Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
01. Perjalanan Baru


__ADS_3

Tampak siluet empat penunggang kuda dan sebuah kereta yang ditarik dua buah kuda menembus kabut melewati sebuah sungai dangkal pagi itu. Huebert, Deuxter, dan Loujze berkuda didepan.


Tiga pemburu dari desa Tirgis itu bertugas memastikan jalur dan medan jalan. Sementara Val berkuda disamping kereta yang ditumpangi oleh Nata, Aksa, Lucia, Jean, dan Lily. Mereka berjalan melewati lembah Kabut, sembilan hari perjalanan dari kota Garya kearah barat laut.


"Kenapa kita lewat daerah yang bikin horror gini sih" ujar Aksa memecah kesunyian.


"Lembah ini memang selalu berkabut sepanjang tahun, hingga disebut lembah Kabut. Konon katanya itu disebabkan oleh Serhé sang roh embun" ucap Lucia kemudian.


"Kurasa ini adalah jenis Kabut Advection dimanai aliran udara yang melalui suatu permukaan yang memiliki suhu yang berbeda lah yang menyebabkan kabut itu terbentuk" jelas Aksa.


"Kau sudah tahu kenapa masih takut?" Tanya Nata kemudian.


"Aku tidak takut dengan kabutnya Nat, aku merinding dengan suasananya. Biasanya di daerah-daerah seperti ini tiba-tiba saja muncul gadis berambut panjang yang kalo jalan ngesot gitu. Kan ga lucu" jawab Aksa.


"Lembah Kabut ini adalah daerah terluar dari wilayah Dux Cornelius, sepupu putri Lucia. Jadi jangan kuatir akan hantu atau hewan buas. Semuanya aman" ujar Jean menjelaskan.


"Jadi apa hubungannya Jean? Antara wilayah sepupu Lucia dengan kuatir akan hantu dan hewan buas?" Nata bertanya karena tidak paham dengan ucapan Jean.


"Jaka Sembung emang" timpal Aksa.


"Daerah yang menjadi wilayah seorang Dux atau penguasa lainnya harus dipastikan aman dari segala bahaya. Mereka bertanggung jawab memastikan itu. Jadi mereka bertugas untuk memburu bila memang ada hewan buas dan memberantas bila ada bandit atau perampok. Atau menyelesaikan segala jenis masalah yang dapat membahayakan orang di daerah yang menjadi wilayah mereka itu" jelas Lucia kemudian.


"Bila itu hantu atau monster yang tidak dapat di selesaikan oleh penguasa tersebut bagaimana?" Tanya Aksa kemudian.


"Mereka harus melepas wilayah tersebut untuk penguasa lain yang mampu menjaganya tetap aman. Dan bila memang tidak ada yang mampu, meski pihak kerajaan sekalipun, maka wilayah itu akan dianggap wilayah liar. Atau wilayah tanpa penguasa. Yang berarti daerah tersebut berbahaya untuk dilewati" jelas Lucia lagi.

__ADS_1


"Oh, ku kira para bangsawan itu tidak memiliki kewajiban akan tanah atau wilayah yang mereka miliki. Jadi sebagai imbalan karena melindungi wilayah, mereka menarik pajak?" Tanya Nata kemudian.


"Seperti itu sederhananya. Meski bila kita bicara tentang hak para bangsawan itu sangat rumit dan ambigu" jawab Lucia kemudian.


"Tetapi tetap saja, bila nanti didepan kalian menemukan sumur yang sengaja ditutup dan di tahan oleh batu, jangan dibuka!" saut Aksa kemudian.


"Berapa lama lagi sampai tiba ditempat paman anda?' Tanya Nata kemudian mengacuhkan ucapan Aksa.


"Dua hari perjalanan dari lembah Kabut ini" jawab Lucia.


"Dan sampai kapan kita akan terus berada dalam lembah Kabut ini?" Tanya Aksa memastikan.


"Kurasa selepas sore kita sudah akan kelur dari lembah ini" ujar Jean. "Dasar pengecut" tambahnya kemudian.


"Jadi paman anda ini saudara dari siapa? Ayah, atau ibu anda?" Tanya Nata melanjutkan.


"Keluarga Bartholomew ini adalah nama keluar ibu ku sebelum beliau menjadi ratu. Dan pamanku adalah kakak dari ibu ku" jelas Lucia.


"Dan paman anda itu adalah seorang yang bekerja sebagai pengatur kepemilikan wilayah di kerajaan ini?" Tanya Nata lagi memastikan informasi yang sudah pernah ia dengar.


"Benar beliau seorang Juru Tulis kerajaan yang mengatur tentang kepemilikan wilayah" jelas Lucia "Tugasnya adalah mengatur, mengesahkan, dan mencatat segala kepemilikan sebuah wilayah di kerajaan ini. Tetang perpindahan tangan atau penyitaan bila memang penguasa wilayah tidak memenuhi syarat atas kepemilikan wilayah tersebut. Juga memastikan pemilik berikutnya memenuhi syarat, semacam itu" tambahnya menjelakan.


"Mungkin setara dengan Notaris" timpal Aksa kemudian.


Malam harinya mereka sudah berkemah di sabana di mulut lembah Kabut. Angin dingin mulai bertiup semenjak dua bulan yang lalu. Mereka mulai memasuki musim dingin daratan Elder.

__ADS_1


"Jadi apakah paman anda juga menyimpan peta seluruh wilayah kerajaan Elbrasta?" Tanya Nata lagi.


"Kurasa iya. Karena dia harus tahu setiap wilayah di kerajaan ini" jawab Lucia yang terlihat tidak yakin.


"Ku harap kita bisa meliat peta tanah Pharos itu nanti"


"Jadi kenapa kau harus melihat peta ini Nat? Sejak kita berangkat kau setidaknya sudah tiga kali bertanya tentang hal ini"


"Karena kami butuh tahu seperti apa wilayah yang akan anda miliki itu"


"Kan sudah ku katakan sebelumnya kalau itu adalah tanah tempat kita bertemu untuk pertama kali. Ceruk Bintang. Deuxter dan Huebert juga sudah pernah menjelaskannya"


"Yah, hanya dengan itu saja tidak akan cukup putri. Kami perlu tahu tentang posisi gunungnya, lautnya, sungainya" ujar Aksa yang terlihat gemas menjawab ucapan Lucia.


"Tapi masih tidak habis pikir anda bisa mendapat ide ingin membuat sebuah kota di wilayah Pharos yang gersang seperti itu, tuan putri" ujar Loujze kemudian.


"Tapi kenapa juga kalian malah mengikuti sang putri yang punya ide gila seperti itu?" Sela Aksa yang langsung ditanggapi Jean dengan tatapan mengancam.


"Itu karena kalian juga mengikuti ide gila itu. Maka kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan melihat hal menarik seperti ini" jawab Loujze kemudian.


"Siapa tahu kelak nama kami akan tercatat dalam buku sejarah sebagai saksi hidup sebuah peradaban besar" tambah Deuxter.


"Hei ingat, kami belum memutuskan mau melakukannya atau tidak. Kami harus lihat dulu apakah tanah itu memungkinkan untuk di bangun" timpal Nata kemudian.


-

__ADS_1


__ADS_2