Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
25. Perjalanan ke Zeraza II


__ADS_3

"Anda baik-baik saja tuan Lumire?" Tanya Lucia saat mereka sudah mendekat ke perkemahan para bandit tersebut.


"Oh, kalian semua. Bagaimana kalian bisa sampai ketempat ini? Kebetulan macam apa ini?"


"Tadi tanpa sengaja kami bertemu dengan tuan Pietro di jalan dan menceritakan tentang kalian"


"Oh, tuan Pietro syukurlah anda selamat. Dan terima kasih untuk kembali menolong kami"


"Itu karena nona Lucia yang bersikeras ingin menolong begitu saya bercerita tentang kalian. Anda memiliki teman yang baik" ucap Pietro kemudian.


"Benar, kami bersyukur akan hal itu" kali ini istri Lumire yang berucap.


"Nona Lily" ucap riang Andele dari balik kaki ibunya.


"Adele apa kabarmu?" Balas Lily seraya melambai kecil kearah gadis kecil itu.


"Tuan Lumier, nyonya Fatima" sapa Nata kemudian yang muncul sedikit terlambat dari balik kereta bersama Aksa.


"Tuan Nata, tuan Aksa. Senang bisa bertemu dengan anda. Mana yang lain?"


"Mereka ada di Baltra, tidak ikut kemari" jawab Nata.


Namun tiba-tiba mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu. Seekor srigala sebesar kuda melompat dari belakang Lumire ke tengah-tengah kerumunan.


Kemudian serigala itu berjalan pelan kearah Aksa dan Nata berdiri. Semua orang segera memasang kuda-kuda waspada. Namun tidak dengan Nata dan Aksa. Mereka berdua tidak memiliki gerak reflek seperti itu.


Alhasil mereka berdua hanya terdiam saat dengan perlahan serigala besar itu semakin mendekat. Suara nafasnya yang seperti dengkuran itu mulai dapat didengar oleh Aksa dan Nata.


"Aku tidak mau mati dikungah serigala, Nat" ucap Aksa seraya menarik tangan Nata mendekat. Kemudian menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Nata.


"Aku juga tidak mau Aks, Lily? Kenapa kau hanya diam saja? Ini adalah saat yang paling tepat buat mu untuk melindungi kami" ucap Nata menatap serigala itu mendekat perlahan, sambil sesekali mencuri pandang kearah Lily di sebelah kanannya.


Namun setelah serigala itu sudah benar-benar dekat dengan Nata dan Aksa, tiba-tiba serigala itu menjilat wajah Nata dan Aksa secara bergantian. Lily terdengar tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan tangan, melihat mereka berdua. Yang kemudian disusul oleh tawa yang lainnya.


"Tampaknya Popo ingin berterima kasih langsung dengan penyelamatnya" ucap Selene yang tampaknya baru saja terburu-buru berlari mengejar serigalanya.


-


Mereka mengikat delapan bandit tersebut dan memasukannya kedalam satu kereta kuda. Dan setelah membereskan segala yang dibutuhkan, rombongan Lucia dan Lumire bersama kereta kuda yang berisi bandit itu mulai meninggalkan tempat itu untuk menuju ke tempat yang lebih aman untuk bermalam.


"Jadi kalian akan membangun kota di tanah mati itu?" Terdengar Lumire tak percaya saat mereka sudah kembali duduk melingkari api unggun di perbatasan kota Zaraza, sedang beristirahat dan saling bercerita tentang segala hal.


"Yah, reaksi anda bukan hal baru lagi tuan Lumire" ucap Lucia dengan senyum kecil.


"Tanah Pharos?" Terdengar Pietro seperti sedang mengingat-ingat.


"Benar tuan Pietro"


"Apakah jangan-jangan anda tuan putri Lucia?"

__ADS_1


"Bukannya kita sudah berkenalan tadi?" Celetuk Aksa.


"Maksud saya, saya baru saja menyadarinya. Saya tidak berpikir putri mahkota untuk melakukan perjalanan hanya dengan beberapa orang saja"


"Oh, nama Lucia pasaran ternyata" celetuk Aksa.


"Apakah anda putri mahkota kerajaan Elbrasta, nona Lucia? Eh, maksud saya putri Lucia?" Kali ini Limire yang bertanya terkejut, tak ubahnya seluruh anggota keluarganya.


"Jangan berbicara seperti itu tuan Lumire, saya sudah bukan lagi seorang putri mahkota. Saya bahkan sudah bukan bangsawan kerajaan ini kalau boleh dibilang"


"Tapi tetap saja anda adalah keturunan darah daging raja Albert" ucap Pietro kali ini.


"Tapi, ngomong-ngomong bagaimana anda bisa tahu saya adalah putri mahkota hanya dengan mendengar tentang tanah Pharos saja?"


"Sudah menyebar luas kabar tentang anda"


"Kabar tentang ku?"


"Benar, putri. Kabar tentang anda yang, maaf. Menukar tahta dengan tanah Pharos"


"Hm, bila dipikir-pikir aku memang menukar tahta dengan tanah tersebut sih"


"Bahkan sekarang ini rakyat memiliki julukan untuk anda, karena hal tersebut"


"Dan apa itu tuan Pietro?"


"Maaf sebelumnya, mungkin julukan itu akan terdengar tidak sopan untuk anda"


"Ratu Tanah Mati" ucap Pietro dengan ragu.


"Ratu Tanah Mati?" Terdengar Lumire memastikan.


"Ingin ku congkel mulut-mulut itu" kali ini Jean yang terdengar tidak terima.


