Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
07. Sebuah Surat


__ADS_3

"Apa mungkin ada mata-mata di dalam wilayah kita?" Tanya Orland saat esok harinya mereka mengadakan pertemuan di kota Tengah.


"Saya akan segera menyelidikinya" saut Luna yang duduk disebelah Caspian diseberang meja Orland.


Mereka mengadakan pertemuan hanya dengan beberapa orang yang berkaitan saja di gedung Pertemuan tersebut. Para bangsawan dan mereka yang berhubungan dengan masalah keamanan. Seperti para bangsawan ksatria pemimpin prajurit, dan kelompok Bintang Api.


"Tapi, nona Luna. Bila anda sudah menemukannya, jangan langsung bertindak. Beri tahu saya terlebih dahulu" Nata menambahi.


"Baik saya paham, tuan Nata"


"Sepertinya anda memang dikutuk, putri" celetuk Aksa yang duduk disebelah Nata dan Jean.


"Jaga bicaramu, bocah" saut Jean cepat seraya melirik tajam kepada Aksa.


"Habisnya, masalah selalu saja datang disekelilingnya" jawab Aksa kemudian.


"Aku juga tahu, pasti sebentar lagi hal ini akan menjadi masalah besar" ujar Lucia yang terlihat serius dan resah. Tidak memperdulikan ejekan Aksa.


"Semoga belum terlambat. Kita akan mulai memasang persenjataan di gerbang selatan terlebih dahulu" ujar Nata menanggapi.


"Dan tuan Dirk, kita harus mulai mendaftar barang yang biasa dijual pedagang utara untuk daratan selatan. Kemudian melobi mereka untuk mulai menjualnya kepada kita. Kita akan coba membeli semua barang-barang yang kita butuhkan" tambah Nata kemudian.


"Membeli semua barang yang biasa dijual untuk daratan selatan?" Terdengar Dirk tidak mengerti.


"Benar. Dan juga buat daftar barang yang biasa dijual oleh pedagang selatan untuk daratan utara" jawab Nata yang kemudian melanjutkan perintahnya. "Kita akan mulai mencoba membuat barang-barang tersebut ditempat ini" imbuhnya.


"Membuat barang-barang buatan orang-orang selatan?" Terdengar Dirk masih belum paham.


"Kau mau cari masalah, Nat?" Celetuk Aksa kemudian.


"Sebenarnya aku tidak menginginkannya. Tapi bila tidak seperti ini, kita tidak akan bertahan. Dan mereka tidak akan pernah merasa bahwa keberadaan kita juga menguntungkan untuk mereka" Nata menjelaskan pada Aksa.


"Tapi mencoba mempermalukan seorang yang memiliki kekuatan itu bisa berakhir buruk, Nat"


"Aku juga sadar akan hal tersebut. Tapi meskipun kita tidak melakukannya, mereka akan tetap mengganggu kita. Karena pada dasarnya mereka memiliki kekuatan untuk digunakan" jawab Nata mrnjelaskan. "Maka dari itu, yang perlu kita lakukan setelahnya adalah bersiap akan situasi terburuk" tambahnya kemudian.

__ADS_1


Aksa terlihat memperhatikan wajah Nata sebentar sebelum mulai berkata-kata. "Baiklah bila kau sudah memutuskannya" ucap Aksa kemudian.


Sementara yang lain terlihat masih tidak mengerti dengan maksud yang mereka berdua bicarakan.


-


Dua minggu kemudian datang sebuah surat yang ditujukan kepada penguasa tanah Pharos. Dengan menyertakan cap segel kerajaan Urbar, yang berarti surat tersebut adalah surat resmi.


Surat tersebut berisi sebuah peringatan dan tuntutan ganti rugi atas apa yang telah terjadi pada pasukan keamanan kerajaan Urbar. Dan juga penyerahan buronan kerajaan, Anna.


Kemudian sisa dari isi surat tersebut adalah hal-hal yang akan terjadi bila permintaan dan tuntutan tersebut tidak dipenuhi.


"Mereka berniat menutup semua jalur dari wilayah Urbar yang menuju ke tanah Pharos. Memutuskan segala perjanjian kerja yang sudah dilakukan kepada semua pihak di kerajaan Urbar. Tidak terkecuali para pedagang" ujar Lucia saat kembali mereka mengadakan pertemuan yang kali ini du kediaman Lucia.


"Ya, hal ini bukan hal yang tidak kita antisipasi" saut Aksa.


"Maafkan saya tuan putri, tapi sepertinya sudah saatnya untuk saya meninggalkan wilayah ini" ujar Anna yang kali ini diundang mengikuti pertemuan. Karena permasalahan kali menyangkut tentang dirinya. "Disamping kini semua pekerjaan di wilayah barat selesai, juga saya akan mengirim kabar pada mereka, bahwa tanah ini tidak ada urusan lagi dengan saya" tambahnya kemudian.


