
Seminggu kemudian pelatihan pasukan pun diadakan di dasar Ceruk Bintang. Tepatnya di tanah lapang dekat Atelir Persenjataan. Dihadiri oleh sekitar 150 prajurit dalam sekali sesi.
Para prajurit secara intesif diajarkan hanya cara penggunaan senjata api saja. Karena pada dasarnya mereka sudah terlatih membidik menggunakan senjata bertekanan uap sebelumnya. Jadi mereka hanya perlu melakukan sedikit penyesuaian.
Sementara untuk para penyihir, mereka dilatih untuk menggunakan pistol dan membidik. Dan untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka, Rafa pun diminta untuk ikut dalam pelatihan bersama para penyihir tersebut.
Selain para pemimpin prajurit dan Lucia, Aksa dan Nata juga sengaja mengundang kelompok Bintang Api dan beberapa orang yang mungkin akan berhubungan dengan masalah keamanan wilayah Pharos. Bahkan Parpera dan lima pemimpin regu Yllgarian pun ikut datang.
Tampak juga trio pemburu dan Yvvone yang penasaran ingin sekedar melihat apa yang akan ditunjukan oleh Aksa dan Nata kali ini.
Sedang tujuan Aksa dan Nata kali ini adalah untuk menunjukan sebuah kemungkinan dan menghilangkan paradigma lama dari para prajurit dan penyihir.
Saat orang-orang yang diundang sudah semuanya hadir, Aksa dan Nata meminta mereka berkumpul di lapangan tembak di sebelah Atelir persenjataan.
Berdiri membuat pagar disekitar tanah lapang tersebut dengan Aksa dan Nata berdiri didepan mereka.
"Jadi apa yang ingin kau tunjukan pada kami disini, Nat?" Jean bertanya penasaran.
"Sebenarnya dalam pelatihan gabungan kali ini, Aksa ingin memamerkan sesuatu yang selama ini sedang ia kerjakan bersama asisten nya" Nata menjawab.
"Apakah anda menciptakan senjata baru lagi?" Terdengar Cedrik bertanya.
"Apakah ini tentang menyegel sihir, kemarin?" Helen bertanya memastikan.
"Menyegel sihir? Aku belum pernah mendengar tentang hal tersebut" Ende segera menyahut begitu mendengar topik bahasan menarik yang di ucapkan Helen tersebut.
"Apa itu menyegel sihir?" Terdengar Parpera juga merasa tertarik dan penasaran.
"Bukan. Mana mungkin bisa jadi secepat itu. Kan masih dalam pengerjaan" Aksa segera menjawab untuk menghilangkan kesalah pahaman.
"Berarti anda sedang mengerjakan hal tersebut? Jelaskan pada saya apa itu menyegel sihir?" Parpera terdengar mulai antusias.
"Aku juga kau dengar" Ende juga tidak mau kalah.
"Sudah, sudah. Ini bukkan tentang hal itu. Bila kalian tertarik, nanti saja bertanya setelah yang ini selesai" Aksa menjawab cepat.
__ADS_1
Parpera terlihat mengangguk paham, sedang Ende tampak sedikit jengkel mendapat penolakan dari Aksa.
"Jadi apa yang ingin kau tunjukan?" Jean bertanya tidak sabar.
"Sebenarnya tujuan kami hanya ingin menunjukan kepada semua yang ada di tempat ini, terutama para prajurit dan penyihir. Bahwa latihan ini untuk semua orang" Aksa mulai berucap. "Karena selama ini aku melihat adanya stereotype di dunia ini" tampak ia menjedah ucapannya.
"Apa itu stereotaip?" Terdengar seorang prajurit bertanya lirih pada orang yang ada di sampingnya.
"Bahwa Seithr sudah harus menjadi seorang penyihir. Getzja sudah seharusnya menjadi seorang pemburu. Atau penyihir tidak perlu belajar berpedang, ahli sihir pelindung dan para penyembuh tidak boleh berada digaris depan. Dan lain sebagainya" Aksa melanjutkan ucapannya.
"Itulah yang ingin aku hilangkan dari pandangan kalian semua. Memang setiap orang memiliki ciri unik dalam diri mereka. Dan tidak mungkin jadi segala hal yang mereka inginkan. Tapi bila dengan bantuan peralatan dan kerja keras, maka semuanya akan jadi mungkin.
"Misalnya; seorang tanpa kemampuan sihir penyembuh masih bisa menyelamatkan orang dengan mempelajari ilmu ketabiban, atau seorang Getzja yang ingin bisa menembak musuh dari jauh dengan api dan petir, bisa menggunakan senjata api.
"Dan juga sebaliknya, seorang Seithr yang tidak memiliki fisik yang kuat bisa menggunakan zirah atau Exoskeleton untuk bisa menjadi seorang petarung.
"Apa itu Ekso?" Terdengar prajurit tadi bertanya lagi ke orang yang ada disampingnya.
"Sudah lupakan saja. Ucapan tuan Aksa memang kadang tidak bisa dimengerti" jawab orang itu kemudian.
