Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 2


__ADS_3

"Kami kemari tidak ingin merampok Makam Kuno. Kami hanya akan mengambil sesuatu yang juga kebetulan disimpan di dalam sana?" tampak Noel mulai berkata-kata menggunakan bahasa suku Azorgia untuk mengulur waktu menunggu Nikea dan Figor datang.


"Oh, jadi kau mengerti bahasa kami? Menarik sekali. Tapi, bukankah itu sama saja dengan kalian merampok makam kuno? Karena tidak ada barang kecuali harta Kaisar Matahari yang ada di dalam Makam tersebut," timpal perempuan Getzja berpedang ganda itu fengan bahasa sukunya.


"Bukan, yang kami ingin ambil adalah gelang Scion. Benda itu bukan harta dari Kaisar Matahari," ucap Noel membalas.


"Apa yang baru saja kau bilang?" Tampak tidak hanya perempuan berpedang ganda saja yang terkejut mendengar ucapan Noel tentang gelang Scion tersebut, namun semua Getzja itu juga tampak terkejut.


"Gelang Scion. Kami kemari untuk mengambil benda itu." Noel mengulang ucapannya.


"Siapa sebenarnya kalian? Bagaimana kalian bisa mengetahui tentang Gelang Scion?" Perempuan Getzja berbedang ganda itu bertanya penasaran.


"Kalau hal tersebut, kalian tidak perlu tahu," ucap Noel kemudian.


"Kami juga tidak perduli dengan masalah kalian. Tapi yang jelas, kami tidak akan membiarkan kalian menginjakan kaki kotor kalian di balik gerbang ini." Perempuan tadi mulai menarik dua pedang dari sarung di belakang punggungnya secara bersamaan.


Tampak pedang itu memiliki bilah yang pipih dan lebih tipis bila dibanding dengan bilah pedang yang biasanya di gunakan di dataran tengah Elder. Di bagian ujung belakang dari gagang pedang tersebut, terdapat beberapa tali pendek berwarna merah yang terikat dengan semacam manik-manik dari batu alam. Noel langsung menyadari bahwa itu adalah sebuah totem.


"Sepertinya Nikea sudah bergerak menuju kemari," bisik Gesthal memberitahu Noel. Ia bisa mendengar dan merasakan keberadaan rekannya itu dari jauh.


"Apa kalian masih perlu waktu untuk menunggu teman kalian yang satu lagi tiba juga kemari?" Perempuan berpedang ganda itu menyadari bahwa Noel dan Gesthal sedang mengulur waktu. Ia sengaja berucap dalam bahasa Dataran Tengah agar Gesthal mengerti apa yang ia ucapkan.


"Ck, apa yang sedang kupikirkan? Sudah pasti mereka juga menyadari hal tersebut." Gesthal merasa jengkel karena melupakan bahwa lawannya saat ini juga seorang Getzja. Mereka memiliki kemampuan yang sama.


"Bersiaplah, Gest." Setelah memberi peringatan kepada Gesthal, Noel segera melakukan rapalan sederhana dengan cepat. Dan tanpa menunggu lama, ia segera menembakan sihir cahaya yang menyilaukan ke arah perempuan berpedang ganda dan tiga rekannya tadi.


Cahaya terang itu muncul dengan tiba-tiba dan membutakan mata keempat penjaga Azorgia yang tidak siap itu. Gesthal yang sudah mengetahui apa yang direncanakan oleh Noel, sudah menutup matanya.


Begitu cahaya menyilaukan tadi menghilang, dengan segera Noel dan Gesthal menggunakan kesempatan tersebut untuk bersiap melakukan rapalan sihir. Noel berencana merapal sihir untuk menghancurkan pintu gerbang, sedang Gesthal merapal untuk membuat pelindung sihir.


Namun bukanlah seorang Getzja bila keempat penjaga tadi tidak memiliki indra yang lain untuk diandalkan. Karena meski kehilangan kemampuan melihat untuk sementara waktu, mereka masih bisa mengetahui apa yang sedang Noel dan Gesthal lakukan hanya berdasar dari pendengaran dan pergerakan arah angin.


Mengetahui Noel dan Gesthal sedang melakukan rapalan sihir, gadis Getzja, salah satu dari empat penjaga yang tidak membawa senjata tadi, tiba-tiba melesat cepat ke arah Noel untuk menghentikannya melakukan rapalan. Gadis itu bergerak dengan sangat cepat. Bahkan Gesthal yang juga seorang Getzja pun sampai tidak bisa mengikuti gerakanya.


