Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
08. Penutupan Jalur


__ADS_3

"Mateus baru saja mengirimi ku kabar, bahwa ia mendapat surat perintah kerajaan untuk memutuskan kerjasama dagang dengan kita mulai hari ini" ujar Amithy, seminggu setelah mereka menerima surat tuntutan dari kerajaan Urbar.


"Ya, sepertinya mereka benar-benar ingin segera menutup jalur perdagangan kita" ujar Dirk menanggapi.


Mereka sekali lagi mengadakan pertemuan untuk membahas masalah dengan kerajaan Urbar. Diadakan masih di kediaman Lucia. Masih pula dihadiri oleh orang-orang yang sama. Kecuali Anna, yang kini sudah tidak ikut.


"Kabari para pedagang selatan, bahwa kita tidak melarang untuk mereka tetap berdagang ditempat ini. Namun kita akan menutup gerbang selatan. Jadi mereka boleh pergi dahulu sebelum gerbang ditutup" perintah Nata kepada Madron. "Atau bila mau, mereka bisa memutar melalui gerbang utara menuju Zeraza. Lalu menyeberang ke kota Xin" imbuhnya.


"Baik, saya akan menyiapkan pengumuman untuk disebarkan di kota Tengah" jawab Madron kemudian.


"Untuk pedagang utara juga kabarkan bahwa penyeberangan ditutup. Tapi mereka masih bisa berdagang dengan kita" Nata melanjutkan.


"Saya yang akan mengabarkannya pada para pedagang" kali ini Dirk yang menjawab.


"Dan apakah daftar tentang barang-barang dari utara dan selatan, yang saya minta sebelumnya sudah dibuat, tuan Dirk?" Nata bertanya lagi pada Dirk.


"Sudah, tuan Nata. Kita juga sudah mulai merencanakan pembuatan barang-barang dari selatan yang paling dibutuhkan oleh daratan utara" Dirk menjawab lagi.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menjaga gerbang dan mengamati perkembangannya"


"Untuk mata-mata itu? Akan kita apakan dia?" Kali ini Caspian yang bertanya. Ia tampak kuatir dengan Nata yang membiarkan seorang mata-mata tetap tinggal di dalam kota disaat seperti ini.


"Biarkan saja, tuan Caspian. Biarkan dia menjadi jendela kerajaan Urbar untuk melihat apa dampak yang akan kita terima dari penutupan jalur perdagangan ini. Agar mereka bisa membandingkannya dengan dampak yang mereka terima" jelas Nata panjang.


Caspian terlihat paham dengan apa yang dimaksud Nata. "Baiklah kalau memang seperti itu" jawabnya kemudian.


Dan kemudian pertemuan itu dilanjut dengan pembicaraan tentang kebutuhan tanah Pharos dari wilayah selatan berserta pencarian solusinya.


-

__ADS_1


Seminggu kemudian, tampak sebuah pos jaga dibangun tak jauh dari gerbang selatan. Lengkap dengan sebuah palang kayu untuk menutupi jalan. Beberapa prajurit tampak berjaga dengan senjata ditangan. Tampak siap untuk menghadang sebuah serangan mendadak dari tanah Pharos.


"Mereka bahkan membuat penghalang sampai seperti itu. Bukankah itu terlalu berlebihan. Seolah kita akan melakukan serangan pada mereka" ujar Jean saat ia berada di atas tebing bukit gerbang selatan. Bersama Aksa, Nata, Vossler, dan Caspian. Sedang mengawasi kelanjutan pemasangan senjata pertahanan.


Senjata pertahanan yang sedang dipasang itu adalah, senjata yang menggunakan tekanan udara. Bentuknya seperti busur silang, namun dibuat dengan ukuran yang mampu untuk melemparkan sebuah harpun.


Senjata tersebut memiliki kaki penyangga dengan bola artikulasi yang terbuat dari besi di bagian yang terhubung dengan badan senjata. Yang membuat senjata tersebut sangat mudah untuk diarahkan meskipun kaki penyangganya tertanam dalam pada tebing tersebut.


Bagian yang biasa digunakan untuk meletakan peluru untuk diluncurkan itu, kini diganti dengan sebuah pipa besi yang terhubung dengan sebuah rak yang berisi sekitar 20 tonggak besi seperti harpun, berjajar kebawah.


Ada pegas yang akan terus mendorong harpun-harpun itu keatas, saat isi dari pipa besi itu telah kosong. Jadi singkatnya, senjata tersebut dapat menembakan 20 peluru secara beruntun, sebelum kemudian harus diisi ulang.


