
"Apa yang sebenarnya dilakukan Lucia disaat-saat seperti ini?" Terdengar Amithy tampak geram setelah ia mendengar kabar tentang yang terjadi di pesisir barat. "Apa dia tahu dampaknya terhadap hubungan kita dengan kerajaan Urbar, bila kita melindungi buronan mereka?"
"Kalau menurut apa yang ditulis, saya yakin putri tidak akan berpikir lebih dari apa yang ada di depan matanya saja, saat itu" ujar Nata kemudian seraya meletakan gulungan kertas berisi kabar dari Lucia.
"Benar-benar sangat merepotkan. Apa lagi disaat seperti ini. Untung kita baru saja mendapat persetujuan perjanjian dagang dari pemerintah pusat" ujar Amithy sambil menghelai nafas.
"Kita baru saja secara resmi membuka penyebrangan ini. Sudah ada saja masalah yang datang. Semoga pihak Urbar tidak terlalu menanggapi hal ini" tambah Amithy kemudian seraya meneguk minuman dalam gelasnya.
"Kita lihat saja perkembangannya nanti" ujar Nata menimpali.
"Kurasa aku juga perlu memberi kabar Matues" ujar Amithy sambil berjalan meninggalkan ruangan.
-
Lima hari kemudian tampak Nata dan Amithy di kejutkan oleh 25 orang prajurit kerajaan Urbar datang di depan gerbang selatan. Namun sejak penyeberangan kereta uap dibuka, prajurit penjaga sudah di tempatkan untuk berjaga di depan gerbang tersebut. Di kepalai oleh Vossler.
"Sejak kapan ada gerbang dan penjagaan di tempat ini?" Tampak seorang ksatria dengan plat besi berwarna gelap dan jubah pendek di punggung berwarna coklat turun dari kudanya. Wajahnya tertutup helm besi.
Tak lama kemudian tampak Vossler keluar dari balik gerbang. Setelah salah satu prajurit penjaga memanggilnya.
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan?" Tanya Vossler setelah ia sudah berada dihadapan ksatria dengan jubah cokelat tadi. Tampaknya ksatria itu adalah pemimpin prajurit tersebut.
"Kami prajurit keamanan dari Urbar ingin menemui penguasa wilayah ini. Kami menduga ada buronan yang melarikan diri ketempat ini" ujar ksatria berhelm besi itu kemudian.
-
Sementara itu di kediaman Amithy di dataran tinggi wilayah selatan. Seorang prajurit datang dengan sebuah pesan dari Vossler.
"Sudah ku duga hal seperti ini akan terjadi. Bagaimana, Nat?" Tampak Amithy terlihat sedikit panik setelah menerima isi pesan tersebut.
"Kita tidak boleh melakukan hal yang bisa memperburuk keadaan" ujar Nata kemudian.
"Jadi bagaimana apakah kita biarkan mereka bertemu Lucia?"
"Kita temui saja mereka dulu" ujar Nata kemudian.
__ADS_1
-
Nata dan Amithy menuju ke pos jaga di gerbang selatan. Karena menurut Nata lebih baik tidak membawa para prajurit itu masuk ke dalam. Demi keamanan dan untuk menghindari banyaknya pertanyaan saat mereka melihat alat-alat bertenaga uap yang ada di seluruh tempat di wilayah selatan itu.
Segera Amithy menyambut pemimpin para prajurit itu. Dan tampaknya ksatria itu adalah seorang Narva dengan perawakan tinggi gagah, saat ia melepas helm besinya.
"Selamat datang, tuan ksatria. Perkenalkan nama saya Amithy dan ini adalah Nata. Maaf telah membuat anda menunggu" ucap Amithy menyapa ksatria yang tampak sudah cukup lama menunggu di dalam post tersebut.
"Selamat siang, perkenalkan saya Percival. Pemimpin pasukan keamanan kerajaan Urbar" jawab ksatria itu yang segera berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk sopan kepada Amithy dan Nata. "Apa anda penguasa wilayah ini?" Tambahnya kemudian dengan pertanyaan.
"Bukan tuan Percival, saya hanya penanggung jawab wilayah selatan dari tanah Pharos ini. Apakah ada hal yang bisa kami bantu?" Amithy tampak menjawab dengan sama sopannya dengan ksatria itu.
"Kami sedang dalam pengejaran seorang buronan. Prajurit kami melaporkan, bahwa seminggu yang lalu buronan tersebut berhasil kabur setelah mereka hendak menangkapnya di pesisir pantai barat tanah ini" jelas Percival yang terlihat serius.
"Oh, begitukah?" Amithy berlaga bodoh.
"Kami hendak mengejarnya, sampai kami mendapati tanah ini sekarang sudah berpenghuni. Maka dari itu, kami meminta agar buronan tersebut diserahkan pada kami bila memang kalian telah menangkapnya. Jangan kuatir, imbalan atas buronan tersebut masih akan diberikan bila kalian menyerahkannya hidup-hidup" Percival melanjutkan penjelasannya.
