
Tidak menunggu lebih lama lagi, dua hari kemudian pasukan Lugwin mulai menuju ke kotaraja setelah tiga kereta pelontar yang mereka rakit selesai. Butuh waktu tiga hari untuk tiba di tembok benteng kotarja. Itu karena mereka harus menggiring tiga kereta kayu yang berbentuk seperti menara jaga setinggi gerbang benteng secara berbaris dalam satu jalur dengan sangat hati-hati.
Tampak dua diantaranya terdapat enam buah tonggak besi seukuran tinggi rumah rata-rata, terpasang horisontal menghadap kedepan, diantara badan menara, berjajar berpasangan kebawah.
Tampak pula di masing-masing kereta tersebut dua buah batu besar menggantung di sisi kiri dan kanan atas menaranya. Lalu roda-roda bergerigi dan tali-tali anyaman besar yang biasa dipakai untuk memasang jangkar pada kapal, terlihat diantara rongga menara.
Dua dari kereta tersebut bergerak saling berdekatan sementara yang terlihat tidak memiliki tonggak besi berada jauh dibelakang nya.
-
Melihat tiga menara kayu mendekati benteng kotaraja, membuat para prajurit yang sedang berjaga di atasnya waspada.
"Apa itu alat pelempar batu, pak?" Tanya seorang prajurit kepada pemimpinnya yang sedang berjaga ditembok benteng disisi kiri gerbang.
"Apa mereka tidak belajar? Tembok benteng ini sangat kokoh dan tidak bisa hancur bila hanya dilempar dengan bebatuan seperti itu" jawab pemimpin prajurit itu seraya mengelus kumis lebatnya.
"Tapi untuk apa besi-besi itu?"
"Entah. Tapi meskipun mereka melemparkannya, besi-besi itu juga tidak akan menembus benteng ini"
"Tapi sekarang kenapa mereka tidak berhenti? Bukankah melempar batu dari jarak dekat tidak akan efektif? Apa mereka hendak menghancurkan kota? Memang, kita tidak memiliki cukup penyihir untuk membuat pelindung sihir dari serangan udara, tapi tetap saja" Ucap si prajurit penasaran melihat tiga iringan menara kayu itu masih terus maju dan mulai masuk dalam jangkauan serang para prajurit penjaga benteng.
"Meski pun begitu mereka tak akan mendapat apapun dengan melempar bebatuan itu kedalam kota. Mereka akan kehilangan banyak prajurit dan alat itu sebelum lemparan ke empat dimulai" ujar si pemimpin kembali mengusap kumisnya dengan pandangan melecehkan ke para prajurit yang mencoba mati-matian melindungi menara itu dari lemparan tombak, panah, dan sihir api. "Dan tiga lemparan batu kedalam kota tidak akan berdampak apapun terhadap kita" imbuhnya.
"Benar. Tidak masuk akal mereka melakukan hal bodoh seperti ini" ujar si prajurit karena merasa ada yang salah.
"Mungkin mereka sudah kehilangan pikiran mereka dan berharap ada keajaiban dari dewa-dewa Istar?" jawab si pemimpin dengan tawa melecehkan.
"Mereka belum berhenti juga diposisi seperti itu? Apa yang mereka incar?" Si prajurit semakin bingung melihat menara-menara itu masih beriringan mendekat ke tembok benteng. "Para prajurit mereka hanya akan gugur percumah melindungi menara itu dari tembakan panah, lemparan tombak, dan sihir api dari prajurit dan penyihir kita"
"Kurasa mereka sudah benar-benar kehilangan akal"
"Apa menara itu akan digunakan sebagai jembatan untuk memasukan para prajurit melewati atas tembok benteng?"
"Mana mungkin, menara mereka tidak setinggi tembok ini. Dan lagi mereka mengarahkan menara-menara itu kedepan gerbang yang harusnya dipasang kereta Ram"
"Kereta Ram? Jangan-jangan?!"
-
__ADS_1
"Lepaskan!" Teriak Jendral Barna yang berada diantara kereta pelontar itu memberi tanda pada prajurit yang bertugas untuk memutuskan tali penahan batu tersebut.
Begitu tali penahan putus, dua buah batu itu turun kebawah dengan cepat, gerakan turun karena berat bebatuan yang ditarik gravitasi itu menggerakan empat buah roda kayu besar dengan sangat cepat. Yang kemudian roda-roda itu menggerakan tiga buah roda lain yang terlihat lebih besar disebelahnya.
Masing-masing roda yang lebih besar tadi menggulung sebuah tali anyam, yang ujungnya terikat pada sebuah batang kayu besar yang selama ini berdiri vertikal tersembunyi di dalam rongga menara. Hingga batang kayu besar itu terlihat melengkung seperti sebuah busur raksasa yang sedang ditarik.
Sementara tonggak-tonggak besi yang terlihat melintang di sepanjang badan menara tadi kini mulai bergerak mundur perlahan seolah sebuah anak panahnya.
Dan begitu terlihat sudah pada batas maksimalnya, tonggak besi itu meluncur maju, melesat kearah pintu gerbang benteng tersebut.
Berurutan dari atas kebawah berjajar, enam tonggak besi itu menghantam gerbang benteng yang terbuat dari kayu itu seperti tombak para Cavalary.
Belum selesai semua orang terkejut karena suara hantaman besi ke gerbang kayu yang mengelegar itu, Jendral Barna terdengar berteriak "Bersiap!" Yang memberi aba-aba kepada semua orang yang ada di kereta pelontar paling depan untuk segera pergi meninggalkannya.
