
Lucia, Nata, dan Aksa dibopong oleh orang-orang berjubah tadi melompati bebatuan dan menghindari tanah yang jatuh kebawah. Alhasil meskipun mereka juga ikut jatuh kebawah, namun mereka tidak mengalami luka yang berarti. Sama seperti Lily.
Dan begitu Lucia sudah berdiri ditempat yang aman, 8 orang berjubah tadi lenyap begitu saja bagai ditelan bumi.
Jean, Caspian, Helen, dan pria berjubah merah itu pun berhasil sampai kebawah tanpa tertimbun tanah, meski mereka mengalami luka karena tertimpa bebatuan dan batang pohon yang ikut jatuh.
Aksa dan Nata segera jatuh bersimpuh setelahnya. Mereka berdua sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri. Melihat sekeliling mereka, sangat beruntung sekali mereka bisa selamat dari semua itu.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Lily kemudian menghampiri mereka bertiga.
"Kami selamat tapi tidak baik-baik saja" jawab Nata seperti hendak menangis.
"Tapi Epoc Mk 3.0 sudah hancur sekarang" ucap Aksa yang juga seperti ingin menangis.
"Apa itu Epoc Mk 3.0?"
"Itu nama kereta kuda kita"
Lily hanya menghela nafas panjang kemudian tersenyum.
Sementara Lucia masih tetap berdiri meski kakinya terlihat bergetar samar. Ia menyandar pada dinding tebing. Belati yang ada dalam genggamannya tadi belum juga lepas.
-
__ADS_1
Helen dan sisa ksatrianya yang selamat mencoba mencari sisa anggota mereka yang masih tertimbun. Dan juga membantu para Mugger yang ikut jatuh bersama longsor tersebut.
Pria berjubah merah tadi di sandarkan di sebuah pohon tak jauh dari tempat mereka jatuh. Tubuhnya sudah lemas akibat banyak kehilangan darah dan karena sudah kehabisan stamina. Caspian dan Jean tampak menjaga dan mencoba mengorek informasi darinya.
Lucia, Nata, Aksa, dan Lily berada tak jauh dari tempat mereka. Di tempat landai yang ditumbuhi rerumput lebat. Aksa dan Nata merebahkan tubuh mereka diatas rumput tersebut. Sementara Lucia duduk dan terlihat memperhatikan sosok pria berjubah itu dari kejauhan dengan tatapan penasaran sekaligus rasa sedih.
"Kenapa pria itu ingin membunuhku?" Ujar Lucia lirih. "Kenapa dia sangat membeciku? Apa salahku?"
Lily kemudian mendekat dan membelai pelan punggung Lucia tanpa berkata apapun.
-
"Bagaimana dia bisa tahu bahwa putri berada ditempat ini. Bukannya tidak ada yang tahu kalian pergi ke kota Zeraza?" Ujar Helen ketika ia datang mendekat ketempat Caspian dan Jean yang tampaknya sudah selesai bertanya pada pria berjubah itu.
"Aku curiga ada pihak dalam yang membocorkan informasi ini. Pria itu tidak mau berbicara sedikitpun" jawab Caspian yang terlihat gusar.
"Apa mungkin dia salah satu dari mereka yang kecewa terhadap turunnya tuan putri dari tahta?" Helen bertanya.
"Alasannya sangat tidak jelas" saut Jean yang masih menatap pria yang mulai terlihat sekarat itu. Bahkan nampak pria itu berusaha keras hanya untuk menarik nafas.
"Dan apa itu? Apakah itu kristal Arcane?" Tanya Helen saat melihat sebuah batu kristal berwarna orange bening berbentuk persegi seukuran tiga jari, tampak tertanam tepat di ulu hati pria itu.
"Sepertinya. Kemungkinan itu juga yang jadi alasan kenapa pria itu memiliki kemampuan dan kekuatan yang dasyat seperti itu" ucap Caspian.
__ADS_1
"Mengapa kau menanam kristal Arcane ini dalam tubuhmu?" Tanya Helen begitu mendekat ke pria tersebut. Pria itu hanya tersenyum kecil tak berniat menjawabnya.
Gadis berjirah itu berjongkok mengamati kristal yang ada di dada pria tersebut. Ia merasa penasaran bagaimana cara menanam kristal pada tubuh seseorang. Apakah itu menyakiti pemakainya?
"Sayang sekali, ternyata aku telat" tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan diantara mereka. "Aku tak akan menyentuhnya jika aku jadi kau" tambah suara tersebut saat terlihat Helen akan menyentuh kristal oranye di dada pria tersebut.
"Siapa kau?" Ucap Caspian yang terkejut mendapati sesosok gadis Elf yang hanya setinggi pundaknya itu sudah berada diantara mereka. Caspian sudah menyiapkan tangannya diatas gagang pedang, siap mencabut dari sarung di pinggannya.
Tak jauh berbeda dengan Caspian, Jean dan Helen juga menanggapi hal tersebut dengan segera memasang kuda-kuda siap menyerang.
Menyikapi hal tersebut Lily juga terlihat menyiapkan tongkatnya kembali, meski ia berada di posisi yang cukup jauh.
Melihat reaksi dari Lily membuat Aksa dan Nata terkejut dan segera bangkit dan bersikap waspada. Naluri yang baru saja mereka pelajari setelah kejadian sebelumnya tadi.
"Wah! Loli Elf akhirnya datang juga!" Saut Aksa setelah mengamati situasi sekitarnya.
"Seorang Elf? Mengapa ia tidak terlihat seperti Val?" Tanya Nata saat melihat sosok gadis Elf yang memiliki warna kulit tidak sepucat Val, dan memiliki rambut berwarna kuning kehijauan itu.
Elf itu berperawakan seperti anak perempuan berumur 15 tahun. Mengenakan baju berlapis senada dengan warna rambutnya, berbahan seperti sutra namun berkilauan saat terkena cahaya. Rambutnya di kuncir kuda sepanjang punggung.
"Dia dari Marga lain" jawab Lily pendek.
"Dan lagi, dari mana datangnya?" Tanya Nata lagi.
__ADS_1
-