Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
04. Senjata II


__ADS_3

Kemudian Aksa mengambil senjata yang memiliki dua buah tabung itu. Masih terlihat ringan, namun tampak tidak senyaman senjata yang pertama saat berada dalam genggaman Aksa.


Dua tabungnya terlihat cukup menganggu bila digunakan untuk pergerakan saat terjadi pertarungan yang sebenarnya.


Kali ini mereka memasang gelas kaleng diatas meja di tengah lahan tersebut. Lebih dekat dari pada papan sasaran tadi.


Dan kemudian, Aksa mulai membidik. Dan kemudian menarik pelatuknya.


Meski yang lain tampak sudah siap untuk mendengar suara yang kecang dan menggema, namun yang terdengar malah seperti suara angin saat sebuah pedang disabetkan dengan cepat dan kuat.


Tampak gelas kaleng itu terjatuh dari tempatnya setelah terhantam oleh beberapa bola besi kecil yang tadinya tersimpan dalam tabung kaca dibagian atas senjata tersebut.


"Oh, yang ini hampir tidak mengeluarkan suara" ujar Caspian yang sedikit tertipu karena sudah bersiap akan mendengar suara ledakan.


"Dan masih mampu menembakan peluru besi sejauh itu" imbuh Cedrik.


"Meski jangkauan jaraknya berkurang drastis, namun masih tetap mematikan untuk jarak dekat" ujar Aksa yang kali ini mengarahkan senjata itu ke pagar kayu disebelahnya. Dan kemudian menarik pelatuknya.


Tiga bola besi tampak bersarang dalam di pilar kayu yang paling tebal dari pagar tersebut.


Semua orang nyaris menahan nafas saat mendengar suara udara yang dihasilkan senjata itu.


"Senjata yang ini ditenagai oleh udara. Lebih tepatnya tekanan udara" jelas Nata kemudian. "Jadi kekuatannya tergantung tekanan udara yang bisa kita hasilkan" tambahnya.


"Dan bagaimana kita bisa memperoleh tekanan udara tersebut? Apakah itu sama seperti bubuk mesiu?" Couran bertanya.


"Tekanan udara itu adalah udara yang tidak terbatas, yang kita hirup sekarang ini. Hanya saja untuk menekan udara tersebut, kita perlu sebuah pompa" jawab Nata, "yang seperti itu" tambahnya seraya menunjuk ke sebuah alat di pekarangan atelir persenjataan. Yang digerakan oleh tungku lokomotif sama seperti generator listrik yang ada di tenda Aksa dan Nata.


"Berarti senjata ini bisa digunakan kapan saja asal kita bisa membuat pelurunya?" Vossler yang kali ini bertanya.


"Benar. Namun salah satu kelemahannya adalah pompa udara itu tidak mudah dibawa-bawa. Jadi tiap kali kita kehabisan tekanan, maka akan susah untuk melakukan pengisian ulang" Nata menjelaskan lagi.


"Benar juga. Jadi harus digunakan dalam waktu tertentu saja" Cedrik menimpali.


"Senjata ini lebih cocok digunakan sebagai senjata jarak jauh" saut Aksa. "Karena kekuatan dari senjata ini tergantung dari besar tekanan. Jadi kita bisa membuat tangki udara yang besar dan kuat ditempat yang cukup tersembunyi atau ditempat yang tinggi, kemudian memasang pompa udara disebelahnya. Kita bahkan bisa menembakan sebuah tonggak besi atau bola besi dari situ" tambahnya panjang lebar.


"Benar. Diatas pintu gerbang misalnya" Nata menambahi.


"Oh, benar juga" sahut Caspian.

__ADS_1


"Kita bisa menghadang senjata ram atau alat pelembar batu dari jarak yang aman" tambah Axel kemudian.


Dan pembicaraan berlanjut antara para ksatria dan kelompok Bintang Api.


"Lalu yang terakhir itu?" Couran tampak tidak sabar menanti.


Semua orang langsung berhenti bicara ketika mendengar Couran bertanya hal tersebut pada Nata.


"Yang ini sedikit berbeda. Kita tidak bisa mengujinya pada kayu atau kaleng" ujar Nata kemudian. "Senjata ini menggu akan aliran listrik yang bertujuan untuk menganggu saraf tubuh, dan membuat lawan lumpuh sementara. Tidak memiliki dampak merusak apapun setelahnya. Hanya tetap saja meninggalkan rasa sakit" jelas Nata kemudian.


Semua orang tampak bingung dengan penjelasan Nata.


"Jadi gampangnya senjata ini hanya melumpuhkan orang sementara. Dan untuk mengujinya, kita memerlukan sukarelawan" timpal Aksa.


Mendengar hal tersebut membuat orang-orang mundur dengan terlihat kuatir. Tidak ada orang yang ingin dijadikan sasaran uji coba sebuah senjata yang mereka tidak tahu.