Namun Noel segera membatalkan rapalannya, dan dengan sigap meraih gagang pedang yang menggantung di pinggang kirinya, dengan tangan kiri. Dengan posisi tangan seperti hendak melakukan sebuah tikaman. Kemudian dengan cepat menarik keluar pedang tersebut dari sarungnya.


Bahkan bilah pedang tersebut belum seluruhnya keluar dari sarung, saat sebuah tendangan menghantam pedang tersebut. Tendangan yang tadinya mengarah ke kepala Noel.


Gesthal tampak menahan nafas terkejut melihat gadis Azorgia tanpa senjata itu sudah berada tepat di depan Noel, sekarang. Gadis itu bergerak sejauh kurang lebih lima kereta kuda hanya dalam satu kedipan mata.


Dan setelah merasa serangannya berhasil ditangkis, gadis tersebut segera melompat mundur ke belakang dengan lincah. Sebelum Noel atau Gesthal sempat melakukan serang balasan terhadapnya.


Tampak gadis itu masih memejamkan matanya, karena dampak dari sihir Noel sebelumnya. Namun sepertinya hal tersebut tidak mempengaruhi pergerakannya sama sekali. Seolah matanya masih berfungsi untuk melihat dengan baik.


Kini gadis itu sudah kembali berdiri di antara ketiga temannya yang juga memejamkan mata, namun tetap terlihat tenang.


Noel memperhatikan, bahwa tidak ada luka sama sekali di kaki gadis itu. Meski baru saja menghantam sebuah bilah pedang yang tajam dengan kecepatan tinggi.


"Apa itu tadi sihir?" Gesthal bertanya dengan wajah tidak percaya. Ia merasa gagal sebagai seorang Getzja, karena tidak bisa mengikuti gerakan gadis tadi.


"Bisa jadi," jawab Noel seraya menyarungkan kembali pedang, dan mencoba kembali memasang kuda-kuda untuk melakukan rapalan. "Kita mulai lagi, Gest," ucapnya menambahi.


Dan tepat setelah Noel selesai berucap, tampak Nikea meluncur turun dari atas tebing. "Aku datang!" teriak gadis tersebut dengan lantang.


Nikea yang sempat melihat serangan yang dilancarkan oleh salah satu dari empat Getzja suku Azorgia itu kepada Noel, tampaknya paham betul dengan seberapa kuat kemampuan yang mungkin dimiliki oleh keempat orang itu.


Maka dari itu, tanpa ragu lagi Nikea segera mengambil kesempatan dengan melemparkan kedua kapaknya ke arah empat Azorgia tadi, saat ia masih berada di udara.


Satu dari kapak tersebut berhasil ditepis oleh perempuan berpedang ganda, sedang yang satu lagi dengan mudah dihindari oleh pemuda yang membawa tongkat kayu.


Sementara itu Gesthal dengan segera mengambil tameng besarnya dari balik punggung, kemudian berdiri di hadapan Noel dan mulai merapal sesuatu. Strategi yang tadi ia dan Noel gagal lakukan.


Noel juga dengan segera melakukan rapalan sihir tingkat tinggi yang tadi ia batalkan karena serangan mendadak dari gadis suku Azorgia itu.


Tak lama kemudian tampak sebuah sihir pelindung berbentuk kubah berwarna biru muda mulai muncul secara perlahan di sekitar tempat Noel berdiri. Itu adalah sihir yang dibuat oleh Gesthal.


Hal itu membuat gadis tanpa senjata tadi, mulai kembali melesat maju ke arah Noel. Namun kali ini, dengan gesit Gesthal melompat lebih dulu ke arah yang ia perkirakan akan menjadi laju dari gadis tersebut. Gesthal berencana mendorong gadis itu menjauh dari Noel.


Dan tampaknya perkiraan Gesthal benar. Mereka berdua bertabrakan. Dan akibat dari kecepatan gerak gadis tersebut, membuat tubuh mereka berdua terpelanting jauh, kemudian menghantam dinding tebing di sisi kiri jalan.


Sedangkan tameng Gesthal terlihat tegak tertancap di tanah, tepat di depan Noel berdiri. Dan berpusat pada tameng tersebut, tiga lapis sihir pelindung terbentuk mengelilinginya.


