
"Akhirnya!" ucap Amithy begitu ia memasuki bar Pietro.
"Nyonya Amithy?" Tampak Nata terkejut mendapati Amithy yang datang tiba-tiba dengan tampak tergesa-gesa.
"Aku mencari kalian di tempat tinggal Lucia, mereka bilang kalian ada disini" ujar Amithy.
"Kami sedang membahas masalah minuman beralkohol dengan tuan Dirk dan tuan Pietro" jawab Lucia kemudian.
Di bar yang masih tutup itu, sudah tampak Aksa, Nata, Lucia, Rafa, Dirk, dan Pietro yang duduk di meja besar di ujung ruangan. Sementara Seigfried tampak sedang menyapu lantai, dan Luna sedang merapikan beberapa minuman pada tempatnya.
Segera Amithy duduk di antara Dirk dan Pietro. Kemudian mengangkat tangannya menatap Luna yang ada di balik meja bartender. Yang kemudian di tanggapi Luna dengan anggukan, yang menandakan ia paham Amithy sedang meminta segelas minuman.
"Jadi apa yang ingin bibi bicarakan sampai harus mencari kami kesana kemari?" Lucia bertanya.
"Aku baru saja mendapat kabar dari Mateus, bahwa kerajaan Urbar berhasil menguasai Tanah Suci" ucap Amithy kemudian setelah ia selesai meneguk minuman yang baru saja diantar oleh Seigfried.
"Oh, benarkah?" Terdengar Dirk tampak terkejut.
"Benar. Sekarang posisi Urbar jadi lebih tinggi dari dua kerajaan lainnya" Amithy berucap lagi. "Dan mereka meminta dua kerajaan lain untuk mengakui Urbar sebagai kerajaan suci" tambahnya kemudian.
"Wah, itu sesuatu yang berniat cari gara-gara" celetuk Aksa.
"Tampaknya akan ada perang lagi antar mereka bertiga" kali ini Rafa yang berucap.
"Berarti kita harus segera bersiap-siap" ujar Nata yang terlihat kuatir.
"Apa kau mengira kerajaan itu akan menyerang kita, setelah ini?" Tanya Lucia yang terdengar sama kuatirnya dengan Nata.
"Berapa lama perang tersebut terjadi, nyonya Amithy?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Lucia, Nata malah bertanya kepada Amithy.
"Sejak delapan tahun ini" jawab Amithy cepat.
"Berarti entah mereka telah menemukan seorang pahlawan, atau mereka mendapat senjata yang kuat" saut Aksa kemudian.
"Maksudnya?" Terdengar semua orang tidak mengerti maksud ucapan Aksa tersebut.
"Benar. Itu karena perang tersebut sudah terjadi sejak lama, dan baru berakhir hari ini. Jadi kemungkinan besarnya, selama ini tiga kerajaan tersebut memiliki kekuatan yang seimbang" Nata mulai menjelaskan.
"Dan bila sekarang ada pemenang dari peperangan tersebut, maka sudah jelas bahwa pemenang itu memiliki kekuatan yang mengungguli dua kerajaan lain" tambahnya lagi.
"Dan balik lagi, berarti entah mereka menemukan seorang pahlawan sakti, atau mereka mendapatkan senjata dasyat" saut Aksa sekali lagi.
"Menurut Mateus, mereka memang menggunakan senjata mistik untuk menggungguli kerajaan yang lain" Amithy berucap kemudian setelah tegukan kedua dari minuman digelasnya.
__ADS_1
"Apakah senjata seperti itu susah untuk di dapat? Kenapa tidak semua kerajaan memilikinya?" Nata bertanya lagi. Untuk memastikan.
"Benar. Senjata mistik memang susah untuk didapat. Itu dikarenakan, sudah lama marga Realn tidak membuat senjata mistik untuk orang luar. Setelah perang Api Hitam selesai" jelas Rafa yang duduk sedikit dibelakan Aksa.
"Jadi jumlah senjata mistik itu tergantung dari marga Realn?" Nata bertanya lagi
"Tidak juga. Tiga perempat dari keseluruhan senjata mistik yang ada di dunia ini, dibuat oleh marga Realn. Tapi marga seperti Nautua dan Vaelum, mereka juga membuat senjata mistik, meski tidak sengaja dibuat sebagai sebuah senjata. Tapi masih cukup dasyat saat digunakan di medan tempur" lanjut Rafa menjelaskan. "Bahkan tidak sedikit dari marga Rhafie dan Briefir, yang juga membuat senjata yang tampak unik dan aneh" tambahnya kemudian.
"Jadi senjata-senjata mistik itu dibuat oleh para Elf?"
"Akhir-akhir ini batu Arcane marga Aeron juga kerap di jadikan bahan dasar untuk membuat senjata mistik oleh para pengerajin manusia" jawab Rafa lagi. "Yah, meski tidak sekuat senjata mistik buatan bangsa Elf" susulnya kemudian.
"Dan juga senjata-senjata itu punya tingkatan" celetuk Aksa menambahi informasi dari Rafa.
"Benar. Senjata tersebut memiliki tingkatan kekuatan sama seperti hewan mistik. Hanya saja senjata mistik memiliki sebuatan untuk tingkatannya" Rafa kembali melanjutkan penjelasannya.
"Oh, jadi bukan tingat satu atau tingkat dua?"
"Bukan. Mungkin kalian pernah mendengar kata Strum?" Rafa terlihat memastikan.
