Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
24.5 Antology Story : Mendatangkan Bantuan


__ADS_3

Pagi itu tampak kereta kuda yang ditunggu-tunggu Ellian datang juga. Setelah sejak kemarin pagi ia menunggunya.


Kereta kuda itu punya bentuk dan motif yang jarang sekali ada di wilayah Elbrasta. Badan keretanya sedikit lebih tinggi karena diameter lingkar rodanya yang lebih besar dan tebal dari kebanykan kereta kuda yang sering terlihat di wilayah Elbrasta, bahkan di wilayah Estrinx.


Empat roda yang besar itu masih ditambah dengan posisi kursi kusir yang bukan berada di depan kereta, melainkan di depan atas badan kereta, yang semakin memberi kesan megah saat kereta tersebut lewat.


Dan dampak dari badan kereta dan roda yang besar dan tebal itu adalah perlunya empat kuda untuk menariknya.


Itu adalah bentuk ciri khas kereta kuda dari kerajaan Cilum yang terletak di ujung barat laut daratan Elder. Yang separuh wilayahnya adalah daratan es. Kereta tersebut memang dibuat agar mampu berjalan melewati tanah licin dan bersalju.


Dan jelas karena hal tersebut tadi kedatangan kereta kuda itu sangat menarik banyak perhatian. Belum lagi warna badan keretanya, hijau terang. Yang masih dapat dikenali meski dari kejauhan.


"Bagaimana kak? Kau bawa semua benih yang ku pesan?" Saut Ellian begitu melihat seseorang keluar dari kereta kuda terebut.


"Kau tau, adik ku tersayang? Butuh tiga minggu dari Herico kemari, dan yang pertama kali kau tanyakan adalah bibit-bibit itu?" Ucap seorang perempuan dengan postur tubuh tinggi jenjang, turun dari kereta tersebut. Rambutnya disanggul dengan kain renda tipis menutup hingga sebelah kiri matanya. Berwarna hijau gelap senada dengan warna jubah berbulu tebal yang dikenakannya.


Meskipun tampangnya terlihat jauh lebih muda, namun wanita itu adalah kakak Ellian.


"Maaf-maaf, ayo ke tendaku, aku punya minuman herbal yang pas untuk mu. Pas diminum setelah melakukan perjalanan jauh" ucap Ellian mengajak kakak perempuannya itu masuk ke tendanya.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan di tempat aneh seperti ini, El? Sampai-sampai harus berbagi perkemahan dengan kelompok tua bangka itu" ucap sang Kakak saat Ellian sudah selesai menyeduh teh herbal di dalam kemahnya.


"Sudahlah jangan memulainya, kak. Kalian sudah lama tidak bertemu kan? Apa kau tidak merindukan nya sama sekali?" Ucap Ellian kali ini sambil ikut menyeruput teh di hadapan wanita itu.


"Tidak akan pernah. Kembali kepertanyaanku tadi, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini? Bahkan sampai membawa seluruh anggota dan pekerjaanmu dari Noro kemari?" Ucap wanita itu seraya menyesap teh dalam gelasnya kemudian menutup mata sejenak, terlihat sedang menikmatinya. "Bahkan Couran sampai bisa mengajak si tua bangka itu ikut serta? Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi" tambah wanita itu setelahnya.


"Benar, seperti yang sudah ku sebutkan dalam surat ku sebelumnya, bahwa kami sedang melakukan rencana pekerjaan"


"Dan kau berjanji akan menjelaskan semuanya begitu aku sampai disini" ucap sang Kakak seraya meletakan gelas teh nya.

__ADS_1


"Benar. Itu karena cerita ini tidak akan terdengar masuk akal apa lagi bila aku ceritakan lewat surat" ucap Ellian yang mengikuti meletakan gelas teh nya.


-


"Apa kau sudah mulai terpengaruh cara berpikir Couran yang tidak beres itu? Bagaimana kau bisa menyetujui ikut dalam rencana tidak masuk akal ini?" Wanita itu menaikan nada bicaranya, setelah mendengar cerita Ellian.


"Sebelumnya aku pernah bercerita bahwa Couran mengirimi ku surat yang berisi metode-metode bertanam bukan?"


"Iya, lalu?" Tampak sang Kakak sudah mulai tenang.