Juga ada sebuah tabung besi besar untuk menyimpan udara, dan sebuah tungku lokomotif di sebelahnya.


"Ya, mereka memang harus merasa terintimidasi bila melihat senjata ini" saut Aksa kemudian.


"Ini kan senjata dengan tekanan udara, bukan yang menggunakan bubik mesiu" ucap Caspian kemudian.


"Lebih besar dari yang bubuk mesiu?" Caspian terdengar memastikan.


"Anda akan percaya bila sudah melihatnya in action" jawab Aksa kemudian.


-


Sebulan telah berlalu semenjak penutupan jalur menuju selatan. Namun hal tersebut tidak berdampak banyak pada wilayah Pharos yang sekarang sudah mulai memiliki jaringan perdagangan sendiri dengan wilayah utara.


Wilayah Pharos mampu membuat barang dari daratan selatan yang dibutuhkan oleh daratan utara dengan harga yang jauh lebih murah. Karena barang-barang aslinya, sekarang harus dibawa menggunakan penyeberangan laut dan melewati banyak pihak. Yang jelas akan membebani harga jualnya.


Begitu pula sebaliknya. Barang-barang dari utara akan jauh lebih mahal dari sebelumnya. saat tiba di pelabuhan daratan selatan. Dan itu membuat daya beli masyarakat wilayah selatan jadi berubah drastis. Yang tadinya orang awam mampu membelinya, sekarang tiba-tiba jadi naik dua sampai tiga kali lipatnya. Hingga para pedagang utara lebih memilih menjualnya ketanah Pharos karena ada jaminan akan terus dibeli.

__ADS_1


Disamping hal tersebut, kini pembangunan wilayah barat juga sudah sepenuhnya selesai. Mercusuar yang ada diatas bukit sudah berdiri gagah menunggu untuk di nyalakan. Dermaga yang berada di tengah-tengah perairan dangkal itu, kini juga sudah selesai dibangun.


Beberapa rumah kayu tampak berdiri di atas dermaga tersebut. Yang rencananya mereka akan membangun galangan kapal ditempat tersebut.


Di pantai sisi selatannya juga tampak sudah berdiri bangunan untuk pengawasan budidaya fauna laut. Seperti kerang Hitam dan mutiara Safir, yang memiliki nilai jual tinggi.


"Setelah ini, kita juga akan mulai memasang perlindungan diwilayah ini" ujar Nata saat ia berkunjung ke wilayah tersebut bersama Aksa dan Caspian. Setelah pemasangan senjata perlindungan di gerbang selatan selesai.


"Saya setuju, tuan Nata. Tapi apa yang akan anda lakukan untuk melindungi tempat ini? Karena kita tidak memiliki tembok pagar yang bisa dipasangi senjata" ucap Nikolai saat mereka sedang berjalan menuju kearah mercusuar.


"Benar. Apa lagi dermaga ditengah perairan dangkal itu. Bagaimana cara kita melindungi tempat tersebut?" Tambah Anna yang berjalan di sebelah Nikolai.


"Karena mereka pasti akan membawa kapal untuk menuju ketempat ini, maka kita juga akan membuat kapal, untuk menghadang mereka" ucap Nata menjawab.


"Tapi sekarang kita masih kekurangan orang untuk melakukan penyerbuan ke kapal lawan bila hal tersebut terjadi" ujar Anna mengutarakan pemikirannya.


"Kita tinggal karamkan saja kapal mereka" saut Aksa menyela.


"Mengaramkan kapal lawan? Maksud anda menenggelamkannya?" Anna bertanya lagi.


"Benar. Kita tidak perlu menyerbu ke kapal lawan. Toh kita tidak menginginkan kapal tersebut, atau barang-barang yang ada di dalamnya, kan?" Kali ini Nata yang menjawab.


"Benar juga" terlihat Anna mengangguk kecil.


"Maka dari itu kita tidak perlu memiliki banyak orang. Yang perlu kita miliki adalah seorang pelaut yang handal dan sebuah kapal yang mampu menenggelamkan kapal lawan" jawab Nata santai.


"Apakah ada, jenis kapal yang seperti itu?" Tanya Nikolai saat mereka sudah berada di bawah mercusuar.


"Anda akan segera melihatnya, tuan Nikolai" ujar Aksa yang tampak tersenyum sebelum memasuki mercusuar tersebut.

__ADS_1


-


__ADS_2