
Aksa, Couran, Lily, bersama 20 pekerja, 4 pengerajin, dan 15 penyihir memulai berjalan mereka menuju kebarat.
Karena mereka juga sekaligus memasang jalur rel kereta, maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tiba di tebing yang dimaksud.
Sebelumnya, Aksa membutuhkan waktu 3 hari untuk sampai di tebing tersebut dengan menggunakan kereta kudanya. Namun kali ini mereka membutuhkan waktu seminggu untuk tiba di bukit tersebut.
Mereka membawa 17 gerbong untuk membawa keperluan dan material untuk membangun. Masing-masing material membutuhkan dua gerbong untuk mengangkutnya. Yang mana jenis material tersebut adalah; bebatuan kecil, batu kapur, tanah vulkanik, batang kayu, dan berbagai bentuk peralatan dari logam. Total ada 10 gerbong.
Lalu 7 gerbong selanjutnya terdiri dari 3 gerbong berbentuk tangki yang penuh terisi air, dan 4 gerbong sisanya digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Bahkan 3 gerbong untuk pekerja, dan para penyihir itu dilengkapi dengan ranjang susun didalamnya.
Sedang 1 gerbong yang berada tepat dibelakang kepala kereta itu, dirancang serupa dengan tempat kerja. Ada tiga ruang kecil terpisah untuk tempat tidur Aksa, Couran, dan Lily.
-
Tebing yang dimaksud Aksa itu adalah salah satu dari barisan tebing seperti tembok benteng di sisi utara yang terlihat paling besar dan paling menjulang tinggi. Bentuknya seperti sebuah limas segi lima tak beraturan, dengan tiga tingkat ketebalan yang berbeda. Dan pada setiap tingkatan tersebut, terdapat bidang landai yang cukup luas.
Rencananya rombongan Aksa akan membangun waduk tersebut di tingkatan ke dua yang memiliki ketebalan tebing paling ideal. Karena tidak terlalu tebal untuk digali, juga masih cukup lebar untuk dibuat menjadi sebuah bak penampung air.
Mereka mengeluarkan semua peralatan yang diperlukan. Kemudian dibantu oleh penyihir tanah yang membuatkan mereka tangga untuk naik dan tempat untuk memasang tiang katrol, mereka mulai menaikan semua peralatan tersebut secara bertahap dari dasar ke area landai tingkat pertama.
Lalu melanjutkannya lagi hingga ke area landai di tingkat kedua yang bila dihitung dari dasar, tingginya mencapai sekitar 60 kali tubuh orang dewasa. Atau kurang lebih 4 kali tinggi tembok kotara Elbrasta.
Mereka memerlukan waktu seharian untuk mengusung semua peralatan tersebut. Lalu saat malam tiba, mereka membuat tenda dan bermalam di area tingkat dua tersebut.
-
Esok paginya beberapa pekerja dan penyihir melanjutkan memasang peralatan menuju tingkat ketiga yaitu puncak dari tebing tersebut. Yang mana tingginya hanya selisih 10 kali tubuh manusia dewasa, bila dihitung dari tingkatan kedua.
__ADS_1
Sementara sisanya mulai mengeruk lantai area landai tingkat kedua itu dibantu dengan kereta bor atau 'Pengerat Bumi' ciptaan Aksa.
Sementara Lily tinggal untuk membantu menggali tebing, Aksa dan Couran melanjutkan pekerjaan ke tingkatan ketiga.
Mereka baru saja selesai menaikan semua potongan tabung besi setinggi orang dewasa dengan diameter lingkarnya selebar dua rentang lengan orang dewasa itu, saat matahari sudah benar-benar tak nampak lagi dilangit.
-
"Kau sedang apa Aks?" Couran mendatangi Aksa yang sedang duduk didepan meja yang ia letakan diluar tenda. Sedikit jauh dari api unggun tempat yang lain berkumpul.
"Menggambar peta bintang. Dari ketinggian ini, bintang-bintang itu terlihat semakin jelas" ujar Aksa masih dengan kesibukannya.
"Kau ini masih saja melakukan hal lain ditengah pekerjaan lain" Couran ikut mengambil kursi dan duduk di sebelah Aksa.