-

__ADS_1


Tampak keempat penjaga Azorgia tadi tidak senang melihat sihir pelindung yang berhasil terpasang mengelilingi Noel yang sedang merapal sesuatu. Terutama gadis yang berhasil di dorong Gesthal tadi.


Gadis itu terlihat jengkel menatap ke arah Gesthal, saat ia berdiri dan kemudian membersihkan debu dari bajunya.


"Jadi itu tadi sihir unik kalian, atau hanya kemapuan fisik mu?" ucap Gesthal seraya bangkit berdiri. Pudak kanannya terasa sedikit nyeri setelah menghantam dinding tebing.


Gadis di hadapan Gesthal itu hanya diam dan mulai memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan berikutnya.


"Kurasa kita tidak akan melakukan basa-basi atau sepertinya," ucap Gesthal yang juga ikut memasang kuda-kuda siap menghadang serangan dari gadis tersebut.


Sementara Nikea tampak berhadapan dengan perempuan berpedang ganda dan pria bertongkat kayu, secara bersamaan.


Namin dengan kelincahan dan sihir api dari kapak mistiknya, Nikea mampu memberikan perlawanan yang seimbang melawan dua orang tersebut. Juga karena kapak mistik tersebut dapat dikendalikan saat berada di udara, membuat Nikea berhasil bertahan dengan tetap menjaga jarak terhadap kedua lawannya yang tidak memiliki serangan jarak jauh tersebut.


Sedangkan salah satu dari empat penjaga Azorgia, pria dengan pedang besar, mulai melakukan rapalan pendek saat ia berada tepat di depan sihir pelindung Noel. Yang kemudian terlihat sinar merah mulai membalut tubuh dan pedang besarnya.


Setelah itu, dengan cepat pria tersebut mulai mengayunkan pedangnya ke arah sihir pelindung yang mengelilingi Noel. Dan hal mengejutkan pun terjadi lagi. Di tiap kali pedang besar milik pria itu menghantam sihir pelindung Noel, tampak sihir pelindung itu mulai retak.


Gesthal tampak terkejut mengetahui kemampuan pria berpedang besar itu, di saat ia sedang berusaha bertahan dari serangan cepat gadis yang menjadi lawannya. Gesthal baru pertama kali melihat serangan fisik yang dapat menghancurkan sihir pelindung. Meskipun sebenarnya ia tidak terlalu kuatir dengan hal tersebut. Karena ia sudah menyiapkan tiga lapis pelindung sihir untuk memberi cukup waktu Noel menyelesaikan rapalannya.


Tak lama kemudian, pria dengan tongkat kayu yang menjadi lawan Nikea tadi mulai terlihat jengkel karena Nikea hanya menghindar dan menyerangnya dengan kapak mistik dari jarak jauh.


Dan karena hal tersebut, pria bertongkat kayu itu juga mulai melakukan rapalan. Dan tak lama kemudian, tubuhnya mulai terlihat di balut oleh angin. Begitu jelas, karena angin tersebut membawa debu tanah padas yang membuat tubuh pria bertongkat kayu itu seolah di balut dengan sesuatu berwarna coklat gelap.


Pria bertongkat kayu itu segera melakukan tebasan dengan tongkatnya, begitu ia selesai dengan rapalannya. Dan seperti bilah pisau angin bercampur debu kecoklatan itu meluncur menuju Nikea dari bekas tebasan tongkat kayunya.


Nikea segera menghindari pisau angin tersebut dengan melakukan lompatan kebelakang. Namun perempuan Azorgia berpedang ganda itu melunjur cepat menuju ke arah Nikea yang tidak dapat menghindar karena masih berada di atas udara.


Untungnya Nikea masih sempat memanggil kembali kedua kapaknya yang tadi tengah melayang untuk melakukan serangan terhadap pria bertongkat kayu. Dan karena menyadari hal tersebut perempuan berpedang ganda itu membatalkan serangannya dan menghindari kedua kapak yang berputar cepat mengarah padanya.


Nikea mendarat dengan mulus seraya kembali menggenggam kapaknya di kedua belah tangan. Memasang kuda-kuda bertahan. Matanya menajam, mulai mengamati semua hal yang ada di sekitarnya. Ujung dari syal di lehernya bergerak pelan tertiup angin yang mulai berhembus sejak pria bertongkat kayu itu merapal sesuatu.