"Sudahlah Jean, biarkan saja. Itu hak mereka berkata-kata" ucap Lucia menenangkan Jean. Dia sendiri tidak merasa terganggu dengan julukan tersebut.


"Tapi yang dikatakan mereka ada benarnya kok, Ratu Tanah Mati. Catchy banget" celetuk Aksa tiba-tiba.


"Kau mau mulutmu ku congkel?"


"Tapi beralih dari hal itu semua, tuan Selene. Apakah anda punya waktu?" Sela Nata tiba-tiba kepada Selene yang duduk di sebelah Adele.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan Nata? Jangan merasa sungkan seperti itu" jawab Selene dengan sopan.


"Karena anda seorang penjinak, yang saya beranggapan anda cukup paham dengan hewan-hewan. Anda bisa beri tahu saya bila dugaan saya salah. Tapi kami ingin bertanya tentang segala hal mengenai hewan, baik yang menghasilkan atau tidak. Dan dimana kami bisa mendapatkannya"


"Mystical beast and where to find it" celetuk Aksa tiba-tiba.


"Wah. Pertanyaan anda memerlukan jawaban yang panjang. Apakah ini untuk kota di tanah mati tersebut?"

__ADS_1


"Benar tuan Selene. Dan kurasa kami memang butuh jawaban yang panjang"


"Memang seberapa banyak hewan yang ingin anda ketahui? Apakah hewan ternak?"


"Banyak. Disamping jelas kami perlu tahu tentang hewan ternak, yang dapat menghasil daging, susu, telor, serta kulit yang baik. Kami juga perlu informasi tentang serangga penghasil madu, benang, atau obat-obatan. Juga satwa laut seperti ikan, udang, kerang"


"Apa anda memiliki tempat untuk membudidayakan mereka?" Terdengar Selene terkejut mendengar daftar hewan yang ingin diketahui oleh Nata.


"Secara lahan kami sudah memilikinya, tinggal anda beri tahu kepada kami cara mereka hidup, seperti apa lingkungan mereka hidup, kami akan buatkan tempatnya"


"Membuatkan tempatnya?" Terdengar Selene ragu dengan ucapan Nata. Seolah apa yang mereka berdua maksudkan itu tidak memiliku makna yang sama.


"Anda tidak salah dengar tuan Selene. Mereka bahkan membuat tempat untuk tumbuhan Bunga Suci bisa tumbuh di dalam kereta itu" sela Lucia meyakinkan Selene seraya menunjuk kearah tabung bambu yang menggantung ditepi jendela kereta.


"Benarkah?" Lumire dan keluarganya juga Pietro berucap nyaris bersamaan.


"Apakah jangan-jangan kalian sudah menghitung kemungkinan dan sudah menemukan cara untuk membangkitkan tanah mati itu?" Kemudian Lumire bertanya untuk meyakinkan dugaannya.


"Kurang lebih seperti itu, hanya saja mungkin kami butuh bahan dan pekerja" jawab Nata.


"Dan juga waktu" sela Aksa.


"Benar. Dan juga kami membutuhkan penduduk untuk kota tersebut bila anda berminat untuk memulai sesuatu di tanah baru" tambah Lucia kemudian.


"Benarkah? Apakah saya akan mendapatkan tanah bila ikut kalian?" Tanya Lumire memastikan.


"Benar. Tapi tidak dengan cuma-cuma. Mereka yang menginginkan tanah di wilayah itu harus ikut bekerja untuk membangun wilayah tersebut. Sesuai dengan kemampuan masing-masing" tambah Nata.


"Sepertinya menarik" ucap Lumire seperti sedang menimbang. "Saya akan coba untuk mendiskusikannya setelah ini dengan keluarga" tambahnya kemudian.


"Silahkan tuan, kami akan selalu membuka tangan untuk kalian" Lucia menjawab.


"Atau bila anda ingin melihat bagaimana kami menangani tanah itu, agar kalian merasa yakin bahwa tanah itu akan memiliki masa depan yang cerah, anda bisa menuju ke perbatasan desa Baltra. Mereka membuat perkemahan disana. Ada Val dan trio pemburu Tirgis juga disana" ucap Nata menambahkan.


"Apakah itu tidak menutup untuk kalangan bangsawan tuan putri?" Kali ini Pietro yang bertanya, karena dia juga merasa tertarik.


"Anda juga diterima di sana tuan Pietro. Namun sebagai seorang bangsawan saya akan memberi peringatan diawal. Bahwa kota ini kelak tidak akan menggunakan sistem kasta bangsawan dan rakyat biasa. Jadi kebangsawanan anda tidak akan dipandang lagi di sana. Karena semuanya sederajat" kelas Lucia panjang lebar.


Terlihat Pietro berpikir ragu mendengar penjelasan Lucia baru saja.


"Tapi anda bisa membuka sebuah bar disana bila anda mau. Seperti yang anda lakukan dikota Zeraza. Perhitungan sewa dan lain sebagainya bisa kita bicarakan nanti" saut Nata yang melihat adanya kesempatan untuk menarik orang.


Terlihat Pietro mengangguk pelan terlihat sedang menimbang-nimbang.


"Juga sama dengan yang saya ucapkan kepada tuan Lumire, anda bisa mencoba datang langsung ketanah tersebut agar bisa semakin meyakinkan anda"


"Baiklah, saya akan coba untuk melihat dahulu bagaimana kalian akan membangun tanah mati itu" ujar Pietro kemudian.


"Kami akan menunggu anda tuan Pietro"

__ADS_1


-


__ADS_2