"Saya tidak melakukan apa-apa tuan Couran. Anda dan yang lain lah yang bekerja. Dari waktu kita sampai di pantai Mado sampai sekarang yang saya lakukan bukannya cuma mengawasi dan bermain-main saja?" Ucap Aksa yang kali ini menghentikan kegiatannya.
"Karena ilmu pengetahuan dan segala cara yang saya ajarkan itu bukanlah dari saya sendiri tuan Couran. Saya hanya meniru apa yang saya lihat dari orang lain. Saya tidak menemukan atau menciptakannya"
"Kau ini punya pemikiran yang aneh Aks, kalau dilihat dari bagaimana kau selalu bilang dirimu adalah utusan dewa"
"Saya memang utusan dewa di dunia ini. Tapi bukan seorang dewa" saut Aksa dengan senyum kecil seraya kembali mengamati langit malam, kemudian menggabar sesuatu di gulungan kertas dihadapannya.
Sedangkan Couran hanya menggeleng pelan melihat pemuda itu.
-
Dua hari kemudian galian untuk waduk itu sudah mulai terlihat cukup dalam dan lebar. Sementara di tingkatan ketiga mereka mulai memasang tiang katrol elevator untuk turun kebawah disisi luar tebing. Di pinggiran aliran sungai. Tinggi puncak tebing itu dengan aliran sungai dibawahnya, sekitar 70 kali tubuh manusia dewasa. Yang nyaris 4 setengah tinggi tembok benteng kotaraja.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan sungai dibawah itu. Aks?" Tanya Couran saat menatap kebawah dari puncak tebing. Tampak sebuah sungai jeram dengan arusnya yang deras.
"Kita akan buat codetan di bibir sungai lalu membuat kolam penampung, harusnya dengan arus sungai yang deras seperti itu, kolam penampung tadi tidak akan pernah kosong"
"Lalu bagaimana air dari kolam penampung itu bisa sampai ke waduk itu dengan melewati tebing setinggi lima kali tembok kotaraja?" Couran bertanya seraya menggerakan tangannya menunjuk sungai di sisi luar kemudian galian ditebing sisi dalam.
"Kita akan memasang tabung besi ini memanjang sepanjang tebing ini ke arah sungai. Tabung besi ini disebut Pipa Air" ujar Aksa sambil menunjuk tumpukan tabung besi yang memenuhi hampir tiga perempat area landai di puncak tebing tersebut.
"Kau ingin membuat air naik melalui tabung besi itu?" Couran mencoba menebak-nebak.
"Benar sekali tuan Couran"
"Dan bagaimana air bisa berjalan naik sampai sejauh ini? Seperti yang pernah kau katakan kepadaku, air akan naik saat ada bagian lain yang memiliki permukaan yang lebih tinggi. Tapi sungai itu semuanya berada dibawah sana" Couran masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan Aksa untuk menaikan air.
"Benar, benda cair akan menekan kesegala arah. Nanti akan ku tunjukan bagaimana caranya, tuan Couran. Sekarang mari kita mulai untuk memasang pipa tersebut" jawab Aksa kemudian.
Tampak beberapa penyihir ketakutan saat mereka berada diatas papan katrol elevator untuk turun kebawah. Namun untuk meyakinkan mereka Aksa ikut naik diatasnya.
Mereka memasang pipa itu bagian perbagian dari atas kebawah. Dengan menggunakan gelang besi yang dililitkan pada sambungan pipa, kemudian meminta para penyihir api untuk memanasi agar meleleh.
Setelah lewat tengah hari Aksa dan 8 penyihir selesai memasang semua pipa air tersebut hingga kedasar. Mereka bersembilan makan siang dipinggiran sungai yang menyegarkan.
Setelah itu para penyihir tanah mulai membuat codetan pada garis aliran sungai. Dan membuat sebuah kolam berbentuk kubus yang lebarnya hanya sebesar kereta kuda. Memasukan ujung pipa air kedalam kolam tersebut, kemudian menutup atasnya agar air tidak meluap keluar.
Hari sudah mulai berajak sore saat Aksa dan ke 8 penyihir itu kembali naik ke atas tebing. Kolam penampungan air itu sudah selesai dengan sempurna. Dan bahkan pipa air itu sudah dibenamkan dalam tebing oleh para penyihir tanah, agar aman dan tidak terlihat.
-
__ADS_1