
\=Berhubung aku ga tahu kenapa tiba-tiba Episode 29 nya muncul hilang muncul hilang terus. Aku juga ga tahu kalau di laporin harus nunggu berapa lama lagi. Karena di menu author episode itu sudah ga ada. Jadi supaya cepet. Episode tersebut aku tulis ulang gabung sama Episode yang ini. Jadi maaf kalau Episode kali ini panjang nyekrolnya.
Sudah begitu saja laporan dari aku. Terima kasih sebelumnya. Selamat membaca. :)
\=
-Part 1-
Dua hari kemudian di kediaman Lucia di kotaraja. Tampak Caspian yang baru saja kembali dari hutan utara, setelah menyusul Ivvone. Dari wajahnya sudah mengisaratkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Caspian langsung menuju ke kediaman Lucia begitu ia tiba di kotaraja ini. Dirumah itu sudah ada Jean, Helen, Lily, Lucia, Aksa, dan Nata. Tampang letihnya akibat berkuda sepanjang malam itu menambah kesan buruk terhadap kabar yang akan ia sampaikan.
"Jadi bagaimana?" Tanya Jean bertanya setelah Caspian selesai meneguk minuman dari gelasnya.
"Kabar buruk" ucapan pertama Caspian itu tidak mengejutkan semua orang, "pria yang menyerang hutan utara itu tengah mengamuk saat aku tiba ditempat itu. Dan kemudian sama seperti pria berjubah yang menghadang kita, dia menghancurkan diri dan separuh pemukiman Mugger tersebut" jelas Caspian yang menambah aura dalam ruangan itu semakin berat.
Lucia mengernyitkan dahi merasa ngeri mendengarnya. Meski dia tahu bahwa perbuatan pria itu tidak benar, tapi melihat dari pria yang menyerangnya, ada kemungkinan pria di pemukiman Mugger itu juga telah diancam. Lucia jadi merasa iba pada pria tersebut.
"Lalu apa yang terjadi?" Kali ini Helen yang bertanya.
"Gadis Elf itu mengambil batu Arcane miliknya dan pergi. Aku juga tidak bisa berlama-lama ditempat itu. Keadaan disana sangat kacau" jelas Caspian.
"Jadi apa yang akan kau laporkan pada yang mulia nanti?" Tanya Jean kemudian.
"Kurasa kita harus merahasiakan hal ini terlebih dahulu. Aku akan menyelidikinya lebih jauh sebelum kita laporkan pada yang mulia. Karena ada nama tuan Grevier disebut-sebut. Pasti ini bukan hal yang sederhana" Caspian merasa ini adalah sebuah siasat. Jadi ia tidak boleh jatuh pada rencana seseorang yang mungkin telah menyiapkan jebakan melalui issu tersebut. Ia harus berhati-hati.
-
Dua hari kemudian Lucia segera dipanggil oleh sang raja begitu mendengar laporan dari Caspian mengenai apa yang terjadi di jalan lereng bukit Karas.
Dan hasil dari semua itu, Caspian ditugaskan secara langsung oleh sang raja untuk menjadi pengawal Lucia selama masalah ini belum selesai.
-
Dan sehari setelahnya raja memberi perintah penyerbuan ke pemukiman Yllgarian di hutan utara.
"Bagaimana bisa paman menyerang pemukiman Yllgarian tersebut? Bukan mereka yang salah" tanya Lucia saat Caspian datang ke kediamananya.
"Aku juga sudah memberikan pendapat bahwa bukan Yllgarian yang melakukannya" jawab Caspian menelaskan. "Tapi karena yang mulia melihat Mugger sebagai Yllgarian yang menghadang kita. Dan ditambah beberapa Dux yang bersaksi bahwa Yllgarian sering membuat masalah di wilayah utara, jadilah perintah itu dikeluarkan" tutupnya kemudian
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan, Cas?" Terlihat pandangan Lucia menerawang. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak Luc, apa lagi kau. Sekarang kau bukan siapa-siapa di kerajaan ini" jawab Caspian segera.
Lucia terdiam mendengar ucapan Caspian barusan. Ia sadar akan hal tersebut.
