Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
01. Minggu Pertama III


__ADS_3

Selepas makan, Lucia berada di dalam ruangannya bersama Jean. Lucia sengaja memanggil Jean datang adalah untuk berkeluh kesah tentang masalah Aksa dan Nata.


Sebelumnya ia sudah meminta pendapat tentang masalah itu kepada pamannya Orland, bibinya Amithy, dan kakak sepupunya Cornelius. Tapi tampaknya tidak ada dari mereka yang bisa memberinya jalan keluar.


Bahkan ssat ia bertanya kepada Mateus pun, tidak ada jawaban yang memuaskan baginya untuk masalah tersebut.


Tapi sebenarnya semua itu karena dirinya sendiri. Karena ia merasa tidak yakin.


"Apa menurutmu aku bukan seorang pemimpin yang baik, Jean?" Tanya Lucia membuka percakapan dengan Jean.


Jean hanya terdiam. Duduk dihadapan Lucia dengan tangan memegang secangkir teh panas.


"Apa memang aku masih belum dewasa? Apa aku memang seharusnya tidak menjadi seorang pemimpin?" Lucia terdengar merana dan semakin menjadi-jadi.


Melihat kelakuan Lucia, Jean menghela nafas. "Saya ingin bertanya pada anda putri. Kenapa anda ingin membuat kota ini pada awalnya? Tanya kemudian seraya meletakan cangkir tehnya keatas meja.


"Aku ingin bisa memberi tempat untuk orang-orang yang membutuhkan" Lucian menjawab.


"Lalu kenapa anda tidak menggunakan kerajaan Elbrasta saja untuk melakukan hal tersebut?" Jean bertanya lagi.


"Itu tidak mungkin, Jean. Kau tahu sendirikan? Bahwa aku tidak memiliki kekuatan dan daya bila berada di tempat itu" Lucia menjawab.


"Jadi pada dasarnya anda membutuhkan kekuatan untuk melakukan hal tersebut, bukan?" Jean memastikan.


Sementara Lucia hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Dan apakah anda sudah merasa puas dengan pencapaian anda sekarang ini? Maksud saya untuk membantu orang dengan cara seperti ini?" Tanya Jean kemudian.


"Jelas aku masih ingin membantu lebih banyak orang lagi bila aku mampu"


"Lalu apa yang anda kuatirkan? Apa anda tidak ingin menjadi seorang pemimpin?" Tanya Jean lagi yang kali ini membuat Lucia terdiam lagi.


"Bahkan tidak perlu untuk jadi seperti dua bocah itu untuk bisa mengerti, bahwa anda harus menerima tanggung jawab sebagai ganti dari sebuah kekuatan atau kekuasaan, putri" Jean berucap lagi.


"Benar, tapi aku merasa takut membuat keputusan yang menyangkut kehidupan banyak orang" kali ini Lucia menjawab lirih.


"Bila anda takut, seharusnya anda tidak berhak untuk mendapatkan" ucapan Jean menusuk perasaan Lucia dengan keras.

__ADS_1


Lucia terlihat sedang berpikir. Keresahan terlihat jelas diwajah gadis tersebut.


"Apa menurutmu aku masih layak menjadi pemimpin wilayah ini?" Ujar Lucia kemudian dengan ragu.


"Mengapa anda tanyakan hal itu, putri? Apa anda ingin melepas kepemimpinan anda sekali lagi?" Ucapan kedua Jean yang kembali menusuk perasaan Lucia.


Lucia tampak terkejut seraya menatap kearah Jean. Ia merasa mudah sekali dibaca. "Aku merasa aku tidak seharusnya menjadi pemimpin" ucapnya kemudian.


Jean menggeleng dengan tatapan kesal kearah Lucia. "Tuan putri! Anda adalah keturun langsung dari raja besar daratan utara. Keturunan langsung dari pahlawan besar Elbrasta. Saya percaya anda ditakdirkan untuk melakukan hal-hal besar" ucapnya kemudian dengan tegas.


"Tapi bila memang itu yang anda inginkan, maka lakukanlah. Anda boleh melepas kepemimpinan anda sekali lagi. Menyerahkannya krpada orang yang anda rasa jauh lebih baik" Jean melanjutkan ucapannya. "Karena sebagai seorang yang sudah tidak lagi di batasi oleh warisan leluhur anda, anda memiliki kebebasan untuk memilih" tambahnya kemudian.


"Jadi sekarang, berhentilah memikirkan hal yang tidak penting. Dan ingatlah tujuan juga cita-cita anda. Kemudian segera buat pilihan dan jangan menyesalinya" Jean menutup ucapan panjangnya tersebut.


Lucia terlihat mengangguk kecil. Pandangannya menerawang menembus meja. "Baiklah, aku akan coba melakikannya, Jean" ucapnya kemudian. "Terima kasih"


-


Keesokan harinya, Lucia singgah ke bar Pietro setelah selesai mengadakan pertemuan dengan para parlemen, untuk membahas tentang rencana wilayah baru mereka.


Bar teesebut bahkan belum buka. Menara jam di tengah kota menunjukan waktu masih pukul 10 pagi.


"Tidak, nona Luna. Saya hanya sedang berpikir saja" Lucia menjawab setelah selesai meneguk minuman dalam gelasnya. Ia duduk di meja bundar tak jauh dari pintu masuk.


"Apakah ini tentang rencana kepergian tuan Aksa dan tuan Nata?" Luna bertanya lagi. Yang kali ini berjalan mendekati meja Lucia dengan sebuah gelas dan sebotol minuman.


Lucia mengangguk samar. "Menurut anda, lehih baik sebuah wilayah kecil atau wilayah besar?" Tanyanya kemudian.


