
Seminggu kemudian mereka menuju ke kota Varun di daratan selatan. Nata, Amithy, Lily, dan Parpera bersama 10 penjaga bertolak dari gerbang selatan menuju ke kota Varun yang hanya berjarak sehari.
Mereka melewati sabana yang tampak menguning, selepas keluar dari gerbang selatan tanah Pharos. Karena masih belum terlalu banyak yang mendengar tentang kota baru di tanah Pharos, jadilah jalanan menuju kota Varun sangat sepi. Hanya dilalui oleh mereka saja seharian itu.
Dan karena mereka berangkat pagi-pagi benar, maka belum sampai matahari tenggelam, mereka sudah sampai di kota tersebut.
Kota Varun ini adalah sebuah kota yang besar. Serupa dengan kota Garya. Namun memiliki kebudayaan yang sangat berbeda. Mulai dari bentuk bagunan, bahan yang digunkan untuk membangun, serta gaya orang-orangnya.
Kota ini menggunakan batu granit yang ditata dalam ukuran besar-besar, untuk lantainya. Terdapat air mancur buatan yang tidak terlalu besar ditengah kotanya. Warna bangunan kota tersebut di dominasi oleh krem dan coklat tuan kemerahan.
Di depan air mancur tadi berdiri sebuah bangunan dengan sebuah lonceng besar diatasnya, dan di seberangnya berdiri gedung walikota. Dan itulah tujuan Nata dan rombongan setelah tiba di kota tersebut.
Dan setelah melapor ke seorang petugas, akhirnya mereka bertemu dengan walikota kota Varun. Sepupu Amithy. Mateus.
Mereka dijamu dalam sebuah ruang tamu yang gaya dan dekorasinya sudah sering Nata temui di kediaman bangsawan di utara.
"Selamat datang di Varun, kak. Sudah lama kakak tidak kemari" ucap pria Narva berambut rapi licin kebelakang yang terlihat terpelajar itu menyambut, seraya mempersilahkan mereka duduk.
"Baik, Mateus" ujar Amithy seraya mengikuti Mateus duduk.
"Bagaimana kabar tuan putri?" Tanyanya lagi setelah pelayan datang menyajikan minuman.
"Lucia juga baik-baik saja. Bagaimana kabar Zanda?"
"Dia ada dirumah sekarang. Kakak menginap dirumah kan, malam ini?"
"Iya, aku akan menginap dirumah mu malam ini"
"Syukurlah kalau begitu. Eureka akan senang melihat kedatangan kakak"
"Sebelumnya, ada yang akan ku kenalkan padamu. Dia adalah orang yang bersama Lucia membangun kota mati tersebut. Namanya Nata" Amithy memperkenalkan Nata yang duduk disebelahnya.
"Wah, dia kah orang yang membuat sesuatu yang tidak masuk akal jadi mungkin? Tak kusangka begitu muda"
"Perkenalkan, saya Nata. Senang berkenalan dengan anda, tuan Mateus" Nata memperkenalkan diri.
"Dan beliau adalah nona Lily" Amithy melanjutkan memperkenalkan Lily yang duduk tak jauh dari Parpera di seberangnya.
"Salam kenal, tuan Mateus" Lily mengangguk sopan kepada Mateus.
"Kehormatan bisa mengenal anda nona Lily" ucap Mateus yang balik mengangguk sopan pada Lily.
Dan kemudian mereka meneruskannya dengan bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang kabar Amithy dan Lucia selepas gadis itu melepaskan tahta.
-
__ADS_1
Setelah itu, mereka diantar ke kediaman Mateus. Tak terlalu jauh dari pusat kota. Bangunan rumah Mateus tidak kalah megah dan mewahnya dibanding kediaman Lucia di kotaraja.
Tampak seorang wanita Narva dengan rambut yang disanggul elegan, dan seorang gadis kecil berusia 5 tahun menyambut begitu mereka turun dari kereta.
Dan kemudian setelah makan malam, baru mereka mengadakan pembicaraan lebih serius di ruang kerja Mateus.
