
Tak ada suara yang terdengar setelah Lucia terdiam. Ia baru saja menjelaskan tentang idenya yang ingin membangun sebuah kota kepada yang lain, saat mereka sudah berkumpul dalam kamar penginapan Aksa dan Nata.
"Maksud anda tanah mati?" Tanya Huebert.
"Maksud anda membangun kota?" Tanya Jean.
"Tanah Pharos itu milik anda tuan putri?" Tanya Deuxter.
"Apa membangun kota seperti kota, kota tuan putri?" Tanya Loujze.
Mereka bertempat bertanya secara bersamaan tak lama kemudian.
"Iya seperti yang kalian dengar. Ya meski sekarang tanah tersebut masih belum menjadi milik ku" jawab Lucia yang tidak membantu menjadi lebih jelas.
"Belum?" Tanya Loujze.
"Benar. Jadi tiga bulan lalu saat aku bertanya tentang hal-hal seperti melepaskan tahta itu, paman ku berkata aku akan mendapat beberapa hal setelah aku melepas tahta, dan tanah Pharos adalah salah satunya" jelas Lucia kemudian.
"Apa anda berencana melepas tahta anda tuan putri?" Tampak Huebert terkejut mendengar ucapan Lucia. Begitu pula yang lain.
"Rencananya bila memang mereka berdua sanggup membuatkan ku kota di tanah tersebut" jawab Lucia.
"Anda melepas tahta hanya untuk sekedar membangun kota di wilayah Pharos?" Terdengar Loujze tak percaya.
"Tanah itu kan tanah mati?" Kali in Deuxter yang bertanya ragu.
"Aku juga berpendapat seperti itu sebelumnya, namun menurut Nata tanah tidak bisa mati"
"Anda salah mengutipan kata tuan putri" sela Nata buru-buru karena merasa digunakan oleh Lucia sebagai beralibi.
"Yah, apapun itu berarti masih ada kemungkinan bukan?" Jawab Lucia dengan senyum ringan.
"Kalau boleh saya bertanya tuan putri. Mengapa anda ingin bersusah-susah membangun sebuah kota di tanah mati? Anda punya sebuah kerajaan" Tiba-tiba Lily mengajukan pertanyaan serius, yang segera ditanggapi yang lain dengan diam menanti jawaban dari Lucia.
"Mungkin ini memang terdengar sangat gila bagi sebagian dari kalian" ucap Lucia seraya tersenyum, dari wajahnya tersirat bahwa ia siap untuk di cemooh.
"Setelah melihat hal-hal selama tiga bulan ini, aku jadi berpikir. Dunia ini punya aturan-aturan yang selalu memihak penguasa. Seperti pajak, budak, peperangan. Rasanya aku sangat ingin merubah hal tersebut" Lucia menjedah.
__ADS_1
"Tapi aku tidak berdaya. Aku sadar bahwa tak mungkin buatku merubah peraturan dan norma yang sudah ada selama seratus tahun lebih itu. Maka dari itu yang bisa ku lakukan hanyalah membuat tempat tinggal bagi orang-orang yang telah menjadi korban peraturan dan norma tersebut" lanjutnya kemudian.
"Bukan kah akan lebih mudah bila anda menjadi seorang ratu, tuan putri? Anda memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk melakukan perubahan" Kali ini Deuxter yang bertanya.
"Aku juga sempat memikirkan hal tersebut. Tapi mendengar ucapan dari Nata dan Aksa membuatku sadar bahwa seorang ratu tidak memiliki kekuatan mutlak seperti halnya seorang raja. Dan disamping itu aku juga harus berhadapan dengan puluhan bangsawan yang siap menyerang ku di saat aku lengah" tutup Lucia.
Yang lain hanya terdiam mendengar alasan Lucia ingin membangun sebuah kota itu.
"Putri-putri di dunia ini aneh-aneh memang, yang satu bukan putri mahkota, tapi memaksa diri menaiki tahta, sedang yang ini putri mahkota tapi mencari cara melepaskan tahta" celetuk Aksa mengakhiri kesunyian. Yang aneh nya tidak mendapat reaksi tajam dari Jean.
Jean terlihat kuatir sejak dari pertama Lucia menceritakan ingin membangun kota di tanah Pharos itu, "Apa anda yakin akan melepaskan tahta anda putri?" Tanya nya kemudian seolah ia belum puas akan alasan yang dijelaskan Lucia tadi.
"Ya, bila mereka berdua menyanggupinya, maka aku akan melepaskan tahta ku Jean" ucap Lucia dengan ceria. Ia tidak ingin Jean mengkuatirkan nya.
"Kenapa anda memberikan beban itu kepada kami putri? Seolah kami yang menyebabkan anda melepaskan tahta anda" saut Nata cepat karena tidak terima. Lucia hanya tersenyum mendengarnya.
"Dan apakah kalian bisa membuat sebuah kota yang seperti diharapkan tuan putri?" Kali ini Val bertanya pada Nata dan Aksa.
