Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
02. Ide Gila


__ADS_3

Dua hari kemudian mereka tiba di sebuah dataran landai dengan sebuah kastil megah terlihat berdiri ditengahnya. Terlihat sebuah bendera yang tampaknya adalah bendera lambang kerajaan Elbrasta dan lambang keluarga bangsawan Bartholomew. Terlihat pada bendera itu gambar sebuah perisai, didalam perisai tersebut terdapat gambar seekor burung berwarna merah dan serigala berwarna hitam tepat dibawah sang burung.


Mereka ditahan oleh dua orang penjaga di depan gerbang. Dan setelah mengenali Jean, penjaga itu mempersilahkan mereka masuk.


Nata dan Aksa tampak kagum melihat sebuah taman yang indah begitu mereka melewati pintu gerbangnya. Terlihat sebuah rumah mewah dengan pintu kayu yang artistik menjadi pusat dari pemandangan taman yang tampak di rancang simetris sisi kiri dan kanannya.


Kemudian membelah tepat ditengah taman tersebut sebuah jalanan dari batu yang disusun rapi berpola.


"Ini berasa seperti di Istana Boneka" ujar Aksa yang telihat kagum memandang kesegala arah.


"Kau pernah ke Istana Boneka?" Tanya Nata terlihat tak percaya.


Kuda dan kereta mereka berhenti di depan pintu yang tampak seorang perempuan paruh baya berdiri menunggu di depannya.


"Inggrid, apa kabar mu?" Lucia menyapa begitu mereka sudah mendekat.


"Baik tuan putri. Tampak nya anda juga baik-baik saja. Saya sangat bersyukur melihatnya" jawab perempuan paruh baya yang bernama Inggrid itu.


Mereka diantar menuju ke ruang tamu oleh Inggrid. Melewati lorong yang dipenuhi oleh bingkai gambar potret diri, yang Nata menebak itu adalah para leluhur keluarga Bartholomew.


Tak lama mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup besar dengan sebuah perapian dari batu berada di ujung ruangan sisi kanan pintu masuk. Lantainya terbuat dari marmer yang mengkilat. Di bagian tengah ruangan tampak digelar sebuah karpet oval besar berwarna merah gelap. Seperangkat sofa dan meja berdiri diatasnya.


Dinding ruangan itu di dekorasi dengan cat berwarna hijau cerah dengan ukiran yang terbuat dari logam sebagai pemanis. Tepat berhadapan dengan pintu masuk terdapat dua jendela kaca besar berjajar simetris. Dan di sisi kiri dari pintu masuk diantara sebuah lemari besar yang berisi baju jirah dan beberapa senjata terpajang didalamnya, terdapat sebuah pintu lain.


"Ini ruang tamu atau basket indoor gede banget?" Ucap Nata begitu memasuki ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa kita harus melepas alas kaki sebelum masuk?" celetuk Aksa.


"Lucia! Sukurlah kau baik-baik saja. Bagaimana kau bisa sampai ketempat ini? Bahkan tanpa penjagaan?" Ucap seorang pria dengan perawakan tambun begitu dia muncul dari balik pintu disisi kiri. Berambut kuning sedikit ikal yang di sisir dengan rapi ke sisi. Menggenakan pakaian bangsawan yang sering Nata dan Aksa lihat saat mereka berada di Estrinx. Pria itu tampak sangat kuatir melihat Lucia.


"Apa kabar kak Cornelius. Bagaimana kabarmu?" jawab Lucia seraya berdiri menyambut pria yang di sebut Cornelius itu.


"Tuan Cornelius" ucap Jean seraya berdiri dan membungkukan tubuhnya memberi salam kepada Cornelius. Yang kemudian diikuti dengan yang lain berdiri dari tempat duduk mereka.


"Jean" ujar Cornelius membalas salam Jean "Aku baik-baik saja, kau tidak pernah berubah Luc. Siapa mereka?" Lanjutnya kemudian.