Tampak sepertinya pengelihatan keempat penjaga Azorgia itu mulai memulih. Pria bertongkat kayu dan perempuan berpedang ganda itu, sudah mulai membuka mata mereka.


Sedang pria Azorgia dengan pedang besar yang tengah mencoba menghancurkan sihir pelindung di sekitar Noel tadi, mulai terlihat membuahkan hasil. Retakan pada sihir pelindung paling luar, terlihat semakin membesar.


Dan tak lama kemudian, terlihat Figor muncul dengan melompat dari atas tebing sama seperti yang Nikea lakukan sebelumnya. Namun bedanya, Figor sengaja mengarahkan lompatannya ke pria berpedang besar di depan tempat Noel berdiri, menghujamkan kedua bilah pedang dari punggung tangannya.


Mengetahui hal tersebut, dengan sigap pria berpedang besar tadi mengayunkan pedangnya kebelakang untuk melakukan tebasan begitu Figor masuk dalam jangkauannya.


Namun saat tengah berada di udara, tiba-tiba muncul perempuan Azorgia dengan dua pedang, tepat di belakang Figor dan siap untuk melakukan tebasan.


Menyadari keberadaan lawan di belakangnya, Figor segera mengarahkan pedang di tangan kanannya ke belakang, menyilang melalui bawah lengan kirinya untuk melakukan tangkisan. Dan kemudian diikuti dengan gerakan memutar tubuh dan sabetan dari lengan kirinya ke belakang, ke arah perempuan berpedang ganda itu.


Terdengar suara logam beradu, saat kemudian Figor dan perempuan berpedang ganda itu kembali mendaratkan kakinya di atas tanah.


Jubah panjang Figor kembali menutupi sebagian baju zirahnya. Tampak pula pedang di punggung tangannya kini sudah tidak lagi nampak. Namun meski begitu, Figor masih tetap terlihat waspada memasang kuda-kuda tempurnya.


Perempuan berpedang ganda itu sedikit terkejut melihat baju zirah yang dikenakan oleh Figor. Ia pernah melihat baju zirah itu sebelumnya.


"Apa itu zirah mistik?" tanya perempuan berpedang ganda itu dalam bahasa yang dimengerti oleh Figor.


"Oh, tak ku sangka kau mengerti bahasa Daratan Tengah." Figor sedikit terkejut tidak menduga ada suku Azorgia yang bisa berbicara dengan bahasanya. "Benar baju zirah ini adalah zirah mistik. Ini adalah; Kavacha. Zirah mistik kelas atas," jaqabnya kemudian dengan sedikit angkuh.


"Itu adalah salah satu benda warisan dari kekaisaran Cindar. Dari siapa kau mencurinya?" sahut perempuan tersebut dengan cepat.


"Oh, tidak sopan sekali menuduh orang tanpa alasan seperti itu. Aku tidak tahu yang kau katakan itu benar atau hanya mengada-ada, tapi aku baru pertama ini mendengar tentang informasi tersebut," jawab Figor seraya memperhatikan bagian tangan dan dada dari zirah yang ia kenakan dengan seksama.


"Zirah itu kudapat dari tuan ku, kalau kau masih penasaran dengan hal itu. Dan aku tidak pernah bertanya dari mana beliau mendapatkannya. Jadi hanya sebatas itulah informasi yang akan kau dapatkan dari ku tentang Kavacha ini," susul Figor lagi.


"Ketidaktahuan adalah berkah," ucap perempuan itu dalam bahasa sukunya. "Aku juga tidak terlalu penasaran dari mana kau atau tuan mu mendapatkannya, itu tadi hanya pertanyaan yang tiba-tiba saja terpintas," lanjutnya yang kali ini dengan bahasa yang dapat dipahami oleh Figor.


"Tapi sekarang, yang jelas aku inginkan adalah mengambil zirah mistik warisan kekaisaran Cindar itu kembali," ucap perempuan itu seraya mulai memasang kuda-kuda siap menyerang.


"Oh, silahkan saja bila kau mampu." Figor terlihat tersenyum lebar kemudian ikut memasang kuda-kuda tempurnya.