"Lepaskan!" Teriak Jendral Barna lagi sebagai aba-aba untuk melepas tali penahan batu kereta kedua yang tepat berada di dibelakang kereta pertama itu.
Dan hal yang sama pun terulang. Tonggak-tonggak besi dari kereta pelontar kedua itu melesat menghujam gerbang yang kini sudah mulai retak, yang sekaligus menghancurkan kereta pertama yang ada dihadapannya. Enam tonggak besi menghantam gerbang sekali lagi yang kali ini meninggalkan koyakan besar dibagian atas gerbang.
"Bersiap!" Ucap Jendral Barna sekali lagi memberi aba-aba sebelum pihak lawan sempat merespon serangan tadi. Dan tampak semua orang yang ada di kereta pelontar kedua tadi berlari meninggalkannya.
"Lepaskan!" Aba-aba Jendral Barna yang memicu kereta pelontar ketiga yang tempatnya sedikit lebih jauh dibelakang yang lain, untuk melepaskan tali penahan batunya.
Setelah melihat lemparan batu pertama tadi terlalu melebar kekanan dari gerbang, segera Jendral Barna memberi perintah "Pindahkan posisi roda depan dua langkah kearah kiri!"
Sementara pihak lawan yang telah sadar bahwa gerbang mereka yang menjadi sasaran dari kereta pelempar batu itu segera melakukan serangan balik.
Namun karena posisi menara kereta pelontar kedua yang menghadang arah lemparan tombak dan posisi kereta ketiga yang jauh ada dibelakangnya, membuat serangan pihak lawan tidak dapat menyentuh sama sekali.
Dan saat tiga batu terlihat dilemparkan sekali lagi kearah gerbang, mereka hanya mampu terdiam tak berdaya melihat akhirnya gerbang benteng mereka yang megah itu hancur berantakan.
"Sekuat-kuatnya tembok benteng. Bagian terlemah adalah pintu masuknya" ujar Lugwin mengutip kata-kata yang pernah Nata ucapkan kepadanya. "Kereta Ram maju!" Teriak nya kemudian memerintah dari belakang kereta pelontar tadi bersama semua jenderal dan prajuritnya.
Kemudian lima kereta kecil yang galah penariknya berupa sebuah balok kayu besar dengan ujung sebuah bola besi, dan ditarik oleh enam kuda itu melesat maju menembus gerbang yang kini sudah hancur berserakan.
"Maju!" Tambah Lugwin yang langsung dibalas dengan teriakan bersemangat para jendral dan prajurit yang bergegas memasuki kotaraja.
Pasukan Arcdux Lugwin berhasil menembus tembok benteng kotaraja dalam waktu tidak lebih dari setengah hari. Dimana selama ini Dux Vincent dalam dua bulan terakhir gagal melakukannya.
Maka setelah kejadian tersebut rumor tentang Arcdux Lugwin pun semakin bertambah.
__ADS_1
-
Dengan kekuatan yang tidak seimbang dan moral pasukan lawan yang sudah menurun, pasukan Arcdux menyapu bersih sisa prajurit yang ada didalam tembok benteng kotaraja dengan cepat.
"Sepertinya beberapa Bangsawan yang ada dalam kotaraja menyerah tanpa syarat, Arcdux. Bahkan beberapa kerabat keluarga Albern juga datang untuk menyerahkan diri" Terdengar Matiu melapor saat kini mereka semua sudah berada di kediamannya di dalam kotaraja.
"Bagaimana dengan Dux Laurant?"
"Dux Laurant mengurung diri beserta seluruh kastil kerajaan dengan sihir pelindung"
"Kirim pesan peringatan untuk menyerah sekarang"
"Baik Arcdux"
-
"Dux Laurant menolak untuk menyerah Arcdux" lapor Matiu beberapa saat kemudian.
"Berapa lama kira-kira pelindung itu akan bertahan paman? Apa kita punya penyihir untuk menembusnya?" Lugwin bertanya.
"Bila mereka menggunakan kristal Arcan istana untuk sumber tenaga sihir pelindung tersebut, berarti kemungkinan bisa bertahan hingga dua bulan" jelas Matiu.
"Ini konyol sekali. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup didalam kastil selama dua bulan? Apa sebegitu pentingnya tahta itu untuk mereka?" Terdengar Lugwin gemas melihat tingkah laku Dux Laurant.
Semua orang yang ada disitu hanya terdiam tidak menjawab.
"Baiklah kalau begitu, Jendral Darius, Jendral Elsya. Bawa seluruh penyihir di kotaraja yang tersisa dan pimpin pasukan kalian untuk menyerang istana kerajaan"
"Siap Arcdux!"
-
Dan setelah dua hari penyerangan, kekuatan sihir pelindung kastil kerajaan pun runtuh. Dux Laurant sudah tidak bernyawa diatas tahta saat pasukan gabungan jenderal Darius dan jenderal Elsya melakukan penyerbuan kedalam kastil. Tampaknya Dux Laurant bunuh diri dengan menusukan sebuah pedang kedadanya sendiri hingga menembus sandaran kursi tahta.
-
Kurang lebih enam bulan semenjak dimulai, perang saudara kerajaan Estrinx pun berakhir. Setelah Arcdux Lugwin berhasil mengalahkan kekuatan dari Dux Vincent dan Dux Laurant. Yang kemudian menduduki tahta Estrinx yang kosong. Dan mendapat gelar Putri Ksatria Estros.
Reputasi keberhasilannya yang penuh keajaiban ini terdengar hingga kepelosok penjuru dataran Elder. Yang kemudian dipercayai banyak orang bahwa mujizat dari kepercayaan Istar adalah pendukung utama dibelakang kemenangannya.
__ADS_1
-