
Sekitar dua bulan setelah rombongan Aksa pergi menuju ke pesisir timur, akhirnya mereka kembali lagi ke tanah Pharos. Namun kali ini Aksa hanya ditemani oleh Lily, Couran, dan beberapa pekerja saja. Meninggalakan trio pemburu dan bibi mereka bersama 20 pekerja di pesisir timur gunung Sekai. Untuk meneruskan penambangan.
Rombongan Aksa kembali dengan kereta kudanya serta membawa kereta besi ditambah delapan gerbong berisi penuh dengan bahan dan mineral yang mereka butuhkan.
Dalam perjalanan pulangnya, mereka juga mulai melapisi jalan berbatu yang mereka bangun sebelumnya itu dengan lumpur hasil pencampuran air, debu vulkanik, dan batu kapur yang dihaluskan.
Setelah lumpur itu mengering, jalanan akan menjadi lebih kuat, lebih rata, dan lebih nyaman untuk dilewati dari sebelumnya.
-
"Untuk pembangunan sarana jalan dari tempat ini menuju pantai Mado dan desa Baltra sudah selesai dilakukan. Sudah dilapisi dengan semen primitif itu agar tidak mudah rusak saat mulai sering dilewati oleh traktor uap itu" Aksa melaporkan saat mereka mengadakan pertemuan ditenda Lucia di Perkemahan Atas. Sehari setelah ia sampai di tanah Pharos.
"Dermaganya?" Tanya Nata pendek.
"Untuk dermaga di pantai Mado juga di pantai sisi timur gunung Sekai juga sudah selesai dibangun. Pos jaga di dermaga dan percabangan jalan antara desa Baltra dengan pantai tersebut juga sudah selesai di buat. Tinggal kita atur saja untuk prajurit berjaga bila nanti jalur pengiriman bahan tambang sudah mulai berjalan rutin" Aksa melanjutkan laporannya. "Oh, dan juga pikirkanlah tentang penerangan jalannya saat malam hari" tambahnya kemudian.
"Baiklah, akan segera kucarikan solusinya. Lalu apa ada hal baru yang kau temukan saat kau berada disana, yang perlu kita jadikan perhatian?" Jawab Nata yang dilanjut dengan pertanyaan.
"Oh, iya. Pantai disana indah sekali. Hampir tiap pagi menjelang siang aku berenang dan bersantai ditepiannya. Pasirnya putih lembut. Baik yang dari pantai Mado, ataupun yang pantai sisi timur gunung Sekai" jawab Aksa dengan bersemangat.
"Kau ini bisa serius tidak?" Sela Jean yang mewakili beberapa orang yang ada disitu yang juga ingin mengucapkan kata-kata itu kepada Aksa.
"Kau tidak percaya, Jean? Coba perhatikan kulit ku. Kelihatan lebih gelap kan?" Tampak Aksa mengangkat lengannya keatas, kearah Jean. Seraya menengadahkan kepalanya untuk menunjukan lehernya.
"Hei, bocah!" Jean mulai berang melihat kelakuan Aksa.
"Sudah-sudah, berarti dengan begini kita sudah bisa mulai untuk menjalankan rencana berikutnya" saut Nata mencegah adu mulut antara Jean dan Aksa terjadi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong baju dari kapas ini nyaman sekali. Buatkan aku jaket hoodie sebelum aku berangkat, Nat" ucap Aksa dengan santai merubah tema pembicaraan tanpa memperdulikan Jean.
-
Dua minggu kemudian dengan kristal Cyla, Val dibantu Marco dan beberapa pengerajin Bintang Timur, berhasil membuat alat yang diminta Aksa.
Alat yang terbuat dari logam Dracz berbentuk kerucut dengan pecahan kristal Cyla yang berbentuk limas seukuran dua genggaman tangan terpasang diseluruh sisinya. Yang membuat permukaan benda kerucut itu menjadi kasar dan bergerigi.
Aksa menyebut alat tersebut sebagai 'Mata Bor', tapi setelah para pengerajin mengetahui apa kegunaannya, mereka menyebutnya alat 'pengerat bumi'.