"Jadi apa yang ingin kau tunjukan, Aks? Apa kau memanggil kami semua hanya untuk bercerita tentang hal itu kepada kami?" Sela Jean yang merasa makin tidak sabar.
Aksa menatap sinis kearah Jean. "Baik. Keluarlah, Raf," teriaknya kemudian.
Dan tak lama setelah itu, terlihat Rafa keluar dari dalam Atelir persenjataan.
Semua orang tampak sedikit terkejut, juga sedikit kagum melihat gadis berlengan satu itu keluar dengan pakaian aneh berwarna gelapnya.
Tampak baju yang dikenakan Rafa tidak jauh berbeda dengan seragam pelindung para prajurit sekarang. Hanya saja tampak lebih ramping, dan bagian pelindungnya lebih tipis dan merata diseluruh tubuh. Menutup dari ujung pergelangan tangan hingga leher bagian atas.
Tampak seperti tali melilit di bagian pundak dan perut, dengan sebuah pistol menggantung di sisi perut sebelah kanan.
Mengenakan celana yang juga terbuat dari bahan yang sama namun terlihat keras dan kasar seperti tekstur kain anyaman jerami.
Terdapat beberapa kantong di bagian belakang, dan sebuah tas kecil terikat dibagian paha sebelah kanan dan juga pinggang bagian belakangnya.
__ADS_1
Terlihat pula sebuah pisau tersarung di ikatan paha sebelah kirinya. Satu lagi pistol menggantung sisi kiri pinggangnya, dan beberapa wadah peluru berjajar di pinggang kanannya.
Rafa mengenakan sarung tangan yang memperlihatkan ruas ujung jarinya. Juga sebuah sepatu kulit yang terlihat tebal dengan banyak sekali ikatan dibagian atasnya.
Dan yang paling menyita banyak perhatian orang. Yaitu lengan kanannya. Terdapat sebuah benda dari logam yang menutupi seluruh sisa lengannya. Seperti sebuah tabung sarung pedang. Hanya saja ini seukuran lengan Rafa. Juga hanya sepanjang perut saja.
Bagian ujungnya datar. Namun terlihat ada tongkat kayu di sisi belakang pelindung logam tersebut. Sebagian kayu tersebut tertutup besi.
Rafa tampak berjalan malu-malu. Kulit wajahnya yang putih, terlihat memerah. Rambut hitamnya yang panjang terlihat serasi dengan pakaiannya yang juga didominasi warna gelap tersebut.
"Ku persembahkan; Rafa sang asisten utusan dewa!" Aksa berucap saat Rafa sudah berada didekatnya.
"Oh, apakah itu seragam baru kita?" Terdengar Margaret tertarik melihat baju yang dikenakan Rafa.
"Benar. Seragam ini adalah versi upgrade dari yang pernah kalian pakai. Sekarang pakaian ini dilengkapi dengan kulit Salamander Hutan yang anti gores. Dan dengan mengganti serat logam dengan resin dan silikon, membuatnya jauh lebih ringan" Aksa mulai menjelaskan tentang pakaian tersebut. "Kulit Antelop Cinder juga masih digunakan, jadi jangan kuatir akan panas dan api" imbuhnya.
"Dari bentuknya, sepertinya bisa membuat kita bergerak dengan lebih nyaman" terdengar Helen sedang menilai.
"Lalu apa bahan dari celana tersebut, kenapa bentuknya terlihat berbeda?" Kali ini Jean yang bertanya.
"Kainnya terbuat dari benang kapas yang di samak dengan Fluoropolymer. Reaksi Fluorocarbon yang di..." Nata dengan segera menepuk pundak Aksa. "Maksudku batu gamping dan permata Fluorite dari tepian gunung Sekai yang dilelehkan. Intinya agar lebih kuat dan tahan terhadap asam dan bahan pelarut sejenis" ucap Aksa kemudian.
"Kurasa aku paham maksudmu" Jean terlihat mengangguk tapi dengan wajah yang terlihat tidak yakin.
"Tapi bukan seragam ini yang ingin aku tunjukan kepada kalian" Aksa segera menambahi. "Melainkan kemampuan yang dimiliki Rafa saat ini" tambahnya kemudian.
"Maksudmu kemampuan nona Rafa yang bagaimana, Aks?" Lucia bertanya.
"Seperti yang kalian tahu. Rafa adalah seorang Seithr. Ia memiliki fisik yang tidak terlalu bagus. Ahli dalam sihir penguatan, perlindungan, dan tanah. Tercatat sebagai penyihir tingkat dua di asosiasi. Lebih banyak menggunakan waktu mudanya untuk membaca dan menulis. Dan kurang lebih sebulan yang lalu, dia kehilangan lengan kanannya" Aksa berucap panjang lebar.
"Ya kami sudah tahu itu" saut Jean terlihat jengkel karena Aksa memberikan informasi yang sudah diketahui semua orang.
"Tapi kalian pasti belum tahu kemampuan bertarungnya, kan? Maka dari itu saya menantang salah satu dari kalian untuk latih tanding melawan Rafa sekarang" Saut Aksa dengan wajah penuh kesombongan.
-
__ADS_1