Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
10. Menguasai Istana


__ADS_3

Val tampak sudah mematikan kemampuan dari pisau mistiknya. Karena hanya ada para prajurit biasa dihadapan mereka sekarang ini.


Aksa, Nata, Lily, dan Val mulai bersiap untuk menghadapi sekitar 30 prajurit ber pedang dan seorang ksatria perempuan dihadapan mereka.


Kemungkinan besar ksatria perempuan itu adalah pengguna senjata mistik. Namun meski begitu, Val tidak menggunakan kemampuan pisau mistiknya.


Karena kekuatan unik pisau itu tidak berguna untuk menghadapi senjata mistik yang memiliki cara berbeda dalam menggunakan aliran Jiwa. Malah dampaknya akan merugikan Lily.


"Siapa kalian?! Berani-beraninya menginjakan kaki kotor kalian di istana ini" ksatria perempuan itu melangkah kedepan.


Tidak menjawab pertanyaan tersebut, Aksa malah dengan cepat meraih senjata laras panjang yang menggantung dipundaknya dan mulai menembakan senjata tersebut ke arah kaki semua orang yang ada ditempat itu.


Aksa menarik pelatuk senjatanya tanpa beban. Karena ia tahu, selama para prajurit itu tidak mati atau kehilangan bagian tubuhnya, para penyembuh bisa memulihkan mereka seperti sedia kala.


Hujan peluru dari senjata Aksa menjatuhkan puluhan prajurit tadi tanpa sisa. Bahkan beberapa peluru menembus dan merusak daun pintu dibagian bekalang.


Tampak hanya ksatria perempuan itu saja yang masih berdiri. Karena sepertinya ada sihir yang melindunginya dari hantaman peluru tadi.


Ksatria perempuan itu terkejut melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Aksa. Karena ia tidak mengira bahwa senjata yang seperti tongkat itu adalah senjata jarak jauh.


Ia juga tidak mengira Aksa akan melakukan serangan, karena Aksa tidak terlihat sedang mengisi ulang peluru dan membidik, atau tidak melakukan rapalan bila memang itu adalah tongkat sihir.


Dan sama seperti ksatria perempuan itu, Nata, Lily, dan Val terlihat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Aksa.


"Apa yang kau lakukan, Aks? Kau membuatku terkejut" ucap Nata kemudian seraya mengusap dada.


"Aku hanya ingin mencoba bagaimana kalau kita menyerang saat lawan sedang melakukan dialog basa basi exposisi, kaya yang di film Power Ranger gitu" Aksa berucap. "Ternyata efektif" imbuhnya kemudian.


"Dasar iblis tercela! Aku Guenever, bersumpah akan mencabut nyawa mu!" Ksatria perempuan benama Guenever itu, tiba-tiba saja menghilang dari pandangan begitu selesai berucap.


Belum Aksa sempat berkedip, tiba-tiba sosok Guenever sudah berada di hadapan nya bersama sosok Val dengan pisau ungunya menangkis pedang ksatria perempuan itu, yang hendak ditebaskan kearah Aksa.

__ADS_1


Kemudian terdengar suara dua logam beradu. Yang seolah terlambat hadir. Aksa yang terkejut segera melompat mundur.


Dan belum Aksa sempat menghembuskan nafasnya, tiba-tiba diantara Val dan Guenever muncul sosok Lily yang sudah mengarahkan tongkatnya ke perut ksatria perempuan itu. Bahkan sebelum Guenever sempat menghunuskan perang di tangan kirinya.


Tampak lingkaran sihir muncul di ujung tongkat sihir Lily. Dan siap untuk ditembakan.


Melihat hal tersebut, Guenever segera melompat mundur. Namun Val berhasil meraih tangan ksatria perempuan itu, yang menyebabkan Guenever tidak bisa beranjak kemanapun.


Dan alhasil sihir berupa sinar putih dari tongkat Lily tidak bisa dihindari. Sihir itu menghantam perut Guenever dan mendorongnya kebelakang menabrak pintu dibelakangnya hingga menembus kedalam.


Meski Guenever menggunakan pelindung sihir di seluruh tubuhnya, namun serangan sihir Lily dari jarak dekat itu berhasil menembus pelindung sihir tersebut.


Dan tampak kini perempuan itu tergeletak tak sadarkan diri dengan pelindung besi di bagian perutnya tampak gosong seperti baru saja terpanggang api. Meski tidak sampai menghancurkannya.


