Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
11. Ikut Menuju Baltra


__ADS_3

Malamnya setelah Val selesai membuat alat untuk Nata dan meminta Marco untuk tidak terlalu ribut membicarakan Val yang bisa berpotensi menimbulkan kegemparan di kota tersebut, akhirnya mereka berkumpul lagi di Balai Petemuan untuk bertemu dengan kelompok Bintang Api sekali lagi sebelum kembali ke kereta kuda mereka di luar kota untuk membuat perkemahan.


Ruangan gedung Balai Pertemuan itu terlihat seperti percampuran antara sebuah bar dan ruang penerima tamu sebuah penginapan.


Tepat di depan pintu masuk tampak seperti meja penerima tamu penginapan yang bertugas untuk mencatat para pemburu atau serikat petarung bayaran dalam pengambilan tugas dan hadiahnya.


Sebelah kirinya terdapat sebuah papan kayu besar yang dipasang ditembok. Dalam papan kayu itu terdapat banyak sekali lembaran kertas yang berisi tentang tawaran tugas yang ditempel tidak rapi namun masih tidak menyulitkan untuk orang membacanya.


Sisi sebelah kanan tampak susunan tempat duduk berjajar rapi seperti dalam sebuah bar, lengkap dengan meja pesan di ujung kanan ruangan.


Sementara kelompok Bintang Api duduk di beberapa meja di sisi kanan ruangan itu. Tampak Cedrik memanggil dan melambai saat melihat rombongan Nata dan Aksa dari pintu masuk.


Di meja itu duduk Cedrik, Margaret, seorang pria Morra yang belum dikenal anggota Nata dan Aksa, dan Ende yang tampak sangat bersemangat. Senyumnya mengembang lebar saat melihat sosok Lily.


-


"Perkenalkan saya Shyam. Saya ingin berterima kasih pada nona Lily secara langsung, karena bila tidak ada anda saat itu, saya mungkin tidak akan selamat" ucap pria Morra yang berpakaian seperti seorang pemburu itu kepada Lily saat mereka sudah duduk di meja tersebut.


Lily, Nata, Aksa, dan Val duduk bersama di meja Cedrik. Sedang trio pemburu duduk dengan anggota kelompok Bintang Api yang lain disebelahnya.


"Saya juga bersyukur anda tidak terluka serius" ucap Lily yang terlihat lega.


"Ini adalah bagian untuk nona Lily yang telah membunuh tiga Mistik Hyena" tiba-tiba Cedrik meletakan sebuah kantong kulit sebesar telapak tangan ke atas meja.


Dari suaranya saat menyentuh meja, Aksa dan Nata langsung bisa memastikan bahwa yang ada di dalam kantung kulit itu pasti adalah uang logam. Tapi karena jumlahnya tidak banyak, perkiraan mereka adalah keping yang memiliki nilai tukar tinggi di kerajaan ini. Seperti hal nya emas atau platinum.


"Tidak perlu, saya bukan bagian dari kelompok kalian" ucap Lily kemudian, disaat wajah Aksa dan Nata mulai terlihat sumringah.


"Tapi anda yang telah membunuh Mistik Hyena itu" ucap Cedrik kemudian.

__ADS_1


"Itu bukan apa-apa. Saya hanya berniat untuk menolong, jadi saya tidak perlu hadiah ini" jawab Lily dengan senyuman. Yang dibalas oleh Aksa dan Nata dengan wajah masam.


"Anda begitu baik, terima kasih sekali lagi"


"Kurasa Lily sudah ketularan Lucia" bisik Aksa ke Nata yang masih cukup keras untuk di dengar bahkan oleh orang di meja sebelah. Nata mengangguk cepat menyetujui ucapan Aksa.


"Apakah setelah ini kalian ada tugas pembersihan lagi?" Tanya Lily tidak menghiraukan Aksa dan Nata.


"Belum, mungkin kami akan beristirahat dahulu untuk semingguan ini. Disamping beberapa anggota kami harus memulihkan diri" jawab Cedrik.


"Jadi apakah anda akan melanjutkan perjalanan besok?" Kali ini Ende yang bertanya dengan nada kecewa seraya menatap Lily.


"Benar, kami sudah menunda-nunda sampai saat ini" jawab Lily.


"Apakah kita akan bertemu lagi nona Lily?" Tanya gadis penyihir itu dengan nada memelas.


"Semoga saja" balas Lily dengan nada ceria.


"Benar, kami akan menuju desa itu"


"Aku sebenarnya juga ingin bertandang ke desa tersebut. Dengar-dengar desa itu punya peralatan unik yang mereka gunakan untuk menjalankan pertanian mereka. Juga kabarnya mereka membangun tembok di tepi bukit untuk mencegahnya dari longsor" ucap Margaret panjang lebar.


"Itu disebut Terasering" celetuk Aksa.


"Apa anda sudah pernah melihatnya?" Tanya Margaret balik.


"Mereka berdua yang membangun tembok tersebut" sela Loujze dari meja sebelah.


"Ah, benarkah? Apakah kalian sudah pernah ke desa itu sebeluknya?" Margaret tampak tidak percaya mendengar ucapan Loujze.

__ADS_1


"Iya, tapi sudah lama sekali. Sekarang kami ingin bertandang ke tempat teman lama kami disana"


"Oh begitu ternyata"


"Eh, karena kita punya libur seminggu ini, bagaimana kalau kita ikut mereka menuju desa Baltra" tiba-tiba Ende memberi usulan ke Margaret dengan senyum yang mengembang.


"Ikut mereka ke desa Baltra?" Terdengar Margaret sedikit tertarik dengan gagasan tersebut.


"Benar, desa Baltra hanya kurang dari dua hari dari tempat ini" ucap Ende mencoba meyakinkan Margaret. Tampang gadis penyihir itu terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan manisan.


"Apakah tidak apa-apa?" Kali ini Margaret bertanya ke arah Lily dan rombongan.


"Silahkan saja" jawab Lily tanpa jedah berpikir.


Nata, Aksa, dan trio pemburu juga tampak mengangguk setuju dengan jawaban Lily.


"Kami malah merasa lebih aman bila ada lebih banyak orang yang dapat bertarung" ucap Nata menambahi.


"Yah, kurasa ide yang menarik. Baiklah aku juga akan ikut kalian berdua" tiba-tiba Axel berucap dari meja sebelah kiri.


"Anda tidak ikut juga tuan Cedrik?" Tanya Nata kemudian.


"Aku harus berjaga di kota ini, memantau informasi dari Balai Pertemuan, serta menjaga anggota yang sedang memulihkan diri"


"Baiklah kalau begitu, semoga kita bisa bertemu lagi tuan Cedrik"


"Iya, hati-hati lah kalian dijalan, semoga kita bisa bertemu lagi" jawab Cedrik kemudian.


Dan akhirnya rombongan Aksa dan Nata pun mengundurkan diri.

__ADS_1


-


__ADS_2