"Oh iya, ini adalah teman-teman ku. Ini adalah tuan Val, nona Lily, Loujze, Huebert, Deuxter, Aksa, dan Nata" jawab Lucia memperkenalkan. Yang hanya di tanggapi oleh Cornelius dengan angukan.


Kemudia terlihat pintu masuk terbuka, dan tampak dua orang pelayan masuk dengan sebuah kereta dorong yang terdapat sebuah teko dan beberapa cangkir ukir indah diatasnya.


Setingkat dibawahnya terlihat beberapa piring kecil dengan beberapa jenis makanan di dalamnya. Melihat hal tersebut membuat wajah Aksa dan Nata berubah menjadi lebih ceria.


"Kuharap lebih enak dari masakan kentang rebus Lucia" saut Nata yang juga berbisik meski masih dapat di dengar oleh orang disekitar mereka. Yang ditanggapi oleh Jean dengan wajah jengkelnya.


-


"Dan ada keperluan apa kau tiba-tiba datang kemari? Bukannya malah pergi ke istana?" Tanya Conelius ditengah mereka menyantap jajanan yang baru saja dihidangkan.


"Oh iya, bolehkah aku bicara dengan paman?" Jawab Lucia kemudian.


"Ayah sedang berada di kota Marda sekarang. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Kudengar seharusnya kau sudah berada di kotaraja dari tiga bulan yang lalu. Kemana saja kau selama ini Luc?" Tanya Cornelius kemudian.

__ADS_1


"Ceritanya panjang kak. Dan kurasa aku akan melepaskan tahta ku" Jelas Lucia kemudian seraya menyesap teh dari cangkir mungilnya.


"Kemarilah aku ingin berbicara denganmu empat mata" tiba-tiba Cornelius menarik Lucia menuju ke ruangan lain.


-


"Kau ini datang-datang dengan orang-orang aneh. Yllgarian, Elf, Getzja, dan para Morra itu? Lalu membicarakan hal ini. Lucia, itu pengasingan namanya, dengan memberi mu wilayah mati di garis paling depan dari wilayah lawan" ujar Cornelius tampak serius setelah berada di ruangan sebelah.


"Kurasa lebih baik dibanding aku harus berada dalam penjara itu dan menjadi boneka politik banyak pihak" jawab Lucia tanpa jedah.


Cornelius terdiam. Dia paham pilihan lain yang harus diambil Lucia memang tidak lebih baik.


"Lalu kau mau apa setelah itu? Kau mau membangun rumah ditengah padas sambil menjalani sisa hidup mu?" Tanya Cornelius yang terlihat tak percaya dengan rencana konyol Lucia ingin melepas tahtanya itu.


"Benar" jawab Lucia singkat.


"Apa?! Kau jangan gila seperti itu. Aku tidak akan terima. Kau boleh mengambil salah satu dari tanah kami jika kau perlu tempat untuk tinggal. Tanah diutara Zeraza. Itu daerah pantai yang punya pemandangan yang cukup indah, bila kau mau. Cocok untuk menjalani hidup yang damai" ucap Cornelius menawarkan.


"Tidak perlu kak. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak berniat hanya untuk membangun sebuah rumah. Aku ingin membangun sebuah kota. Sebuah kerajaan bila memungkinkan" jawab Lucia seraya memegang tangan Cornelius.


"Apa teman-teman aneh mu itu mempengaruhimu dengan ide-ide gila ini? Apa yang dilakukan Jean sampai membiarkan kau bergaul dengan mereka" terdengar Cornelius tidak terima.


"Mereka orang-orang yang luar biasa kak. Dari mereka aku belajar banyak" jawab Lucia kemudian.


Cornelius tampak sudah tidak ingin mendebat Lucia. dia hanya menatap gadis itu kemudian menghelai nafas. "Baiklah kalau begitu beristirahatlah dahulu sambil menunggu ayah kembali. Inggrid sudah menyiapkan kamar untuk teman-temanmu" ucap nya kemudian.

__ADS_1


"Terima Kasih kak"


-


__ADS_2