Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
32. Tamu Kenegaraan I


__ADS_3

Tampak Lugwin datang bersama Matiu dan beberapa bangsawan petinggi kerajaan dalam iring-iringan besar. Nyaris 30 orang beserta para pengawal. Dengan 5 kereta kuda dan beberapa penunggang kuda.


Mereka melakukan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih seminggu. Melewati jalur tercepat melalui wilayah Elbrasta.


Dan seperti kebanyakan orang yang baru pertama kali melihat tanah Pharos, mereka dibuat terkagum-kagum dengan segala yang ada di tanah tersebut.


Mulai dari saat mereka memasuki gerbang sisi utara. Yang sekarang sudah memiliki pintu gerbang dan jembatan yang lebih bagus. Sampai pada jalanan dan peralatan seperti kereta besi yang tampak sibuk keluar masuk dari gerbang menuju kearah pantai Mado di timur.


Beberapa prajurit tanah Pharos tampak berjaga disepanjang wilayah gerbang utara tersebut. Dan beberapa mengawal rombongan Lugwin masuk ke wilayah kota Utara.


Tampak Lucia dan yang lain sudah menunggu untuk menyambut Lugwin di dataran rendah kota Utara tersebut. Berjajar rapi di depan katrol elevator. Ada Lucia, Jean, Nata, Aksa, Lily, dan Caspian.


Tampak Lugwin turun dari dalam kereta, setelah kereta tersebut berhenti ditempat yang sudah diarahkan oleh prajurit yang bertugas disekitar tempat tersebut.


Lugwin keluar dari kereta setelah seorang ksatria muda berparas rupawan keluar terlebih dahulu, dan memberinya tangan membantunya keluar.


Sebagai orang nomor satu di kerajaan Estrinx, tidak membuat kereta kuda Lugwin terlihat mewah dan besar. Ia menggunakan kereta kuda bangsawan biasa.


Tapi diluar itu, pakaian yang dikenakannya terlihat sangat menarik perhatian. Meskipun seorang ratu, Lugwin mengenakan baju layaknya seorang ksatria bangsawan. Berwarna putih dengan motif emas di bagian pelindung besi dan jubahnya.


Rambutnya tersanggul elegan dengan sebuah tiara emas bertatahkan berlian melingkari kepalanya. Pedang dengan sarung berwarna putih lengkap dengan ornamen emas tampak mengantung dipinggangnya.


Lugwin membalas lambaian tangan Lucia dari kejauhan, kemudian berjalan menghampiri dengan suara nyaring yang berasal dari sepatu besinya.


"Apa kabarmu Lugwin. Eh, maksud ku Arcdux" ujar Lucia kemudian.


Tampak para bangsawan lainnya berjalan dibelakang Lugwin. Diantara mereka terlihat sosok Matiu.


"Tuan Matiu" sapa Lucia dengan membungkuk kecil.


"Sudah hentikan hal tersebut. Panggil aku seperti biasa kau memanggilku, Luc" ujar Lugwin dengan cepat.


"Senang bertemu dengan anda, yang mulia Lugwin" kali ini Nata yang menyapa seraya membungkuk.


"Kita bertemu lagi, putri Lugwin" ujar Aksa seraya melambaikan tangan.

__ADS_1


"Jaga sikapmu, bocah!" Saut Jean seraya menarik turun kepala Aksa dengan tangannya. "Selamat datang yang mulia, Lugwin" ujarnya kemudian.


"Sudahlah, kalian tidak perlu seperti itu. Aku akan merasa tidak nyaman bila kalian berlaku seperti itu terus" terdengar Lugwin memperingatkan.


"Tuan Nata, tuan Aksa" sapa Matiu kemudian.


"Lama tidak berjumpa tuan Matiu. Bagaimana kabar anda?" Jawab Nata yang melihat Matiu di belakang Lugwin.


"Baik-baik saja, tuan" jawab Matiu dengan sopan santun bangsawan. Yang jelas menimbulkan kebingungan terhadap para bangsawan lain yang menyaksikannya.


Matiu adalah figur penting kerajaan kedua setelah sang ratu. Dan sekarang ia berlaku sangat sopan dibadapan dua pemuda Morra yang tidak dikenal.


Lalu kemudian Lugwin dan Matiu menyapa Jean, Caspian, dan Lily, yang ikut menyambut mereka di dataran rendah kota Utara tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Mari ikut aku" ujar Lucia menuntun.


"Oh, jadi ini cara kalian menaikan kereta kuda ke atas tebing ini?" Tanya Lugwin yang terlihat kagum memandang berkeliling. Saat ia sedang berada dalam katrol elevator tersebut menuju ke atas ke dataran tinggi kota Utara. "Dengan apa kalian menarik benda ini ke atas?" Tambahnya kemudian.


Di sepanjang jalan menuju ke stasiun kereta, tidak hanya Lugwin saja yang selalu mempertanyakan segala hal yang ia temui. Terdengar pula suara para bangsawan yang kasak kusuk saat mereka melihat beberapa hal yang tampak menarik dan asing.


Cornelius, Constine, dan Helen menyapa rombongan Lugwin di depan stasiun kereta.


