
Keesokan harinya mereka kembali berarak menuju ke arah gerbang tanah Pharos. Kali ini tampak 20 penyihir tersebut ikut serta bersama seratus prajurit dan sisa dari alat pelontar besi.
Para penyihir tadi berada diposisi paling depan dari formasi pasukan tersebut. Berdiri diatas empat kereta kuda yang tidak memiliki atap, dengan lima penyihir pada setiap keretanya.
Berjajar melintang, para penyihir itu membuat sebuah pelindung sihir berbentuk seperti tembok kaca berwarna biru langit yang tinggi dan lebar. Melindungi hampir seluruh bagian depan pasukan.
Mereka juga tampak menggunakan batuan Arcane untuk memperkuat ketahanan dari tembok sihir pelindung tersebut.
Dan saat sebuah tonggak besi meluncur dari arah dinding gerbang, terlihat langsung hancur berkeping-keping saat menghantam pelindung sihir tersebut dengan suara yang nyaring.
"Sejauh dan sekuat apapun senjata mereka, bila itu bukan senjata mistik, maka akan hanya jadi lelucon belaka" terdengar Tristan mencemooh dari atas kudanya di tengah barisan prajurit saat setelah tonggak besi lawan tidak mampu menembus tembok sihir pasukannya.
Dan arak-arakan mereka terus maju sampai tiba pada posisi, dimana alat pelontar batu itu mampu menjangkau dinding gerbang tanah Pharos.
Namun belum mereka tiba di posisi tersebut, sesuatu ditembakan lagi dari arah gerbang tersebut. Kali ini sebuah kaleng besi seukuran dua kali kepalan tangan.
Kaleng-kaleng itu ditembakan tidak dengan kecepatan yang sama seperti kecepatan tonggak besi sebelumnya. Sehingga kaleng-kaleng itu hanya terpental dan jatuh ke tanah saat menghantam tembok sihir tersebut. Tidak langsung hancur.
Dan setelah kaleng itu tergeletak diatas tanah, tampak asap berwarna hitam mulai mengepul keluar dari dalamnya.
Ketika pasukan yang dipimpin oleh Tristan itu mencoba mencerna apa maksud dari lawan menyerang mereka dengan kaleng berisi asap itu tadi, puluhan kaleng lain mulai berterbangan mengarah ke tembok sihir mereka. Dan lama kelamaan asapnya mulai menutupi seluruh bagian depan dari pasukan tersebut.
"Asap apa ini? Baunya busuk sekali" terdengar salah seorang prajurit dibarisan depan tampak mengibas-kibaskan tangannya, mencoba menyingkarkan asap itu dari sekelilingnya.
"Oh mata ku pedih. Aku tidak bisa menahannya lagi" ujar salah satu penyihir yang mulai menutup matanya dengan kedua tangannya.
Para prajurit dan penyihir yang tidak tahan, tampak berlari meninggalkan posisi mereka untuk menghindari asap tersebut.
"Para penyihir tetap dalam posisi!" Teriak Tristan dari barisan tengah yang belum terkena asap.
"Itu tidak mungkin, tuan Tristan" terdengar suara seseorang dari dalam asap hitam tersebut.
__ADS_1
Dan begitu tembok sihir mereka lenyap karena para penyihir yang tidak bisa lagi fokus untuk mempertahankannya, meluncur beberapa tonggak besi menghantam alat-alat pelontar batu mereka. Terus meluncur hingga lima alat pelontar batu itu hancur tanpa sisa.
Prajurit yang melihat kejadian tersebut segera berlari panik kesana kemari. Mengacaukan formasi pasukan sebelumnya.
-
"Semua itu tadi adalah alat pelontar batu yang kita punya" ujar Gawain yang terlihat marah ketika untuk kesekian kali pasukan yang dipimpin Tristan harus kembali ke perkemahan. Bahkan belum sempat menyentuh gerbang tanah Pharos tersebut.
"Siapa yang menyangka mereka akan menggunakan asap untuk merusak formasi pasukan? Kita tidak memiliki penyihir angin" terdengar Tristan merasa tersinggung dengan nada ucapan Gawain.
"Terlebih lagi, bagaimana mereka bisa melempar kaleng berisi asap kepada kita? Itu kan asap? Hal yang tidak bisa kita simpan dalam sebuah kaleng, kan?" Terlihat Bedivere tidak habis pikir dengan hal yang baru saja terjadi itu.