"Tidak perlu, nona Anna. Bagi mereka, anda hanya sebuah alasan untuk mengganggu kita" saut Nata kali ini.


"Kita sudah tahu, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Yang jadi masalah apakah anda siap, tuan putri?" Lanjut Nata yang kali ini menatap kearah Lucia.


"Untuk apa?" Tanya Lucia balik.


"Membuat musuh" celetuk Aksa.


Terlihat Lucia terdiam mendengar ucapan Aksa baru saja.


"Kita masih bisa untuk tidak membuat musuh" Nata menambahi.


"Dengan menyerahkan nona Anna dan membayar ganti rugi yang mereka minta?" Tanya Lucia yang tampak tidak membutuhkan jawaban.


"Mereka akan memandang rendah kita, dan berkuasa atas wilayah ini" Orland menambahi.


"Benar. Hal itu yang akan terjadi kedepannya" ujar Nata kemudian.

__ADS_1


"Dan kau masih ingin aku melakukan hal tersebut?" Kali ini Lucia yang terlihat tidak terima.


"Saya hanya bertanya, apakah anda siap memiliki musuh" Nata mengingatkan Lucia akan pertanyaannya tadi.


"Aku siap" saut Lucia cepat.


"Tapi ingat. Untuk menjadi seorang pemimpin. Anda harus memiliki pemikiran untuk melindungi teman dan menghancurkan lawan" terdengar Nata memberi peringatan. "Anda tidak bisa memikirkannya berdasarkan perasaan anda" tambahnya.


"Iya aku mengerti" jawab Lucia cepat.


"Kemarin anda juga menjawab seperti itu saat aku mengingatkan bahwa jangan mencari masalah dengan kerajaan Urbar" saut Aksa yang membuat Lucia terdiam tidak bisa menjawab.


"Bila saja kota ini masih dalam wilayah kerajaan Elbrasta, maka kita tidak perlu kuatir. Namun kita sendirian sekarang. Kita tidak memiliki kekuatan setara Elbrasta atau bahkan Urbar, saat ini" Nata menjedah sebentar. "Jadi anda harus benar-benar mengingat untuk tidak melanggar hal tersebut. Karena ini bukan lagi tentang anda yang mencoba menyelamatkan satu nyawa orang. Keputusan anda setelah ini akan berdampak pada banyak orang" Nata menambahi.


Semua orang yang ada ditempat itu setuju dengan ucapan Nata. Mereka harus mulai waspada dan berhati-hati dalam menentukan keputusan dan menjalankan sebuah rencana.


Sedang Lucia tampak sedikit tersinggung. Namun meski begitu, ia mengakui semua yang dikatakan Nata dan Aksa tentang dirinya itu adalah benar.


Dan kini yang bisa Lucia lakukan adalah mencoba untuk merubah dirinya menjadi seorang pemimpin seperti yang diharapkan oleh yang lain. Meski ia juga menyadari bahwa hal itu tidak akan berjalan dengan mulus.


"Dan berhubung kita semua disini, saya ingin melaporkan bahwa kita sudah menemukan mata-mata yang kita cari" Luna berucap membuka suasana yang mulai terasa berat.


"Bagus sekali, nona Luna. Dan siapa orang itu?" Terlihat Nata senang mendengar kabar tersebut.


Kabar tersebut seolah menjadi penyeimbang untuk yang lain. setelah kabar buruk yang baru saja mereka dengar.


"Tidak terlalu susah untuk mencari mata-mata bila dari awal kita sudah melakukan penyelidikan latar belakang pada setiap warga" jawab Luna. "Dia adalah seorang pedagang wanita Narva dari selatan dengan nama Sharon. Tapi sepertinya itu adalah nama samarannya. Wanita itu membuka toko di sekitar Stasiun Kota sejak kurang lebih dua bulan yang lalu" jelasnya kemudian.


"Baiklah, kalau begitu. Setelah ini kita akan langsung meringkusnya" saut Caspian cepat.


"Jangan" sergah Nata. "Biarkan saja dia. Cukup awasi dulu saja bila dia tampak melakukan hal-hal yang mencurigakan. Atau saat dia berpergian ke tempat-tempat tertentu" ucapnya kemudian.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Lucia terlihat penasaran saat melihat wajah Nata yang tampak tersenyum.


"Kita bisa menggunakan nya untuk mengirim informasi palsu pada kerajaan Urbar. Atau bahkan sebuah peringatan" jawab Nata kemudian yang masih juga tidak dipahami oleh yang lain.

__ADS_1


-


__ADS_2