"Itu julukan untuk Val" ucap Nata.
"Benar. Itu adalah tingkatan dalam membuat senjata. Dan dengan itulah tingkat kekuatan senjata mistik di sebut" Rafa menjedah sebentar. Dan kemudian melanjutkan penjelasannya. "Strum, yang pertama. Yang kedua, Dulcis. Yang ketiga, Arco. Dan yang terakhir disebut Pizzica" tutupnya.
"Apa mungkin gelang-gelang Scion itu juga kelakuan mereka?" Kali ini Aksa yang bertanya.
"Mungkin bisa jadi memang mereka" ucap Nata dengan pandangan menerawang menatap meja dihadapannya. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kembali kepertanyaan ku, Nat" ucap Lucia yang tampak sedikit jengkel sudah diacuhkan oleh Nata.
"Jadi tuan putri, kerajaan itu memiliki kekuatan yang besar sekarang. Dan kekuatan besar itu sangat menggoda untuk digunakan. Lalu menurut anda apa yang akan terjadi bila kerajaan tersebut sudah berhasil menaklukan dua kerajaan tetangganya?" Ujar Nata yang juga terlihat jengkel dengan sikap Lucia.
"Kita tetangga yang ketiga" kali ini Dirk yang berucap.
"Ya, itu yang ku takutkan" ujar Amithy menambahi.
"Sangat berbahaya bila memang mereka memiliki kekuatan seperti itu. Berarti giliran kita sebentar lagi" ucap Nata kepada Lucia.
"Benar" saut Aksa menambahi. Yang tampaknya ia sedang memanas-manasi Lucia yang masih terlihat jengkel pada Nata.
"Maka dari itu kita harus segera menyiapkan pertahanan untuk kota ini" Nata kembali berucap, yang masih menatap Lucia. "Entah apa yang anda pikirkan saat ini tuan putri, yang jelas kita harus bersiap untuk berperang. Anda pasti tidak ingin semuanya terlambat, kan?" tambahnya.
Sedang Lucia terlihat belum bisa secara penuh menerima gagasan dari Nata. Ia membangun kota ditanah mati tersebut, salah satunya adalah untuk menghindari peperangan.
__ADS_1
"Diam berarti 'iya'" celetuk Aksa yang membuyarkan pemikiran Lucia.
"Baiklah. Lakukan yang menurutmu perlu, Nat" ujar Lucia yang terlihat menarik nafas dalam. Ia tahu bahwa setiap kata yang Nata ucapkan itu memang benar. Tapi ia masih tidak bisa menahan perasaannya untuk tidak ingin terlibat dalam sebuah peperangan.
"Baiklah, saya akan memulainya besok" jawan Nata cepat.
-
Dua hari kemudian diadakan pertemuan di tenda Aksa dan Nata di depan mulut gua Ceruk Bintang. Pertemuan yang di hadiri oleh orang-orang yang bekerja di wilayah tersebut. Couran, Val, Haldin, Go, Rafa, Marco, dan Matyas.
Juga selain Aksa, Nata, dan Lily, hadir juga Ivvone, Cedrik, Margaret, Ende, Caspian, Vossler, Helen, dan Jean.
Mereka membicarakan tentang rencana membuat perlindungan yang kokoh di gerbang sisi selatan dan utara. Untuk mulai mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan terjadi.
"Jadi mulai besok kita akan mempersenjatai gerbang selatan dan gerbang utara dengan ateleri anti-seige, anti-aerial, dan anti-magic" ujar Aksa membuka pertemuan.
Seperti biasa, semua orang tidak paham dengan maksud Aksa, dan menatap kearah Nata untuk mendengar sebuah penjelasan.
"Mungkin sebagian kalian sudah mendengar tentang hal ini, dan sebagian lagi belum. Tapi untuk berjaga dari serangan pihak luar, terutama wilayah Selatan, kita akan mulai membuat beberapa persiapan untuk bertahan. Persiapan bila suatu saat hal yang tidak diinginkan terjadi" Nata mengambil alih.
"Lalu apa rencana mu?" Jean bertanya.
"Mau tidak mau, kita akan membuat senjata. Dan juga, kita harus mulai mempersiapkan prajurit. Saya tidak berharap mereka akan turun ke medan perang, namun untuk berjaga-jaga bila hal tersebut diperlukan" Nata mulai menjelaskan recananya.
"Baik saya mengerti" jawab Caspian cepat. Tampak anggota Bintang Api juga mengangguk, yang menunjukan bahwa mereka juga paham.
"Apa sudah separah itu?" Tanya Go kali ini.
"Saya hanya merasa tidak nyaman bila tidak memiliki persiapan, nona Go" jawab Nata. "Jadi, apakah ada yang ingin ditanyakan?" Tambahnya kemudian.
Dan setelah beberapa pertanyaan tentang detail rencana dan pengerjaannya, pertemuan itu pun di tutup.
-
"Oh, dan besok aku akan berangkat menuju ke tanah selatan untuk menyelidiki orang-orang tersebut" ujar Ivvone saat tenda tersebut sudah benar-benar sepi. "Bila memungkinkan, aku akan membawa marga Shuuran yang aku kenal, saat kembali kemari" susulnya.
"Terima kasih, nona Ivvone. Kami sangat menghargainya" jawab Nata kemudian.
"Tidak perlu. Cukup smartpon mu itu saja, Nat" saut Ivvone cepat.
"Iya, aku mengerti" timpal Nata dengan sedikit ketus.
-
__ADS_1