
Di kediaman Lucia dua minggu setelah mereka mengirimkan surat tuntutan kedua kepada pihak Urbar.
Pertemuan kembali di adakan untuk membahas strategi yang akan mereka lakukan menanggapi situasi terkini.
"Tampak pasukan dengan seribu lebih prajurit berarak menuju ke perkemahan di depan gerbang selatan" Caspian memberikan laporan. "Sementara itu ada sekitar tiga puluh kapal menuju ke pesisir barat, dan juga lima belas kapal menuju pesisir timur" tambahnya kemudian.
"Sepertinya provokasi mu manjur, Nat" celetuk Aksa.
"Apa kau yakin dengan semua ini, Nat?" Terdengar Lucia sangat kuatir. Ia duduk di sebelah Orland di meja panjang di ruang tengah kediamannya.
Yang lain pun juga terlihat kuatir setelah mendengar laporan tentang prajurit lawan yang dikirim untuk menyerang tanah tersebut.
Tampak Amithy yang duduk di sebelah Orland pun terlihat berulang kali menggigit bibirnya karena gelisah.
Sisanya, seperti para bangsawan, para ksatria, dan beberapa anggota Bintang Api, tampak hanya diam. Namun mimik wajah mereka juga terlihat tegang.
"Yah, seperti yang pernah saya bilang sebelumnya. Memang penuh resiko. Tapi sekarang kita jadi tahu, seperti apa orang yang sedang kita hadapi" Nata tersenyum kecil saat menjawab.
"Lalu bagaimana cara kita menghadapi mereka, tuan Nata?" Tanya Caspian yang juga terlihat kuatir. "Bila hanya seratus prajurit seperti yang selama ini coba kita hadang di gerbang selatan itu sih, kita masih sanggup. Namun untuk seribu lebih prajurit?" Imbuhnya kemudian.
"Jangan kuatir, tuan Caspian. Jumlah pasukan sebesar apapun tidak akan berpengaruh bila tidak berada dalam medan pertempuran. Yang sekarang akan kita lalui adalah, sebuah perlombaan siapa yang bisa bertahan lebih lama" jawab Nata dari tempat duduknya di sebelah Aksa, diseberang Caspian. "Gerbang kita, atau serangan terus menerus dari banyak prajurit tersebut" tambahnya lagi.
"Tapi kau jangan melupakan bahwa mereka masih memiliki Juara-Juara dengan senjata mistik" kali ini Jean yang menyela.
"Benar. Itulah yang jadi perhatian saya. Karena mereka-merekalah yang mungkin bisa membalik arah pertempuran kita" Nata menanggapi ucapan Jean.
"Lalu bagaimana?" Kali ini Lucia bertanya yang terlihat semakin kuatir.
"Kita akan tetap bertahan dan mencoba untuk mengurangi kekuatan mereka sampai para Juara bersenjata mistik itu muncul" Nata menjawab pertanyaan Lucia. "Kemudian kita akan kalahkan mereka sebelum kita mulai menyerang balik" tambahnya dengan enteng.
"Bagaimana kita bisa mengalahkan Juara dengan senjata mistik?" Tampak Cedrik yang kini bertanya, setelah ia mendengar nada ucapan Nata yang terkesan santai tadi.
"Dengan akal" celetuk Aksa tiba-tiba.
__ADS_1
"Benar. Kita pernah sekali mengalahkan para penyihir dengan sihir pelindung yang tidak tertembus. Bahkan tanpa menggunakan sihir, kan? Itu berarti, kita bisa mengalahkannya lagi" Nata menjawab dengan optimis. "Lagi pula, kali ini kita sudah memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi mereka" tambahnya kemudian.
Setelah melihat gerak tubuh dan gaya Nata berbicara, Lucia terlihat mulai sedikit tenang. Ia tahu, itu berarti Nata sudah memiliki rencana untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi sekarang ini.
"Ngomong-ngomong, ada para Juara pemegang senjata mistik yang mereka punya?" Tanya Nata setelahnya.
"Menurut informasi yang kita dapat, mereka ada dua belas" jawab Caspian singkat.
"Apakah mereka itu dua belas panglima seperti yang pernah anda beri tahukan sebelum ini?" Nata bertanya kepada Caspian untuk memastikan.
"Bukan. Mereka dua belas orang yang lain lagi. Jadi kerajaan Urbar memiliki dua belas jendral yang memiliki status panglima perang, dan dua belas jendral yang memiliki gelar Juara" jelas Capian kemudian.
"Mereka suka sekali membuat group dengan dua belas members. Mending enam belas" celetuk Aksa.
"Berarti bila di bagi secara rata, kemungkinan akan ada empat Juara bersenjata mistik di tiap pasukan di ketiga sisi gerbangnya" ujar Nata yang kemudian terlihat diam berpikir. "Apa menurutmu, kau bisa mengurus yang di sisi barat, Aks?" Tanyanya kemudian kepada Aksa.
"Kurasa selama mereka masih berada di laut, aku masih bisa menanganinya" jawab Aksa dengan nada yang seolah menghadang 30 kapal itu bukanlah hal besar.
"Tapi, bukankah kita baru bisa menyelesaikan satu kapal saja, Aks? Mereka tiga puluh kapal" Lucia mengingatkan, bahwa Aksa akan berada dalam kondisi satu lawan tiga puluh.
