
Sepuluh hari sebelum rencana keberangkatan Aksa dan Nata, tampak Lucia mengadakan pertemuan lagi. Yang dihadiri oleh para anggota kabinet dan parlement nya.
Ia berencana untuk meminta suatu hal yang berhubungan dengan keputusan Aksa dan Natal kepada yang lain.
Bahkan Caspian, Vossler, Helen, juga Anna dan Mateus pun ikut dihadirkan ditempat tersebut.
Meski hanya beberapa yang mengetahui apa yang hendak Lucia bicarakan, namun banyak orang sudah bisa menebaknya.
Sedang Aksa dan Nata yang mulai sibuk membuat rencana dan panduan untuk tiap-tiap bagian, tidak mengetahuinya.
"Jadi selama seminggu lebih ini, saya sudah banyak berpikir. Juga meminta pendapat dari banyak orang" ujar Lucia yang berdiri di depan 40 orang membuka pertemuan tersebut.
Ruangan menjadi tenang begitu Lucia mulai berbicara. Semua orang tampak dengan seksama mendengarkan ucapan Lucia.
"Kerajaan-kerajaan diluar sana masih memandang wilayah ini kecil dan lemah, maka dari itu akan selalu ada kerajaan lain selain kerajaan Urbar yang akan mencoba untuk mengganggu wilayah kita dikemudian hari" Lucia menjedah ucapannya.
Semua orang masih terlihat seksama menanti ucapan Lucia.
"Mungkin selama ini saya memang masih anak-anak. Dan saya juga mengakuinya bahwa saya terlalu naif" Lucia melanjutkan.
"Padahal awalnya saya yang memaksa Aksa dan Nata untuk membangunkan sebuah kota. Kota yang memiliki peraturan yang akan merubah aturan lama dunia ini. Kota yang bertujuan untuk melindungi rakyat yang membutuhkan.
"Dan untuk mewujudkan hal tersebut, mau tidak mau wilayah ini harus menjadi lebih kuat. Berkembang lebih besar. Saya sadar betul akan hal tersebut.
"Tapi saat kota ini hendak menuju kearah tersebut, saya malah merasa ketakutan sendiri. Disaat Aksa dan Nata mulai serius untuk melakukan perubahan, saya malah secara tidak sadar mencoba untuk memperlambatnya.
"Saya takut tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Saya takut tidak bisa menentukan keputusan dengan benar. Saya takut tidak bisa bersikap bijak dalam menghadapi sebuah masalah. Saya benar-benar penuh dengan ketakutan tersebut.
"Dan saya masih seperti itu sampai saat ini" Lucia menarik nafas menjedah ucapannya.
"Tapi saya ingat, bahwa wilayah ini dibuat bukan hanya untuk satu orang saja. Maka dari itu, sekarang saya ingin mengembalikan keputusan pada anda sekalian. Yang juga memiliki hak atas wilayah ini" Lucia kembali melanjutkan.
"Mungkin memang tujuan Aksa dan Nata terdengar sangat pribadi dan egois. Namun dibalik itu, mereka ingin menghindari pergolakan baru yang terjadi bila keseimbangan kekuatan di region tengah daratan selatan itu timpang, setelah kekuatan kerajaan Urbar berkurang. Dan kemungkinan besar akan menimbulkan peperangan baru untuk kembali memperebutkan Tanah Suci.
"Ini bukan hanya untuk Aksa dan Nata, tapi juga untuk wilayah kita. Jadi sekarang saya ingin menanyakan pada anda sekalian. Apakah lebih baik kita menghentikan peperangan ini sekarang juga, atau haruskah kita menjatuhkan kerajaan Urbar dan mengambil alih Tanah Suci. Kita akan menentukan wilayah kita ini bersama-sama" tutup Lucia kemudian.
__ADS_1
Ucapan Lucia tadi segera memicu keributan secara mendadak. Orang-oang yang ada di dalam ruangan tersebut mulai riuh berbicara satu sama lain secara bersamaan.
"Wauw! Dia bisa dapat kata-kata seperti itu darimana?" Aksa terlihat menggeleng seraya bertepuk tangan samar. "Akan ku minta dia menuliskan pidato untuk penganugrahaan Noble Prize yang akan kuterima kelak" tambahnya kemudian.
"Gadis itu memang kadang-kadang. Mungkin kalau ditempat kita, dia cocok jadi pembawa acara Talkshow, atau juri acara cari bakat" saut Nata menanggapi Aksa.
"Harap tenang semua" Orland berucap dengan sedikit berteriak untuk mengatasi kebisingan ruangan.
"Apa anda yakin, tuan putri? Bila yang lain ingin menjatuhkan Urbar, maka anda akan memicu pergolakan baik di daratan selatan maupun di daratan utara" Nata memastikan saat Lucia kembali duduk dikursinya disebelah Nata.
"Dan ingat, anda akan menjadi seorang ratu" Aksa menambahi.
