
Malam harinya mereka mengadakan pertemuan di kediaman salah satu bangsawan yang terletak tidak jauh dari alun-alun kota. Pertemuan itu dihadiri oleh Helen, Nata, Aksa, Lily, Val, dan dua orang ksatria bawahan Helen.
"Menurut laporan dari prajurit pemantau, dua pasukan mendekat dari arah selatan dan timur. Dari wilayah Estat Saronia dan Estat Margrace. Dan masing-masing dari pasukan tersebut berjumlah kurang lebih seratus lima puluh prajurit" Helen melapor kepada Nata.
"Berarti totalnya tiga ratus prajurit" Nata terlihat sedang berpikir. "Dan sekarang berapa jumlah prajurit kita yang mampu bertempur?" Tanya kemudian.
"Kurang lebih delapan puluh prajurit. Serta beberapa penyihir" Helen menjawab.
"Ada berapa kereta tempur yang bisa digunakan?" Tanya Nata lagi.
"Kita memiliki tiga kereta tempur ditempat ini. Meski dua diantaranya terkena dampak dari ledakan tadi, namun hanya beberapa bagian kecilnya saja yang rusak. Selebihnya masih dapat berjalan dan masih bisa digunakan" jelas Helen.
"Kira-kira berapa lama pasukan Urbar itu sampai ketempat ini?"
"Karena mereka membawa kereta ram, jadi kemungkinan besar baru besok pagi kedua pasukan itu tiba ditempat ini"
"Untuk bantuan dari Eblan dan Ceodore, kapan kira-kira mereka akan tiba?" Nata bertanya lagi.
"Kemungkinan mereka juga akan tiba di kota ini besok pagi. Tapi yang pasti tidak akan lebih cepat dari pasukan Urbar" Helen memberi penjelasan.
Nata terlihat mengangguk kecil seolah sedang menimbang sesuatu. "Baiklah nona Helen, jadi begini rencana kita" ucapnya kemudian dijedah.
"Kita akan menghadang mereka diluar gerbang dengan tiga kereta tempur yang kita miliki" Nata mulai menjelaskan rencananya pada yang lain. "Saya tahu tiga kereta tempur bukanlah tandingan untuk pasukan dengan tiga ratus prajurit. Tapi tujuan kita kali ini hanya untuk mengulur waktu dan mengurangi jumlah mereka sebanyak yang kita bisa, sebelum mereka sampai ke gerbang kota.
"Tetap menyerang dengan berhati-hati. Bila dirasa sudah tidak memungkinkan, tarik mundur pasukan anda. Tidak perlu memaksakan diri" tutup Nata kemudian.
"Baik. Saya mengerti, tuan Nata" Helen menjawab cepat.
"Aku akan ikut mereka keluar, Nat" tiba-tiba Aksa berucap yang mengejutkan Helen.
"Apa anda tidak keberatan dengan hal tersebut, nona Helen?" Nata bertanya kepada Helen dengan biasa saja. Seolah ia sudah tahu bahwa Aksa akan berkata demikian.
"Saya tidak keberatan" Helen menjawab.
"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah, Aks" ujar Nata kemudian, yang hanya dijawab oleh Aksa dengan anggukan kepala.
__ADS_1
-
Selepas tengah malam, tiga kereta tempur dengan masing-masing diisi oleh enam orang mulai meluncur bertolak dari gerbang kota Meso untuk menghadang pasukan kerajaan Urbar.
Mereka akan memusatkan serangan ke pasukan yang datang dari timur terlebih dahulu. Karena jalur tersebut cukup landai dan lebih mudah untuk dilewati.
Rencananya mereka akan melakukan serangan dari jauh. Dan tetap berusaha menjaga jarak.
Tampak Helen keluar dari bagian atas kereta tempur tersebut saat pasukan kerajaan Urbar sudah mulai terlihat didepan. Dan seperti yang pernah ia lakukan saat menyerang kota Meso sebelumnya, ia mengangkat dua pedang mistiknya ke atas dan mulai merapal.
Tak lama, kedua bilah pedangnya mulai bersinar terang ditengah gelap malam. Berwarna biru dan merah. Dan kemudian muncul beberapa bola api melayang diantara pilar-pilar es diatas kepala Helen.
Karena hal tersebut, pasukan lawan segera menyadari keberadaan kereta tempur pasukan Pharos. Dan para penyihir mereka segera memasang posisi untuk membuat sihir pelindung.
Lalu bersamaan dengan Helen yang menyabetkan pedangnya kedepan, puluhan bola api dan pilar es itu meluncur maju kearah pasukan kerajaan Urbar.
Meski para penyihir sudah menyiapkan sihir pelindung yang berhasil menangkis beberapa serangan bola api dan pilar es tersebut, namun karena jumlahnya yang terlalu banyak, beberapa diantaranya berhasil lolos dan mengenai para prajurit.
Namun kali ini pasukan kerajaan Urbar tidak panik dan melarikan diri. Kali ini pasukan tersebut dengan sigap membuat formasi memecah menjadi tiga bagian, dimana para prajurit memasang tameng mereka di depan para penyihir dan pemanah yang siap untuk menembakan sihir dan anak panah mereka. Sedangkan pasukan berkuda mereka mulai maju menyerang.