Lucia terlihat ragu menanggapi jawaban dari Aksa tersebut. "Apa kau yakin?" Tanyanya kemudian.
"Anda menghina sekali bila menguatirkan utusan dewa ini" saut Aksa dengan wajah meremehkan yang terlihat sangat menjengkelkan buat Lucia.
"Baiklah kalau begitu. Aksa akan mengurusi pasukan yang akan menyerang melalui pesisir barat. Sedang pesisir timur, akan kita serahkan seluruhnya kepada para Yllgarian" Nata berucap menjelaskan rencananya. "Kita akan sisakan separuh prajurit, dan tuan Cedrik akan memimpinnya untuk mengamankan sisi utara dan wilayah dalam" imbuhnya kemudian.
"Lalu kami, para pemimpin prajurit? Apa yang harus kami lakukan? Dimana kami akan ditempatkan?" Caspian bertanya.
"Anda sekalian akan bersama dengan saya. Kita akan menghadang pasukan disisi selatan" jawab Nata kemudian.
-
Esok harinya tampak Nata dan Lucia sudah berada di atas tembok tebing gerbang selatan memantau keadaan. Para ksatria dan beberapa penyihir tampak berada disamping mereka.
__ADS_1
Mereka adalah Caspian, Jean, Helen, Vossler, Parpera, Lily, dan beberapa ksatria dan penyihir bawahan Vossler dan Hellen.
Terlihat meski masih dari jauh, perkemahan pasukan kerajaan Urbar tampak semakin besar. Beberapa alat pelontar batu juga terlihat menjulang diantaranya.
Lucia tampak sedang mengamati dari balik teropongnya.
Kali ini Lucia tidak lagi mengenakan baju ksatria bangsawannya yang berwarna merah kuning seperti sebelumnya.
Kali ini ia menggunakan pakaian baru. Pakaian pelindung yang juga dipakai oleh semua ksatria, penyihir, dan para prajurit. Dibuat oleh pengerajin Bintang Timur yang dibantu para penenun suku Tempest dalam satu setengah bulan terakhir ini.
Mulai dari kemeja lengan panjang, sampai celana panjangnya, semua berwarna hitam kusam. Tidak terlihat bersinar sama sekali. Lalu dibagian yang biasa terpasang plat besi, kini diganti dengan sebuah jaket kulit. Seperti jaket kulit para pemburu, hanya saja sedikit lebih tebal.
Dengan aksen emas dibagian dada, kerah, pundak, dan lengan. Yang terlihat seperti sebuah baju ksatria bangsawan pada umumnya, dan bukan seperti baju pelindung untuk bertempur.
"Apa kau yakin pakaian ini lebih kuat dari plat besi pelindung?" Tanya Jean yang juga mengenakan baju serupa, hanya berbeda bentuk dan gaya saja. Ksatria wanita itu tidak hanya kuatir terhadap keselamatannya saja, tapi juga Lucia.
"Tenang saja, Jean. Pakaian ini dibuat dari serat logam Dracz yang ditenun, kemudian dilapisi dengan serbuk silikon dari kristal Quartz yang dicampur resin atau getah pohon. Bahkan peluru dari senjata api kita, tidak akan mudah menembusnya. Apalagi panah atau sekedar sabetan pedang" jelas Nata seraya menyentuh pakaian yang sedang ia pakai. Yang berbahan sama dengan pakaian yang dipakai oleh yang lain.
"Benarkah? Benda ini tidak seberat dan sekeras zirah atau plat besi" Helen terlihat tidak nyaman karena tidak yakin apakah pakaian tipis itu benar-benar dapat melindunginya dalam medan pertempuran seperti zirah yang biasa ia pakai.
"Tenang saja, nona Helen. Bahkan bagian kulit jaketnya itu dari kulit Antelop Cinder. Yang tahan terhadap api. Ya, mungkin juga tahan terhadap sihir api" jelas Nata lagi meyakinkan Helen dan juga yang lain. "Mungkin kelemahannya adalah sedikit terasa panas, karena kurangnya sirkulasi udara dari pakaian ini" tambahnya kemudian.
"Kulit Antelop Cinder?" Terlihat Caspian dan beberapa orang terdengar kagum saat Nata menjelaskan bahwa bahan pakaian mereka dari kulit binatang mistik.
Tampak Lucia menurunkan teropongnya. "Kurasa mereka tidak main-main untuk menggempur gerbang ini habis-habisan" ujarnya kemudian dengan wajah gelisah.
"Kita juga tidak akan akan main-main untuk mempertahankan gerbang ini" jawab Nata yang kali ini ganti mengamati pasukan lawan dengan teropong. "Aku merasa kasihan pada pasukan mereka" ujarnya kemudian.
"Aku juga merasakan hal yang sama" ujar Lucia menambahi.
"Sebagian dari ksatria dan prajurit itu memiliki prinsip. Bahwa mereka akan mati secara terhormat dalam sebuah pertempuran membela tanah dan kepercayaan mereka" saut Parpera tiba-tiba. Setelah sedari tadi hanya diam disebelah Lucia.
"Tapi, yang akan kita bawa kepada mereka bukanlah sebuah pertempuran. Melainkan pembinasaan" ujar Nata dengan suara getir.
__ADS_1
-