
Ellian dan Katarina sedang bersantai di depan kolam buatan dibawah air terjun dari tebing waduk. Mereka memasang kursi di tepian batas air. Dengan sebuah tenda yang menutupi tubuh mereka dari paparan sinar matahari secara langsung. Kaki mereka terendam air hingga batas mata kaki.
"Benar-benar segar sekali. Dipanas yang terik seperti ini" ujar Katarina seraya menggerak-gerakan kakinya didalam air.
"Benar. Tidak salah memang menempatkan area perkebunan ditempat ini" ucap Eliian seraya memejamkan matanya.
Namun tak lama kemudian terdengar dari jauh suara kereta uap datang.
"Siapa sih, panas terik begini datang berkunjung?" Tanya Katarina yang terlihat terusik.
"Entahlah, mungkin putri Lucia. Beliau memang ada rencana untuk berkunjung kemari" ujar Ellian seraya menyipitkan mata dan mengangkat tangannya ke depan pelipis seperti sedang memayungi mata dan hidungnya dari sinar matahari.
Dan setelah kereta uap itu berhenti, tampak sosok Lucia turun dari dalam gerbong.
"Yah, memang sang putri tidak mengenal hal umum seperti : 'jangan berpergian di hari yang terik', sepertnya" saut Katarina yang terlihat sedikit kesal.
"Sepertinya memang begitu" ujar Ellian seraya melipat tendanya dan meletakkan disamping kursi dengan wajah sedikit kecewa.
Setelah menyapa sang putri, mereka pun segera mengantarnya berkeliling daerah perkebunan tersebut.
"Apa anda datang seorang diri tuan putri?" Ucap Eliian pertama kali saat ia mendapati Lucia hanya seorang diri.
"Iya, Jean sedang ada tugas bersama nona Helen" jawab Lucia cepat.
"Apa tidak apa-apa berpergian seorang diri seperti sekarang?" Ellian memastikan.
"Wah, pemandangan ini benar-benar cantik" Wajah Lucia tampak terkagum-kagum dengan apa yang ada dihadapannya, hingga gadis itu tidak menghiraukan pertanyaan Ellian.
Diantara tenda-tenda para botanikal, dan bangunan rumah kaca yang sekarang jadi lebih besar dan kokoh, tampak bentangan tanah berpetak-petak yang dibatasi oleh jalanan kecil dengan warna yang berbeda-beda.
__ADS_1
Selain itu ada beberapa bangunan dengan kincir angin terpasang diatasnya, dan beberapa kolam-kolam air kecil dengan jalur air yang terlihat rumit disekitarnya.
Belum lagi beberapa kereta besi tampak berada di sela-sela petakan tanah tersebut.
Jelas bagi Lucia yang adalah seorang bangsawan, pemandangan tersebut tidak kalah menariknya dengan pemandangan air terjun tebing waduk disisi sebaliknya.
"Bagaimana pengerjaan lahan-lahan tersebut nona Ellian?" Tanya Lucia saat mereka mulai berjalan menyusuri jalan menuju ke salah satu tanah tersebut.
"Baik tuan putri. Sekarang pengerjaan sudah berjalan tiga perempat. Paling kita butuh dua atau tiga hari lagi sebelum bisa kita mulai ditanami" Ellian menjawab seraya berjalan disebelah Lucia dengan Katarina mengikuti dibelakang mereka berdua.
"Dan apa kegunaan kereta besi itu ditempat ini?" Terlihat Lucia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Oh, Nata memberikan kereta besi tersebut untuk membantu kita membajak tanah yang keras, supaya cepat lunak. Lalu seperti yang anda lihat bahwa warna tanahnya yang berbeda, itu karena kita menaburinya dengan olahan air, tanah vulkanik dari pertambangan pesisir timur, kemudian kotoran hewan" jelas Eliian panjang lebar.
"Pantas bau nya menyengat sekali sampai kemari" ujar Lucia seraya mengernyitkan dahi.
"Kita kan lakukan itu kurang lebih dua atau tiga hari ini sampai tanah benar-benar lunak. Sebelum kita mulai menebar benih" Ellian lanjut menjelaskan. Meski nyatanya Lucia juga tidak terlalu mengerti.