"Karena kita tidak punya sukarelawan dan aku pun juga tidak mau, jadi senjata ini tidak perlu kita peragakan" ujar Aksa kemudian, yang terlihat kembali meletakkan senjata tersebut dalam peti wadahnya semula.


"Apakah itu benar-benar aman?" Tanya Sigurd yang terlihat penasaran tapi juga takut.


"Bila yang anda maksud tidak melukai tubuh, jawabannya iya. Tapi kalau ditanya aman, kurasa senjata itu tidak pernah aman untuk korbannya" jelas Nata sambil tertawa kecil.


"Tapi saya peringatkan terlebuh dahulu, tuan Axel. Senjata ini tetap akan memberi rasa sakit" Nata memberi peringatan lagi.


"Bila memang tidak melukai tubuh, rasa sakit masih bisa saya tahan" ujar Axel yang terlihat mulai percaya diri.


"Tunjukan pada semua, Ax. Kekuatan Bintang Api" celetuk Sigurd dari belakang Axel.


"Sudah. Diam saja kau, Sig!"


"Baiklah kalau begitu. Kita akan memulainya" ujar Aksa kembali mengambil senjata tadi.


Terlihat Axel memasang kuda-kuda siap bertahan. Saat Aksa mulai membidikan senjatanya tak jauh dari hadapan Axel.


Situasi terlihat cukup menegangkan. Orang-orang tampak serius melihat Aksa dan Axel tersebut.


Dan kemudian Aksa menarik pelatuknya. Dua pasak besi kecil di depan moncong senjata tersebut lepas dan meluncur kearah Axel. Tampak sebuah tali besi terpasang dibelakang pasak besi, masih menyambung dengan moncong senjata tersebut.


Dan begitu pasak tadi menyentuh tubuh Axel. Alih-alih suara ledakan, yang terdengar hanya suara teriakan tertahan Axel. Bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang, kemudian jatuh ketanah dengan lemas.

__ADS_1


Bahkan ia tidak memiliki tenaga untuk mengerang kesakitan. Tapi tampak jelas dari wajahnya, Axel merasa sangat kesakitan. Matanya terlihat merah, dan pembuluh daranya terlihat menonjol.


Semua orang merasa ngeri melihat pemandangan tersebut. Cedrik dan Sigurd segera berlari menghampiri tubuh Axel yang tergeletak.


"Kau tidak apa-apa, Ax?" Tanya Cedrik.


"Tiga... dua... satu... " Nata menghitung mundur.


Dan begitu ucapan kata 'satu' tergengar, Axel mulai mencoba untuk bangkit berdiri. Tampak sedikit kesulitan dibantu kedua temannya.


"Aku tidak apa-apa" ujar Axel sambil memegang kepalanya.


"Pusing itu butuh waktu yang cukup lama untuk hilang" saut Aksa.


"Kau tidak apa-apa, Ax?" Cedrik bertanya lagi.


"Aku sudah baik-baik saja sekarang. Senjata itu benar-benar mengejutkan. Sama seperti ketika kita tersengat belut petir" Axel mencoba menjelaskan.


"Tidak semua orang pernah tersengat belut petir, Ax" terdengar Shuri tidak terima dengan penjelasan Axel yang tidak berguna.


"Seperti saat kau sedang dikejutkan oleh seseorang, tapi ini berkali-kali lipat rasanya" Axel mencoba menjelaskan lagi.


"Oh, penjelasan yang tidak salah juga. Jadi intinya, senjata ini membuat lawan lumpuh beberapa saat. Sangat berguna digunakan dalam pengejaran, menghalangi lawan yang hendak melarikan diri, juga membuat sebuah kesempatan" Nata mulai menjelaskan lagi.


"Bayangkan bila alat ini digabung dengan sebuah pedang atau sarung tangan. Listriknya bisa menembus besi" Aksa memberikan gagasan.


Dan tampak langsung disambar oleh yang lain dengan ide-ide dan bagaimana senjata tersebut dapat berguna di peperangan yang sesungguhnya.


"Oh, dan juga alat ini butuh pengisian daya listriknya" tambah Nata sekali lagi.


"Dan apa ini semua adalah jenis senjata paling dasyat di dunia mu, Nat?" Tanya Couran kemudian.


"Bukan tuan Couran. Ini adalah bentuk dasarnya" jawab Nata kemudian saat yang lain mulai sibuk dengan Aksa. Memeriksa dan mencoba senjata-senjata tersebut.


"Bentuk dasar? Jadi masih ada hal lain yang lebih dasyat dari ini?" Terlihat Couran mengusap peluhnya. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Couran berkeringat dingin.


"Ilmu pengetahuan memang selalu datang sepasang. Membangun dan menghancurkan. Tinggal bagaimana kita menggunakannya" ujar Nata menjawab.


-

__ADS_1


__ADS_2