Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
26.5. Anna Side Story Part 5


__ADS_3

Setelah berhasil memukul mundur prajurit kerajaan Urbar dari kota Xin dan kemudian menguasainya, pasukan Pharos yang dituntun oleh Anna langsung menyerang dua kediaman bangsawan berpengaruh di kota tersebut. Keluarga Previa dan keluarga Ondore.


Dua keluarga bangsawan tersebut adalah bawahan Tyrion yang diberi tanggung jawab penuh untuk mengurus kota Xin. Keluarga bangsawan Previa bertugas untuk mengatur pemerintahan di kota Xin, dan keluarga bangsawan Ondore membawahi pasukan keamanan kerajaan Urbar di kota tersebut.


Anna mengenal dua keluarga bangsawan tersebut sejak ia kecil. Dahulu generasi ayahnya menjalin hubungan dekat dengan dua keluarga bangsawan tersebut.


Pihak Pharos melakukan penyerangan ke kedua kediaman keluarga bangsawan itu untuk melumpuhkan kegiatan di kota Xin dengan segera.


Namun hanya ada kepala keluarga bangsawan Previa di kota tersebut. Sabil Previa. Sedang kepala keluarga bangsawan Ondore sudah tidak ada lagi di kota itu.


.


"Jadi kau datang ke kota ini untuk menuntut balas, An?" Seorang pria Narva berusia baya dengan rambut kuning kemerahan yang terlihat jarang bertanya pada Anna, saat mereka berdua sedang berada di dalam sebuah kurungan di penjara kota Xin. Yang berada di tak jauh dari dermaga, beberapa waktu setelah penyerangan.


"Mungkin anda bisa melihatnya seperti itu, tuan Sabil" Anna menjawab dari balik jeruji. Duduk didepan pria tersebut.


Anna mengenal Sabil adalah pria yang ramah dan baik terhadapnya dan keluarganya. Sebelum Tyrion mengambil alih wilayah kota Xin.


"Apa yang kau inginkan dariku sekarang? Kalau kau datang untuk bertanya kemana Galvin, aku tidak tahu. Aku sudah menceritakan semuanya. Bahwa ia pergi keluar kota sebelum kalian berlabuh di dermaga" Sabil mencoba menjelaskan sebelum Anna sempat menjawab.


"Bila tuan Galvin sudah melarikan diri dari kota ini sejak sebelum kami menduduki dermaga, lalu kenapa anda tidak ikut juga, tuan Sabil? Apakah anda memiliki keyakinan bahwa kami tidak mungkin berhasil menguasai kota ini?" Anna bertanya lagi.


"Aku tidak pergi dari kota ini, karena ini adalah rumahku. Warisan para leluhur keluarga Previa" jawab Sabil cepat.


"Anda terlalu sentimen, tuan Sabil" ucap Anna kemudian seraya menatap Sabil dengan penuh selidik.


"Mungkin karena aku sudah tua. Tapi ingatlah kota ini juga kota leluhurmu" Sabil berucap lagi.


"Entahlah, tuan Sabil. Saya tidak seperti anda yang masih memiliki peninggalan leluhur di kota ini. Kota saya sekarang ada di seberang laut barat" Anna berdiri dari tempat duduknya. "Saya rasa cukup sampai disini dulu, tuan Sabil. Saya pamit" ujarnya kemudian seraya beranjak meninggalkan tempat tersebut.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Sabil bertanya lagi saat Anna sudah sampai di pintu keluar penjara tersebut.


"Kita lihat nanti, tuan Sabil. Bila Tyrion merasa kota ini sangat berharga, maka saya akan membumi hanguskannya sama seperti saat ia membakar semua milik saya yang berharga" Anna menjawab. Kemudian mengangguk sopan dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan sosok Sabil yang hanya terdiam menatap pintu keluar dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak maksudnya.


"Maafkan aku, An. Karena telah menjadi seorang pengecut selama ini" ucap Sabil kemudian dengan lirih.


