Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
15. Melewati Tanah Mati


__ADS_3

Para Yllgarian itu akhirnya diperbolehkan untuk memasuki tanah Pharos. Para ksatria yang tadi menutupi gerbang masuk, kini sudah terpecah. Mereka mengiringi Yllgarian tersebut memasuki wilayah lembah Gerbang Utara.


Dan tidak berbeda dari orang-orang yang baru datang untuk pertama kalinya ke tanah tersebut, mereka juga mengeluarkan reaksi yang serupa. Terkejut. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Mulai dari lembah Gerbang Utara yang sudah penuh dengan air, jembatan besi, kereta besi, katrol elevator, sungai, dan air terjun. Disamping beberapa adalah benda yang baru pertama kali mereka lihat, yang lain adalah sesuatu yang seharusnya tidak berada di tanah mati tersebut.


Setelah sampai di area bekas perkemahan bawah, para prajurit mulai mengantar para Yllgarian menuju ke ujung barat. Tak jauh dari air terjun kecil dan sungai.


Lalu para prajurit mulai membagikan kemasan tenda untuk Yllgarian itu pasang, dan untuk digunakan beristirahat. Lucia memang memiliki cadangan tenda banyak. Karena sebelumnya ia sudah menyiapkan untuk orang-orang baru yang akan ikut bergabung dengannya, sebelum sempat membangun rumah untuk mereka.


Dan setelah itu beberapa buruh perempuan tampak turun membagikan roti kering dan dua gentong sup, lengkap dengan mangkuk dan sendoknya. Tapi karena sudah diberi peringatan terlebih dahulu bahwa makanannya terbatas, jadi para Yllgarian muda tidak mau menerima makanan tersebut. Atau bila ia terima, akan ia berikan ke anak-anak atau wanita.


Sementara Yvvone yang diundang untuk bertemu dengan Lucia dan Nata, diantar Caspian naik menuju tenda pertemuan.


Tampak disepanjang jalan Yvvone sibuk memandangi segala hal dan menyentuhi semua benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya


"Wah, untuk ukuran manusia yang baru lima bulan berada ditempat ini, kalian cukup luar biasa. Ada danau dan jembatan di depan gerbang. Air terjun dan sungai yang mengalir" ucap Yvvone saat ia bersama Caspian diatas katrol elevator naik.


"Ini semua berkat kejeniusan seseorang" jawab Caspian pendek.


"Oh, ada manusia yang dipanggil jenius disini. Apa orang itu juga yang membuat alat-alat besi, aneh, yang mengeluarkan asap ini? Apa itu semacam relik atau alat mistik? Aku tidak merasakan ada aliran Jiwa dari benda tersebut" Yvvone tidak berhenti berbicara sampai katrol elevator itu tiba diatas.


"Nanti kau bisa menanyakannya sendiri ke pembuatnya" jawab Caspian pendek lagi, yang memang sudah tak mau berpanjang lebar dengan Elf itu.


"Baiklah" saut Yvvone seraya mengikuti Caspian dari belakang.


Meski begitu Elf berperawakan gadis kecil itu masih sibuk berlarian kecil menuju ke barang-barang yang belum pernah dilihatnya, hanya untuk sekedar menyentuh dan melihat memutarinya.


Nata dan Lucia yang melihatnya dari dalam tenda tampak gemas dengan kelakukan gadis mungil tersebut.

__ADS_1


-


"Sebelum kami menjawab semua pertanyaan anda, tolong ceritakan terlebih dulu mengapa ada tiga ratus Yllgarian ingin menuju ke selatan? Apa yang terjadi pada desa mereka?" Nata berucap setelah Yvvone mengajukan rentetan pertanyaan kepadanya, begitu mereka saling berkenalan beberapa waktu sebelumnya.


"Ceritanya akan sangat panjang" ucap Yvvone yang terlihat sedikit kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Nata.


"Tak perlu kuatir kami punya banyak waktu" kali ini Lucia yang menjawab.


Mereka hanya berempat dalam tenda tersebut. Lucia, Nata, Caspian, dan Yvvone.


