Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
12.5. Antology Story : Hari Libur Lucia III


__ADS_3

"Jadi tuan Selene, apakah memungkinkan hewan buas itu dijinakan untuk orang lain?" Tanya Cedrik saat ia dan beberapa anggotanya tengah beristirahan di depan pelataran rumah Selene di wilayah barat, yang baru selesai dibuat dua hari sebelumnya.


"Memungkinkan tuan Cedrik. Asal mereka diterima oleh hewan buas atau hewan ternak tersebut" jawab Selene terlihwt sedang memutar tenunan woll pada sebuah batang kayu.


Terlihat Popo, serigala Selene sedang duduk meringkuk dengan kepala disandarkan pada kedua kaki depannya. Bersantai. Sementara elang Ekor Merah nya bertengger di sebuah tiang kayu tepat disebelah pintu masuk. Sedangkan rubah Ekor Belah nya tengah bersembunyi di antara dahan disebuah pohon muda tak jauh dari pekarangan rumah.


"Bagaimana cara kita untuk bisa diterima hewan tersebut?" Terdengar Shuri ikut bertanya karena juga merasa penasaran. Gadis pemburu itu duduk disebelah Margaret berseberangan dengan Cedrik.


"Jadi, penjinak akan berkomunikasi dan kemudian menawarkan orang yang ingin menjadi pasangannya tadi kepada hewan tersebut. Bila ia seteju maka hewan itu akan setia dan menganggap orang itu tuannya. Dan bila tidak, ia akan berlari kabur" jelas Selene yang mengambil batang kayu baru untuk melanjutkan menggulung tenunan woll.


"Oh, seperti seorang penghubung?" Ucap Cedrik yang mulai paham dengan konsepnya.


"Benar sekali, tuan Cedrik. Seperti itu kira-kira"


"Dan apa kriteria untuk bisa menjadi tuan mereka?" Kali ini Shuri yang bertanya.


"Wah, kalau hal itu saya juga kurang begitu paham, nona Shuri. Sepertinya menurut pengalaman saya, kriteria itu tidak pernah sama pada tiap hewan" jawab Selene kemudian.


"Begitu rupanya" terlihat Cedrik dan Shuri tampak lesu.


"Apakah tuan Cedrik dan nona Shuri menginginkan seekor hewan pendamping?" Tanya Selene melihat reaksi Cedrik dan Shuri.


"Ya, sebenarnya begitu. Tapi aku juga belum memutuskan ingin hewan pendamping seperti apa dan juga tidak yakin bakalan diterima oleh si hewan" Cedrik terdengar berkesah.


"Tidak apa-apa tuan Cedrik. Tidak ada salahnya untuk dicoba" Selene memberi semangat.


"Benar juga"


Kemudian suara peluit kereta uap pun terdengar dari kejauhan. Terlihat serigala Selene mengangkat kepalanya menatap kearah kereta uap datang. Si elang segera melompat dan melunfuk ke angkasa.


"Siapa itu?" Tanya Margaret seraya menyipitkan matanya melihat kepulan asab dari kejauhan.


"Entahlah"


.


Elang Ekor Merah terbang rendah disamping gerbong saat kereta uap itu mulai dekat dengan stasiun pemberhentian dekat dengan area Selene membangun tempat untuk para binatang. Elanh tersebut meluncur tepat di sebelah jendela dimana Lucia duduk. Tampak Lucia menatap elang tersebut dengan berbunga-bunga.


Kemudian elang tersebut memekik kencang seolah tidak mau kalah dengan suara peluit kereta uap. Melayang ke angkasa yang kemudian menukik tajam kearah Selene dan kemudian hinggap di pundaknya.


Tampak Cedrik dan empat anggotanya, mengikuti Selene menyambut Lucia yang tampak baru saja turun dari gerbong kereta.


"Anda datang seorang diri, putri?" Terlihat Cedrik bertanya penasaraan saat tidak ada seorang pun yang keluar dari gerbong kereta dibelakang Lucia.

__ADS_1


"Anda tidak sedang melarikan diri, kan?" Kali ini Margaret yang bertanya memastikan dengan sedikit bercanda.


"Tidak-tidak. Karena hari ini hari libur ku, jadi aku ingin berkeliling saja. Dan sayang nya bertepatan dengan Jean yang mendapat tugas mengantar sesuatu bersama nona Helen ke luar Pharos" jawab Lucia dengan tawa kecil.


"Oh, begitu rupanya? Anda bisa meminta tuan Caspian untuk menjaga anda" ucap Cedrik memberi masukan.


"Tidak apa-apa. Jangan kuatir, kalian" jawab Lucia masih dengan tawa kecilnya.


Cedrik tampak mengangguk, meski dia masih merasa kuatir Lucia melakukan perjalanan seorang diri ke wilayah barat. Meskipun setelah dilakukan pembersihan, wilayah ini termasuk aman untuk dilalui.


"Lalu, apa yang membuat tuan putri sampai datang kemari?" Kali ini Selene yang bertanya.


"Kurasa aku hanya ingin melihat wilayah tempat para binatang di pelihara" jawab Lucia cepat.