"Saya akan tetap mengikuti apapun hasil dari pemilihan ini. Mungkin ini adalah caraku untuk mengakali ketidak mampuanku dalam memilih" Lucia menjawab. "Tapi setelah memikirkannya secara sungguh-sungguh, sepertinya aku tidak boleh hanya diam ditempat, disaat yang lainnya berkembang" tambahnya kemudian.
"Anda kejatuhan apa semalam? Kenapa kelakuan anda jadi bener?" Aksa menyeletuk.
"Anda tidak boleh mengeluh atau merengek nantinya" Nata mengingatkan.
"Mungkin akan seperti itu. Tapi setidaknya aku akan belajar untuk tidak" jawab Lucia dengan ringan.
"Baiklah semuanya" Orland mengambil alih pertemuan. "Kali ini kita tidak akan sekedar melakukan pemungutan suara saja. Namun kita juga akan mendiskusikan alasan dan sebabnya. Agar mendapat keputusan yang benar-benar terbaik untuk semua orang" jelasnya kemudian.
"Baiklah kalau begitu, kita akan langsung saja. Untuk yang setuju kita akan menjatuhkan kerajaan Urbar angkat tangan." Orland memulai pemungutan suaranya.
Dan diluar dugaan, bahkan Aksa dan Nata pun tampak terkejut. Bahwa semua orang yang ada didalam ruangan tersebut semua mengangkat tangan. Tanpa terkecuali. Bahkan para Yllgarian pun menyetujuinya.
"Wah, ini Prank atau gimana?" Celetuk Aksa melihat hal tersebut.
"Kalian tidak perlu mengangkat tangan bila hanya untuk menahan kami" Nata berucap.
"Benar. Karena kita sudah sepakat, bahwa semua ini tentang kebaikan wilayah kita" Lucia menambahi.
"Ketar-ketir ya, tuan putri?" Saut Aksa yang tidak dipahami oleh Lucia.
"Jelas saya mengangkat tangan karena ingin menahan anda berdua. Tapi secara nalar juga, menjadi lebih kuat berarti mengurangi orang-orang yang sengaja mencari masalah dengan kita" Dirk menyahut.
__ADS_1
"Benar. Menjadi lebih besar berarti semakin disegani. Siapa yang tidak menginginkan hal tersebut" Saut Sigurd yang segera dipukul oleh Shuri dikepala.
"Jaga bicaramu, Sig" kali ini Cedrik yang berucap di sebelah Sigurd.
"Saya menyetujuinya karena itu adalah satu-satunya cara untuk menjaga region tengah dari kekacauan" kali ini Mateus yang berucap.
"Aku mengangkat tangan memang karena ingin menahan kalian" kali ini Amithy yang berucap. "Disamping aku juga memiliki dendam yang sama seperti kalian" tambahnya kemudian.
"Saya juga." Beberapa orang tampak berucap nyaris bersamaan. Suara mereka saling tupang tindih.
"Kalian ini ternyata agresif juga ya. Bahkan sampai anda sekalian juga menyetujuinya, para Bijak?" Aksa tampak benar-benar penasaran kenapa para Yllgarian juga menyetujuinya.
"Karena kami merasa untuk menjadi penjaga dan bahkan sebuah teladan. Kita harus berada di posisi ketua, agar dapat dilihat dan dipatuhi" Vurg si bururg hantu menjawab.
"Karena kami yakin bahwa keteladanan kalian-kalian harus disebarkan melewati batasan dinding bukit tanah Pharos" Safiya si kelelawar menambahi.
"Mulai hari ini aku akan memanggil anda berlima dengan sebutan Guru" saut Aksa begitu mendengar ucapan para Bijak Yllgarian.
"Saya rasa meski alasan kita berbeda-beda, namun tujuan kita sama. Membuat wilayah ini berkembang. Bukan hanya supaya tidak ada yang akan mengganggu dikemudian hari, namun juga untuk menjadi teladan bagi wilayah-wilayah yang lainnya" ucap Orland kemudian.
"Kenapa aku merasa seperti berada dalam sebuah kisah kepahlawan, ya? Bikin merinding aja" Aksa berucap seraya menyentuh tengkuknya.
"Benar. Seolah sebentar lagi akan muncul ancaman yang akan menghancurkan dunia" Nata menimpali.
"Baiklah kalau begitu. Sudah diputuskan. Bahwa kita akan menjatuhkan kerajaan Urbar" Lucia tampak sudah berdiri lagi dihadapan yang lain.
Mendengar ucapan tersebut, tampak semua orang bertepuk tangan.
"Dan mulai saat ini saya Lucia Eleanore Elbrasta kelima, akan berusaha untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Jadi mohon kerjasamanya" Lucia melanjutkan. Yang kembali di sambut dengan tepuk tangan di akhir ucapannya.
"Dia ini kaya lagi kampanye aja. Padahal dari dulu kan sudah pemimpin wilayah ini" celetuk Aksa mengomentari ucapan Lucia.
"Ya setidaknya sekarang kita punya senjata bila dia mulai uring-uringan ga jelas nantinya" ujar Nata menjawab Aksa.
"Harusnya tadi kau rekam ucapannya dengan hape mu, Nat"
__ADS_1
"Oh, benar juga"
-