Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
18. Pelepasan Tahta IV


__ADS_3

Dua minggu kemudian Lucia kembali bertemu dengan pamannya Sebastian untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda.


"Saya masih belum merubah niatan saya paman"


"Kenapa kau harus melakukan hal ini? Kau ingin aku dianggap tidak becus melindungi mu dihadapan mendiang kakak ku dan istrinya?"


"Maafkan saya paman" Lucia menunduk kemudian diam.


"Dan siapa yang akan menjaga mu jauh di ujung dari daratan utara Luc? Aku tidak mau ambil resiko mengenai hal tersebut" Sebastian masih belum bisa menerima keinginan Lucia.


Tampak Lucia segera mencari ide untuk mendapat persetujuan dari sang paman. Lalu tiba-tiba ia teringat akan Lily dan Val.


"Paman tak perlu kuatir, karena saya dalam perlindungan nona Lily"


"Siapa itu nona Lily?"


"Pahlawan legenda Yllgarian Sang Kilat Putih, nona Lilian" jawab Lucia cepat. Kemudian ia tersenyum karena ia berhasil menemukan pintu keluar dari masalahnya ini.


"Apa kau bilang?" Pamanya terdengar jengkel karena mengira Lucia hanya asal bicara saja.


"Selama tiga bulan terakhir ini saya bersama dengan beliau. Dan rencananya akan terus bersama dengan beliau sampai kedepannya" jelas Lucia buru-buru.


"Bagaimana bisa? Ucapanmu semakin tidak masuk akal Luc. Nona Lilian ada di selatan, di hutan Tua sekarang. Itu pun menurut laporan dari beberapa dekade yang lalu" Sebastian mengerutkan dahinya seraya menyenderkan tubuhnya kebelakang. "Dan bagaimana beliau bisa bertemu dengan mu?" Tambanya kemudian.


"Itu karena tanpa sengaja kami bertemu saat berada di perbatasan tanah Pharos. Beliau diminta Oracle untuk kembali ke daratan utara ini dengan mengemban tugas"


"Mengemban tugas? Tugas apa itu?" Kali ini wajah Sebastian sedikit berubah karena mendengar ada kata Oracle disebut-sebut.

__ADS_1


"Saya tidak tahu paman. Itu tugas nona Lilian langsung dari Oracle, saya tidak berani untuk bertanya" Lucia Berbohong. Ia melakukan itu untuk menghindarkan Aksa dan Nata dari masalah.


"Tapi selama menjalani tugas tersebut beliau bersedia untuk selalu bersama dengan saya"


"Apa membangun kota ini termasuk tugas dari Oracle?"


"Bukan paman, itu murni ide dari saya sendiri. Rencananya nona Helen juga akan meminjamkan beberapa ksatria nya untuk menjaga saya paman. Jadi paman tidak perlu kuatir tentang keselamatan saya di tanah Pharos" Lucia mencoba mati-matian meyakinkan sang paman.


"Paman bisa bertemu beliau nanti setelah beliau datang kemari, bila paman tidak percaya. Sekarang beliau sedang berada di desa Baltra untuk mengunjungi teman lamanya" tambah Lucia masih mencoba.


"Hm" terlihat sang paman menyipitkan matanya seolah curiga. Lalu setelah cukup lama terdiam akhirnya ia memutuskan, "baiklah kalau memang begitu. Aku sudah tidak bisa merubah keputusanmu. Aku akan memberi mu lima puluh prajurit untuk menjaga wilayah tersebut. Setidaknya kau akan aman dari para bandit dan hewan buas" jawabnya kemudian. "Tapi bila aku sudah bertemu nona Lilian" tambahnya lagi.


Terlihat senyum berkembang di wajah Lucia, "Terima kasih paman"


"Kau ini memang keras kepala. Sudah pergilah sana urus semuanya"


"Terima kasih paman. Saya mengundurkan diri" saut Lucia dengan gembira.


-


-


Kurang dari tiga minggu kemudian, pengurusan tanah Pharos pun selesai. Telah diputuskan bahwa Lucia akan mendapat dari kerajaan sejumlah :


50 Prajurit


80 Budak

__ADS_1


Sebuah Kastil di wilayah pesisir barat,


Bersama dengan kastil tersebut juga ada;


20 Pelayan


15 Pekerja


Kemudian 2.000.000 keping emas,


Dan tanah Pharos.


Bagi para bangsawan hadiah itu terlalu kecil untuk ditukar dengan posisi seorang ratu. Dan banyak keluarga bangsawan menyayangkan dan menilai buruk terhadap Lucia karena keputusannya itu. Tapi Lucia tidak memperdulikannya.


-


Dan seminggu setelah itu pelepasan tahtanya, dan pelantikan pamannya sebagai seorang raja sah dilakukan.


Prosesi pelepasan tahta dilakukan di depan alun-alun di depan istana kerajaan. Di hadiri hampir seluruh orang yang ada di kotaraja. Mulai dari para bangsawan yang duduk di balkon lantai dua yang mengelilingi alun-alun tersebut. Kemudian para prajurit dan ksatria yang berbaris di alun-alunnya. Sampai rakyat yang berdiri tepat dibelakang barisan prajurit dan ksatria tadi.


Sedang Lucia dan sang raja bersama dengan kepala pendeta dari kuil Bintang Jatuh, berdiri di balkon lantai tiga, tepat di depan alun-alun istana. Tampak Jean dan Caspian berdiri sedikit lebih jauh dibelakang Lucia. Dan Seifer dan Edea berdiri sedikit lebih jauh di belakang Sebastian. Sisanya beberapa prajurit istana yang berdiri menjaga pintu dan sudut balkon.


Mereka melakukan prosesi pelepasan mahkota dari Lucia dan menyerahkannya ke sang raja yang dipandu oleh pendeta kuil Bintang Jatuh.


Mahkota ini bukan mahkota yang biasa dipakai oleh Sebastian selama menjabat sebagai raja pengganti. Mahkota ini terlihat lebih besar. Dengan lebarnya yang lebih dari empat jari dijajar. Terbuat dari emas murni yang memiliki bentuk meruncing di delapan tempat secara simetris. Di setiap bagian yang meruncing tertatah berlian yang berkilauan.


Dan setelah sang raja menerima mahkota tersebut, segera riuh sorak sorai dan tepuk tangan terdengar menggema diseluruh sudut alun-alun tersebut.

__ADS_1


Lucia perlahan melangkah mundur menjauhi balkon saat sang raja baru saja memulai pidatonya. Lucia merasa lega. Seolah bebannya selama ini terangkat sudah. Ia menatap kearah Jean dan Caspian. Kemudian tersenyum.


-


__ADS_2