"Sekarang yang perlu kau lakukan adalah fokus pada apa yang akan kau kerjakan setelah ini. Bukankah kau percaya hal itu bisa membantu banyak orang?" Caspian menambahi.
Lucia tersenyum, "Kurasa kau benar Cas, aku akan melakukannya" jawabnya kemudian.
-
"Mungkin ada seseorang yang sedang memulai pergerakan. Jadi kita harus segera meninggalkan kotaraja" ujar Nata saat kemudian ia, Aksa, Lily, Licia, Orland, dan Cornelius mengadakan perbincangan tiga hari setelah perintah penyerangan hutan utara dikeluarkan.
"Aku setuju" ucap Orland. Itu karena ia yang sering berada di dalam istana sudah mulai merasakan tekanan yang tidak nyaman.
"Aku juga setuju, lagian hal-hal yang kita butuhkan sudah siap semua kan?" Ujar Cornelius mendukung ayahnya.
"Baiklah kalau begitu, kapan waktu paling cepat kita bisa meninggalkan kotaraja, paman?" Lucia berucap.
"Besok lusa kita sudah bisa meninggalkan kotaraja"
"Bila memungkinkan jangan melakukan perjalan yang terlalu mencolok tuan Orland. Bangsawan yang lain lebih baik melakukan perjalanan terpisah menuju kediaman anda" Nata menyarankan.
"Iya, kurasa itu memang ide yang bagus. Aku akan menyampaikan kepada yang lain"
-
"Kau lihat sendiri bukan, itu adalah kekuatan yang harus kita hadapi di dunia ini, Nat" ucap Aksa saat mereka sedang berbincang dalam kamar mereka lewat tengah malam.
"Benar, dan kekuatan itu berasal hanya dari satu orang saja. Kita harus segera membuat pertahanan untuk menghadapinya" ucap Nata seraya menatap keluar jendela. Bulan tampak purnama di langit malam.
"Kau ingin membuat senjata?" Tanya Aksa yang sedang bersila diatas tempat tidurnya.
"Benar"
"Bagaimana dengan Lucia?"
"Entah dia suka atau tidak, kita harus tetap membuatnya. Itu juga demi kebaikan nya sendiri"
"Apa kau ingin Val membuatkan senjata untuk kita? Yang setara dengan kristal Arcane itu?"
"Tidak. Aku sudah berjanji kepada Val untuk tidak meminta dibuatkan senjata. Lagian kita bisa buat sendiri kan?"
__ADS_1
"Apa kau ingin membuat senjata modern?"
"Memang apa lagi yang kita bisa selain hal tersebut. Dan lagi bila suatu saat dibutuhkan, kita yang tidak memiliki banyak prajurit dan penyihir itu akan jadi sebuah masalah. Masalah besar"
"Apa kau merasa ada yang sedang terjadi diluar sana Nat?"
"Dari yang ku amati selama berada disini. Kurasa banyak kejadian yang seperti sedang di gerakan oleh seseorang. Tapi bisa saja aku salah" Nata berjalan menuju ke tempat tidurnya di seberang ruangan. Berhadap-hadapan dengan tempat tidur Aksa.
"Tapi tetap saja dengan banyaknya kerajaan-kerajaan dalam satu benua seperti ini, kecenderungan terjadi perang sangatlah besar. Setidaknya sampai semua negara di benua ini menjadi satu, baik itu secara kekuasaan atau secara sistem. Maka dari itu kita perlu lebih Advance dari yang lain secepat mungkin"
"Kau ingin merevolusi dunia ini, Nat?"
"Kita lihat saja nanti, apakah dunia ini perlu kita revolusi atau tidak" jawab Nata kemudian.
-
-Part 2-
Pagi esoknya mereka mulai berkemas dan segera menuju kekediaman keluarga Bartholomew di selatan.
Luna, Pietro, dan rombongan Lumier tampaknya sudah berada disana sejak dua hari yang lalu. Cornelius mendapat kabar. Namun Cornelius sudah menulis surat kepada pengurus kastilnya tepat setelah Lucia tiba dikotaraja seminggu yang lalu, untuk menerima dan menjamu beberapa tamu yang akan datang ke sana untuk menunggu dirinya pulang.
