Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Antology Story : Hari Libur Aksa II


__ADS_3

Tampak semua orang terkejut, namun kemudian datang menyalami saat Aksa turun dari kapal laut di pantai pesisir timur. Mereka yang datang menyambutnya adalah para penambang yang dulu datang dan bersama-sama membangun tempat tersebut di dua bulan awal.


"Tuan Aksa, tumben anda kemari? Ada urusan apa?" Sapa seorang pria Morra berbadan kekar dengan jambang yang panjang memenuhi sisi wajahnya.


"Sepertinya aku sedang ingin bersantai di pinggir pantai, tuan Win" Nata menjawab dengan akrab seraya menatap berkeliling.


Selain semakin banyak nya orang yang bolak balik dengan troli berisi hasil tambang, selebihnya tidak ada yang berubah dari pantai pesisir timur ini. Masih asri dan se eksotis yang diingat Aksa.


Meski sekarang di jalur antara pertambangan dan dermaga terlihat tampak kotor dan berantakan karena tumpahan bahan galian saat diantar menuju kepantai. Aksa berniat melaporkan hal tersebut kepada Nata untuk dicarikan solusinya.


"Memang anda sudah berapa lama tidak datang ke pantai ini, tuan Aksa? Tempat yang biasa anda gunakan masih ada disana" jawab pria tersebut seraya menunjuk sebuah ranjang gantung yang terbuat dari anyaman kulit pohon yang dibentuk seperti jala ikan, terikat di antara dua pohon kelapa tak jauh dari bibir pantai.


Aksa menyebutnya 'Hammock', tapi yang lain gampang saja menyebutnya ranjang gantung. Itu adalah tempat yang biasa Aksa pakai untuk berjemur atau memandang langit senja di cakrawala lautan, saat ia masih berada ditempat ini.


"Terima kasih. Tapi sepertinya aku ingin menyapa nona Elaine terlebih dahulu" jawab Aksa kemudian.


"Siap? Oh, yang anda maksud nona Go? Baiklah kalau begitu. Beliau ada di sisi utara. Ada gua yang baru kami temukan. Banyak sekali kristal di dalamnya" jelas Win yang membuat Aksa jadi kembali bersemangat


"Wah, benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu" segera Aksa berlari meninggalkan dermaga menuju ke wilayah tempatntinggal para penambang.


-


"Hai, nona Elaine. Bagaimana kabar anda?" Sapa Aksa saat ia melihat sosok Go sedang berada di depan sebuah troli berisi pasir. Di depan ruma tempat tinggalnya. Tampak perempuan itu sedang menulis sesuatu diatas kertas kecil di tangannya.


"Berhenti memanggilku begitu, tuan Aksa" saut Go kemudian. Perempuan itu bisa mengenali Aksa bahkan tanpa berpaling untuk memastikan. Karena ia sudah hafal dan terbiasa dangan suara dan cara pemuda itu memanggil dirinnya.


"Jadi bagaimana? Apa anda menemukan hal menarik disini? Kudengar dari tuan Win di pantai tadi, katanya kalian menemukan gua dengan banyak kristal di dalamnya. Apakah aku boleh melihatnya?" Tanya Aksa seraya berjalan menuju Go dengan gestur tubuh seperti seorang anak kecil yang minta dibelikan mainan.


Go akhirnya menatap kearah Aksa yang sudah berada disebelahnya. Rambut perempuan itu di sanggul kebelakang. Meski hanya sekenanya dengan menggunakan batang besi, bagian kecil dari kereta pengeruk yang lepas.


"Saya sudah menduga bahwa anda pasti akan tertarik dengan hal tersebut. Tapi sebelumnya. Kudengar anda melubangi Dinding Sekai, di sisi barat? Alat apa lagi yang anda gunakan?" Tanya Go kemudian seraya berjalan menuju kedalam rumah. Aksa mengikuti dibelakangnya.


"Sebenarnya bukan aku yang melubanginya. Nata yang melakukannya. Tapi memang itu alat rancanganku. Apa anda ingin menggunakannya disini?"


"Apakah terlalu besar?"


"Tidak. Hanya tiga kali ukuran troli lokomotif itu"

__ADS_1


"Benarkah, hanya sekecil itu bisa melubangi Dinding Sekai?"


"Paku saja juga kecil tapi bisa melubangi kayu dan dinding rumah. Memang anda ingin melubangi apa, nona Elaine? Gunung Sekai?"


"Sudah saya bilang jangan memanggil saya dengan nama itu. Dan benar, saya ingin melubangi gunung itu" ucap Go setelah mereka sudah berada di dalam rumah.


"Sedikit bermasalah bila kita menggunakan mesin bor model itu untuk melubangi tembok yang tidak sekeras Dinding Sekai. Karena bagian atasnya rawan longsong. Tapi nanti biar Nata saja yang mengatur. Dia jago dalam mengurusi hal-hal seperti itu" jawab Aksa menjelaskan.


"Nah, sekarang dimana kristal-kristalnya?" Tanya Aksa terlihat tidak sabar.


Melihat tingkah Aksa, Go hanya mampu menghela nafas panjang. Dan kemudian mengantar Aksa menuju ke salah satu kamar dalam rumah tersebut.


Tampak ruangan tersebut memiliki sebuah wadah seperti meja. Yang dipenuhi dengan beberapa batu kristal berwarna-warni cantik. Yang tampak tersusun rapi. Dibagi pertempat, berdasar jenis dan warna nya. Ada Sekitar 6 jenis diatas meja tersebut.


