Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
27. Kereta Tempur


__ADS_3

"Mereka tidak menanggapi surat yang kita kirimkan. Dan masih terus melakukan menyerang ke kota Xin" Lucia terdengar mulai kuatir saat ia, Nata, Amithy, dan Orland sedang mengadakan pertemuan setelah mendapat kabar dari Caspian di kota Xin. Lima hari setelah mereka mengirimkan surat tuntutan kepada kerajaan Urbar. Yang berarti sepuluh hari setelah pihak Pharos melakukan penyerangan balik.


"Anda salah, tuan putri. Mereka menanggapi surat tersebut. Surat tersebut memang sudah seharusnya ditanggapi dengan aksi seperti ini" Nata menjawab.


"Bukankah tuntutan kita adalah meminta mereka untuk menghentikan peperangan ini?" Lucia terlihat tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Nata.


"Benar. Tapi saat ini pengambilan keputusan kerajaan Urbar mengenai peperangan ini masih dipegang oleh Tyrion. Maka dari itulah, Tyrion pasti akan merasa sangat terhina. Jadi ia akan terus melakukan penyerangan dengan membabi buta sampai ia benar-benar kehabisan pasukan" Nata menjawab. "Dan memang itulah yang kita inginkan. Kerajaan Urbar kehabisan pasukan dan menghentikan peperangan ini" imbuhnya.


"Namun sepertinya sampai saat ini, mereka masih memiliki kekuatan dan pasukan untuk terus menyerang kita" kali ini Orland yang berucap.


"Benar. Itu karena kerajaan Urbar memiliki banyak wilayah yang menyediakan banyak prajurit" Amithy yang menambahi. "Kalau terus seperti ini, tak lama lagi kota Xin akan diambil alih oleh kerajaan Urbar" tambahnya kemudian.


"Dan bila hal itu benar terjadi, maka mereka akan memiliki harapan dan akan terus melanjutkan peperangan ini" Orland menanggapi perkataan Amithy.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Nat?" Lucia bertanya lagi pada Nata dengan wajah semakin kuatir.


"Anda sekalian tidak perlu kuatir. Saya sudah memperhitungkannya" Nata menjawab dengan tenang.


"Benarkah?" Lucia terlihat seolah baru saja mendapat sedikit harapan.


Nata mengangguk. "Kita akan mulai membuat Tyrion kehilangan kekuatan dan pengaruhnya dalam pengambilan keputusan untuk peperangan ini" jelasnya kemudian.


"Membuat Tyrion kehilangan kekuatannya?" Lucia terlihat butuh penjelasan.


"Kerajaan Urbar itu terdiri dari banyak penguasa. Dan menurut tuan Matues, mereka memiliki pemerintahan yang serupa dengan parlemen kita. Hanya saja para penguasa ini memegang kekuasaan penuh atas wilayah mereka masing-masing. Jadi kemungkinan besar adalah mereka akan mencoba untuk mempengaruhi keputusan pusat bila kita menyerang wilayah mereka" jawab Nata menjelaskan.


"Apa kau ingin melakukan serangan ke wilayah lain, Nat?" Lucia kembali terlihat kuatir.


"Benar. Disamping kita juga bisa memecah jumlah pasukan mereka ketempat lain" Nata menjawab dengan tenang.


"Wilayah apa yang akan anda serang, tuan Nata? Apa wilayah disebelah kota Varun? Atau wilayah disebelah kota Xin?" Amithy tampak ikut penasaran dengan rencana yang baru saja disebut oleh Nata.


"Ada berapa wilayah Estat diantara kota Varun dan kota Xin, nyonya Amithy?" Nata bertanya balik.

__ADS_1


"Ada lima Estat yang membentang dari sisi barat ke sisi timur. Estat Harbring, Estat Damcyan, Estat Eblan, Estat Feymarch, dan Estat Ceodore" jawab Amithy menjelaskan.


"Selama ini para prajurit dari wilayah-wilayah tersebut dikumpulkan ke wilayah pusat, kan? Apakah setiap ibukota wilayah Estat masih memiliki prajurit, nyonya Amithy?" Nata bertanya lagi.