"Baiklah kalau begitu" ucap Yvvone kemudian. Dan ia mulai menceritakan segala hal yang ia tahu dan ia alami. Termasuk penculikannya dan prncurian kristal Arcane nya.


.


"Seorang ksatria bangsawan kerajaan Elbrasta menggunakan tombak? Selama ini aku tidak pernah mendengar ada ksatria yang seperti itu. Tidak perempuan ataupun laki-laki" ucap Caspian setelah se,esai mendengar cerita lengkap Yvvone.


"Dan terlebih lagi adalah, gelang Scion. Itu cerita yang sangat menakutkan untuk didengar. Bila sampai gelang itu keluar lagi. Entah akan jadi apa dunia ini nantinya" suara Lucia terdengar bergetar.


"Ya, itu juga yang saya kuatirkan. Maka dari itu, setelah mengantar Yllgarian ini ke hutan Tua, saya akan kembali untuk menyelidikinya" ucap Yvvone kemudian.


"Oh, dan untuk perihal menyeberangi tanah ini, saya rasa sekarang hanya ada rute yang berat, yang bisa dilalui. Karena beberapa jalan sudah kami tutup dengan jalur besi seperti yang bisa anda lihat di depan tadi" Nata mencoba menjelaskan.


Yvvone terlihat diam bepikir.


"Atau bila mau, kalian bisa menunggu jalur itu selesai seutuhnya. Tapi masih sekitar satu setengah bulan lagi. Kami akan mengantarkan kalian semua dengan kereta uap menuju gerbang selatan" tambah Nata memberikan pilihan.


"Apa kereta uap yang kau maksud adalah kereta besi yang memiliki gandengan panjang mengular diluar itu?" Yvvone terlihat tertarik dengan hal tersebut.


"Benar. Kereta uap kami hanya memerlukan waktu tak lebih dari dua hari untuk menyeberangi tanah ini. Ya meskipun harus menunggu satu setengah bulan untuk sampai di gerbang selatan" tambah Nata.

__ADS_1


"Dan kami bisa mengangkat tiga ratus orang sekali jalan. Jadi jangan kuatir harus saling menunggu" Lucia menambahi.


Yvvone masih diam menimbang, belum menjawab.


"Tapi semua itu kembali keputusan kalian lagi" ucap Nata kemudian, sekaligus menegaskan bahwa ia tidak sedang memaksa.


"Karena ini bukan perjalanan saya, jadi saya akan cpba tanyakan pada ketua rombongan Yllgarian tersebut" ucap Yvvone kemudian.


"Baiklah, saya mengerti" jawab Nata dengan senyum.


-


"Bagaimana menurutmu, Nat?" Tanya Lucia saat setelah Yvvone meninggalkan tenda tersebut. Caspian mengantar gadis Elf itu menuju ke perkemahan para Yllgarian.


"Kalau memang apa yang diceritakannya itu benar, berarti kemungkinan besar, dugaan ku selama ini tidak salah" ujar Nata kemudian.


"Apa yang duga, Nat?" Terlihat Lucia memasang wajah kuatir. Reaksi saat menatap wajah Nata yang terlihat serius.


"Bahwa ada seseorang yang sedang melakukan rencana. Rencana yang besar, hingga bisa melibatkan banyak kerajaan-kerajaan besar daratan ini" jawab Nata mulai menjelaskan.


"Dan menurutmu apa tujuannya, Nat?" Tampak kali ini Lucia lebih penasaran.


"Entahlah. Aku belum bisa menebaknya. Tapi kurasa siapapun orang ini, apapun yang akan ia lakukan, yang jelas pasti akan mempengaruhi, tidak hanya daratan utara, tapi juga seluruh Elder. Atau bahkan mungkin seluruh dunia ini" Nata mengungkapkan dugaannya.


"Benarkah begitu?" Terdengar suara Lucia tercekat.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang, kita harus segera mampu untuk bertahan. Sebelum semua hal itu tadi mengarah pada kita" ucap Nata yang kemudian berdiri dari kursinya, dan mulai berjalan meninggalkan tenda tersebut. Diikuti Lucia dibelakangnya.


-

__ADS_1


__ADS_2