"Oh, mengejutkan sekali" Aksa menarik nafas cepat seraya mengusap-usap dadanya.


"Apa kau tidak bisa melihat gerakannya?" Val bertanya kemudian.


Dan begitu mereka memasuki ruangan tersebut, tampak seorang pria tua yang mereka kenal sedang duduk di kursi di ujung ruangan.


"Oh, tak kusangka ternyata kalian sendiri yang akan menyerang istana ini" ucap pria baya itu setelah melihat empat orang yang dikenalnya memasuki ruangan. Pria itu adalah Chris.


"Selamat malam, tuan Chris. Senang melihat anda selamat dari kejadian di kota Meso" terdengar Nata menyapa.


"Senang juga melihat kalian semua juga selamat" Chris menjawab dengan senyuman.


"Sepertinya kami sudah terpancing untuk datang ketempat ini" ujar Nata setelah menyadari, Chris sudah mengecohnya dari posisi raja kerajaan Urbar yang sebenarnya.


"Lalu ada perlu apa anda datang ke istana ini, tuan Nata?" Tanya Chris kemudian.


"Untuk menemui raja anda, tuan Chris. Karena sepertinya bawahannya tidak ada yang bisa diajak bicara" Nata menjawab seraya berjalan menuju sebuah rak kayu berisi banyak buku ujung ruangan.

__ADS_1


Sementara tampak Val dan Aksa mengangkat tubuh Guenever, dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. Sedang Lily tampak melompat keluar dari jendela untuk memeriksa sesuatu.


Ruangan itu berada di lantai kedua dari bangunan menara di sisi utara istana.


"Apa yang hendak anda bicarakan kepada raja saya, tuan Nata?" Chris kembali bertanya mencoba tidak menghiraukan hal yang dilakukan oleh yang lain.


"Ya, tentang menghentikan perang ini. Sama seperti pembicaraan yang pernah kita lakukan di kota Meso" Nata menjawab seraya mengambil buku-buku yang menarik perhatiannya dari rak kayu tersebut.


"Dengan cara menyerang seluruh wilayah kerajaan ini?" Chris bertanya lagi, yang membuat Nata berhenti menatap buku-buku ditangannya dan berpaling menatap Chris.


"Ya, semua itu cuma pencegahan" Nata menjawab seraya kembali memasukan buku-buku tadi kedalam tas punggungnya. "Pencegahan agar tidak ada pihak-pihak yang berniat untuk meledakan kota disaat kami sedang berbicara" lanjutnya kemudian.


Tak beberapa lama kemudian muncul Lily dari balik jendela. Kemudian mengangguk kecil ke arah Nata.


"Tapi ngomong-ngomong soal ledakan, aku jadi ingat sesuatu" Nata menjedah. Kemudian memberi tanda pada Lily. "Kami orang nya cukup pendendam" lanjutnya kepada Chris.


Kemudian Lily mulai mengangkat tongkat sihirnya ke atas. Dan setelah merapal, lingkaran sihir mulai muncul diatas tongkat tersebut.


"Sepertinya tidak nyaman berbicara ditempat ini, tuan Chris. Ayo kita pindah tempat" Ajak Nata kemudian.


Dan begitu semua orang sudah berada diluar ruangan, Lily segera melepaskan sihir nya. Yang berupa pilar cahaya yang menembak lurus ke angkasa. Menghancurkan sisa bangunan yang ada diatas ruangan tersebut.


Sinar dari pilar cahaya tadi sempat menerangi seisi kota. Membuatnya sangat mudah dilihat dan diperhatikan oleh semua orang yang ada di kota tersebut. Terlebih ditengah malam.


Dan begitu pilar cahaya itu hilang, menara utara pun juga sudah tidak tampak lagi. Yang tersisa hanyalah bangunan dari lantai dua ke bawah.


Chris terkejut melihat sihir tersebut. Tidak banyak penyihir yang dapat mengeluarkan sihir dengan kekuatan sedasyat itu. Apa lagi jenis sihir langka seperti itu. Sihir Cahaya.


Chris segera menebak Lily adalah seorang Sage. Dan meskipun ia coba bantah sendiri, namun sebagian kecil firasatnya mengatakan bahwa Lily adalah sang legenda Kilat Putih.


-

__ADS_1


__ADS_2