"Biasanya mereka hanya memiliki penjaga kota, dan bila memang memiliki prajurit lain, pasti tak lebih dari lima puluh orang" jawab Amithy lagi.


"Berarti bila kita melakukan serangan secara bersamaan kemungkinan besar mereka akan kesulitan untuk membagi prajurit, kan?"


"Benar. Dan apa anda berencana melakukan penyerangan secara bersamaan di kelima tempat itu?" Amithy bertanya untuk memastikan lagi. Tampak ada rasa kuatir dari wajah Aminty mendengar pertanyaan Nata tersebut.


"Tidak secara langsung ke lima tempat sekaligus. Kita tidak memiliki cukup pasukan, nyonya Amithy"


"Lalu?"


"Kita akan menyerang dua atau tiga diantaranya" Nata menjawab dengan ringan, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa saja.


"Itu tetap saja lebih dari satu wilayah, Nat. Apa kau yakin?" Kali ini Lucia yang menyahut. Gadis itu terlihat semakin kuatir dengan semakin banyaknya rencana dari Nata yang ia dengar.


"Bila kita menyerang wilayah Estat Ceodore di barat kota Varun, atau wilayah Estat Harbring di timur kota Xin, maka kita akan mendapat perlawanan yang cukup kuat. Karena mereka sudah waspada akan serangan kita" Nata mencoba menjelaskan rencananya kepada Lucia. "Tapi karena kelima wilayah itu memiliki daerah pantai, maka kita akan gunakan kapal untuk menyerang wilayah-wilayah tengah yang tidak waspada. Dan kemudian dari bagian tengah itu kita akan menyerang wilayah lain dari sisi dalam" lanjutnya.


"Kita tidak perlu banyak prajurit untuk mempertahankan kota-kota tersebut, tuan Orland. Bila prajurit kita merasa sudah tidak mampu menandingi pasukan yang nantinya akan dikirim untuk merebut kota-kota tersebut, maka prajurit kita akan mundur dan meninggalkan kota tersebut begitu saja" Nata mencoba menjelaskan rencananya yang kali ini kepada Orland.


"Lalu untuk apa kita menyerang kota-kota itu?" Orland masih belum mengerti.


"Hanya untuk memberi tahukan pada penguasa yang lain, bahwa ini juga perang mereka. Bahwa wilayah mereka sama terancamnya. Dan kemudian mereka akan mulai angkat bicara untuk menentukan arah peperangan yang sekarang masih di dominasi oleh Tyrion" Nata menjelaskan lagi. "Disamping pasukan yang sekarang sedang menyerang kota Xin akan dikurangi untuk mengambil alih kota-kota diwilayah yang lain" lanjutnya kemudian.


Orland terlihat mengangguk kecil. Tampak ia sudah mulai paham dengan maksud Nata. "Tapi meski begitu, kita masih kekurangan prajurit untuk melakukan serangan di beberapa tempat sekaligus" ucap pria baya itu kemudian.


"Kita akan melakukan serangan kejutan. Aksa sudah menyiapkan peralatan untuk mempermudahkan kita melakukan penyerangan dengan cepat" Nata menjawab cepat. "Dan juga kita memiliki senjata Mistik. Kurasa itu lebih dari cukup untuk melumpuhkan kota-kota mereka" imbuhnya lagi.


"Memang setiap wilayah Estat memiliki ibu kota. Dan secara sederhana bila kita berhasil menduduki ibu kota setiap Estat, berarti kita berhasil melumpuhkan kegiatan mereka. Tapi kota-kota tersebut hampir semuanya berada ditengah wilayah. Mereka akan segera mengetahui keberadaan pasukan kita yang mendarat di bagian pesisirnya" Amithy memberi peringatan.


"Anda tidak perlu menguatirkan hal tersebut, nyonya Amithy. Saya sudah memperhitungkannya" Nata terlihat tersenyum tenang.

