
Setelah melakukan tanya jawab untuk memuaskan rasa penasaran kedua belah pihak, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Dan tak lama setelah mereka mulai berjalan, terdengar suara berisik dari arah hutan.
"Suara apa itu, Jean?" Tanya Lucia.
"Dari arah hutan," ucap Jean seraya menghentikan kereta.
Dan tak jauh dari arah mulut hutan muncul seseorang yang sedang berlari sambil membopong orang lain yang tampaknya sedang terluka.
"Seseorang terluka, Jean," ucap Lucia seraya melompat turun dari kereta dan segera berlari menuju kearah dua orang tersebut.
"Putri, tunggu!" Teriak Jean seraya ikut melompat turun mengikuti Lucia.
"Apa hobi gadis itu masuk ke masalah orang lain, ya?" Ucap Nata melihat kelakuan Lucia.
Tak lama kemudian tampak satu orang lagi muncul sambil berlari keluar dari bibir hutan. Di belakangnya mengikuti hewan seperti singa dengan tampak seperti sulur dan dedaunan hijau menutupi seluruh surai dari kepala hingga lehernya. Hingga seperti sebuah semak di antara wajahnya. Memiliki ekor yang seperti ekor kalajengking panjang meliuk-liuk tepat di atas kepalanya.
"Ya, itu masalah yang besar" ucap Aksa kemudian yang mulai kuatir melihat monster yang baru saja muncul dari dalam hutan.
"Manticore?!" Terlihat Lucia, Jean, dan Couran berteriak hampir bersamaan.
"Kabur!" seru pria yang sedang membopong pria lain yang terluka itu kepada Lucia dan Jean.
"Tapi, teman mu yang itu?"
"Dia Getjza, dia akan baik-baik saja. Biarkan dia mengulur waktu sementara kita kabur dari sini," ucap pria itu dengan nafas tersendal.
"Baiklah, ayo!" ucap Jean seraya membantu pria itu membopong temannya sembari berlari kembali ke kereta.
"Kalian tidak membantu mereka?" Tanya Couran kepada Aksa dan Nata.
"Sayangnya ilmu pengetahuan kami tidak berguna dalam situasi seperti ini," jawab Nata.
__ADS_1
"Setuju," timpal Aksa.
"Kalian ini kan laki-laki, masa hanya diam saja melihat wanita-wanita itu bersusah payah membantu mereka?"
"Anda sendiri juga sama seperti kami, tuan Couran."
"Aku sudah tua, fisikku sudah tak sekuat dulu lagi."
"Fisik kami lebih lemah dari seorang gadis, kata Jean kemarin," jawab Aksa.
Couran memutuskan untuk tidak meladeni ucapan Nata dan Aksa karena dia harus membantu mengangkat pria yang terluka tadi ke dalam kereta.
"Ayo segera pergi dari tempat ini!" ucap pria yang tidak terluka itu seraya melompat ke dalam kereta.
Dan tanpa menunggu perintah selanjutnya, Jean segera memacu kudanya melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Dia meninggalkan temannya," ujar Aksa sambil menunjuk ke satu orang lagi yang sedang berlari dikejar Manticore ke arah yang berlawanan dengan arah kereta mereka melaju.
"Darahnya banyak keluar," ucap Lucia di tengah kereta yang melaju kencang menjauh dari bibir hutan.
"Di desa ada seorang penyembuh." Kali ini Couran yang berucap.
"Terlalu lama, kita tak akan sempat," timpal Lucia, "Akan kucoba untuk menyembukannya," tambahnya lagi.
"Apa anda bisa sihir penyembuh?"
"Tidak." Lucia menjawab ragu.
"Apa Anda sedang bercanda? Melakukan sihir penyembuh bagi orang yang tidak terlatih malah akan membahayakan orang yang disembuhkannya. Anda tau itu, kan?"
"Tapi setidaknya aku mencoba dari pada tidak melakukan hal apapun," pembelaan Lucia kemudian.
"Cih, kalian ini sudah ketergantuangan dengan metode-metode yang serba instan seperti itu. Dasar Millenial," ucap Aksa kemudian.
__ADS_1
"Siapa yang kau sebut millenial?" Tanya Nata spontan.
"Minggir kalian," ucap Aksa seraya maju mendekat ke pria yang sedang terbaring itu. "Yang namanya orang terluka dan berdarah itu harusnya ditutup dan diobati, bukan malah bingung ga jelas seperti itu," tambahnya seraya membalik tubuh pria yang terluka itu dan mulai membuka baju yang menutupi lukanya.
"Luka sayatan di punggung sebelah kiri. Jauh dari organ vital. Nat, ambilkan botol tuak di belakang," perintah Aksa, yang membuat orang yang ada disekitarnya terdiam tak mengerti dengan apa yang sedang ia lakukan.
Kereta kuda pun berhenti berjalan, karena Jean kini ikut memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Aksa. "Tuan Couran tolong ambilkan jarum untuk menjahit kulit hewan di bawah situ. Berikan pada Nata," ucapnya lagi memerintah Couran, "Tekuk jarumnya seperti mata kail, Nat." Kali ini perintahnya untuk Nata.
Sedang Nata hanya tersenyum melihat reaksi orang-orang di sekitarnya itu seraya mengikuti instruksi perintah dari Aksa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria yang tidak terluka itu melihat apa yang dilakukan Aksa pada temannya.
"Menjahit luka pria ini," jawab Aksa yang terlihat serius.
"Apa kau bilang?"
"Luka sayatan memang harus dijahit, kalau tidak pendarahannya tak akan berhenti. Kau mau teman mu mati? Sini, serahkan belati itu padaku."
"Mau kau apakan belati ini?" Pemilik belati itu tampak enggan dan ragu menyerahkan belatinya kepada Aksa.
"Ya sudah, buat temanmu mengigit gagangnya agar dia tidak tanpa sengaja menggigit lidahnya sendiri. Dan coba tahan temanmu sekuat tenaga saat aku mulai menjahit lukanya, karena aku tidak bisa menjahitnya kalau dia terus bergerak," ucap Aksa memerintah lagi.
Setelah mengguyurkan tuak ke luka pria tersebut untuk membersihkan lukanya, segera dengan cekatan Aksa mulai menjahit luka pria tersebut. Tubuh pria tersebut mengejang karena sedang menahan rasa sakit. Semua orang masih terdiam tak mengerti melihat apa yang sedang dilakukan Aksa.
Sementara itu suara Manticore yang mengejar mereka tadi sudah tidak lagi terdengar.
-
Setelah selesai menjahit luka pria itu Aksa mulai membersihkan sisa darah dan membalut lukanya dengan kain surban yang Lucia berikan tempo hari. Dan memberikan sisa tuak tadi ke pria yang terluka itu sebelum akhirnya pria itu jatuh pingsan.
"Aksa? Apa kau seorang tabib?" Terdengar Couran bertanya memecah keheningan yang cukup lama terbentuk setelah pria yang terluka tadi jatuh pingsan.
"Bukan," jawab Aksa. "Aku adalah pahlawan legendaris utusan para dewa," imbuhnya kemudian.
__ADS_1
-