"Wow, ini Realgar? Wah, ada Cinnabar. Dan ini Cyanite. Lalu Onyx. Wah, apa ini Sphalerite?!" Terlihat Aksa sudah mulai asik sendiri.


"Apa semua kristal-kristal itu berharga?" Tanya Go yang berjalan mendekat. Kemudian duduk disebelah Aksa.


"Kecuali giok ini, semuanya sangat berharga. Benar-benar penemuan yang luar biasa" jawab Aksa kemudian.


"Benar, nona Elaine. Yang Realgar ini. Ruby Sulphur ini. Dia mengandung elemen Arsenic yang beracun, di dalamnya. Bisa digunakan untuk membunuh hama dan tanaman liar. Juga bisa untuk pengobatan dan bahan penguat logam" ucap Aksa seraya mengangkat batu cantik berwarna merah.


"Tapi sifat Arsenic yang semi-conductor itu lah yang akan jadi pokok pentingnya. Dengan menggunakan Arsenic dalam memperkuat timah. Kita akan mendapatkan, sebuah Battery!" Ucap Aksa kemudian seperti baru saja memenangkan lotre.


"Apa itu batere?" Go tidak mengerti ucapan Aksa.


"Tapi harus bikin generator listriknya dulu memang" ucap Aksa kemudian dengan lesu tidak mengindahkan pertanyaan dari Go


"Lalu yang Cinnabar ini. Dia mengandung Mercuri" kemudian Aksa melanjutkan dengan mengangkat batu berwarna merah gelap.


"Sama beracunnya dengan Arsenik, tapi Mercuri lebih mematikan. Namun logam cair itu adalah cikal bakal banyak hal. Dari lampu Neon, Termometer, uga Battery. Ga guna juga sih, kalau belum ada listrik" Aksa tampak tinggal dalam dunianya sendiri. Sedang Go hanya terdiam mendengar ucapan Aksa yang tidak ia pahami.


"Terus yang Cyanite biru langit malam ini" kali ini Aksa mengangkat batu berwarna biru gelap.


"Dalam pembakaran seribu sekian derajad Celsius, batu ini baru akan meleleh menjadi gelas Silica. Bayangkan. Dengan ketahanan terhadap panas hingga setinggi itu, benda apa saja yang bisa kita buat dengan kristal ini?" Ucapnya lagi dengan berapi-api. Go juga masih tidak paham. Bahkan mengangguk sebagai respon kesopanan pun tidak.


"Kemudian si Onyx ini" Aksa mengangkat batu berwarna hitam dengan motif garis melengkung berwarna putih. Tidak memperdulikan reaksi yang diberikan oleh Go.

__ADS_1


"Pada dasarnya batu ini adalah Quartz. Jadi batu ini adalah kristalisasi dari Sillicon Dioxide. Yang berarti lebih banyak hal lagi yang bisa dibuat dari bentuk pasirnya batu ini" nada Aksa semakin meninggi di tiap kali ia menjelaskan tentang bebatuan tersebut.


"Dan yang terakhir ini" Aksa mengangkat batu yang berwarna coklat kehijauan. "Ini yang kita tunggu-tunggu kedatangannya. Sphalerite. Atau Ruby Jack" ucap Aksa seperti tengah memperkenalkan hal yang penting.


"Dan apa kelebihan batu itu, sampai anda menunggu-nunggunya?" Tanya Go yang tampak datar.


"Batu ini mengandung Zinc! Bahan yang dibutuhkan Nata untuk membuat listrik sederhana. Buat charge hape!" Tutup Aksa dengan lebih berapi-api.


"Setahu saya, batu kristal itu biasanya untuk perhiasan. Atau totem" ucap Go menimpali dengan biasa saja.


"Dimana anda menemukan ini semua nona Elaine? Kalau-kalau anda menemukan bebatuan yang mengandung logam. Coba beritahukan kepada saya juga"


"Kami menemukannya di gua sebelah utara. Ada banyak kelelawar bersarang disana" jelas Go dari kursi disebelah Aksa.


"Apa anda bilang?" Tiba-tiba Aksa berpaling kearah Go dengan cepat. Yang mengejutkan perempuan tersebut.


"Saya bilang apa?" Tampak Go tidak paham dengan pertanyaan dari Aksa.


"Ada sarang kelelawar di gua tersebut?" Aksa mengulang ucapan Go tadi dengan nada bertanya memastikan.


"Benar. Banyak sekali. Jadi kami harus berhati-hati saat menambang kristal-kristal tersebut" jelas Go kemudian.


"Pertama kami menambang kristal-kristal itu siang hari, dan kemudian terjadi kehebohan saat kelelawar-kelelawar itu mengamuk. Kini kami melakukannya saat malam. Saat mereka sedang berada diluar gua" tambahnya kemudian.


"Coba antar kan aku kesana nona Elaine" tiba-tiba Aksa berdiri dari tempat duduknya. Go hanya diam mendongak menatap wajah Aksa dengan heran. "Maksudku, nona Go" susul Aksa kemudian.


-


"Memang kenapa dengan kelelawar itu? Apakah mereka punya hal yang sangat berharga?" Tanya Go diperjalanannya mengantar Aksa menuju gua.


"Benar. Setara dengan kristal-kristal ini" jawab Aksa yang berjalan tepat disamping Go, sambil dengan riang menatap lingkungan sekitarnya.


"Benarkah? Dan apa itu?"


"Kalium Nitrat" saut Aksa dengan senyum mengembang.


-

__ADS_1


__ADS_2