Mereka hanya berenam. Nata, Amithy, Lily, Parpera, Mateus, dan wakilnya seorang Morra dengan rambut panjang yang diikat kebelakang. Bernama Samuel.
"Baiklah, jadi apa yang akan anda tawarkan, tuan Nata?" Tanya Mateus membuka perbincangan.
"Sebuah hubungan kerja berkala dalam segala bidang bila itu memungkinkan, tuan Mateus. Karena kami benar-benar ingin menjalin hubungan baik" jawab Nata kemudian.
"Saya mengerti. Dan apa yang anda maksud dengan segala bidang itu?"
"Baikla. Pertama, saya akan langsung saja. Bahwa kami ingin membicarakan tentang jalur lintas di daratan selatan ini, tuan Mateus. Kami sadar benar, bahwa satu-satunya jalan kami menuju ke sisa wilayah daratan Selatan adalah melewati wilayah anda" Nata mulai berucap. "Atau melewati pesisi pantai ke timur menuju tanah bebas Azure" imbuhnya kemudian.
"Lalu?"
"Kami menawarkan pembagian hasil dari pendapatan yang akan diterima dari penyeberangan kareta uap yang akan kami buka. Sepuluh per seratus. Anda tidak perlu harus ikut mengurusinya, anda cukup membiarkan para pedagang melewati wilayah anda" ucap Nata menjelaskan.
Tampak Mateus seperti sedang memimbang.
"Dengan bertambah banyaknya orang yang melewati wilayah anda, maka wilayah anda juga dapat semakin berkembang. Kami bisa jamin, bila tidak ada yang mencoba untuk menghalangi, maka dalam waktu enam bulan dari sekarang, wilayah anda akan menjadi jalur perdagangan yang baru" ujar Nata dengan tampak percaya diri.
"Wah, anda begitu percaya diri. Apa anda yakin bisa melakukan hal tersebut?" Mateus terlihat tertarik dengan sikap Nata yang tegas dan percaya diri.
"Wah, kurasa aku juga harus melihat sendiri seperti apa kereta uap yang membuat mu sangat percaya diri itu"
"Benar, cobalah Mateus. Kau tidak akan mempercayainya. Sekarang hanya butuh setengah hari untuk menyeberangi tanah Pharos" kali ini Amithy yang ikut meyakinkan Mateus.
"Benarkah?" Terdengar Mateus tidak percaya.
"Jadi bagaimana, tuan Matues?" Tanya Nata kemudian.
"Baiklah, aku tidak akan serakah karena itu juga kota keponakanku. Jadi aku akan terima tawaran anda sepuluh per seratus penghasilan tadi, tapi hanya sampai enam bulan saja. Setelah itu kita akan kaji ulang perjanjian ini. Apakah aku harus menaikan bagian ku atau bagaimana" ucap Mateus menjawab.
"Saya rasa anda tidak akan membutuhkan uang kecil seperti itu lagi, bila kita sudah melewati bulan keenam, tuan Matues. Karena penawaran saya kedua akan membuat anda lebih tertarik" Nata membalas dengan senyum percaya dirinya.
"Wah, aku tahu kenapa Lucia tertarik pada anda, tuan Nata. Karena sekarang aku juga mulai menyukai anda. Jadi sebutkan apa penawaran anda yang kedua?"
"Kami membawa barang contoh. Saya menawarkan perjanjian dagang berjangka untuk barang-barang tersebut" ucap Nata yang kemudian membantu Parpera dan Amithy menyerahkan beberapa benda pada Mateus dan Samuel.
"Dalam jangka waktu tersebut, barang-barang ini akan kami jual hanya kepada anda dan anda bebas menjualnya dengan harga berapapun. Kami juga tidak akan menjualnya sendiri di tempat kami" lanjut Nata kemudian.
Benda tersebut adalah lembaran kertas dari serat kapas, beberapa sabun berbentuk kubus dengan beberapa jenis aroma, dan sebuah gelas minum bangsawan berkaki tunggal yang kali ini terbuat dari kaca bening dengan ukiran yang juga terbuat dari kaca dibagian dasar dan kakinya.
__ADS_1
Benda itu dikirim oleh Aksa sehari sebelum Nata dan rombongan menuju ke kota Varun.