Memang jadi terlihat mirip seperti seekor tikus mondok, saat alat itu dipasang di depan sebuah kereta besi khusus yang dibuat sedikit lebih kecil dari ukuran kereta besi yang biasa mereka buat.
Memiliki 3 buah roda kecil dan rangkaian lempengan besi, selebar telapak tangan dan sepanjang lengan orang dewasa. Yang disambung berjajar seperti rantai hingga berbentuk serupa sabuk yang melingkar memutari 3 buah roda tadi. Aksa menyebut roda itu dengan sebutan 'roda tank'.
Dan hampir bersamaan dengan itu pula, kereta uap buatan Haldin juga selesai dibuat. Mereka membawa bagian-bagian nya dari Perkemahan Bawah ke Perkemahan Atas. Lalu membuat sebuah bangunan di barat Perkemahan Atas tersebut, dan merakitnya ditempat itu.
-
"Dan apa itu dam?" Tanya Madron yang merasa baru pertama kali mendengar kata tersebut.
"Oh, maksud saya adalah waduk. Tempat untuk menampung air" jelas Nata.
"Dari mana anda akan mendapatkan airnya?" Tanya Dirk kali ini.
"Jadi simple nya, kita akan mengeruk sisi tebing dan membuat waduk, lalu menarik air dari sungai disisi luar tebing tersebut. Kemudian mengalirkannya ke sisi dalam, ke dalam waduk tersebut" saut Aksa berucap menjelaskan.
"Apa memang semudah itu?" Terdengar Dirk tidak yakin dengan ucapan Aksa.
__ADS_1
"Apa itu simpel?" Madron bertanya tentang kata lain yang baru pertama ia dengar juga.
"Ya, itu adalah penjelasan paling sederhanannya. Untuk dilapangannya biar Aksa yang nanti mengurusi" ucap Nata menenangkan suasana.
"Iya masalah dilapangannya biar utusan dewa ini yang mengurusi" saut Aksa dengan nada sombongnya.
"Aksa, tuan Couran, dan Lily akan ditemani oleh lima belas penyihir api dan tanah, bersama dua puluh pekerja, dan empat pengerajin. Mereka akan berangkat dari sini besok lusa" saut Nata balik sebelum ada orang yang mengomentari ucapan Aksa tadi.
"Rencana kita juga akan sekaligus memasang rel disepanjang perjalanan menuju tempat tersebut" Nata menambahkan.
"Sebentar, kenapa mereka harus membawa sebegitu banyak penyihir?" Tanya Amithy yang tampak belum mengerti dengan maksud Nata.
"Kita memerlukan mereka untuk membangun. Dengan sihir api yang mereka miliki itu bisa berguna untuk membantu mengeringkan campuran bahan bangunan, atau untuk memanaskan logam dan mineral. Dan sihir tanah itu sangat berguna untuk menggali dan melapisi bangunan" ucap Nata panjang lebar.
"Apa anda berniat membuat para penyihir itu menggunakan sihirnya untuk membangun bersama para pekerja bangunan itu?" Kali ini Madron yang bertanya tidak percaya.
"Mana ada penyihir yang mau melakukan hal tersebut?" Kali ini Dirk yang berucap.
"Sebelum setuju untuk ikut bergabung bersama kita, mereka sudah kami beri tahukan terlebih dahulu. Bahwa yang akan mereka lakukan bukan lah untuk melawan hewan buas atau hewan mistik. Tapi untuk membangun" kali ini Lucia yang angkat bicara.
"Dan ada lima belas yang ikut bersama kita dari sebegitu banyak penyihir di assosiasi" Nata menambahi jawaban Lucia.
"Jadi mereka yang ikut kemari adalah mereka yang sudah tau dan setuju akan hal tersebut?" Terdengar Amithy tidak bisa percaya.
"Benar-benar, kalian akan mendapat banyak kecaman bila melakukan hal tersebut di luar tanah ini" ucap Orland seraya mengelengkan kepala.
"Kita akan merubah paradikma tentang sihir di dunia ini. Bahwa untuk membuat sihir bisa menghasilkan uang, kita tidak harus mempertaruhkan nyawa kita melawan hewan buas atau ikut berperang" ucap Nata kemudian.
__ADS_1
-