
Satu setengah hari kemudian Lugwin tiba di kota Khelo diwilayah utara. Sesampainya ia di kediaman keluarga Ellworth, Lugwin disambut oleh para penjaga dan pelayan yang tampak sudah mengenalnya. Yang kemudian mengantarnya menuju ruang tamu.
"Lugwin? Ada gerangan apa kau datang kemari?" Tiba-tiba muncul saat Lugwin tengah menunggu di ruang tamu, seorang pemuda Narva tinggi gagah dengan wajah tampan datang menyapa nya.
"Oh, Piere. Apakah aku bisa bertemu dengan Dux Aldrico?" Ujar Lugwin yang tampak sudah mengenal pemuda itu dengan bahasa santai. Tidak menggunakan tatacara sopan santun.
"Dengan ayah?" Balas Piere dengan cara bicara yang sama, yang menandakan mereka berdua teman akrab.
"Benar, ada yang ingiin aku sampaikan" jawab Lugwin kemudian.
"Sepertinya serius sekali"
-
Orang yang disebut Dux Aldrico itu adalah seorang pria Narva yang berwajah keras dan tegas, dengan karisma seorang kepala keluarga.
Mereka bertiga, Dux Aldrico, Piere, dan Lugwin duduk diruang tengah sesaat setelah Lugwin mengutarakan keperluannya datang ke kediaman keluarga Ellworth tersebut.
Dux Aldrico yang duduk dihadapan Lugwin itu terlihat sedang menimbang apakah ucapan Lugwin itu bisa dipercaya atau tidak.
"Apa kau sudah gila Lug?" Tiba-tiba Piere menyeletuk ditengah keheningan.
"Piere! Jaga ucapanmu!" Terdengar Aldrico menghardik, yang tidak hanya mengejutkan dan menakuti Piere, tapi juga Lugwin sekaligus.
__ADS_1
Lalu kesunyian kembali muncul.
"Apa anda sadar dengan apa yang baru saja anda katakan putri Lugwin?" Tiba-tiba Aldrico kembali berucap dan memecah keheningan.
"Saya sadar tuan Aldrico. Saya sepenuhnya sadar dengan apa yang saya ucapkan" jawab Lugwin dengan tegas.
"Jadi akan saya pastikan lagi, apakah anda ingin membangun kekuatan untuk melawan kedua Dux itu?"
"Benar tuan Aldrico. Saya bermaksud akan menghentikan perang ini"
"Kau serius berkata hal itu Lug?" Kali ini Piere yang berucap, yang kemudian terhenti mendadak karena terintimidasi oleh tatapan Aldrico.
"Saya melihat kesungguhan di mata anda putri. Namun niat kesungguhan saja tidaklah cukup" ujar Aldrico kemudian.
"Kesempatan seperti apa? Memberi anda kekuatan dan menambah keruh peperangan yang sudah terjadi sekarang ini?"
Lugwin tampak terkrjut mendengar pertanyaan Aldrico. Bukan karena ia tidak siap dengan pertanyaan seperti ini, namun pertanyaan ini ada dalam gulungan yang di berikan oleh Nata. Dan dalam gulungan itu juga ada cara untuk menjawabnya. Lugwin tak habis pikir bagaimana Nata bisa memprediksi hal ini.
Lugwin tampak berdeham pelan dan kemudian menjawab sesuai dengan apa yang pernah ia baca dalam gulungan yang diberikan Nata padanya itu. "Benar tuan Aldrico, saya memang memerlukan kekuatan. Dan benar saya hendak ikut masuk dalam peperangan yang sedang terjadi sekarang ini. Tapi bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan untuk memenangkan perang ini. Dengan begitu perang ini akan berhenti"
Terlihat wajah Aldrico terkejut walau samar. "Kau percaya diri sekali" ucapnya kemudian.
"Karena saya mewarisi perkataan sang Oracle. Dan untuk langkah pertama, saya berencana untuk membebaskan wilayah timur dari kekuasaan Dux Vincent" Lugwin berkata dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Itu ucapan yang cukup berani" saut Aldrico mendengarnya.
"Saya akan tunjukan pada anda bila anda memberi saya kesempatan untuk membuktikannya"
"Hahaha... anda memang benar-benar seorang Estros sejati putri Lugwin. Saya sudah menunggu-nunggu orang seperti anda untuk bangkit melakukan perlawanan. Keluarga Ellworth akan selalu mendukung anda apapun yang terjadi" ujar Aldrico tiba-tiba dengan tawa yang terdengar lantang.
Lugwin dan Piere tampak terkejut melihat Aldrico tertawa lepas. Lugwin sendiri tampak lega sekarang, setelah mendengar ucapan Aldrico yang akan selalu mendukungnya.
"Baiklah, sekarang istirahatlah dulu putri sebelum kita bicarakan lagi langkah-langkah apa yang akan anda ambil kedepannya" ujar Aldrico seraya bangkit berdiri, "Jamu tamu kita, Piere" perintahnya kemudian pada Piere sebelum kemudian pergi pamit meninggalkan ruangan.
"Sekali lagi tedima kasih tuan Aldrico" ucap Lugwin sebelum kemudian Aldrico menghilang dibalik pintu. Tubuh Lugwin mulai melemas, hingga terasa tangannya sangat berat saat mencoba mengangkat gelas dari atas meja. Terlalu banyak tekanan yang dialami tubuhnya akhir-akhir ini.
"Wow, apa yang terjadi padamu Lug? Kau tampak... tegas hari ini" ujar Piere kemudian yang terlihat heran sekaligus kagum melihat Lugwin.
"Banyak hal Piere. Yang jelas aku harus segera menghentikan peperangan konyol ini" jawab Lugwin yang kini sudah dapat tersenyum lepas.
"Baiklah-baiklah apapun itu aku akan selalu mendukungmu. Sudah kau istirahatlah dulu sana. Kamarmu sudah disiapkan"
"Terima kasih Piere"
"Tak perlu sungkan denganku" jawab Piere dengan senyum mengembang.
-
__ADS_1