.

__ADS_1


"Kenapa kau berkata seperti itu kepada tuan Sabil?" Nikolai bertanya saat Anna sudah berada diluar penjara.


"Mungkin sebagian dari diriku masih mendendam. Dan mungkin ini adalah cara ku untuk melampiaskan pada mereka yang hanya melihat saat semuanya terjadi" Anna menjawab tanpa menoleh kearah Nikolai.


Sementara Nikolai hanya terdiam menatap perempuan itu. Entah bagaimana, ia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Anna saat ini.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju kapal besi yang tampak diujung dermaga.


-


"Saya rasa pria itu tidak sedang merencanakan sesuatu, tuan Caspian. Ia tidak melarikan diri dari tempat ini hanya karena rasa sentimennya terhadap kota ini" Anna melapor pada Caspian saat mereka sudah kembali berada diatas kapal besi. "Jadi menurut saya pria itu bukanlah ancaman" imbuhnya kemudian.


"Baiklah bila anda berkata demikian, nona Anna" Caspian menjawab dari sebelah Helen diseberang tempat duduk Anna. "Berarti sekarang saatnya mengeluarkan para bangsawan, pedagang, dan pemilik kapal dari kota ini" tambahnya kemudian.


"Baik, tuan Caspian. Saya akan segera lakukan" Anna menjawab cepat.


Segera setelah itu Anna dan Nikolai mengumpulkan para bangsawan, pedagang, dan pemilik jasa penyeberangan kapal, di gedung serikat pedagang di depan alun-alun kota. Memberi perintah pada mereka untuk segera menyiapkan harta dan membawa sanak keluarga, kemudian segera meninggalkan kota Xin sebelum terlambat.


Tujuan utama pihak Pharos mengusir seluruh pedagang dan beberapa bangsawan adalah untuk memperkecil jumlah penduduk untuk diawasi. Dan menghindari adanya mata-mata atau gerakan pemberontakan di dalam kota. Itu karena pihak Pharos tidak memiliki terlalu banyak prajurit.


-


Beberapa penduduk biasa juga terlihat ikut meninggalkan kota bersama dengan kapal-kapal tersebut. Sedang sisanya masih berada dalam kota tersebut. Nikolai kemudian mencatat semua penduduk kota Xin yang masih tinggal.


Dan juga sementara itu para prajurit Pharos mulai bekerja memasang senjata di benteng gerbang kota tersebut.


-


"Tuan putri sudah mengirimkan surat tuntutan kepada pihak Urbar. Sekarang kita akan menunggu balasan dari mereka" Caspian memberitakan kabar yang baru saja ia terima dari wilayah Pharos kepada yang lain, sehari kemudian.


Anna, Nikolai, Caspian, dan Helen berada di salah satu ruang di dalam kapal besi.


"Bila menurut perkiraan saya, Tyrion tidak akan menaggapi tuntutan tersebut. Dan ia akan tetap berusaha mati-matian mengambil alih kota Xin ini" Anna memberikan pandangannya.


"Saya juga berpikiran seperti itu, nona Anna. Karena surat tuntutan itu jelas akan melukai bukan hanya harga diri Tyrion, tapi juga kedaulatan sebuah negara" Caspian menyetujui ucapan Anna.


"Apa menurut anda, tuan Nata sengaja melakukannya?" Anna menanyakan pandangan Caspian.

__ADS_1


"Kurasa tuan Nata jelas sadar melakukan hal tersebut. Karena menurutku, hal tersebut memang sudah sewajarnya di lakukan. Untuk menunjukan bahwa wilayah kita tidak boleh diremehkan" Caspian menjawab.


"Saya juga setuju akan hal tersebut. Dan mulai hari ini kita harus bersiap akan serangan lain dari mereka" Anna juga sepemikiran dengan Caspian dalam hal ini juga.