"Jadi metode-metode itu ditulis oleh dua orang pemuda yang akan membangun tanah Pharos tersebut"


"Hanya dengan itu saja kau sudah langsung percaya pada mereka? Bisa saja mereka seorang penipu, mungkin metode-metode itu mereka curi dari seseorang"


"Aku tahu, kau pasti tidak akan percaya. Maka dari itu ayo ikut aku, kak. Ku tunjukan bagaimana metode lain yang pemuda itu beritahukan setelahnya" ucap Ellian yang kemudian menarik kakak perempuannya itu keluar tenda.


Tampak sebuah bangunan tak lebih besar dari sebuah gudang, dengan bentuk bangunan yang juga tidak jauh berbeda dari sebuah gudang. Namun dibagian atap yang harusnya terpasang genteng atau jerami itu, kini digantikan dengan kaca-kaca mozaik warna warni yang biasa hanya ada pada kuil, kastil, dan istana, untuk tujuan seni dan keindahan belaka.


Terlihat sang Kakak penasaran melihat hal tersebut, namun belum juga bertanya. Sementara Ellian masih menariknya menuju ke dalam ruangan tersebut.


Di dalam ruangan itu terdapat rak-rak dari kayu dengan berbagai pot tembikar berjajar berisi beragam jenis tumbuhan. Ruangan itu berwana-warni oleh karena cahaya matahari yang menembus kaca mozaik.


Lalu di sisi lain ruangan tersebut terpasang pula sebuah wadah tembikar yang dibuat memanjang seperti selokan dengan alat seperti kotak yang memiliki roda kincir air disisi luarnya. Didalam wadah itu ada air yang mengalir jatuh kebawah lalu disedot keatas lagi melewati kotak yang memiliki roda kincir tersebut.


Diatas selokan tersebut tergantung tanaman-tanaman dalam tabung bambu yang terdapat banyak lubang.


"Jadi apa sebenarnya itu El?" Tanya sang Kakak.


"Ini disebut Hidroponik, cara menanam tumbuhan tanpa tanah" jawab Ellian menjelaskan. "Kotak ini disebut Mesin Pompa. Kegunaannya menarik air dari bawah keatas, agar terjadi siklus aliran" tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Menanam tanpa tanah?" Wanita itu kembali menaikan nada bicaranya. Kemudian menyentuhkan punggung tangannya ke kening dengan gaya dramatis."Sebentar-sebentar, aku perlu aroma terapi ku" tambahnya kemudian seraya mencari sesuatu dari balik jubahnya.


"Sudahlah kak tidak usah berlebihan" ucap Ellian dengan wajah malas menatap kakaknya itu.


"Bagaimana mungkin? Menanam diatas air? Apa orang-orang itu titisan dewa Dryad?"


"Itu adalah tehnik yang digunakan dengan mengalirkan mineral-mineral yang diperlukan tumbuhan dalam arus air" jelas Ellian yang tampaknya tidak didengar oleh sang Kakak.


Wanita itu berjalan mendekat dan menyentuhkan tangannya kesalah satu daun tumbuhan yang ada dalam alat Hidroponik tersebut.


"Dan bagaimana menurutmu? Apakah mereka tumbuh dengan sehat?" Tanya Ellian saat tahu kakaknya sedang membaca aliran Jiwa yang ada dalam tumbuhan tersebut.


"Benar, mereka tumbuh dengan normal. Tidak ada indikasi kerusakan dalam aliran Jiwa yang mereka punya" ucap wanita itu dengan penasaran. "Bagaimana bisa?"


"Dan karena ini lah aku tidak akan berpikir dua kali untuk ikut serta dalam membangun tanah Pharos tersebut. Tidak peduli seberapa rusak dan matinya tanah itu, mereka bisa menanam tumbuhan tanpa tanah"


"Lalu bangunan dengan kaca mozaik yang seperti kuil itu apa fungsinya? Apakah semacam sihir tertentu untuk meningkatkan aliran Jiwa tumbuhan?"


"Bukan kak, tidak ada sihir yang digunakan untuk menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan ini"


"Lalu untuk apa dipasang? Jangan bilang warna sinar matahari mempengaruhi cara tanaman untuk tumbuh?"


"Bukan kak, kata mereka sih ruang kaca itu menangkap ultra apalah itu dari sinar matahari dan menguncinya, kegunaan utamanya sih, untuk mengatur suhu dan kelembaban dalam ruangan"


Kemudian penjelasan Ellian di potong oleh Couran yang mendadak masuk.


"Katarina! Mengapa kau tidak menemui ku dulu?" Ucap Couran yang langsung memeluk kakak perempuan Ellian yang tampak terkejut itu.


-

__ADS_1


__ADS_2