-


Sementara Figor melanjutkan pertarungannya dengan perempuan berpedang ganda, Gesthal denga gadis tanpak senjata, dan Nikea dengan pria bertongkat kayu, Noel tampak sudah selesai dengan rapalannya. Saat dua sihir pelindung terlihat mulai hancur oleh pria berpedang besar yang terus menghantamkan pedangnya dengan membabi buta.


Dan tepat ketika Noel membuka matanya, tampak tanah di tempatnya berdiri mulai bersinar kuning terang. Berbentuk lingkaran dengan gambar sebuah bintang segi delapan di bagian tengahnya.


Dengan cepat pria berpedang besar tadi melompat mundur kebelakang karena terkejut dan waspada. Dan ketika semua orang masih teralihkan dengan cahaya di bawah kaki Noel tersebut, tiba-tiba terasa tanah mulai bergetar.

__ADS_1


Gesthal, Figor, dan juga Nikea sadar bahwa sihir Noel telah siap di keluarkan.


"Sepertinya serangan besar akan datang," ucap Figor setelah menyadari hal tersebut.


Dan tak lama kemudian, dari arah pintu gerbang yang menuju ke dalam Makam Kuno, menyembur begitu saja dari bawah. Lava dengan warna merah yang menyala terang. Yang menghancurkan gerbang tersebut dan kemudia bergerak ke segala arah melelehkan segala hal yang ada di sekitar tempat itu.


Gesthal, Figor, Nikea, dan keempat Getzja suku Azorgia mau tidak mau harus melompat naik ke atas dinding tebing untuk menghindari lava tersebut. Sedangkan Noel tidak mencoba menghindar dari aliran lava tersebut, karena masih ada sihir pelindung yang mengelilinginya.


"Apa-apaan dengan sihir itu?" Tampak Figor menggelengkan kepala melihat cairan merah menyala mulai meluluh lantakan dinding tebing yang juga adalah pintu gerbang untuk masuk ke dalam Makam Kuno.


"Bukan Noel namanya kalau tidak menyelesaikan sesuatu dengan mencolok seperti ini," ujar Nikea menimpali dari samping Figor di atas dinding tebing sebelah kiri. Berseberangan dengan keempat penjaga Azorgia, yang ada di atas dinding tebing sebelah kanan.


Tampak keempat penjaga suku Azorgia itu juga tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Dan juga, baru pertama kali mereka melihat sihir dengan tingkatan setinggi itu dalam seumur hidup mereka.


Dan begitu gerbang menuju ke dalam Makam Kuno itu hancur, dengan cepat lava tadi mulai mendingin. Warna merahnya berhenti menyala, dan mulai mengeras seperti batu dengan bentuk yang aneh memenuhi seluruh lantai jalanan di depan gerbang di antara kedua dinding tebing tersebut.


Sementara Noel yang masih berdiri di dalam sihir pelindung itu tiba-tiba saja merasakan keberadaan dari gelang Scion yang ada di sekitar tempat itu.


"Tampaknya sihir penghalangnya hilang bersama dengan hancurnya gerbang itu. Baguslah kalau begitu," ucap Noel bukan ke siapa-siapa. "Gest! Aku bisa merasakannya sekarang! Bersiaplah. Aku akan melakukannya di sini!" teriaknya kemudian kepada Gesthal yang berada di atas tebing.


"Sekarang? Yang benar saja," saut Gesthal seraya melompat turun ke bawah, ke arah Noel.


Melihat hal tersebut, keempat penjaga Azorgia tadi tidak tinggal diam. Meski mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Noel dan Gesthal, namun menilai dari apa yang baru saja terjadi, pasti bukan sesuatu yang baik.


"Nik!" seru Figor yang melihat lawan mereka mulai melakukan gerakan.


"Ya, aku mengerti!" balas Nikea seraya berlari, dan kemudian melompat menghadang keempat penjaga Azorgia itu.


Figor dan Nikea menghadang empat Getzja yang hendak menghentikan Gesthal itu, untuk ikut terjun ke bawah.


Tampak sihir pelindung di sekitar Noel menghilang sesaat sebelum Gesthal mendarat di depan tamengnya. Dan setelah itu dengan segera ia mulai merapal sesuatu lagi. Mengikuti Noel yang sudah terlebih dahulu memulai melakukan rapalan baru.


Tampak Nikea dan Figor mati-matian menghalangi keempat penjaga Azorgia itu dengan kekuatan penuh dari senjata mistik dan zirah mistik mereka.


