Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
12.5. Antology Story : Di Ujung Gua


__ADS_3

Esok harinya mereka bertiga pun segera kembali masuk kedalam gua tersebut. Pagi-pagi sekali. Kali ini mereka memilih jalan ke kanan dari percabangan yang mereka temukan kemarin.


"Kurasa kemarin suara kelelawar itu berasal dari lorong yang ini" ucap Loujze yang berjalan paling depan dengan obor ditangan.


"Udara juga bergerak dari arah lorong ini" ucap Hueber yang juga sedang menilai. Bayangan mereka terlihat menari liar di dinding gua, karena lidah api yang bergerak-gerak


Akhirnya mereka mulai berjalan maju. Dan setelah cukup lama berjalan, mereka mulai melihat cahaya redup dari arah depan. Dan semakin bergerak maju, cahya mulai semakin terang dan angin segar pun terasa meniup mereka.


"Pintu keluar?" Loujze terlihat sedikit antusias seraya masih terus berjalan maju.


Tak lama akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan luas berbentuk seperti lingkaran. Meski tidak sempurna.


Tampak langit-langitnya yang melengkuk seperti kubah itu memiliki rongga terbuka yang menunjukan warna cerah langit biru. Sedang disela-sela dinding atap gua yang tidak terbuka, tampak banyak sekali kelelawar bergelantungan.


"Yah, kurang lebih ini bisa disebut dengan jendela, bukan pintu" ucap Loujze kemudian setelah melihat apa yang terdapat di ujung lorong tersebut.


"Tapi, kurasa kristal disini cukup menjanjikan" ucap Deuxter sambil mengamati berkeliling.


Tampak disisi dinding disekitar tempat tersebut terdapat banyak sekali batu kristal yang berpendar, berwarna warni, saat terkena cahaya matahari.


"Kristal apa saja itu?" Huebert tampak penasaran melihat banyak batu berkerlip hijau, biru, merah, dan ungu.


"Aku bukan penambang, kau bisa bertanya kepada bibi setelah ini" ucap Loujze menjawab.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita segera kembali dan segera beritahukan bibi, tentang tempat ini" ajak Deuxter kemudian.


Dan mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut.


-


"Jadi apakah kristal-kristal dalam gua itu berharga, bi?" Tanya Loujze saat mereka sudah kembali makan malam bersama di rumah para penambang.


"Oh, sangat berharga. Kita berhasil menemikan Rubi Sulfur" ucap Go terlihat berapi-api.


"Apa itu Ruby Sulfur, bi? Apakah itu berharga?" Terlihat Huebert juga tampak penasaran.

__ADS_1


"Rubi Sulfur itu, mirip seperti batuan sulfur hanya saja berbentuk kristal berwarna merah. Dan saat ia dibakar, warna api yang dihasilkannya adalah ungu kemerah-merahan" tedengar Go sangat bersemangat ketika bercerita tentang bebatuan kristal.


"Dan apa kegunaan batu tersebut, bi?" Loujze terlihat sama tertariknya dengan Go saat berbicara tentang mineral.


"Setahuku, Ruby Sulfur digunakan untuk acara-acara seremonial pengikut Istar" jawab wanita kekar itu seraya meletakan sendok diatas piringnya, ia menyudahi makan malamnya.


"Selain itu aku juga kurang tahu. Tapi kemarin saat masih berada di tempat ini, Aksa pernah meminta tolong padaku untuk menambang semuanya, bila nanti kita menemukan Rubi Sulfur ini" tambah Go kemudian yang sudah mulai mekbereskan piring makannya.


"Padahal kesempatan penambang untuk menemukan Ruby Sulfur ini sangatlah jarang. Meski sedang menambang di dalam perut gunung sekalipun. Tapi seolah pemuda itu bisa mengetahui kalau kita akan menemukannya dikemudian hari" Go terdengar sedang mencoba memecahkan misteri dibalik permintaan Aksa mengenai Ruby Sulfur tersebut.


"Apa jangan-jangan dia tahu di lingkungan seperti apa saja, sebuah mineral bisa terbentuk?" Go terdengar tak percaya dengan dugaannya sendiri.


Sedang ketiga anak didiknya hanya tersenyum melihat tingkah Go. Seraya meneruskan makan malam mereka.


-


Pagi berikutnya, tiga pemburu itu sudah mulai bergerak memasuki gua. Di mulut gua sudah terlihat mulai ramai oleh para penambang.