"Karena posisi kami yang jauh dari wilayah tengah dan barat, jadi mungkin akan butuh waktu untuk mencari tahu kabar tentang hal tersebut. Jadi bila berkenan, beri kami waktu tiga hari ini. Kami akan mencari tahu apakah wilayah pusat atau wilayah barat telah menangkap buraonan itu atau tidak" Amithy mencoba sebisa mungkin untuk terdengar meyakinkan.
"Tidak, tuan. Kami benar-benar tidak mendengar berita terkini dari wilayah lain" saut Nata kali ini. Mencoba untuk mendukung penjelasan Amithy sebelumnya.
Kemudian terlihat Percival mengangguk-anggukan kepalannya. "Baiklah bila begitu. Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan kalian menempati tanah ini?" Tambahnya lagi dengan wajah yang terlihat penasaran.
"Sejak kurang lebih delapan bulan ini, tuan" jawab Nata dengan cepat.
"Oh, pantas saja. Tahun lalu aku melihat tempat ini masih kosong" ujar ksatria itu kemudian. "Kalian benar-benar orang yang aneh ingin menempati tanah mati seperti ini. Baiklah kalau begitu, kami akan kembali tiga hari lagi" ujarnya kemudian seraya kembali mengenakan helm besinya, kemudian berjalan keluar.
Amithy segera terduduk begitu Percival meninggalkan pos jaga tersebut. Kakinya lemas. Sementara Vossler yang sedari tadi berdiri diam di depan pintu, kini berjalan mengantar Percival keluar gerbang selatan.
"Bagaimana sekarang?" Ujar Amithy kemudian.
"Saya rasa kita perlu bertemu putri Lucia" jawab Nata kemudian.
-
__ADS_1
Siang itu juga Nata dan Amithy menuju ke kota tengah untuk bertemu dengan Lucia. Mereka segera mengadakan pertemuan dengan Lucia, Orland, dan juga Aksa.
"Kita tidak bisa menyerahkan nona Anna begitu saja. Dia orang baik, dia telah di fitnah oleh bangsawan bernama Tyrion" ujar Lucia tampak sedang mempertahankan keputusannya.
"Apa kau bilang? Tyrion?!" Terdengar Amithy bertanya tidak percaya, dengan apa yang baru saja di katakan Lucia.
"Benar. Dia lah yang menjebak nona Anna hingga menjadi seorang buronan dan juga telah membunuh keluarganya" Lucia bercerita.
"Dia, orang itu. Kita tidak boleh berurusan dengan orang itu. Dia adalah orang licik. Dia bisa melakukan apapun demi memenuhi apa yang ia inginkan" ucap Amithy terlihat geregetan kepada Lucia.
"Sekarang dia sudah memegang posisi penting dalam kerajaan Urbar, kau tahu Lucia? Di bisa dengan sengaja melakukan hal buruk terhadap kita semua" lanjut Amithy lagi.
"Apa lagi setelah mendengar hal tersebut dari bibi. Bukankah makin tidak benar bila kita menyerahkan Anna ke tangan orang seperti itu?" Jawab Lucia membuat Amithy tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa membantah perkataan keponakannya itu.
"Menurutmu bagaimana, Nat?" Amithy melemparkannya ke Nata.
"Menurutmu bagaimana, Aks?" Nata melanjutkan pertanyaannya ke Aksa.
"Kau tanya aku?" Aksa balik bertanya.
"Kau yang ada didekatnya saat semua itu terjadi" ucap Nata lagi.
"Padahal dia sudah kuberi tahu seperti seorang anak kecil, kalau kau dan nyonya Amithy sedang membangun hubungan dengan orang-orang di selatan. Tapi akal putri ini lebih pendek dari anak kecil" ucapan Aksa tidak ada yang membantah. Karena tidak ada Jean di pertemuan tersebut. Hanya saja terlihat wajah Lucia memerah dan terlihat tidak terima.
"Kita tinggal bilang saja bahwa buronan itu berhasil kabur melewati gerbang utara" jawab Lucia kemudian.
"Anda sedang mencari masalah, sekarang?" Tanya Aksa menyeletuk.
"Benar. Bila semua kebohongan itu sampai ketahuan, bisa jadi permasalahan yang cukup serius. Bukan hanya dengan Tyrion, tapi dengan kerajaan Urbar" ujar Nata kemudian seraya menatap Lucia yang masih berwajah merah. Antara malu dan marah.
Amithy dan Orland juga sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka tidak punya solusi untuk masalah kekeras kepalaan Lucia.
"Jangan bilang kami tak memperingatkan mu" ujar Aksa menambahi.
-
__ADS_1