"Kita memasang pipa air dibawah tanah dari kolam air terjut tersebut kearah kolam paling besar itu" jawab Ellian seraya menunjuk ke sebuah kolam yang 2 kali lebih besar dari kolam-kolam lainnya. "Kolam tersebut dilengkapi dengan pintu air untuk menjegah kebanjiran wilayah. Dan kemudian dari kolam tersebut, baru air dialirkan ke kolam-kolam lain yang lebih kecil dan lahan-lahan" tambah Ellian dengan penjelasan panjang lebar.
"Oh, begitu rupanya. Dan apa yang hendak anda tanam di lahan-lahan itu nantinya, nona Ellian?" Lucia merubah topik pembicaraan karena ia mulai tak paham dengan penjelasan Ellian.
"Banyak tuan putri. Ada Gandum, jagung, dan kentang" jawab Eliian "Oh, juga kemarin nona Luna baru saja mendatangkan bibit rumput tebu. Kita juga akan menamnya nanti" tambahnya kemudian.
"Wah, benarkah? Berarti kita akan memiliki gula sendiri?" Lucia terdengar sangat bahagia mendengarnya. Itu karena ketika ia berada di selatan, gula merupakan hal yang paling sering ia temui. Hal itu membuatnya merasa bernostalgia.
"Benar tuan putri" jawab Ellian dengan cepat.
"Dan ngomong-ngomong dimana para pekerja sekarang, nona Ellian?" Tanya Lucia yang tak melihat satu orang pun dibawah terik matahari hari ini.
__ADS_1
"Mereka sedang istirahat makan siang, tuan putri" jawab Ellian dengan nada tidak sabar.
"Oh, benar. Ini tengah hari" ucap Lucia yang seolah baru saja menyadarinya.
Ekspresi Lucia tersebut membuat Katarina dan Ellian merasakan, bahwa rasa jengkel mereka bertambah satu tingkat lagi.
"Putri sudah makan? Kita bisa makan bersama di dalam tenda bila anda mau?" Terdengar Ellian mencoba menawari Lucia untuk masuk kedalam tenda.
"Terima kasih nona Ellian. Saya belum lapar" jawab Lucia yang membuat rasa jengkel Ellian dan Katarina bertambah lagi satu tingkat.
Kemudian Lucia meneruskan berjalan yang kali ini mendekati pot-pot bunga dibawah kain penghalang sinar matahari tak jauh dari posisi mereka sebelumnya.
"Bunga-bunga ini apa kegunaannya, nona Ellian?" Tanya Lucia yang tidak membuat Ellian terkejut. Karena tampaknya Lucia menanyakan segala hal yang menjadi perhatiannya. Tanpa perduli dengan detail penjelasannya.
"Itu adalah tanaman-tanaman obat. Nata meminta saya untuk mengembang biakannya terlebih dahulu sebelum nanti akan digunakan sebagai ramuan penyembuh" Ellian menjelaskan namun tidak terlalu detil.
"Oh, bunga-bunga ini bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Aku baru melihatnya" Lucia tampak mengamati deretan pot yang berisi bunga berwarna jingga menyala.
"Tidak semua putri. Yang ini menurut Nata, untuk membersihkan tubuh saat kita mandi" ucap Ellian seraya menunjuk bunga yang tadi diperhatikan oleh Lucia.
"Oh, apa itu untuk pewangi yang dioles seperti minya wangi?" Tanya Lucia yang tidak mengerti dengan maksud Ellian.
"Bukan. Katanya akan dicampur dengan lemak hewan atau alkali, seingatku. Aksa pernah menyebutnya dengan sebutan sabun, atau apalah itu" jawab Ellian kemudian.
"Lemak hewan untuk membersihkan badan?" Lucia tidak dapat membayangkan bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Benar tuan putri, tapi karena itu masih belum selesai dibuat, jadi saya juga belum tahu seperti apa nanti cara penggunaannya"
"Oh, begitunya? Eh, ngomong-ngompng apa kalian juga sedang beristirahat makan siang? Apa jangan-jangan kalian belum makan siang?" Tiba-tiba Lucia baru teringat sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Benar, kami ditengah istirahat makan siang. Kami belum makan siang. Bila tuan putri berkenan, mari ikut makan siang bersama kami" ucap Ellian menawari Lucia. Yang kemudian dibalas denga Lucia senyuman lebar.
-