Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
01. Minggu Pertama I


__ADS_3

Hari ini Aksa dan Nata tampak mulai sibuk kesana kemari. Menangani hal-hal di dalam wilayah Pharos yang sedikit terbengkalai saat mereka harus membuat dan mengatur strategi untuk serangan ke wilayah kerajaan Urbar.


Nata menuju ke kota Tengah untuk bertemu Orland, Dirk, dan Madron. Untuk membicarakan perkara aturan, perdagangan, dan fasilitas dalam tanah Pharos.


Sedang Aksa menuju ke Kota Barat, kemudian ke Peternakan Selene, dilanjut ke perkebunan Ellian. Banyak pekerjaan khusus yang diberikan kepada Selene dan Ellian. Pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan barang dan material baru.


-


Aksa terlihat turun di stasiun yang berada tak jauh dari peternakan Selene. Ia baru saja dari pelabuhan di kota Barat.


Tampak Aksa hanya seorang diri. Lily sedang menemui para Yllgarian di hutan Sekai. Sementara Val sibuk membuat alat baru, yang rancangannya baru saja ia berikan. Sedang Rafa mulai dipusingkan mengenai masalah sekolah dan percetakan.


Dalam minggu-minggu ini, semua orang tampak sangat sibuk. Meski tidak ada serangan dari kerajaan Urbar, juga rencana dari pihak Pharos untuk menyerang.


Namun meskipun begitu para pemimpin prajurit seperti Caspian, Helen, Vossler, dan Jean tetap saja sibuk. Karena sekarang ada lebih banyak wilayah yang harus dijaga. Bahkan Anna dan Nikolai pun ikut sibuk mengurusi kota Xin.


Beberapa pengerajin juga dikirim ke wilayah Ignus. Dengan puluhan kereta besi yang mengangkut peralatan dan bahan material. Rencana mereka akan membuka Atelir sementara di kota Varun. Dan mulai mencari tenaga kerja dari orang lokal kota tersebut.


Sementara kelompok kecil pekerja juga di kirim untuk membuat jalan dari kota Varun ke kota Dion di wilayah Ceodore. Dan dari kota tersebut, rencana akan terus disambung hingga kota Meso di wilayah Feymarch, lalu kemudian ke wilayah Eblan dan Damcyan.


Kereta tempur tambahan juga sudah dikirim ke garis depan dan daerah-daerah perbatasan wilayah. Lengkap dengan baju pelindungndan senjata cadangan.


Aksa berjalan keluar dari stasiun. Dan tampak serigala Perak Selene berlari menyambutnya. Ekornya bergoyang cepat. Sedang suara elang mulai terdengar memekik dari kejauhan.


Kemudian terlihat seorang bocah berlari keluar dari dalam rumah Selene. Bocah itu adalah Gale. Yang Aksa kenal sebagai kerabat Anna.


"Tuan Aksa datang!" Teriak bocah berusia 9 tahun itu seraya menghampiri Aksa. Tampak seekor rubah berwarna jingga cerah dengan dua buah ekor, berada dipundaknya. Salah satu dari ekor rubah tersebut melingkar di leher Gale, yang membuatnya terlihat seperti sebuah syal berbulu. Aksa juga mengenali rubah itu. Itu adalah Rubah Ekor Belah milik Selene.


"Bagaimana kabarmu, Gale? Mana tuan Selene?" Aksa menyapa saat Gaje sudah cukup dekat.


"Saya sudah makan, tuan Aksa. Tuan Selene ada di belakang. Mari saya antar" ucap Gale dalam rentetan yang nyaris tak berjeda.


Dan kemudian mereka berdua, ditambah beberapa hewan berjalan menuju ke tempat Selene.


Peternakan tersebut sekarang sudah mulai bertambah besar. Kandangnya kini sudah berlipat jumlahnya. Juga dengan kolam tambaknya. Terlihat pula ada dua bangunan baru yang cukup asing bagi orang pada umumnya.


Karena bangunan itu memang dibuat berdasar dari rancangan Aksa yang memang memiliki kegunaan khusus.


