
Gedung Atelir itu dibagi menjadi 4 ruangan yang membujur kebelakang. Ruangan pertama diisi oleh alat-alat sehari hari. Seperti gerabah, sendok garpu, lampu minyak, dan semacamnya.
Ruang kedua di penuhi oleh kain, baju, benarng, sampai tali tambang.
Ruangan selanjutnya penuh dengan rak yang berisi bebatuan dan permata. Tampak pula beberapa senjata seperti pedang, tongkat sihir, dan belati yang di hias oleh permata-permata yang indah dan mencolok.
Dan kemudian ruang terakhir adalah ruang tungku pandai besi. Ruangan itu terasa pengap dan panas meski memiliki banyak saluran udara dan jendela. Dua tungku api tampak di sisi kiri dan kanan ruangan.
Mereka menemui orang yang bertugas sebagai pandai besi di Atelir tersebut.
Seorang pria Morra bongsor dengan kulit kusam dan cemong oleh arang di wajah dan tangannya.
Lengannya kekar menggunakan baju dengan rompi kulit mirip para pemburu bayaran, yang masih di rangkap dengan seperti apron dan sarung tangan kulit yang tampak tebal dan hangat, yang jadi tidak mengherankan kalau pria itu berkeringat seperti baru saja selesai berlari mataron ditengah hari.
"Aku Marco, ada yang bisa ku bantu" ucap pria Morra itu melepas bandananya, yang memperlihatkan rambut ikalnya yang tak terawat.
"Aku ingin membuat barang. Yang seperti ini" Nata menyerahkan sebuah gulungan kertas.
"Hm... apa ini?" Marco tampak penasaran ketika melihat isi gulungan tersebut.
"Apakah anda bisa membuatkannya untukku?"
"Ini dari besi? Berbentuk lingkaran?"
"Benar, bagaimana?"
"Maaf, tapi untuk lingkaran ini saya tidak yakin bisa membuatnya dengan sempurna"
"Wah, itu akan jadi masalah bila tidak presisi. Apakah tidak mungkin untuk membuatnya melingkar sempurna?" Nata bertanya lagi yang dijawab Marco dengan gelengan kepala dan wajah lesu.
Kemudian Val yang penasaran mencoba angkat bicara. "Kau memintanya untuk membuatkan apa?"
Mendengar pertanyaan Val, Nata menyerahkan gulungan itu kepada Val. "Kira-kira mampukah kau membuatkan alat seperti ini Val?" Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Ini terbuat dari logam? Bentuknya aneh sekali, seperti tabung bambu. Untuk apa sebenarnya alat ini? Apakah ini senjata sama seperti busur silang yang kau buatkan untuk para pemburu itu?"
"Benar ini terlihat seperti tabung bambu, dan salah, ini bukan senjata. Ini alat yang digunakan untuk menahan benda berat hanya dengan bantuan air"
"Benarkah? Alat ini di tenagai oleh air?"
"Bukan seperti yang kau bayangkan. Tapi kurang lebih seperti itu. Kau akan tau saat sudah jadi nanti"
"Baiklah, Tuan Marco apakah saya boleh untuk menggunakan tempat kerja anda?" Tanya Val tiba-tiba.
"Oh, benar juga. Apakah kami boleh menyewa tempat kerja anda? Kami akan membayarnya, juga kami akan mengunakan material dari anda, jadi anda bisa memberi harganya sekaligus" ucap Nata kemudian.
"Bo-boleh saja. Tapi..."
"Apakah ada larangan untuk kami menggunakan tempat kerja pengerajin di Atelir ini?"
"Tidak ada. Baiklah kalian boleh menggunakannya, tapi dengan syarat, aku akan disini mengawasi dan melihat kerja kalian"
"Apakah tidak apa-apa Val?"
"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai!"
"Sekalian buatkan aku relik mistik legenda yang bisa mengeluarkan sihir petir Val" saut Aksa yang diacuhkan oleh Val.
-
Val mulai bersiap-siap. Ia mengenakan apron kulit pinjaman, milik Marco. Namun ia menolak untuk menggunakan sarung tangan. Sedang lempengan besi mentah yang dimasak dalam tungku kini mulai memerah dan lembek.
Lalu terlihat Val memejamkan matanya seperti sedang berkonsentrasi. Nata dan Aksa sangat bersemangat untuk menyaksikan bagaimana seorang seniman besi dari ras Elf itu beraksi.
Kemudian dengan pencapit logam ditangan kanannya, Val menarik keluar besi panas itu. Dan setelah itu hal yang mengejutkan bukan saja Nata dan Aksa, tapi juga Marco pun terjadi.
Val mengarahkan tangan kirinya kearah besi panas tersebut dan kemudian tampak tangan kiri dan besi yang membara itu bersinar hijau terang. Dan begitu Val menggerakan tangannya kedepan, dengan cepat besi itu menjadi pipih seolah sebuah tanah liat yang digiling roda batu.
__ADS_1
Kemudian Val memutar pergelangan tangannya dan lempengan besi itu mulai tergulung seperti sedang menggulung kertas. Nata dan Aksa terdiam terpukau dengan pekerjaan Val yang terlihat seperti sulap itu.
"Apa-apaan itu?" Terdengar suara Marco yang tampak tidak percaya memecah keheningan.
"Benar, itu menyalahi hukum alam!" Terdengar Aksa menambahi.
"Apakah itu rahasia orang-orang Realn?" Suara Nata tercekat.
"Apakau bilang tadi?" Tiba-tiba Marco bertanya.
"Ini pasti cheat skill marga Realn" celetuk Aksa tidak menghiraukan Marco.
"Apakah Elf itu dari marga Realn?" Tanya Marco sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, dia yang bikin Oboros" jawab Aksa kemudian karena merasa terganggu oleh pertanyaan Marco yang diulang itu.
"Apa?!"
"Kau harusnya tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu" Kali ini Val berpaling dan menghentikan pekerjaannya.
"Apakah anda sang legenda Valastrum?"
"Wah, nama panjang Val keren juga. Aku baru dengar ini. Kukira namamu Val Realn" celetuk Aksa kemudian.
"Bukan, Strum adalah nama salah satu kelas dalam seni membuat senjata" jelas Lily yang sedari tadi hanya diam menikmati melihat Nata dan Aksa yang terkagum-kagum karena kerja Val.
"Bukan salah satu nama kelas, tapi nama dari kelas paling tinggi" terdengar Marco mengkoreksi.
"Oh, apakah itu sejajar dengan sebutan Sage yang kau miliki Lily?" Tanya Nata kali ini
"Ya, kurang lebih sama dengan Sage di dunia penyihir" jawab Lily singkat.
"Berarti kau benar-benar pahlawan legenda Val, aku sempat meragukannya" ucap Aksa kemudian.
__ADS_1
"Aku tidak berharap pengakuan dari kalian" Val menjawab.
-