
Begitu sampai di depan pintu rumah mewah itu kereta mereka disambut oleh Lucia, Jean, dan Orland. Serta beberapa pelayan rumah itu.
"Wah, putri sekarang anda jadi terlihat seperti benar-benar seorang putri bangsawan" ujar Aksa setelah mereka keluar dari kereta kuda.
"Kau masih punya mulut yang tidak bisa diatur bocah" saut Jean yang ada disebelah Lucia.
"Bagaimana perjalanan kalian?" Lucia menyela sebelum terjadi adu mulut antara Aksa dan Jean.
"Aku lelah sekali" jawab Nata kemudian.
"Kalian bisa beristirahatlah dan mandi terlebih dahulu sebelum kita mulai makan malamnya"
"Apakah anda punya tempat air besar untuk berendam tuan putri?" Tanya Nata kemudian.
"Juga air hangat?" Kali ini Aksa yang menimpali.
"Ada" jawab Lucia dengan senyum.
"Hei bocah jangan mentang-mentang kau" terdengar Jean mulai sewot.
"Putri saja tidak keberatan, kenapa kamu yang sewot Jean? Kau kangen dengan kami ya?" Balas Aksa
"Sudah sana, jangan berharap kalian"
-
"Jadi bagaimana prosesi penurunan tahta anda, putri?" Tanya Nata saat mereka sudah duduk di meja makan untuk makan malam.
"Biasa saja, berjalan dengan baik dua minggu yang lalu. Jadi saat ini pamanku sudah resmi menjadi raja kerajaan ini" jelas Lucia yang dilanjutkan dengan pertanyaan, "lalu bagaimana hasilnya setelah kalian memeriksa tanah Pharos?"
"Saya sudah buatkan rencananya. Kita akan bahas setelah makan saja. Karena panjang sekali" jawab Nata seraya mulai menyuapkan potongan brokoli dalam mulutnya.
"Baiklah"
"Apakah koki yang memasak makanan ini akan ikut bersama kita? Makanannya enak sekali!" Celetuk Aksa kemudian.
Sementara mereka makan bersama, para pelayan dan pekerja di rumah itu tampak mulai kasak-kusuk membicarakan dua pemuda Morra yang bertingkah terlalu santai kepada majikan mereka.
__ADS_1
-
"Jadi begitu keseluruhan ceritanya" tutup Nata setelah selesai menceritakan semuanya kepada Lucia setelah makan malam tadi di ruang kerja di rumah itu.
"Tak ku sangka tuan Couran juga akan ikut membantu kita. Sampai ia mengajak teman-temannya"
"Kemudian ini perkiraan dana dan hal-hal yang kita butuhkan sebelum kita mulai" Nata mengeluarkan gulungan kertas dan meletakan nya diatas meja.
Orland tanpak mengambilnya lebih dahulu sebelum Lucia sempat mengambilnya.
"Oh iya, kita menggunakan logam Dracz untuk membangun peralatan dan segala sarana yang kita butuhkan"
"Logam yang susah di olah itu?" Terdengar Cornelius bertanya.
"Benar, tapi karena tambang-tambang itu banyaknya di daerah utara di dekat desa Tirgis, maka saya menyarankan tuan putri menghubungi putri Lugwin. Eh, maksud ku ratu Lugwin untuk melakukan kerjasama dagang dengan nya. Karena untuk saat ini trio pemburu hanya mampu menyediakan dalam sekala tambang perorangan. Dan kita memerlukan logam itu dalam sekala banyak"
"Hm, akan ku hubungi Lugwin setelah ini. Ini juga akan menguntungkan bagi kerajaannya yang baru mencoba pulih dari peperangan kemarin"
"Karena memang itu tujuannya. Ya kan Nat?"
"Bila kita punya lebih banyak dari itu, ya jauh lebih baik" saut Aksa cepat.
"Benar, itu adalah batas masuk akal yang kita butuhkan untuk mulai membangun sarana di tanah itu. Dan seharusnya setelah semuanya berjalan kita sudah bisa melanjutkan pembangunan dengan dana kita sendiri"
"Apa kau berniat menarik pajak?" Tanya Orland
"Apakah benar begitu Nat?" Yang langsung ditimpal oleh Lucia dengan wajah tidak percaya.