"Benar. Kau harus mencobanya, kita akan berkeliling ke wilayah tanah Pharos dengan kereta ini" jawab Lucia seraya menyarankan sesuatu kepada Lugwin.


"Benar-benar mengesankan. Tadinya aku sudah membayangkan akan sesuatu yang gila, yang akan tuan Nata dan tuan Aksa bangun ditempat ini. Tapi nyatanya ini lebih gila dari yang aku bayangkan" ucap Lugwin tampak tidak abis pikir dengan apa yang sudah ia lihat di sebagian tanah tersebut.


"Jangan terlalu memuji mereka, Lug. Mereka akan besar kepala, nanti" canda Lucia.


"Kami sudah biasa mendapat pujian, jadi jangan kuatir, tuan putri. Dua atau tiga pujian lagi, masih belum membuat kami besar kepala" saut Aksa asal.


"Sepertinya anda mendapat hal menarik yang baru lagi, tuan-tuan?" Kali ini Matiu yang berucap.


"Bukan begitu, tuan Matiu. Semuanya karena kami dijebak oleh ratu yang gagal menjabat ini" celetuk Aksa yang membuat hampir semua orang terkejut mendengarnya.


"Apa kau bilang, dasar bocah iblis!" Saut Jean cepat, seraya menarik kerah baju Aksa keatas.

__ADS_1


"Lily! Lily! Mayday! Mayday!" Ucap Aksa kemudian yang tidak ditanggapi oleh Lily.


"Kalian tidak pernah berubah, ya? Aku sangat senang bisa melihat kalian lagi" ujar Lugwin kemudian.


Sementara para bangsawan dibelakang Lucia semakin bingung dengan siapa sebenarnya dua pemuda Morra yang berani bercanda dengan orang-orang kelas atas tersebut.


-


"Sungguh-sungguh mengagumkan tuan Nata. Bagaimana kereta ini bisa bergerak? Dan berapa lama anda membangun jalur ini?" Tanya seorang bangsawan muda bernama Piere, yang diperkenalakan Lugwin sebagai sahabat kecilnya.


"Juga segala perabot dan barang-barang dalam gerbong ini. Semua sungguh-sungguh berkualitas" tambah pemuda Narva tersebut, mewakili pemikiran para bangsawan yang lain.


"Untuk masalah bagaimana kereta ini bisa berjalan, akan jadi penjelasan yang sangat rumit. Juga saya tidak yakin berapa lama waktu yang digunakan untuk membangun kereta ini. Karena bukan kami yang membuat kereta uap ini" jawab Nata kemudian. "Tapi jalur ini memakan waktu nyaris tiga bulan untuk memasangnya, mulai dari wilayah selatan sampai memutar ke wilayah barat" tambahnya lagi.


"Hanya dalam waktu tiga bulan? Butuh berapa banyak pekerja?"


"Empat puluh pekerja dan lima belas penyihir api dan tanah" kali ini Aksa yang menjawab.


"Penyihir?" Tidak hanya Piere yang terlihat bingung.


"Kami memerlukan penyihir untuk membantu menyingkirkan batu besar, melubangi tanah, memanaskan besi, dan mengeringkan bahan bangunan. Dan karena itulah jugalah, kenapa pekerjaan kami jadi jauh lebih cepat" Nata tampak menjelaskan.


"Anda, apa? Membuat para penyihir bekerja membangun?" Terdengar Piere tampak mewakili para bangsawan yang lain yang juga tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Nata.


"Membuat penyihir bekerja membangun? Jelas itu adalah ide yang hanya bisa dipikirkan oleh tuan-tuan berdua" ujar Matiu kali ini dengan senyuman.


"Lagi pula, bukankah sihir adalah berkah dari para dewa? Dari pada untuk menghancurkan, kenapa tidak kita gunakan untuk membangun?" Ucap Nata kemudian.


"Benar juga. Aku sudah lama sekali tidak mendengar perkataan tuan Nata yang seperti ini" saut Lugwin yang terlihat baru saja menyadari sesuatu yang baru.


-


Tak lama kemudian mereka tiba di stasiun kota Tengah. Ditempat itu juga tampak banyak prajurit berjaga. Lalu dengan menggunakan kereta besi yang kusus dibuat untuk melewati jalanan kota tersebut, mereka menuju ke ujung barat kota. Ke rumah kediaman Lucia yang sudah selesai sebagian dibangun.


Bagian utama rumahnya sudah selesai dan bisa ditempati. Hanya tinggal fasilitas taman, dan sebuah kolam besar dihalaman belakang yang belum selesai dibangun. Rencana rombongan Lugwin akan tinggal ditempat itu selama berada di wilayah Pharos.

__ADS_1


Namun sebelum itu, mereka membawa rombongan Lugwin berkeliling kota terlebih dahulu. Membuat para bangsawan itu merasakan makan buatan penduduk wilayah tersebut. Seperti; roti dan makanan manis yang dibuat oleh Edward, hasil bumi seperti daging dan buah-buahan, atau jenis-jenis minuman beralkohol buatan desa Timur.


-


__ADS_2