"Itu hal yang mudah untuk utusan dewa seperti ku" jawab Aksa yang kemudian langsung disela oleh Nata.
"Membangunnya sih, urusan mudah. Yang jadi masalah dari kota impian tuan putri itu adalah bagaimana caranya untuk lepas dari campur tangan para penguasa. Entah itu kerajaan atau para bangsawan" Nata menjedah. "Akan percumah saja bila kita sudah susah-susah membantu memberi orang tempat untuk tinggal, yang ujung-ujung nya kita tidak bisa berbuat apa-apa saat penguasa meminta untuk mengembalikan orang-orang itu kepada mereka" jelas Nata yang dirasa cukup masuk akal oleh yang lainnya.
"Menjadi lebih berkuasa" saut Aksa kemudian yang direspon dengan tatapan sinis oleh yng lain.
"Benar apa yang diucapkan oleh Aksa" ucap Nata menyetujui Aksa.
"Utusan dewa tidak pernah salah"
"Langkah paling awal yang harus dilakukan adalah menjadi lebih berkuasa atas diri sendiri. Atau menjadi mandiri dan tidak bergantung pada siapapun" jelas Nata, "Baik dalam hal kebutuhan atau pun perlindungan. Jadi saat penguasa melakukan penutupan jalur perdagangan atau semacamnya, kota masih akan tetap bertahan. Atau saat penguasa meyerang dengan kekuatan kota juga masih mampu bertahan" penjelasan Nata berlanjut.
Yang lain hanya terdiam terlihat fokus mendengarkan penjelasan dari Nata.
"Dan untuk mencapai semua itu perlu kriteria tanah yang seperti apa?" Tanya Loujze kemudian.
"Bila kita ingin kota yang tidak bergantung pada siapapun, maka kita perlu tanah yang mencakup pegunungan dan laut. Untuk awalannya" jawab Nata singkat.
"Dan tanah Pharos ini seperti apa?" Aksa menambahkan pertanyaan.
__ADS_1
"Itu tanah tempat kita bertemu pertama kalinya" saut Lucia kemudian.
"Itu bukan jawaban, putri"
"Yang ku tahu tanah Pharos itu ada di semenanjung yang menghubungkan wilayah kerajaan-kerajaan daratan utara dengan wilayah daratan selatan. Jadi sisi timur dan barat nya laut" jelas Deuxter.
"Benar, dan di sisi timurnya terdapat gunung Sekai. Gunung vulkanis yang masih aktif" tambah Huebert.
"Benarkah? Tak kusangka wilayah Pharos ini begitu stategis" ucap Aksa mendengar penjelasan Deuxter dan Huebert.
"Dan kenapa mereka menyebutnya tanah mati?" Tanya Nata kali ini.
"Itu karena tanah itu gersang seperti yang mungkin sudah anda tahu saat anda berada disana"
"Oh, tanah padas dengan kontur tebing dan lembah itu" jawab Aksa seraya mengingat-ingat saat ia dan Nata pertama kali tiba di dunia ini.
"Benar, tempat itu disebut juga dengan Ceruk Bintang. Lalu disamping itu wilayah laut bagian baratnya sebagian besar tertutup karang terjal dan perairan dangkal. Jadi kapal-kapal akan menjauhi wilayah itu. Belum lagi pantainya yang di tutupi oleh tebing2 seperti tembok"
"Kalau pantai sisi timurnya?" Nata bertanya lagi.
"Pantai sisi timur tidak dapat dijangkau dari wilayah tengah, karena antara wilayah tengah dengan area gunung Sekai tedapat tebing yang tinggi dan curam. Yang sering disebut dengan tembok Sekai. Jadi pantai sisi timur nya hanya bisa dijangkau dari luar wilayah Pharos" jelas Deuxter panjang lebar.
"Dan jangan lupa dengan binatang buas, perampok gunung, dan perompak laut" tambah Huebert.
Nata terlihat mengangguk-angguk dalam diam, "Kurasa secara garis besar, tanah Pharos ini berpotensi. Namun kami masih perlu melihat peta atau memastikan kondisi fisiknya terlebih dahulu" tambahnya kemudian.
"Jadi kalian benar-benar akan melakukannya?" Tanya Huebert kali ini.
"Karena kami juga belum tahu akan berbuat apa setelah ini, dari pada tidak ada yang dikerjakan, kurasa ini bukanlah ide yang buruk" Ucap Nata santai.
"Dari pada tidak ada yang dikerjakan?"
Yang lain terdiam tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Nata berusan, seolah membangun sebuah kota ditanah mati adalah perkara yang sepele buat nya.
"Ya, ini seperti bermain game Civilisation namun secara real time." jawab Aksa kemudian yang tidak dapat dimengerti oleh yang lainnya, "Dan siapa tau kami bisa membangun Generator Pemecah Partikel untuk kami pulang suatu saat nanti" tutupnya.
Mendengar ucapan Nata dan Aksa tersebut membuat Lucia tersenyum lebar.
__ADS_1
-