Go dan beberapa penambang lain juga ikut masuk bersama mereka bertiga sampai pada percabangan jalan. Para penambang sudah harus mulai memasang jalur rel untuk troli menuju ruang beratap terbuka yang terdapat banyak kristal dan kelelawar kemarin. Sedang trio pemburu akan meneruskan perjalanan kearah kiri.


"Sepertinya lorong ini tidak rata bentuk dan ukurannya" ucap Deuxter kemudian setelah ia selesai dengan konsentrasinya.


"Tapi sepertinya tidak ada air yang mengenangi atau membanjiri lorongnya" ucap Loujze kemudian.


"Sebentar, bagaimana kalian bisa tahu hal itu?" Tanya Go yang masih berada di percabangan jalan itu seraya mengawasi para penambang yang mulai mendorong-dorong kereta berisi batang besi untuk jalur troli.


"Gaung suara yang terdengar dari lorong ini, bukan gaung yang terpantul dari permukaan air" jawab Loujze menjelaskan.


"Juga udaranya, tidak terasa seperti kelembaban air" tambah Huebert.


Terlihat Go hanya mengangguk kecil melihat penjelasan tiga pemuda tersebut.


"Tapi itu hanya perkiraan saja, bi. Bisa saja kita salah" timpal Deuxter kemudian.


"Ya, meskipun demikian. Kalian tetaplah berhati-hati" ucap Go kemudian.

__ADS_1


"Baik, bi" jawab ketiganya nyaris bersamaan.


Dan kemudian trio pemburu itu pun mulai berjalan memasuki lorong sebelah kiri. Dengan Go yang mulai kembali menangani pemasangan jalur rel troli dalam gua tersebut.


Akhirnya setelah melewati lorong yang ukurannya menyempit, yang sampai harus berjalan miring seperti seekor kepiting. Juga lorong yang mengecil hingga harus berjalan membungkuk, mereka bertiga akhirnya menemukan pintu gua yang lain. Tampak pintu gua ini juga tertutup oleh sulur dan tumbuhan rambat.


"Akhirnya!" Ucap Deuxter dengan wajah yang sudah terlihat kumal.


"Ayo segera singkirkan sulur dan tanaman rambat itu. Aku sudah gerah berada di dalam gua ini" saut Loujze seraya mengeluarkan pisau dari sarung di pinggangnya.


"Benar" Huebert menyusul Loujze mengeluarkan pisau dan mulai ikut membabat tanaman yang menghadang pintu gua.


Setelah trio pemburu itu berhasil keluar dari gua tersebut, mereka langsung disambut oleh bentangan lembah yang hijau dan asri. Dan meski hari sudah beranjak senja, namun pemandangan itu masih bisa terlihat sangat indah dan menyegarkan bagi mereka bertiga.


"Wah, apakah ini sisi barat guning Sekai?" Tampak wajah Loujze berseri-seri melihat nya.


"Iya, kurasa ini sisi barat" ucap Deuxter seraya menatap ujung dari matahari di langit senja.


"Kurasa kita harus menginap disini untuk malam ini" ucap Huebert memberi ide. Karena ia merasa sudah cukup berada di dalam lorong gua yang lembab dan pengab itu seharian.


"Benar, besok saja kita kembali untuk memberi tahu bibi" Deuxter menyetujui ide Huebert.


-


Akhirnya mereka pun membuat api unggun di tempat tak jauh dari pintu gua. Dibalik sebuah batu tebing untuk melindungi dari tiupan udara dingin malam.


Mereka tidak membawa perlengkapan tenda. Hanya kantong tidur saja. Tapi memang mereka bertiga tidak pernah membuat tenda selama melakukan perjalanan, bahkan sejak sebelum bertemu rombongan Lucia.


Namun tak lama setelah mereka selesai membuat api unggun, tiba-tiba terdengar suara-suara dari dalam semak. Dan dengan cekatan Loujze melompat, kemudian menarik sesuatu keluar dari semak di belakangnya.


Tampak seorang pemuda jatuh terjungkal bergulung di depan api unggun. Dan dengan tampak panik, pemuda tersebut segera berdiri dan mengeluarkan pisau kecil dari balik jubahnya. Kemudian mengarahkan kepada tiga pemburu dihadapannya itu. "Jangan bergerak! Siapa kalian?" Teriak pemuda itu dengan suara yang bergetar. Seperti sedang menahan rasa takut.


Tapi suara itu terdengar tidak asing bagi mereka bertiga.


"Fla?!" Ucap tak percaya dari mereka bertiga secara bersamaan, begitu tampak jelas wajah pemuda yang sedang menghunuskan pisau tersebut.

__ADS_1


-


__ADS_2