Yang pertama adalah bangunan dengan bentuk seperti mata bor raksasa yang menghadap ke angkasa. Terbuat dari beton yang sisi luarnya dilapisi campuran jerami kering dan lumpur.

__ADS_1


Ada sebuah pompa air kecil yang menarik air ke atas bangunan tersebut, kemudian mengalirkannya turun melalui selokan kecil yang terpasang dengan bentuk mengulir di sepanjang dinding sisi dalam bangunan tersebut. Dan setelah sampai dasar, air itu keluar melalui pintu air menuju kolam terdekat.


Saat pertama kali dibangun, Aksa menyebut bangunan itu sebagai Yakhchāl, atau bagunan pendingin. Suhu di dalam bangunan itu jauh lebih rendah dari pada suhu diluar.


Dan cara bangunan tersebut menjaga agar suhu dalam ruangannya tetap rendah, adalah dari bentuk dindingnya yang tebal dan berlapis dua, dengan pasir pantai yang diletakan diantara kedua dinding tersebut.


Juga ditambah dengan bentuk langit-langitnya yang tinggi melengkung, dan lantainya yang mencekung kebawah, yang membuat ruangan dalam bangunan tersebut terlihat serupa dengan bentuk telur. Dan oleh karena itu terbentuklah sirkulasi udara yang cukup luas.


Kemudian yang terakhir adalah aliran air yang sengaja diputarkan dibagian dalam kubah bangunan tadi. Yang sangat berguna untuk menekan udara panas dari luar.


Bangunan tersebut sangat tepat digunakan untuk menyimpan bahan pangan agar kesegarannya bertahan lebih lama dan juga tidak cepat membusuk.


Maka dari itu, bangunan tersebut juga dibuat di daerah perkebunan Ellian, dan juga di wilayah Desa Timur. Sebagai tempat penyimpanan buah, sayur, dan juga obat-obatan sementara.


Sedang untuk yang di wilayah peternakan ini, bangunan tersebut tidak digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Namun digunakan sebagai alat pembeku. Aksa selalu menyebut bangunan khusus ini dengan nama Refrigerator Raksasa.


Dan yang menjadikan bangunan ini beda dari yang lain adalah karena ada dua orang penyihir yang bekerja bergantian setiap dua hari sekali untuk mendinginkan suhu di dalam bangunan tersebut. Dan air yang dialirkan ke dalam kubah bangunan itu, kali ini berfungsi untuk menghangatkan dindin agar tidak cepat hancur karena perbedaan suhu diluar dinding yang sangat jauh.


Kemudian yang kedua adalah bangunan yang memiliki banyak sekali tabung dan pipa besi dengan ukuran yang sangat besar.


Terlihat sangat berlawanan dengan bangunan pertama yang didominasi oleh warna-warna gelap dan suram. Sedang bangunan kedua ini berwarna logam yang mengkilat saat dibawah sinar mathari. Terlebih lagi dua bangunan itu di dirikan bersebelahan.


Keduanya baru selesai dibuat sekitar dua bulan yang lalu.


Tampak Selene sedang memberi pengarahan kepada anak buahnya di depan sebuah kolam tambak, saat ia melihat Aksa dan Gale datang menghampirinya.


"Tuan Aksa" ucap Selene seraya melambaikan tangan dari jauh.


"Jadi bagaimana, tuan Selene?" Aksa bertanya saat mereka sudah duduk di atas potongan kayu di salah satu gubuk disekitar kolam tambak. Serigala Selene juga ikut meringkuk disebelah tuannya. Sedang Gale sudah kembali masuk kedalam rumah Selene.


"Yang mendinginkan gas kotoran ternak itu?" Selene terlihat memastikan. Sedang Aksa hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Hasilnya cukup bagus, tuan Aksa. Disebut apa cairan dari pendinginan gas itu?" Tanya Selene kemudian.


"Biogas Meta Liquid" Aksa menjawab cepat.


"Baiyo apa?" Selene bahkan tidak bisa mendengan dengan jelas apa yang baru saja Aksa katakan.


"Anda bisa menyebutnya bahan bakar cair" Aksa memberikan nama yang lebih mudah.

__ADS_1


"Lalu yang tanah bekas urin hewan itu?" Selene bertanya lagi.


