
Lalu kemudian siang harinya mereka kembali di kediaman Lucia. Namun tidak bersama Aksa. Pemuda itu ditemani Orland tinggal di perpustakaan istana.
Sementara ditempat Lucia sudah menanti tujuh orang yang belum dikenal oleh Nata dan Lily.
"Perkenalkan, ini Nata dan nona Lily. Ada satu lagi Aksa namanya, tapi sekarang dia ada di perpustakaan istana bersama paman Orland" Lucia membuka perbincangan.
"Senang bisa bertemu dengan anda nona Lily. Perkenalkan nama saya Amithy. Saya bibi Lucia, kakak dari ibunya. Terima kasih karena telah menjaga Lucia sampai sekarang" ucap Amithy seraya membungkuk anggun memberi salam kepada Lily. Kerudung berendanya melambai pelan.
"Saya Parpera. Saya pengawal nyonya Amithy. Beruntung dapat mengenal anda nona Lily" ucap seorang gadis Morra berambut sebahu di kuncir kuda, dengan pakaian seperti seorang penyihir namun tak terlihat sedang membawa tongkat, berdiri disamping Amithy.
"Senang berkenalan dengan anda nyonya Amithy, nona Parpera" jawab Lily dengan sopan.
"Perkenalkan saya Helena Silver, kapten dari ksatria bangsawan Silver Rose" kali ini Helen yang mengenalakan diri. Rambutnya yang berombak dibiarkan tergerai cantik sepanjang punggung.
"oh, keluarga Silver. Kebanggaan bisa mengenal keturunan Jendral Lunet" ucap Lily seraya membungkuk kecil.
"Kebanggaan itu milik saya nona Lillian" segera Helen membalas dengan ganti membungkuk kecil dengan tangan kanan diangkat ke dada.
"Tolong panggil saya Lily saja sekarang"
"Saya mengerti nona Lily"
"Perkenalkan saya Madron Deveruex. Dan ini putra saya, Constine" kali ini Madron yang mengenalkan diri sekaligus mengenalkan putranya kepada Lily.
"Bangga bisa mengenal anda nona Lily" ucap pemuda Morra kurus tinggi dengan wajah lancip seperti Madron, membungkuk sopan.
"Senang bisa mengenal keluarga Devereux"
"Perkenalkan saya Dirk Macay. Kehormatan bisa berkenalan dengan anda nona Lily" Dirk membungkuk kecil mengenalkan diri.
"Sama-sama tuan Dirk, saya juga merasa terhormat bisa mengenal anda"
__ADS_1
"Perkenalkan saya Caspian Ortega.Terima kasih sudah menjaga putri Lucia selama ini" kemudian giliran Caspian memperkenalkan diri.
"Oh, satu lagi keluarga pahlawan, senang bisa berkenalan dengan keturunan Jendral besar Aslan. Tak perlu merasa sungkan tuan Caspian"
"Saya yang merasa sangat senang bisa bertemu dengan legenda perang seperti anda nona Lily" jawab Caspian dengan membungkuk kecil.
"Baiklah kalau begitu, sekarang ini saya mengundang anda sekalian adalah untuk menjelaskan hal yang akan saya kerjakan mengenai tanah Pharos dan kemudian meminta bantuan kepada anda sekalian" lalu Lucia memulai topik inti pertemuan itu.
"Baiklah kami mendengarkan" saut Amithy.
"Jadi temanku ini yang akan menjelaskannya pada kalian semua. Silahkan Nat" ucap Lucia menyerahkan ke Nata.
"Terima kasih putri. Salam kenal nama saya Nata. Kali ini saya akan mencoba menjelaskan bagaimana kami akan membangun tanah Pharos dan kemungkinan kedepannya" Nata menjedah, "kami tidak ingin meminta bantuan anda sekalian tanpa pamrih. Sebagai gantinya kami akan memberi imbalan. Dalam bentuk apapun yang memungkinkan untuk kita sepakati bersama"
"Apa anda bermaksud untuk menganggap bantuan kami adalah sebuah utang? Atau bentuk dari kerjasama dagang?"
"Pertanyaan yang bagus tuan Dirk, tidak salah anda disebut-sebut sebagai pedagang garmen tersukses di kotaraja ini. Pertanyaan anda benar-benar tajam" Nata menjedah sebentar.
"Jadi itu tergantung dengan kesepakatan kita nanti. Apakah bantuan itu ingin dianggap sebagai hutang lengkap dengan bunganya, atau akan kita anggap sebagai bentuk dari kerjasama dagang dengan pembagian hasil atau yang lainnya. Tapi yang terpenting adalah biarkan saya menjelaskan semuanya terlebih dahulu. Setelah itu tinggal bagaimana anda sekalian memutuskannya"
"Pada dasarnya tanah Pharos itu adalah tanah yang sangat strategis, mungkin seperti yang sudah anda sekalian ketahui. Namun sayangnya adalah tanah itu punya masalah dalam kondisi medannya. Jadi rencananya kami akan membangun sebuah alat untuk mempermudahkan kita melewatinya. Dengan begitu sisa masalah akan jadi mudah diselesaikan" jelas Nata menjedah.