"Memang kenapa dengan pajak tuan putri? Anda alergi dengan itu?" Celetuk Aksa yang langsung dilibas Jean dengan tatapan sinis dan suara mendesis.
"Benar. Pajak adalah sebuah sistem yang baik bila digunakan dengan tepat" jawab Nata.
"Tapi karena sepertinya putri kita alergi dengan pajak, kau harus mengganti namanya Nat"
"Baiklah. Bagaimana kalau Retrebusi? Kontribusi? Atau Dana kepedulian kasih?"
"Berhentilah kalian bercanda, aku serius"
__ADS_1
"Saya juga serius putri. Sekarang ini bayangan anda, pajak akan membebani rakyat dan membuat bangsawan kaya raya, begitu kan?"
"Padahal dia nya sendiri bangsawan, malah ga mau jadi kaya"
"Kau bisa menjaga mulut mu itu tidak?!"
"Jadi begini. Pajak akan digunakan untuk dana pemeliharaan sarana agar warga bisa terus menggunakannya. Dan lalu pajak tidak dipungut dengan besar yang sama pada setiap warga. Pajak akan diambil seperbagian dari penghasilan mereka. Itu pun dengan batasan masuk akal penghasilan mereka. Jadi warga dengan penghasilan dibawah batas tidak akan dipungut pajak" jelas Nata kemudian.
"Dan juga saat ada yang melakukan penjualan diwilayah kita, maka setiap pedagang akan ditarik pajak sepersekian dari hasil penjualannya. Yah mungkin disini juga sudah melakukan hal tersebut, hanya saja semua pajak masuk dalam kas kerajaan atau kas bangsawan daerah"
"Jadi kita hanya perlu melakukan pengaturan hasil pajak itu dengan benar?"
"Seperti itu"
"Kemudian untuk para pekerja. Bagaimana rencanamu untuk membiayai para pekerja dengan dana yang hanya sebanyak ini?" Oraland bertanya lagi.
"Kan ada budak" sela Aksa sekali lagi. Yang membuat raut wajah Lucia kembali berubah dengan cepat.
"Saya tau pikiran anda tuan putri, tapi yang dikatakan Aksa itu memang benar, kita akan menggunakan budak yang tidak perlu bayaran"
"Utusan dewa tidak pernah salah"
"Tapi," ucapan Lucia tertahan. Ia mencoba menahan diri dan menanti Nata untuk menjelaskannya. Karena ia tahu pemuda itu pasti memiliki rencana dan maksud yang lain.
"Jadi begini. Ini adalah penawaranku untuk mendapatkan banyak pekerja namun dengan biaya yang sedikit. Yaitu dengan memberi semua orang yang ikut bekerja sebuah tanah untuk mereka tinggali dan mereka garap. Juga dengan begitu kita akan memiliki tambahan penduduk untuk mengisi tanah itu"
Terlihat wajah Lucia mulai kembali tersenyum.
"Itu tidak menutup kemungkinan untuk orang luar yang bukan budak. Namun akan sulit bagi mereka yang bukan budak untuk percaya. Maka kita akan gunakan budak yang tidak bisa menolak itu sebagai contoh. Dan setelah banyak orang yang melihat para budak itu sudah menjadi orang bebas dan memiliki tanah untuk digarap pasti akan banyak orang-orang yang akan ikut"
"Hm, ide yang menarik. Jadi karena itu kau hanya merencanakan dengan dana sebesar ini" ucap Orland yang tampaknya sudah puas.
"Tapi tetap diluar perhitungan itu, kita perlu untuk mengumpulkan sumber daya manusia yang mampu dan ahli untuk bisa menangani kendala-kendala yang saya tulis di bagian bawah gulungan tersebut. Bila kita bisa mengajaknya ikut serta lebih baik. Bila tidak, kita bisa menyewa jasa dan tenaganya saja"
"Ya, aku sudah melakukan hal itu saat berada di kotaraja ini. Aku sudah memiliki beberapa kandidat"
"Seperti yang diharapkan dari seorang putri mahkota, eh sudah bukan ya?" Ucap Aksa tiba-tiba dengan lelucon yang membuat Jean segera bereaksi keras.
__ADS_1