"Apakah itu juga sudah siap?" Terdengar Aksa mulai bersemangat.


"Sudah, kami sudah menggalinya tepat pada bulan keenam seperti arahan dari anda. Dan kemudian mengisinya dengan tanah baru. Sebenarnya untuk apa tanah bekas urin hewan itu, tuan Aksa?" Jawab Selene yang diikuti dengan pertanyaan.


"Untuk membuat Potasium Nitrat. Nanti akan ku periksa dulu apakah Nitrat yang dihasilkan bagus. Bila memang bagus, setidaknya kalian memiliki bahan tak terbatas untuk membuat bubuk mesiu, asal kalian selalu melakukan hal tadi secara teratur tiap enam bulan" ujar Aksa menjelaskan.


"Oh, jadi tenaga dari senjata api itu bisa dibuat dari urin binatang?" Selene terlihat mengangguk kecil seolah baru saja mendapat informasi yang sangat berharga.


"Gas dari kotoran ternak itu, juga bisa digunakan untuk membuat senjata yang mirip dengan senjata api" Aksa memberi tambahan informasi pada Selene.


"Benarkah? Berarti hewan memang mahluk yang luar biasa, ya?" Selene masih belum berhenti mengangguk kecil.


"Lalu bagaimana hasil dari penanaman pepohonan di area suaka?" Aksa mulai mengganti topik pembicaraan.


"Cukup berhasil. Kini sebagian dari wilayah suaka sudah mulai bisa digunakan untuk hewan-hewan yang membutuhkan pepohonan sebagai tempat mereka hidup" Selene terlihat bersemangat dan berapi-api saat menjelaskan tentang hal yang ia minati.


"Baguslah bila memang begitu" Aksa ikut merasa senang untuk Selene. "Oh iya. Untuk kulit Salamander Hutan apakah sudah mulai bisa dipanen, tuan Selene?" Tanya kemudian.


"Sekarang ini kita memiliki sekitar tiga ribu ekor Salamander Hutan dalam penangkaran di hutan Sekai. Dan mulai dari bulan lalu, kita sudah bisa mendapat sekitar seribu kulit. Dan itu akan berulang untuk setiap tiga bulannya" Selene menjelaskan panjang lebar. "Bila dijadikan pakaian, mungkin seribu kulit itu bisa dibuat untuk sepasang pakaian" tambahnya kemudian.


"Wow, jadi kita bisa mendapat sepasang pakaian dari kulit hewan tak tertembus itu tiap tiga bulannya?" Aksa terdengar memastikan.


"Benar" Selene menjawab cepat.


"Kurasa wilayah kita sudah mulai IMBA sekarang" ucap Aksa seraya menggeleng pelan.


"Ngomong-ngomong, apakah anda dan tuan Nata benar-benar akan pergi dari tempat ini?" Selene akhirnya menanyakan topik yang sudah sedari tadi ingin ia tanyakan.


"Untuk saat ini, memang seperti itu rencananya. Tapi anda tidak perlu kuatir. Bukan berarti kami tidak akan pernah menginjakan kaki di tanah ini lagi" jawab Aksa asal.


"Ya, saya mengerti. Saya akan selalu mendukung anda berdua. Bila anda butuh bantuan saya, anda tingga mengatakannya saja. Saya akan selalu siap membantu" Selene berucap panjang.


"Tidak perlu sampai seperti itu, tuan Selene. Anda tidak perlu mengkuatirkan hal seperti ini" Aksa masih menjawab dengan nada santai.


"Iya, tuan Aksa. Saya mengerti" ucapa Selene kemudain.


"Baiklah kalau begitu. Nanti tolong antarkan Bioga... maksudku bahan bakar cair itu ke Atelir tuan Haldin. Karena aku akan menemui nona Ellian setelah ini" Aksa mulai bangkit berdiri yang diikuti oleh Selene dan kemudian serigala Peraknya.

__ADS_1


"Baik, tuan Aksa. Nanti sore saya akan mengutus orang untuk mengantarnya ke Atelir tuan Hidan" jawab Selene. Yang kemudian mereka mulai berjalan menuju kearah stasiun kereta.


-


__ADS_2