__ADS_1


-


"Bagaimana, Aks?" Nata bertanya saat ia sudah bersama Aksa dan serikat pengerajin Bintang Timur di atelir di dasar Ceruk Bintang. Seminggu kemudian.


"Dengan bangga ku persembahkan pada mu, AFV termutakir" ujar Aksa seraya menunjukan sebuah kereta besi di belakangnya.


Kereta besi yang disebut Aksa dengan AFV itu adalah sebuah kereta yang terbuat dari besi Dracz, nyaris sebesar kereta lokomotif. Panjang dan lebarnya adalah dua kali kereta kuda para bangsawan.


Tertutup rapat seperti sebuah balok kotak beroda. Tidak memiliki jendela sama sekali. Bagian depannya terdapat tiga buat besi berbentuk limas yang meruncing kedepan. Yang juga dapat berputar seperti mata bor. Lslu tepat diatas tiga mata bor tadi ada lubang seukuran telapak tangan orang dewasa, terlihat memanjang pada dinding besi di bagian depan, agar pengendali kereta tersebut bisa melihat jalanan di depannya.


Bagian tengah atas kereta tersebut terdapat sebuah senjata pelempar harpun, juga sebuah pintu geser untuk mengeluarkan sebagian tubuh orang saat hendak menggunakan senjata tersebut. Dibagian tengah samping juga terdapat pintu geser untuk keluar masuk kereta tersebut.


Disebelah senjata pelempar harpun tadi terpasang senjata lain yang dapat menyemburkan api, dan juga sebuah lampu sorot bertenaga listrik. Lampu sorot itu juga terpasang dibagian depan kereta di antara mata bor.


Dibagian belakang terdapat beberapa pipa besi cerobong asap yang menggambung dengan sebuah tungku api. Tungku api itu disamping digunakan untuk menjalankan kereta, juga untuk menjalankan generator listrik kecil yang terpasang di dalam kereta.


Dan juga digunakan untuk menjalankan pompa udara sebagai tenaga semua senjata yang terpasang di badan kereta tersebut. Seperti beberapa senjata berpeluru pasak besi yang terpasang di sisi kiri dan kanan badan kereta. Juga dibagian depan dibawah mata bor.


Seluruh badan besi pelindung luar kereta tersebut dialiri listrik pengejut yang dapat di hidupkan dan di matikan saat berada dalam medan pertempuran.


Lalu roda bagian depannya seperti roda kereta besi pada umumnya. Terbuat dari anyaman besi yang dilengkungkan. Hanya bedanya sekarang roda tersebut diberi seperti paku-paku kecil agar dapat mencengkram saat berjalan ditanah licin dan basah.


Sedang roda bagian belakangnya berbentuk seperti roda kereta pengebor yang memiliki rantai besi yang menyambung. Yang membuat tiga buah roda belakang kereta tersebut seolah terlihat seperti satu roda melonjong.


Dan meski Aksa menyebut kereta itu AFV, namun para pekerja dan pengerajin menyebutnya dengan kereta tempur.


"Dengan ini kita tidak lagi butuh banyak pasukan untuk menerobos gerbang benteng sebuah kota" Aksa berucap lagi. "Kendaraan ini dapat mengangkut dua puluh lima orang, juga mampu bergerak hampir disegala jenis medan. Kecepatannya bisa mencapai kecepatan kereta uap pada kondisi tertentu. Dan di design untuk menerobos semua pintu gerbang sebuah kota dengan mudah" jelasnya kemudian dengan mengebu-gebu.


"Sudah berapa yang selesai kau buat?" Tanya Nata seraya berjalan berkeliling mengamati kereta tempur tersebut.


"Sampai saat ini, baru empat" jawab Aksa cepat.


"Oh, kurasa itu sudah pas. Kita bisa membagi dan memberikan kendaraan ini ke tuan Caspian, tuan Vossler, dan nona Helen. Lalu yang terakhir untuk berjaga di kota Xin. Maka dengan itu berarti kita bisa menyerang tiga kota secara bersamaan" ujar Nata yang tampak puas.

__ADS_1


-


__ADS_2