"Oh, kalau memang begitu, saya akan tunjukan pada anda tuan putri" jawab Selene seraya mempersilahakan Lucia untuk berjalan di depannya.


Kemudian Lucia berjalan diikuti oleh Selene, Cedrik, Margaret, Shuri, Diana, dan Axel. Tampak pula Popo serigala Selene ikut berjalan disebelah mereka.


Dan begitu keluar dari bangunan stasiun tersebut, Lucia lansung disuguhi dengan pemandangan yang membuatnya terkesan.


Diantara para pekerja yang tampak hilir mudik mengangkat sesuatu diatas pundak mereka, terlihat beberapa bangunan berdiri di sebuah bidang tanah dengan sebuah pagar yang mengelilingi dan membagi 4 petak area yang berisikan beberapa kuda, sepasang burung Dodo yang tampak sebesar kuda, kambing, sapi, dan **** hutan.


Lalu disela sebuah kanal sungai dengan sebuah kincir air ditengahnya, terdapat bangunan dengan ukuran yang berbeda-beda dan bentuk yang tidak simetris. Di dalamnya terdapat unggas penghasil telor, dan unggas penghasil daging.


Tak jauh dari tempat itu ada sebuah pohon yang sepertinya barus saja ditanam ditempat tersebut. Ada tebing batu kecil disebelahnya. Kemudian menara kincir angin, dan sebuah rumah dari kayu tepat didepan tebing batu tadi. Itu adalah rumah Selene.


Terlihat pagar kayu berdiri dibelakang rumah tersebut. Memanjang kebelakang dan ke barat hingga tak terlihat ujungnya. Itu adalah daerah yang akan digunakan untuk membuat suaka para binatang. Sarang Antelope Cinder juga termasuk didalamnya.


Sedang tenda para pekerja berada jauh di sisi timur dari wilayah peternakan hewan tersebut.


Memang diwilayah tersebut hanya akan ditinggali oleh Selene dan saudaranya saja. Sedang para pekerja mendapat tanah lebih dekat dengan wilayah perkebunan Ellian. Dan mereka harus datang dan pulang dari tempat tersebut setiap harinya.


"Apakah itu rumah anda tuan Selene?"


"Benar tuan putri"


"Wah, damai sekali"


"Terima kasih tuan putri, saya hanya membuat seadanya saja"


"Pohon itu apakah sudah ada disitu sebelumnya?"


"Bukan, tuan putri. Tuan Aksa yang kemarin membantu menanamnya ditempat tersebut"

__ADS_1


"Apa pohon itu bisa tumbuh di tanah ini? Bukankah itu pohon Oak, yang biasa tumbuh di lereng . bukit yang subur"


"Benar sekali tuan putri, itu adalah pohon Oak. Menurut tuan Aksa, dengan membuat sebuah aliran sungai disebelahnya dan mengubur kotoran hewan disekitar akarnya, maka pohon itu akan bertahan. Setidaknya untuk satu tahun pertama"


"Dan kenapa anda menginginkan pohon ini disini?"


"Disamping akan berguna untuk rubah, burung, dan serangga sebagai tempat tinggal, juga karena ini adalah pohon uji coba. Yang nanti kedepannya akan ditanam dalam lingkupan suaka binatang dibelakang itu"


"Oh, benar juga. Jadi dibelakang itu adalah wilayah sarang Antelope Cinder?"


"Benar sekali tuan putri"


"Dan apa semua hewan yang kita punya, seluruhnya ada di tempat ini?" Lucia bertanya lagi.


"Untuk sementara, tuan putri. Karena untuk hewan-hewan di wilayah tertentu, seperti lautan dan pegunungan, belum kita sentuh sama sekali"


"Oh, benar juga. Ngomong-ngomong soal lautan, apakah bila kita terus menuju ke barat, kita akan melihat lautan?" Lucia merubah topik pembicaraan.


"Benar, putri" kali ini Cedrik yang menjawab.


"Apakah aku bisa kesana? Aku ingin melihat pantai" Lucia terlihat berharap.


"Dari stasiun terakhir di barat, masih harus berjalan lagi melewati celah tebing untuk sampai ke pantai tersebut" jelas Cedrik kemudian.


"Apakah harus berjalan jauh?"


"Tidak terlalu. Apakah putri hendak kesana, sekarang?" Tanya Cedrik memastikan.


"Benar, aku ingin kesana sekarang"


"Baiklah kalau begitu, akan kami kawal" ucap Cedrik kemudian menawarkan bantuan.


"Apakah tidak merepotkan? Apa tidak menganggu pekerjaan kalian?" Tampak Lucia memastikan.


"Kami sedang senggang sekarang. Pekerjaan kami sudah selesai tadi siang. Sekarang giliran teman kami yang lain yang berkeliling" jelas Cedrik menjawab pertanyaan Lucia.


"Wah, baiklah kalau begitu. Terima kasih"


.


Dan kemudian Lucia, Cedrik, Margaret, Shuri, Diana, dan Axel, mulai menaiki gerbong kereta dan melanjutkan berjalan menuju ke barat.


-

__ADS_1


__ADS_2