Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
21. Siasat Mengecoh


__ADS_3

Rombongan Nata dan Aksa tiba di desa terdekat. Desa Herld. Saat langit sudah benar-benar gelap. Tak ada yang bisa dilihat dari desa tersebut, kecuali sebuah pahatan kayu tinggi yang dipasang di lapangan desa seperti sebuah menara.


Dan begitu tahu ada Lugwin diantara rombongan yang baru saja memasuki desa tersebut, segera kepala desa menghampiri dan mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya dengan terlihat tergesa.


"Untung anda baik-baik saja putri" ucap sang kepala desa yang terlihat lega mendapati Lugwin selamat.


"Kenapa anda terlhat panik tuan Brian?" Tanya Lugwin yang tampak sudah mengenal sang kepala desa itu.


"Saya mendapat kabar dari warga yang sedang berburu di tebing barat, bahwa ada dua belas prajurit bayaran sedang menuju kemari. Saya rasa mereka sedang mengejar tuan putri" jelas Brian seraya mengusap rambutnya dengan tak tenang.


"Berarti kita harus segera pergi dari sini sebelum terlambat" ucap Lugwin kemudian.


"Tidak akan sempat putri. Sebentar lagi mereka akan tiba di depan gerbang desa. Lebih baik anda segera bersembunyi. Kami akan coba membuat mereka pergi dari sini"


"Jangan gegabah tuan Brian, jangan melawan mereka. Mereka prajurit yang tidak memperdulikan apapun selain upah mereka"


"Benar tuan Brian. Saya punya ide yang lebih baik" ucap Nata kemudian. Semua orang segera menatap ke arah Nata menanti penjelasan.


"Kita akan gunakan siasat untuk mengecoh mereka" jelas Nata kemudian.


"Mengecoh?" Tanya Lugwin.


"Siasat?" Tanya Brian.


"Kita akan buat seolah-olah sang putri ada di tempat lain, sementara beliau menuju ketempat lain" jelas Nata kemudian.


"Jadi harus ada orang yang menjadi umpan agar para prajurit ini mengejarnya. Sementara setelah mereka jauh dari desa ini kita bisa melarikan tuan putri itu?" Brian memastikan setelah mendengar penjelasan detailnya. "Padahal kita hanya perlu mengalahkan mereka. Mereka hanya berdua belas saja. Tidak sebanding dengan kita" imbuhnya kemudian merasa ide Nata terlalu merepotkan.


"Benar paling mudah adalah dengan mengalahkan prajurit bayaran itu. Mereka tidak akan menang melawan warga ditambah kita sekarang. Namun hal itu akan menambah kekecurigaan dan tak lama kemudian lebih banyak prajurit bayaran akan diutus kemari. Yang bisa saja berakhir dengan hangusnya desa ini" jawab Nata kemudian.


Brian tampak terdiam menelan ludah setelah mendengar kemungkinan yang akan terjadi bila ia melakukan hal itu.

__ADS_1


"Biar aku yang menjadi umpan. Aku tak akan mudah ditangkap" Loujze mengajukan diri. Yang dianggap masuk akal oleh semua orang yang ada disitu.


"Kami akan membantunya" ucap Huebert seraya berdiri diikuti Deuxter.


-


Setelahnya kepala desa mengutus seorang pemuda desa untuk menghantar Lugwin dan rombongan keluar dari desa melewati gerbang selatan dengan hati-hati sementara Loujze dibantu Deuxter dan Huebert mengecoh para prajurit bayaran itu ke arah yang berlawanan.


Mereka menggunakan jubah putri Lugwin yang dikenakan pada Loujze, kemudian dengan menggunakan dua kuda tiga pemburu itu pergi kearah utara dengan sangat mencolok.


Sedang rombongan Aksa dan Nata sudah berada diluar gerbang selatan saat para prajurit bayaran itu termakan umpan yang diberikan, dan mengejar kearah yang berlawanan.


"Terima kasih kalian sudah dua kali menyelamatkan ku" ujar Lugwin dari atas kuda berdua dengan pemuda desa tadi.


"Hendak kemana kalian setelah ini?" Tanya Lucia kemudian.


"Kami hendak kembali ke kotaraja untuk menemui kenalan ku" jawab Lugwin kemudian.


"Baiklah, hati-hatil kalian"


Dan merekapun berpisah jalan.


-


'"Aku punya firasat bahwa gadis itu akan membawa masalah bagi kita" ujar Nata saat mereka bersiap untuk beristirahat tak terlalu jauh dari perbatasan timur desa Herld.


"Mungkin semua putri bangsawan dunia ini punya kutukan yang selalu membawa sial" saut Aksa kemudian.


"Kita harus menghindari ikut campur dalam masalah ini. Kita harus segera menuju ke Dyms untuk segera bertemu dengan Oracle" ujar Nata kemudian.


-

__ADS_1


Tak lama kemudian tampak siluet pria mendekati perkemahan mereka saat api unggun sudah menyala terang.


"Akhirnya datang juga kalian" ujar Jean saat mendapati sosok Loujze mendekat.


"Jangan remehkan pemburu Tirgis dalam melacak sesuatu" jawab Loujze kemudian.


"Dan apa kalian sudah mulai tertular dengan kelakuan tuan putri kita tercinta ini?" Tanya Aksa kemudian saat tampak dibelakang Loujze, Deuxter dan Huebert sedang membopong seseorang.


"Siapa dia?" Tanya Lucia mengacuhkan ucapan Aksa.


"Kami menemukannya di tengah hutan saat kami sedang mengecoh para prajurit tadi" jawab Huebert. Terlihat Lucia, Jean, dan Lily terkejut mendapati sesosok yang dibopong Huebert dan Deuxter itu seraya segera membantunya untuk duduk diantara api unggun.


"Dia sepertinya seorang budak" Ucap Jean setelah memperhatikan pemuda yang dibopong Huebert dan Deuxter tersebut.


"Tolong saya. Saya mohon." ujar pemuda yang tampak lemah itu memohon. Tampak bekas ikatan rantai masih terlihat di pergelangan tangan dan kakinya. Badannya terlihat kurus dan banyak sekali luka disekujur tubuh diantara bajunya yang compang camping.


"Bagaimana kau tau dia seorang budak?" Tanya Nata.


"Seorang budak memiliki tanda yang di bakar diatas kulitnya'" ujar Jean yang menunjuk kearah lengan pemuda itu. Yang terdapat tanda bekas terbakar berbentuk seperti semanggi berdaun tiga.


"Dari mana kau melarikan diri?" Tanya Jean kemudian.


"Dari kota Halmd" jawab pemuda itu.


"Kami tidak bisa meninggalkan nya begitu saja di tengah hutan" ujar Huebert kemudian.


"Benar. Kalian sudah tertular penyakit sang putri" ujar Aksa yang di respon tatapan sinis oleh Lucia.


"Bukannya demikian tuan Aksa. Kami hanya tidak memiliki sihir penyembuh" Ucap Deuxter yang membuat tampang Aksa berubah lesu seketika.


"Akhir-akhir ini kalian suka sekali membawa orang dari dalam hutan" Gumam Aksa seraya mengambil peralatan obat yang sudah sejak seminggu terakhir ini ia dan Lily siapkan untuk keadaan darurat.

__ADS_1


-


__ADS_2