Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
18. Pelepasan Tahta III


__ADS_3

Dua hari kemudian Lucia yang masih ditemani oleh Jean dan pamannya, menuju ke istana. Istana masih tempat yang sama seperti yang Lucia ingat pada waktu ia kecil.


Di dalam istana Lucia melewati beberapa pekerja istana yang tampaknya mengenali dirinya. Mereka terlihat terkejut dan segera membungkuk memberi hormat.


Akhirnya mereka tiba di ruang auditorium istana. Sudah ada beberapa orang ditempat itu bersama pamannya Sebastian. Lucia mengenali beberapa diantaranya. Sisanya terlihat asing baginya.


Tampak seorang pria Seithr dengan kulit pucat dan mata sayu duduk disebelah pamannya, Sebastian. Rambutnya yang panjang hitam lurus itu dibiarkan jatuh terurai sepanjang pundak. Nyaris seperti seorang perempuan. Mengenakan baju seperti para bansawan namun membawa sebuah tongkat penyihir terbuat dari kayu pipih berukir rumit setinggi tubuhnya.


Disampingnya berdiri seorang gadis Getzja manis dengan potongan rambut sangat pendek kontras dengan pria Seithr tadi. Mengenakan baju yang juga seperti seorang bangsawan.


Melihat kedua orang yang belum pernah ia lihat itu, Lucia segera bertanya kepada pamannya.


"Siapa pria Seithr dan gadis Getzja itu paman?" Bisik Lucia kepada Orland seraya berjalan pelan menuju tengah ruangan dihadapan sang raja pengganti.


"Oh, dia Seifer. Penasehat yang baru-baru ini di angkat oleh Sebastian. Dan gadis itu Edea, pengawal pribadinya" bisik Orland menjelaskan dengan singkat.


"Bagaimana kabarmu Lucia?" Kemudian perbincangan berbisik Lucia dan Orland di buyarkan oleh pertanyaan seorang pria berwajah tegas, ber rambut panjang sebahu berwarna kuning tua sedikit bergelombang. Di atas kepalanya melingkar gelang emas pipih selebar ibu jari dengan beberapa kristal tertatah disekelilingnya.


"Saya baik-baik saja paman, maaf telah membuat anda kuatir. Dan apakah sekarang saya bisa berbicara dengan anda empat mata saja paman. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan" ucap Lucia meminta.


"Baiklah" jawan Sebastian, yang kemudian memberi tanda memerintah semua orang yang ada dalam ruangan itu untuk keluar kecuali Lucia.


-


"Bagaimana Lucia, apa kau sudah menentukan sikap mu?" Tanya Sebastian saat ruangan itu hanya tinggal mereka herdua saja.


"Benar paman. Saya sudah putuskan bahwa saya akan melepaskan tahta ini secara resmi" ucap Lucia dengan tegas.

__ADS_1


"Apakah kau yakin?" Tanya pamannya memastikan dengan nada ragu.


"Ya paman, saya sudah yakin"


"Apa kau benar-benar yakin akan hal itu? Lalu apa yang akan kau lakukan setelahnya?"


"Saya berencana akan tinggal dan membangun tanah Pharos" jawab Lucia jujur.


"Apa? Kau mau apa?" Terlihat wajah pria ber mahkota itu terkejut mendengar jawaban Lucia.


"Saya akan tinggal dan membangun tanah Pharos, paman" Lucia mengulang jawabannya.


"Maksudku kau mau apa di tanah Pharos? Tanah itu di berikan padamu hanya sebagai syarat saja, kau bisa meminta tanah yang lain bila kau ingin tempat untuk tinggal"


"Tidak apa paman, saya akan menerimanya sesuai ketentuan. Hanya saja, saya punya satu permintaan mengenai hal itu paman"


"Saya minta untuk melepaskan tanah Pharos dari wilayah otoritas kerajaan, paman"


"Tidak masuk akal, kenapa kau ingin lepas dari kerajaan? Wilayah itu berbatasan langsung dengan daratan selatan. Dan juga banyak sekali bandit ditempat itu. Kau tidak akan mendapat perlindungan kerajaan bila kau bukan lagi bagian dari wilayah kerajaan ini"


"Saya sadar benar akan hal itu paman"


"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Bila kau kuatir akan mendapat perintah dari kerajaan, kita bisa membuatnya menjadi wilayah kusus yang memiliki aturan-aturan sendiri. Kau juga tidak perlu membayar pajak"


"Saya hargai perhatian paman, dan saya minta maaf karena merepotkan paman dan membuat paman kuatir. Tapi saya hanya menginginkan hal tersebut"


"Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkannya"

__ADS_1


"Tapi saya sudah menentukan sikap saya paman, saya akan terus memperjuangkan permintaan saya tersebut sampai paman memberikannya pada saya" jawab Lucia tidak bergeming.


"Kau ini! Kenapa kau keras kepala sekali"


Lucia masih berdiri diam dihadapan Sebastian, saat kemudian terdengar pintu ruangan di ketuk. Suaranya menggema dalam ruangan yang nyaris kosong itu. Mengejutkan Lucia.


"Ya?" Ucap Sebastian yang kemudian muncul dari balik pintu seorang pria tua berpakaian seragam pegawai istana.


"Maaf yang mulia, para Dux sudah berkumpul diruang tahta, menanti kehadiran yang mulia" jawab pria tua itu dengan sopan.


"Baiklah kalau begitu. Kita bicarakan ini lagi nanti, sekarang aku akan menghadiri pertemuan terlebih dahulu" jawab Sebastian kepada Lucia.


"Baiklah paman, kalau begitu saya pamit dulu" Lucia pamit kemudian berjalan meninggalkan ruang tersebut.


-


Kemudian saat Lucia sudah berada diluar ruang auditorium hendak menuju ke ruang pegawai istana untuk mencari Orland, tampak pemuda yang ia kenali sedang berjalan sambil berbincang dengan pegawai istana.


"Kak Grevier!" Sapanya kemudian.


"Lucia? Hei, bagaimana kabar mu?" Balas pemuda Narva yang memiliki postur tubuh tinggi atletis dan wajah yang menarik bernama Grevier itu, serya menghampiri Lucia.


"Baik kak" jawab Lucia cepat. Pemuda itu adalah sodara sepupunya. Putra Sebastian. Pemuda itu adalah sosok kakak yang tidak pernah dimiliki Lucia.


"Kau ada urusan apa di istana hari ini?"


"Ceritanya panjang kak" jawab Lucia kemudia dengan senyum masam.

__ADS_1


Dan mereka mulai berbicara panjang lebar seraya berjalan menuju keruangan pegawai istana.


__ADS_2