Tampak Mateus dan Samuel terkejut dan penasaran dengan barang-barang yang sebagian mereka pernah lihat, dan sebagian lagi terlihat sangat asing.
"Benda apa ini?" Tanya Mateus yang kemudian Parpera memperagakan bagaimana cara pakaian sabun atau dampak setelah pemakaiannya.
Lalu Amithy menjelaskan bagaimana rumit dan tingginya nilai artistik dari gelas kaca tersebut. Juga Nata yang menjelaskan dari apa dan bagaimana ketahanan kertas dari serat kapas tersebut.
"Benda-benda ini akan sangat laku setidaknya dikalangan bangsawan" ujar Amithy kemudian. "Karena memiliki nilai gengsi yang tinggi" tambahnya.
"Apa kalian yakin dengan semua ini? Apa kalian tidak terlalu terburu-buru?" Tampak Mateus tidak percaya barang-barang bernilai tinggi ini akan diberikan padanya dengan hampir begitu saja. "Atau jangan-jangan masih ada hal lain yang kalian simpan?"
"Bukan seperti itu tuan Mateus. Kami hanya ingin kita segera melakukan perjanjian sebelum pihak lain mulai mengusik, setelah kita sudah mengambil alih jalur perdagangan" jawab Nata kemudian.
"Benar. Kami mengincar persetujuan yang akan kau ajukan pada pemerintah pusat" ujar Amithy menambahi.
"Kurasa kakak ada benarnya juga. Selagi pusat sedang memutuskan untuk melakukan penggempuran besar-besaran, untuk menduduki Tanah Suci" ujar Mateus yang masih menciumi bau wangi tangannya setelah menggunakan sabun tadi.
"Oh, baguslah bila begitu. Maksud saya, bukan ikut senang dengan sebuah peperangan" ujar Nata tampak lega.
"Saya mengerti. Saya juga tidak paham dengan peperangan konyol tersebut. Mungkin karena kami ada di tempat paling jauh dari tanah tersebut, jadi kami tidak merasakan apapun" jawab Mateus.
"Memang mengapa mereka memperebutkan Tanah Suci tersebut, tuan Mateus? Apakah di tanah itu ada sumber daya, atau semacam simbol kekuasaan? Atau mungkin senjata mistik?" Nata bertanya penasaran.
"Sebenarnya di Tanah Suci itu ada sebuah kuil tempat Gadis Suci berada" jawab Mateus.
"Gadis Suci ini, nama sesuatu atau benar-benar seorang gadis?"
"Iya, dia benar-benar seorang gadis. Kono kabarnya umurnya sudah ratusan tahun, tapi penampakannya masih seperti gadis berusia tujuh belas tahun"
"Apakah dia ras manusia? Apakah sama seperti sang Oracle?"
"Berbeda dengan sang Oracel. Beliau bertambah tua meski berjalan lambat seperti bangsa Elf dan Yllgarian" kali ini Amithy yang menyela.
"Benar, Gadis Suci tidak bertambah tua sama sekali. Dan dilihat dari penampakannya, gadis ini jelas manusia. Kaum Narva. Meski sekarang sudah diragukan apakah dia masih manusia" Mateus kembali menjelaskan.
"Lalu dengan mendapatkan Gadis Suci ini, keuntungan apa yang akan diterima? Apakah gadis ini memiliki kekuatan sihir yang dasyat?" Nata tampak semakin penasaran.
"Memang, Gadis Suci memiliki kekuatan sihir yang dasyat. Namun dalam hal penyembuh. Itu juga mungkin yang menyebabkan gadis tersebut tidak pernah tua dan mati. Juga konon kabarnya gadis itu bisa membangkitkan orang mati"
"Pantas saja. Mendapat kehidupan kekal adalah hal yang akan dicari setelah mendapat kekuasaan di dunia ini" ucap Nata kemudian.
"Benar sekali, tuan Nata" Matues membenarkan.
"Ngomong-ngomong siapa nama gadis itu?"
__ADS_1
"Mereka menyebutnya Gadis Suci Primaval"
-