Melihat prajurit penunggang kuda mulai maju, Helen memberi aba-aba untuk mulai menembakkan jaring besi dari senjata yang tepasang diatas kereta tempur tersebut. Dan tak lama, satu persatu para penunggang kuda itu mulai berjatuhan terjerat jaring besi.
Menanggapi hal tersebut, Aksa yang mengemudikan salah satu dari kereta tempur itu, mulai memacu kecepatan dan memimpin di depan kedua kereta tempur lainnya.
"Nyalakan listrik pengejut dan mata bor" perintah Aksa kepada prajurit yang duduk disampingnya.
"Siap!" Jawab prajurit tersebut dengan mulai sibuk menarik tuas-tuas yang ada di hadapannya.
Kereta tempur Aksa terus melaju mengarah tepat ke rombongan penunggang kuda kerajaan Urbar yang menuju kearahnya.
Melihat kereta lawan yang tampak tidak berniat untuk merubah arah, membuat para prajurit berkuda menghindarinya dan mencoba menyerangnya dari samping. Namun itu adalah hal yang sia-sia. Antara senjata mereka terpental saat mengenai badan kereta tempur tersebut, atau mereka terjatuh lemas karena tersengat listrik pelumpuh.
Dan tanpa mengurangi kecepatan, kereta tempur Aksa terus melaju lurus kearah formasi bertahan pasukan kerajaan Urbar.
"Nona Helen, tampaknya tuan Aksa terus bergerak lurus mendekati pasuka lawan" ujar pengemudi kereta tempur tempat Helen berada, memberi tahu.
__ADS_1
Meski rencana awal mereka adalah melakukan serangan jarak jauh dan menjaga jarak, namun Helen mempercayai entah apa yang akan di lakukan oleh Aksa.
"Ikuti kereta tempur tuan Aksa!" Perintah Helen kemudian. Dan dua kereta tempur lainnya tampak mulai mengikuti kereta tempur Aksa.
.
Sihir api, petir, es, dan anak panah segera menghujani kereta tempur Aksa. Namun hal tersebut tidak terlalu berdampak. Kereta tempur tersebut tetap melaju dan kemudian menabrakan diri kearah formasi prajurit bertameng yang berada di barisan paling depan. Membuat para prajurit itu terlempar ke segala arah karena dampak dari putaran mata bor nya.
Melihat pertahanannya berhasil tertembus, para penyihir segera membuat pelindung sihir dihadapan mereka untuk menjaga agar kereta tempur tersebut tidak menghantam mereka.
Namun dengan segera Aksa membanting roda kemudinya ke kanan sebelum kereta tempurnya sempat menyentuh pelindung sihir dihadapannya.
Sedang hal tersebut digunakan Helen untuk menembakan bola api dan pilar es ke tempat yang tidak di lindungi oleh dinding sihir tersebut. Yang menyebabkan formasi para pemanah mulai berantakan.
"Tuan Aksa, sepertinya pasukan mereka yang dari selatan sudah tiba" ucap prajurit yang berada di bagian atas kereta Aksa, memberi tahu.
Dan saat Aksa melongok dari celah jendela di samping kanannya, tampak dari arah selatan pasukan lain kerajaan Urbar mulai mendekat untuk membantu.
Helen yang mengetahui hal tersebut, segera mengeluarkan perintah untuk mundur ke dalam gerbang.
-
Tak lama setelah mereka kembali ke dalam kota Meso, gabungan dua pasukan kerajaan Urbar itu sampai di depan gerbang kota.
Dan setelah penyerangan oleh tiga kereta tempur tadi, kini jumlah prajurit mereka berkurang menjadi sekitar 210 prajurit. Pasukan yang dipimpin Helen tadi berhasil mengurangi 80 prajurit.
Helen membuat tembok es tepat di depan gerbang kota. Sambil terus melancarkan serangan pilar es dan bola api nya dari atas tembok kota. Sementara prajurit yang lain ikut menyerang dengan senjata berpeluru pasak besi.
Mereka terus bertahan hingga matahari mulai terlihat dilangit timur. Para prajurit penjaga kota sudah mulai kehabisan peluru, dan Helen sudah mulai kehabisan stamina. Saat kemudian tampak dua kereta tempur dan beberapa puluh pasukan berkuda datang dari arah utara dan barat. Pasukan bantuan sudah tiba.
Mengetahui hal tersebut, pasukan kerajaan Urbar mulai terlihat sedikit panik. Mereka segera membagi formasi untuk bersiap menghadapi dua pasukan bantuan tersebut.
Dan karena kekuatannya terbagi, juga karena pasukan dari wilayah Eblan dipimpin oleh Wedge yang menggunakan senjata mistik, busur panah angin, maka dengan mudah pasukan kerajaan Urbar dipukul mundur.
Pada akhirnya pasukan Pharos berhasil mempertahankan kota Meso dan mengalahkan pasukan kerajaan Urbar. Namun bagi sebagian besar orang tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah kemenangan. Terutama Aksa dan Nata.
__ADS_1
Dari atas dinding gerbang, Helen melihat kearah reruntuhan di tengah kota. Cahaya matahari pagi membuat mereka ingat akan kekalahan yang mereka terima.
-