriteria yang dimaksud.


"Sebesar apa?"


"Setidak nya anda punya wilayah laut, dan pegunungan" jawab Aksa kemudian.


"Aku punya. Luasnya mungkin tiga kali luas wilayah timur kerajaan Estrinx"


"Apa?! Anda punya wilayah seluas itu?" Nata dan Aksa terlihat kaget mendengar Ucapan Lucia tadi.


Sedang Lucia hanya tersenyum. " Baiklah, jadi sudah kuputuskan, aku akan memberi kalian sebuah tujuan baru di dunia ini" Ucap nya kemudian.


"Bangunkan aku sebuah kota yang ideal. Kota yang kelak akan jadi contoh semua kota-kota lain dimasa depan"


-


Arc Pertama Selesai.


--- iIi ---


Aksa, Nata, Lucia, dan yang lain akan kembali di kisah selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2