Lucia, Aksa, Nata, Lily, Jean, Orland, Cornelius, dan Caspian mau tak mau berangkat dengan rombongan besar. Karena mereka harus membawa banyak buruh dan pelayan. Belum lagi prajurit yang diberikan oleh sang raja secara langsung.
Namun untuk menghindari lebih banyak perhatian, mereka berangkat saat matahari belum tampak di langit timur.
-
Empat hari kemudian akhirnya mereka tiba di kastil Cornelius. Begitu sampai di depan gerbang kastil, mereka langsung di sambut oleh rombongan pedagang Azure. Itu karena keluarga Lumire mendirikan tenda tepat di dekat gerbang tersebut.
Luna juga menginap bersama Lumire. Bukan karena pengurus kastil tidak mengijinkan mereka untuk menginap didalam. Melainkan karena mereka yang terbiasa bermalam di alam, merasa lebih nyaman mendirikan tenda di luar kastil. Hanya Pietro yang menginap di dalam kasti.
Namun demikian mereka tetap dijamu sebagai tamu. Tiap pagi, siang, dan malam para pelayan selalu mengantarkan makanan untuk mereka semua. Bersama Pietro mereka makan bersama di depan tenda rombongan Lumire.
Tampak Andele melambai-lambai girang kearah Lily bersama dua saudara sebayanya, saat rombongan Lucia mendekat.
Sedang orang-orang dewasa tampak terkejut dengan banyaknya jumlah rombongan yang mereka dibawa.
Luna terlihat memiringkan kepalanya melihat puluhan kereta berbaris kebelakang. "Mereka benar-benar serius ingin migrasi" ucap gadis Getzja itu seraya menggeleng pelan.
-
"Jadi apa yang terjadi tuan putri? Saya mendengar dari nona Luna, anda diserang seseorang?" Tanya Lumire saat malam harinya rombongan Lucia makan bersama di perkemahan Lumire. Kecuali Orland dan Cornelius.
"Syukurlah kalau begitu"
"Oh iya, tuan Lumire?" Nata kemudian menyela.
"Ya, tuan Nata?" Tanya Lumire.
"Apa diperjalanan kita dari sini menuju Pharos, melewati kota dan desa yang memiliki barang-barang khas untuk sekaligus kita bawa?"
Mendengar pertanyaan Nata itu, Lumire tampak menatap keatas seraya mencoba untuk mengingat-ingat. "Kurasa kita akan melewati beberapa kota dan desa. Tapi tidak ada barang yang terlalu khas di tempat-tempat tersebut" jawabnya kemudian.
"Mungkin kita bisa mulai mengumpulkan hewan-hewan saat kita melewati hutan dan tanah liar?" Kali ini Selene yang memberi masukan.
"Wah, ide yang bagus tuan Selene. Tidak salah anda mendapatkan tugas untuk mengurus masalah hewan ini" saut Nata cepat.
"Tuan Nata bisa saja, itu hanya karena saya yang egois ini hanya mementingkan hal kesukaan saya saja. Yaitu binatang" jawab Selene yang langsung di iya kan oleh Lumire. Dan semua pun tertawa.
-
"Lun, aku ingin kau membantuku" pinta Caspian saat ia dan Luna sedang berbincang berdua setelah selesai makan malam.
"Apa?" Tanya Luna kemudian.
"Kau dengar tentang penyerangan itu kan?" Tanya Capsian yang hanya dijawab Luna dengan anggukan pendek. "Aku ingin kau mencari tahu tentang sesuatu. Tapi ini rahasia"
"Rahasia?" Tampak Luna mulai tertarik.
"Saat itu muncul gadis Aeron yang bertujuan untuk mengambil batu Arcane yang katanya dicuri darinya, namun kemudian gadis itu menyebut nama tuan Grevier. Nama itu didengar dari orang yang menculiknya sebelum itu" jelas Caspian panjang lebar.
"Jadi apa kau mengira penyerangan itu dilakukan oleh orang dalam?"
"Firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengan hal ini. Seminggu yang lalu yang mulia memerintahkan penyerangan ke hutan utara, ketempat para Yllgarian"
"Iya, aku juga mendengarnya. Apakah yang mulia melakukan itu tanpa mengetahui informasi ini?"