"Bantuan dari tuan Aksa akan tiba sekitar satu atau dua minggu lagi. Jadi setidaknya kita harus bisa bertahan sampai mereka tiba" ujar Caspian menjelaskan.


Anna, Nikolai, dan Helen menanggapi dengan angguk paham.


"Oh, iya. Wilayah Estat tuan Mateus akan bergabung dengan wilayah kita" Caspian menambahi dengan kabar yang lain.


"Syukurlah. Dengan begitu kita jadi memiliki jalur yang aman untuk menuju ke daratan selatan. Meski itu harus melewati tanah bebas Azure" kali ini Nikolai yang berucap.


"Benar. Tapi yang akan jadi masalah mungkin adalah prajurit untuk melindungi wilayah tersebut" Helen mengungkapkan pendapatnya. "Kita tetap bisa bertahan meski tidak memiliki banyak prajurit itu karena tanah Pharos memiliki medan yang sulit dijangkau dan perlindungan bukit yang alami. Namun wilayah Estat Ignus itu adalah wilayah yang berupa daratan landai yang berbatasan dengan dua wilayah Estat lainnya" tambahnya menjelaskan.


"Bila dipikir-pikir memang benar. Selama ini kita tidak memiliki banyak prajurit karena kita memiliki benteng alami" Anna terlihat mengingat-ingat.


"Kurasa tuan Nata dan tuan Aksa akan menemukan cara untuk mengatasi permasalahan tersebut" ucap Caspian yang langsung disetujui oleh yang lain.


-


Lewat seminggu setelah surat tuntutan yang dikirimkan pihak Pharos ke kerajaan Urbar, penyerangan ke kota Xin tidak juga berhenti. Dan tampak semakin menjadi-jadi.


"Kurasa mereka benar-benar geram terhadap kita" ujar Anna saat sekarang ia, Nikolai, Caspian, dan Helen sedang berada di atas tembok benteng gerbang kota Xin. Mengamati perkemahan yang didirikan pasukan kerajaan Urbar diluar gerbang.


Langit tampak mulai gelap. Mendung bergulung diangkasa. Daratan selatan mulai memasuki musim penghujan. Hingga tidak mengherankan bila hujan turun mengguyur hampir disetiap sorenya dalam seminggu terakhir ini.


"Benar. Tadi saya juga sempat melihat dua pengguna senjata mistik diperkemahan mereka" Helen menurunkan teropong dari wajahnya. "Dan saya rasa, mereka akan lebih berhati-hati dalam membuat rencana penyerangan kali ini" imbuhnya lagi.


"Kita harus berhati-hati dengan mereka. Terakhir kita berhasil mengapahkan mereka, karena mereka meremehkan kita" ujar Caspian yang kali ini mengangkat teropong kedepan wajahnya. "Juga sepertinya tuan Nata memiliki rencana untuk membagi konsentrasi pasukan diwilayah ini" tambahnya kemudian.


"Benarkah? Bagaimana cara tuan Nata melakukan hal tersebut?" Anna terlihat sangat penasaran.


"Tuan Nata berencana untuk melakukan penyerangan ke wilayah diantara kota Xin ini dan kota Varun di timur" Caspian menjawab seraya menurunkan teropongnya.


"Itu berarti kita akan menyerang wilayah lima Estat?" Kali ini Helen yang terlihat memastikan. Ia terdengar tidak percaya.


"Tapi kita nyaris tidak memiliki sisa prajurit untuk berjaga di kota ini. Bagaimana kita bisa melakukan penyerangan?" Anna menambahi sebelum Caspian sempat menjawab pertanyaan Helen.

__ADS_1


"Tidak perlu kuatir. Tuan Aksa sudah selesai membuat kereta besi baru yang bisa digunakan untuk mempermudahkan kita menyerang tanpa perlu menggunakan banyak prajurit" Caspian menjawab. "Dan juga kita punya senjata mistik" imbuhnya kemudian.


-


__ADS_2