"Anda pikir hanya semudah itu?"
"Tidak, maka dari itu kami memerlukan bantuan" jawab Nata. "Bantuan yang masuk akal dan memiliki perhitungan yang jelas" tambahnya kemudian dengan cepat ketika melihat reaksi wajah Madron dan Dirk yang tampak ingin mendebatnya.
"Teruskan?" Kali ini Amithy yang berucap.
"Kami memerlukan biaya untuk membeli material seperti besi, tembaga, kayu, dan material lain untuk membangun. Dan juga pekerja yang ahli dibidangnya" lanjut Nata.
"Dan kami sanggup mengembalikan biaya itu tadi dalam waktu dua puluh bulan" tambahnya kemudian.
__ADS_1
"Yang benar saja?" Ruangan mulai riuh.
"Karena saya bisa menjamin tanah itu akan menjadi jalur perdagangan antara wilayah utara dan selatan dalam waktu dua puluh bulan dari saat perkerjaan dimulai" jawab Nata dengan percaya diri.
"Perkataan anda terdengar tidak masuk akal tuan Nata. Apa dasar yang membuat anda yakin dengan hal tersebut?" Akhirnya Madron pun tidak sabar dan angkat bicara.
"Memang bila hanya kata-kata saja tidak akan mudah untuk di percaya. Maka dari itu saya sudah membawa sesuatu untuk membuat anda sekalian setidaknya akan merasa sedikit optimis dengan ucapan saja tadi"
Kemudian Nata mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas nya, yang sudah ia siapkan sebelumnya. Tampak puluhan batangan logam dengan berbagai jenis ukuran, dan sebuah alat berbentuk bola besi aneh seukuran kepala manusia dewasa terletak diatas sebuah kubus besi yang memiliki empat roda kecil di setiap sisinya.
Dengan bantuan dari Lucia, Jean, Lily, dan Cornelius, Nata mulai merakit batang-batang logam itu menjadi seperti sebuah miniatur kerangka jembatan memanjang dalam ruangan tersebut.
Miniatur kerangka jembatan itu hanya setinggi sandaran kursi. Dan meski tidak terlalu lurus, namun memanjang menyeberangi ruangan dengan melewati perabot yang ada di ruangan tersebut. Seperti sofa, kursi, meja.
Kaki-kaki jembatan pun disesuaikan saat melewati perabotan tersebut agar tinggi jembatan itu tidak banyak berubah.
"Jadi seperti yang anda sekalian lihat, ini adalah bentuk sederhana dari alat yang akan saya gunakan untuk melewati tebing dan jurang yang ada ditanah Pharos" ucap Nata yang mengibaratkan perabotan dalam ruangan itu sebagai bentuk dari tebing dan jurang tanah Pharos.
"Saya paham maksud anda tuan Nata, dengan membuat jembatan lurus menyeberang tanah Pharos makan perjalanan akan jauh lebih mudah dan lebih cepat karena tidak perlu turun naik atau memutari lembah dan tebing" Dirk menyela.
"Benar sekali tuan Dirk"
"Tapi tetap saja membangun sebuah jembatan sepanjang tanah tersebut dengan kondisi yang sangat sulit seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan dalam waktu satu atau dua tahun. Kita butuh puluhan tahun" ucap Dirk lagi.
"Belum lagi material yang dibutuhkan. Juga pekerja" tambah Madron kali ini.
"Saya mengerti tuan-tuan. Tapi yang pertama ingin saya sampaikan adalah kami tidak ingin membangun sebuah jembatan seperti jembatan batu atau jembatan kayu yang ada di kotaraja dan kota-kota lainnya. Yang ingin kami bangun adalah kerangka jembatan seperti ini. Dengan begitu kita tak perlu material lain seperti saat kita akan membangun jembatan batu. Hal itu akan memotong biaya material kita.
"Kedua, dengan minimnya bentuk bangunan dan konstruksi yang tidak harus menunggu kering atau harus membuat tumpukan batu yang rumit, maka waktu yang kita butuhkan untuk membangunnya juga akan berkurang" Nata menjedah, saat terdengar Dirk menyela.
"Lalu apa gunanya membuat kerangka jembatan seperti itu bila tidak bisa dilewati oleh kereta kuda? Anda berniat membuat semua orang melewati nya dengan berjalan kaki?"
__ADS_1
"Bukan tuan Dirk, jembatan ini memang bukan untuk kereta kuda, apa lagi untuk pejalan kaki. Jembatan ini adalah jalur untuk alat yang akan kami buat" tampak Nata sedang mempersiapkan sesuatu, "yang disebut kereta uap" tambahnya kemudian seraya menunjukan kubus beroda dengan bola besi tadi. Yang terpasang tepat diatas miniatur kerangka jembatan itu.
-