Tak lama kemudian muncul cahaya baru dari bawah kaki Noel. Hampir bersamaan dengan bersinarnya delapan kristal yang ada di tameng Gesthal.


"Panggil yang lain, Gest," ucap Noel kemudian memerintah.


"Nik, Fig, segera kemari!" teriak Gesthal dengan lantang. Yang terdengar menggema di antara celah dinding tebing.


Tampak Nikea dan Figor saling bertukar pandang setelah mendengar hal tersebut. Mereka berdua terlihat sedang mengatur nafas di tengah jedah pertarungan dengan empat penjaga Azorgia tersebut.


"Apa yang handak kalian lakukan lagi?" tanya perempuan berpedang ganda itu dengan curiga dan tidak tenang, saat mereka sedang menjedah pertarungan memberi kesempat untuk mengambil nafas.


"Yang jelas, bukan hal baik untuk kalian. Kusarankan untuk kalian segera pergi dari tempat ini," jawab Nikea kemudian.


"Apa pria Morra itu akan mengeluarkan sihir untuk menghancurkan lagi? Kami sebagai penjaga Makam Kuno, tidak akan tinggal diam dengan hal tersebut," sahut gadis berpedang ganda itu terlihat tidak terima.


"Bukan. Kali ini dia tidak akan mengeluarkan sihirnya. Dia akan melepaskan sihir dari Gelang Scion," jawab Nikea yang sudah bersiap untuk melompat ke bawah.


"Apa kau bilang? Melepaskan sihir dari gelang Scion? Tidak masuk akal. Hanya Elf yang bisa melakukan hal tersebut," balas perempuan berpedang itu seraya mulai memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang.


"Percayalah. Untuk apa aku berbohong. Pergilah kalian sebelum terlambat. Aku sungguh-sungguh," peringat Nikea kepada keempat lawannya itu sebelum kemudian melompat turun menuju ke arah Noel dan Gesthal di bawah.


"Benar. Segeralah menyingkir sejauh kalian bisa. Aku mengatakan hal ini karena aku tidak ingin petarung handal seperti kalian-kalian harus kehilangan nyawa tanpa sebuah pertarungan yang layak," tambah Figor kemudian seraya melompat menyusul Nikea turun.


Melihat hal tersebut gadis tanpa senjata, dan pria bertongkat kayu, tampak mencoba untuk mengejar Nikta dan Figor. Namun perempuan berpedang ganda melarang mereka. Perempuan yang mengerti apa yang diucapkan oleh Nikea dan Figor itu, terlihat sedang menimbang. Ia dan ketiga rekannya hanya mengamati saat sosok Nikea dan Figor meluncur turun ke bawah.


Dan begitu Nikea dan Figor mendarat di antara Gesthal dan Noel, langsung potongan tipis kaca berbentuk segi delapan mulai bermunculan di udara dengan cepat. Saling bersinggungan hingga menciptakan sebuah kubah pelindung.


Keempat Getzja tadi tampak merasakan bahwa hal buruk akan segera terjadi. Dan setelah melakukan rapalan pendek, mereka berempat segera melesat cepat menjauh dari tempat tersebut.


"Band!" seru Noel setelah sihir pelindung telah sempurna melindungi mereka berempat.


Dan tepat di tengah-tengah Makam Kuno tersebut, terjadi ledakan hebat yang disusul dengan api berwarna biru terang yang menyapu ke segala arah. Yang tidak hanya menghanguskan segala hal yang ada dalam lajunya, tapi juga menghanguskan tanah di selebar wilayah pergerakan api biru tersebut.


"Seel," ujar Noel kemudian. Dan api biru itu lenyap begitu saja. Menyisakan tanah padas dan dinding tebing yang berwarna hitam bagai arang, dan dipenuhi dengan retakan dan celah kecil.


Noel merasa nggan melihat sekitarnya, saat sihir pelindung Gesthal sudah menghilang. Tanah di sekitar wilayah itu tampak legam dan sedikit berasap. Ketiga rekan Noel pun terlihat tidak nyaman melihat pemandangan mengerikan yang ada di depan mata mereka itu.


"Ayo, segera kita ambil gelang itu dan pergi dari tempat ini," ajak Noel kemudian.


Dan mereka berempat mulai berjalan menuju pusat ledakan. Melewati jalanan yang kini tampak seperti tumpukan arang.

__ADS_1


-


__ADS_2