Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
27. Strategi Untuk Menang


__ADS_3

"Membuat gadis secantik itu galau untuk memilih antara rakyat dan kehidupannya itu adalah perbuatan yang memalukan Nat" ujar Aksa begitu mereka tiba dirumah Lily.


"Sayang nya hanya itu cara tercepat untuk membuat dia mengerti, bahwa perang harus dimenangkan dengan cara tersebut agar tidak memakan korban semakin banyak" jawab Nata kemudian.


"Tapi mengulang-ulang kata rakya kecil, rakyat lemah, dan dibandingkan dengan harga diri dan prinsip hidupnya. Kau sebut dirimu laki-laki?!" Aksa masih terdengar marah-marah.


"Apa menurutmu, Lugwin akan menyetujui rencanamu tadi?" Tanya Lucia yang tampak sedang memikirkannya.


"Entahlah. Tapi kuharap dia mau menerimanya. Karena dia terlalu cantik untuk tidak ku bantu" jawab Nata.


"Sudah berhenti menyebut dia cantik dasar kau lelaki tak berperasaan" saut Aksa kemudian. Lucia mulai menatap sinis ke arah Nata dan Aksa yang sudah mulai kambuh.


"Eh, ngomong-ngomong bagaimana bisa pihak kerajaan Elbrasta membiarkan putri mahkota nya melakukan perjalanan menyeberangi dataran ini hanya dengan seorang penjaga saja?" Tanya Nata merubah topik dan mengacuhkan ocehan Aksa.


"Itu karena tidak ada yang tahu identitas ku yang sebenarnya. Hanya keluarga dalam istana selain Jean yang tahu bahwa aku dikirim ke Varun tiga tahun yang lalu.


"Jadi semua orang mengira sekarang anda sedang menikmati hidup damai sejahtera di dalam istana?"


"Benar, dan untuk menjaganya tetap seperti itu, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan inj berdua saja" jelas Lucia.


"Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar putri" ujar Lily kemudian "Saya merasakan ada setidaknya sembilan orang yang selalu mengawasi anda selama ini" imbuhnya.


"Benarkah? Sejak kapan kau menyadarinya Lily?" Tanya Aksa yang terlihat terkesan dan penasaran.


"Sejak pertemuan kita di desa Baltra" jawab Lily.

__ADS_1


"Ini dia! Guild Assassin!" Ucap Aksa kemudian.


"Jadi itu sebabnya kau selalu terlihat kaku dan waspada semenjak kita keluar dari desa tersebut?" tanya Nata yang di balas dengan anggukan kecil oleh Lily.


"Dan kenapa anda tidak mengatakannya pada kami?" Tanya Lucia yang terdengar sama kagetnya dengan yang lain.


"Itu karena selama ini saya merasa mereka tidak membahayakan. Saya mengira mereka ditugaskan untuk mengawasi salah satu dari rombongan kalian. Namun baru kemarin saya yakin mereka sedang menjaga anda putri" jawab Lily kemudian.


"Apa mereka seorang pemburu? Kenapa saya tidak pernah merasakan kehadiran mereka saat mereka mendekat?" ujar Loujze yang merasa gagal menjadi Getzja dan seorang pemburu karena tidak bisa menyadari ada orang yang sedang mengawasi mereka.


"Jangan rendahkan kemampuanmu Loujze, itu karena mereka mengunakan sihir untuk mengelabuhi indra kita. Untungnya klan Lagom sensitif terhadap penggunaan sihir" ucap Lily meninggikan hati Loujze.


"Apakah mereka utusan kerajaan?" Tanya Lucia pada Jean.


-


Pagi hari berikutnya tampak Lugwin, Matiu, dan Nicko sudah berada di rumah Lily hendak menemui Nata.


"Tuan Nata. Saya kemari karena sadar bahwa peperangan ini harus segera dihentikan. Dan saya juga sadar selalu ada korban untuk mengakhirinya. Jadi yang perlu saya lakukan adalah mencari cara untuk menghindari lebih banyak korban lagi" ujar Lugwin membuka percakapan.


"Benar tuan putri" Nata mengangguk.


"Jadi maukah anda membantu saya mengakhiri peperangan ini tanpa memakan banyak korban?" Pinta Lugwin kemudian.


"Dengan senang hati tuan putri"

__ADS_1


Terlihat Lugwin tersenyum dan merasa lega. "Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya nya kemudian.


"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Kita akan menyebarkan kabar bahwa putri Lugwin sekarang ikut dalam peperangan ini dengan mengemban wahyu dari sang Oracle" ucap Nata kemudian. "Setelah itu kita akan mulai membebaskan desa-desa disekitar sini dari kekuasaan dua Dux yang sedang bertikai itu" imbuhnya.


"Tapi apa tidak terlalu cepat menyebarkan berita itu lalu mulai membebaskan desa-desa sekitar daerah ini? Bagaimana bila mereka menyerang kita? Kita belum memiliki prajurit sebanyak mereka" ucap Matiu kemudian.


"Kekuatiran anda beralasan. Tapi ingat, mereka memandang remeh putri Lugwin. Maka jadikan itu sebagai senjata" jawab Nata.


"Menjadikan senjata?" Tanya Matiu.


"Benar, karena mereka memandang remeh kita, maka mereka tidak akan terlalu perduli tentang rumor bahwa tuan putri mengemban wahyu sang Oracle. Mereka juga hanya akan mengirim prajurit bayaran karena mereka tau kita tidak memiliki banyak pasukan" jelas Nata kemudian.


Terlihat Matiu mengangguk-angguk mulai paham akan rencana Nata "Mereka tidak akan mengirim pasukan besar karena mereka mengganggap kita buka ancaman" ucapnya kemudian.


"Benar. Sementara di tengah keputus asaan rakyat sekarang ini, rumor sekecil apapun selama itu membawa harapan, maka akan cepat menyebar dan berkembang. Dan setelah mereka sadar, kita sudah memiliki banyak simpatisan dari kalangan rakyat dan bangsawa" ucap Nata menjelaskan, "Itu bila kita bisa memanfaatkan kekuatan rumor itu dengan tepat'" imbunya kemudian.


"Dasar fasis" sela Aksa kemudian. Sementara Matiu mulai memahami gagasan yang diajukan Nata.


-


Kemudian pertemuan itu pun berjalan hingga tengah hari. Dan setelah semua sudah di putuskan, mereka mulai menjalankan tugas mereka masing-masing. Tugas mengenai penyebaran rumor, pengurusan pasukan, juga pencarian dukungan dari para bangsawan. Semua sudah selesai dibuat.


Sedang untuk tetap menjaga bahwa semua rencana ini adalah dari Lugwin dengan bantuan anugrah sang Oracle, maka keberadaan Nata dan yang lainnya harus dirahasiakan.


-

__ADS_1


__ADS_2