"Benar, kami belum melaporkan apapun tentang hal ini. Masih terlalu buram. Kita masih tidak tau siapa lawan dan kawan"
"Jadi kau membohongi yang mulia?" Terdengar Luna kembali tertarik.
"Benar. Kurasa ada orang berpengaruh yang bergerak dibelakannya. Tapi aku belum tahu pasti, karena semua bangsawan sudah mulai bergerak. Semenjak Lucia menyerahkan tahtanya ke yang mulia"
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan coba mencari informasi tertang hal tersebut"
"Terima kasih"
-
Dua hari kemudian lebih banyak rombongan datang ke kastil tersebut. Sampai beberapa tenda dibuat disebelah tenda rombongan Lumire.
Tenda untuk para Ksatria Silver Rose, tenda untuk penyihir asosiasi, dan beberapa tenda untuk pelayan tiga kepala bangsawan. Amithy, Madron, dan Dirk.
Pietro terkejut mendapati rekan usahanya, Dirk dan Madron datang ke tempat itu. Kemudian Dirk tampak meyakinkan Pietro untuk bergabung bersama mereka dengan pembahasan akan membuat kelompok dagang dikota Pharos.
-
Malam harinya Orland, Amithy, Lucia, Nata, dan Aksa melakukan pertemuan untuk persiapan terakhir menuju ke selatan. Ke tanah Pharos.
"Jadi sebelum kita kembali ke tanah Pharos, kita akan mengkaji ulang segala hal yang sudah kita punya" ucap Nata membuka pertemuan tersebut.
"Baiklah saya akan bacakan catatan bagian saya" ujar Orland kemudian.
"Silahkan tuan" ucap Nata seraya menyiapkan pena tinta dan gulingan kertas.
"Pertama kita punya 50 prajurit, 80 budak, 20 pelayan, 18 pelayan bangsawan, 15 pekerja kastil, 5 pegawai dapur, 8 kerta kuda, 25 kuda penarik kereta, perhiasan senilai 20 ribu koin perak, dan 2 ribu koin emas"
"Baiklah, selanjutnya" tampak Nata selesai menulis.
Amithy tampak berdeham pelan sebelum mulai berucap, "baiklah aku akan bacakan catatan ku"
"Silahkan nyonya Amithy"
"Kita punya 20 buruh bangunan, 15 penyihir dari asosiasi, 8 penjahit dan penenun dari kelompok dagang Dirk, dan material yang akan diantar secara bertahap setelah ini langsung menuju tanah Pharos"
"Baiklah. Terima kasih nyonya Amithy" ujar Nata kemudian.
"Apakah ada yang kurang Nat?" Tanya Lucia kemudian.
"Kurasa tidak. Sama dengan daftar ku sebelumnya. Untuk nona Luna, barang yang ku pesan butuh waktu untuk mengumpulannya. Mungkin sekitar dua sampai tiga bulan lagi" jawab Nata, "Baiklah kalau begitu. Kita sudah siap menuju tanah Pharos" tambahnya kemudian.
"Berarti kita sudah bisa berangkat besok pagi" ucap Lucia yang sekaligus perintah kepada yang lain untuk segera bersiap.
-
Dan esok paginya rombongan besar Lucia berbondong-bondong berjalan menuju ke selatan menuju tanah Pharos. Ada lebih dari 25 kereta kuda dan ratusan orang berjalan dan berkuda dalam rombongan tersebut.
Yang terdiri dari :
- 50 Prajurit.
- 80 Budak.
- 38 Pelayan.
- 15 Pekerja kastil.
- 5 Pekerja dapur.
- 20 Buruh Bangunan.
- 15 Penyihir.
- 8 Penjahit dan penenun.
- 20 Ksatria Silver Rose.
- Rombongan Orland.
- Rombongan Amithy.
- Rombongan Madron.
- Rombongan Dirk.
- Rombongan Lumire.
- Luna.
- Pietro.
- Caspian.
- Rombongan Aksa, Nata, Lily, Jean, dan Lucia.
Arc Kedua Selesai.
__ADS_1
---iii---