Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
27. Penyergapan III


__ADS_3

Dengan gerakan yang tidak dapat diikuti oleh mata pada umumnya, sosok kelinci mungil itu kini sudah melayang diudara tepat dihadapan bola api tadi. Dan dengan gerakan yang anggun, Lily mengayunkan tongkatnya dari bawah keatas menampik bola api tersebut tepat pada waktunya.


Dengan cepat bola api itu berubah arah menuju keatas. Dan tak lama kemudian sebuah sinar berwarna putih melesat dari ujung tongkat Lily menembus bola api tersebut.


Seketika itu juga bola api itu meledak dengan suara dan cahaya yang dapat dilihat dan dengar sampai kotaraja dan kota Zeraza.


Bahkan tekanan angin dari ledakan tadi memiliki kekuatan yang dapat menghempas semua hal yang ada di sekitarnya.


Para Mugger dan para ksatria yang dipimpin oleh Helen tadi, semua terlihat terhempas oleh angin tersebut. Sementara Caspian, Jean, dan lawan mereka masih bisa bertahan dengan cara mereka masing-masing.


Caspian menancapkan pedangnya ke tanah dan berpegangan erat pada pedang tersebut untuk bertahan dari tiupan angin. Untuk Jean, ia meningkatkan sihirnya dalam posisi kuda-kuda bertahan. Plat besi pelindung tubuhnya bersinar semakin terang. Dan terpaan angin itu tidak dapat menggoyahkannya.


Sedangkan pria berjubah merah itu membuat tembok pelindung dari tanah untuk melindunginya dari hempasan angin tersebut.

__ADS_1


Sementara Lucia, Aksa, Nata, dalam perlindungan delapan orang berjubah tadi. Mereka berdelapan membuat lingkaran manusia mengelilingi Lucia, Aksa, dan Nata. Dan menahan angin menghempas tiga orang itu.


Angin telah berhenti bertiup saat Lily kembali berdiri diatas tanah. Pria Morra itu terlihat sangat marah dan kecewa melihat keadaan yang ada disekitarnya sekarang. Para Mugger tampak porak poranda, sedang Lucia masih hidup.


"Kenapa?! Kenapa kau tidak mati saja?! Agar semua hal ini tak perlu berlanjut!" Teriak pria itu kepada Lucia. Yang kemudian berteriak kencang dan mulai kembali membuat kuda-kuda akan melakukan serangan lagi.


"Dia akan mengeluarkan sihir lagi? Dari mana kekuatan nya itu berasal?" Jean terdengar tak percaya. Bahkan kaum Seithr yang ahli dalam pengendalian aliran Jiwa saja tidak mungkin masih bisa mengeluarkan sihir lagi setelah serangan dasyat yang baru saja dikeluarkan pria itu tadi.


"Entahlah tapi kita harus segera menghentikannya" ucap Caspian seraya bergerak maju secepat mungkin untuk segera menghentikan entah apa yang akan di lakukan pria itu setelah ini.


Sihir Helen secara fisik terlihat tidak jauh berbeda dari sihir Jean. Tampak seluruh baju zirah Helen bersinar hijau redup. Namun yang membedakannya dari sihir Jean adalah, sihir nya bukan untuk memperkuat zirah besi tersebut, melainkan untuk meringankan nya.


Maka dari itu tidak heran dengan zirah lengkap seberat itu, Helen mampu berlari bahkan lebih cepat dari Caspian.

__ADS_1


Pria berjubah merah tadi tetap tidak merubah posisinya. Juga tampaknya ia tidak akan melakukan pertahanan sama sekali terhadap serangan dari tiga ksatria yang bergerak cepat dengan pedang terhunus padanya itu.


Pria berjubah merah itu hanya menghentakkan kaki kanannya ketanah. Tepat saat 3 buah pedang menembus tubuhnya dari tiga arah yang berbeda.


Caspian yang awalnya merasa bahwa ini semua sudah berakhir, segera merubah dugaannya saat ia melihat raut wajah pria itu.


Pria itu terlihat tersenyum, mendapati dampak dari hentakan kakinya kini terbentuk sebuah retakan pada tanah. Dan tidak berhenti, retakan itu bergerak maju dengan cepat menuju kearah lereng.


"Apa-apaan ini?" Terdengar Caspian bertanya seraya melihat gerakan retakan tanah tersebut.


Dan saat retakan itu sudah menyetuh puncaknya, sebidang area tanah di jalan lereng sebelah bawahnya longsor jatuh ke lembah di sisi kiri jalan. Area longsor itu termasuk tempat dimana mereka semua berdiri.


Karena tidak diantisipasi sebelumnya, mereka semua pun ikut jatuh bersama dengan tanah longsor tersebut kearah lembah yang lebih bawah. Tidak terkecuali para Mugger dan para ksatria Helen.

__ADS_1


-


__ADS_2