"Maksud anda, apakah saya lebih suka tinggal di wilayah besar atau wilayah kecil?" Luna memastikan pertanyaan Lucia seraya ikut duduk di salah satu kursi di hadapan Lucia.


Sedang Lucia hanya mengangguk.


"Mau itu wilayah besar ataupun kecil, selama bisa menyejahterakan rakyatnya, menurut saya sama saja" Luna mulai mengisi ulang minuman di gelas Lucia dari botol yang ia bawa. Lalu setelah itu memenuhi gelas kosong yang ia bawa.


"Aku juga berpikir seperti itu" Lucia menjawab lirih. Seraya mulai kembali meneguk minuman manis yang hanya sedikit mengandung alkohol itu dari gelasnya.


"Tapi, bila kita berhasil membuat rakyat sejahtera meski memiliki wilayah yang besar, maka saya akan memilih yang itu" ucap Luna lagi dengan sedikit bercanda. Mencoba untuk mencerahkan wajah sang putri yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Kalau menurut saya, menjadi wilayah besar itu berarti kita memiliki sebuah pilihan" tiba-tiba Seigfried menyahut dari ujung ruangan.


Bahkan Luna terkejut mendengar Seigfried menanggapi ufapan seseorang. Biasanya Seigfried berkelakukan masa bodoh dan cuek dengannlingkubgan sekitarnya. Dan bila pun ia merasa jengkel, ia akan menggerutu atau semacamnya dibelakang orang tersebut. Atau tanpa mengeluarkan suara.


Lucia menatap sosok Seigfried yang sedang menyapu diujung ruangan. Dan tanpa menghentikan pekerjaannya, atau menatap kearah Lucia, pria Morra itu melanjutkan perkataannya.


"Saya sempat menjadi orang kecil. Dulu. Dan saya tidak memiliki pilihan selain melakukan apa yang bisa saya lakukan atau apa yang diperintahkan orang besar kepada saya. Sehingga melakukan kejahatan kala itu bukanlah sebuah keinginan. Melainkan satu-satunya jalan" Seigfried menjedah ucapannya.


"Sekarang saya memang belum menjadi orang besar, tapi setidaknya saya sudah lebih besar dari sebelumnya. Dan oleh karena itu, sekarang saya memiliki pilihan. Meski tidak banyak" lanjut Seigfried lagi. "Sekarang untuk menjadi seorang penjahat, bagi saya adalah sebuah pilihan. Saya bisa memilih untuk tetap menjadi penjahat, atau saya bisa memilih untuk bekerja di tempat dengan majikan yang buruk seperti sekarang ini" imbuhnya kemudian.


"Jaga ucapanmu. Kau mau tidak digaji bulan ini?" Saut Luna kemudian.


"Dan menurut saya, hal itu sama seperti sebuah wilayah atau kerajaan" Seigfried melanjutkan ucapannya. "Bila wilayah kita kecil, kita tidak bisa memilih untuk tidak berperang saat ada wilayah lain yang menyerang kita. Namun bila kita sebuah wilayah yang besar, dan tidak ada wilayah lain yang berani untuk menyerang kita, maka kita memiliki pilihan untuk melakukan peperangan atau tidak" tutupnya kemudian.


"Kau habis minum apa, Seig? Tumben bener" Luna terlihat masih tidak percaya bawahannya itu berucap banyak. Terlebih mengeluarkan pendapatnya tanpa diminta.


"Hanya ingin memberi bantuan kepada tuan putri. Karena hanya hal seperti ini saja yang bisa saya berikan untuk membantu, baik tuan putri ataupun wilayah ini" ucap Seigfried yang sekarang sudah berhenti menyapu dan menatap kearah Lucia dan Luna.


"Tak kusangka kau memikirkan tanah ini, Seig" Luna tampak benar-benar terkejut melihat Seigfried hari ini.


"Mungkin akan terdengar kurang ajar, jadi saya minta maaf sebelumnya. Karena meskipun saya tahu tuan putri lah pemilik sah wilayah ini, namun begitu saya secara sadar juga merasa memiliki tempat ini. Maka dari itu saya juga ingin yang terbaik untuk tanah ini" Seigfried melanjutkan ucapannya. Yang membuat Luna kehabisan kata-kata untuk menanggapinya.


Sedangkan Lucia hanya terdiam. Entah kenapa ucapan Seigfried tersebut membekas dipikirannya.


"Anda baik-baik saja, tuan putri?" Luna menatap kuatir kearah Lucia yang sedari tadi hanya diam seraya menatap nanar isi gelasnya.


"Ya. Aku baik-baik saja" ucap Lucia tiba-tiba. Seperti baru saja terjaga dari lamunan. "Kurasa aku baru saja menyadari sesuatu setelah mendengar perkatan tuan Seigfried" ucapnya kemudian.


"Perkataan Seig? Anda yakin, tuan putri? Apa anda mabuk hanya dengan segelas Gingerwine ini?" Luna terlihat meragukan Lucia. Sedangkan Seigfried terlihat mengutuk kearah Luna tanpa suara.


"Aku tidak mabuk, nona Luna. Dan terima kasih tuan Seig. Ucapan anda sangat membantu. Sekarang saya sudah tahu harus berbuat apa" ujar Lucia yang mulai terlihat sedikit lebih bersemangat.


Seigfried hanya tersenyum bingung, sama seperti Luna saat mendengar ucapan Lucia tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu. Terima kasih semua" Lucia berkata seraya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar meninggalkan ruangan.


Baik Luna ataupun Seigfried merasa senang melihat Lucia sudah bisa tersenyum kembali.

__ADS_1


-


__ADS_2