"Anda tidak mengerti, tuan Bedivere. Tanah itu terdapat banyak sekali hal-hal aneh diluar nalar" jawab Joan menanggapi.
"Apa itu sihir? Dan bagaimana mereka masih bisa mengendalikannya dari jarak sejauh itu?" Kali ini Tristan yang bertanya.
"Apa mereka juga memiliki senjata mistik?" Bedivere bertanya kepada Joan.
"Hanya itu satu-satunya alasan. Pasti mereka memiliki senjata mistik dan menyembunyikannya" ucap Tristan. "Kita harus menggunakan senjata mistik juga untuk melawan mereka" tambahnya kemudian.
-
Pagi berikutnya tampak seorang berkuda membawa bendera putih keluar dari dalam gerbang. Seorang utusan.
"Ada seorang utusan datang, tuan Gawain" seorang prajurit melaporkan saat tiga panglima bersama Joan sedang berada di dalam tenda pertemuan membahas strategi lain untuk mendekati gerbang tersebut.
"Oh, dia salah satu ksatria yang kemarin datang bersama pemimpin tanah mati itu" ujar Tristan saat mereka sudah berdiri didepan gerbang perkemahan.
Sementara utusan tersebut tampak berdiri cukup jauh dari perkemahan. Di area yang masih dalam jangkauan senjata mereka.
"Kedatangan ku hanya ingin mengantarkan surat ini untuk tuan kalian!" Teriak utusan tersebut, yang kemudian mengeluarkan busur panahnya.
__ADS_1
Dan setelah mengaitkan sebuah gulungan kerta pada anak panahnya, utusan tersebut segera menembakan busurnya ke depan atas.
Lengkung arah anak panah tersebut tepat berakir di depan para ksatria bangsawan dan Joan berdiri.
Dan tanpa berbicara lagi, utusan itu memacu kudanya kembali menuju gerbang tanah Pharos.
-
Dua hari kemudian, Joan sudah kembali berada di kota Guam. Dan tidak menunggu untuk beristirahat setelah perjalanan jauh yang dilaluinya, gadis Narva tersebut segera menuju ke kediaman Tyrion untuk segera memberikan laporannya. Juga sekaligus mengantarkan surat dari tanah Pharos, yang dititpkan para panglima kepadanya.
"Berani-beraninya, mereka mempermainkanku!" Terlihat Tyrion tampak sangat marah setelah membaca isi surat yang dibawa oleh Joan tersebut. "Bagaimana aku bisa menyerahkan surat ini kepada paduka raja?!" Tyrion membanting gulungan kertas tersebut keatas meja.
Xiggaz tampak mengambil gulungan kertas yang dibanting Tyrion tadi. Kemudian mulai membaca isinya.
"Mereka memang benar-benar berniat menantang kita" ujar Xiggaz setelah selesai membaca.
"Apa isinya, Xig?" Tanya Joan yang tampak penasaran.
"Mereka memperingatkan kita untuk segera membayar tuntutan ganti rugi dan menghentikan penyerangan kearah gerbang selatan, atau mereka akan menyerang kita balik" ujar Xiggaz menjawab rasa penasaran Joan. "Menurutmu bagaimana kemampuan mereka setelah kau melihat pertempuran di gerbang selatan kemarin?" Tanya Xiggaz kemudian kepada Joan.
"Kalau boleh jujur kukatakan, yang terjadi di gerbang selatan itu bukan pertempuran" jawab Joan yang tampak tidak hanya menarik perhatian Xiggaz, tapi juga Tyrion.
"Apa maksudmu?" Tanya Tyrion kemudian.
"Mereka seperti hanya mempermainkan pasukan kita. Mereka menunjukan kekuatan bahwa mereka bisa saja melenyapkan pasukan tersebut dengan mudah, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka hanya menganggap pasukan kita lelucon" jelas Joan kemudian.
"Benarkah begitu?" Xiggaz terlihat tidak percaya dengan apa yang Joan katakan.
Sedang Tyrion terlihat sudah siap untuk meledak. Wajahnya memerah, dan urat-urat dipelipisnya mulai terlihat berdenyut-denyut.
"Kirim lebih banyak pasukan dan para jendral! Tunjukan kekuatan yang kita miliki saat ini. Kerahkan para pengguna senjata mistik. Serang mereka dari segala arah!" Suara Tyrion menggaung dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
-