
Lewat tengah malam di pos jaga tak jauh dari pantai pesisir timur, tampak tiga prajurit sedang melakukan giliran jaga malam.
Bulan separuh masih terlihat sangat terang diantara bintang dilangit gelap. Pantulan sinarnya tampak bergerak-gerak diatas lautan.
"Situasi sudah mulai bertambah gawat akhir-akhir ini" ujar seorang Morra dengan rambut ikal, mengenakan seragam prajurit tanah Pharos.
"Benar. Semenjak penutupan jalur selatan oleh kerajaan Urbar. Mereka memang sedang mencari masalah dengan kita" jawab pria Morra lain yang berbadan tinggi tegap, yang juga mengenakan seragam prajurit tanah Pharos.
"Dengar-dengar, penyebab semua hal itu adalah nona Anna dan tuan Nikolai yang datang ketanah ini" prajurit yang berambut ikal tadi menjawab.
"Kurasa bukan. Kurasa para bangsawan diluar sana lah, yang merasa iri akan kemajuan dan keberhasilan tanah ini" kali ini pria lain yang ikut menjawab. Masih seorang Morra dengan seragam prajurit tanah Pharos. Yang tampak mengenakan helm pelindung dikepalanya.
"Bisa jadi. Tapi memang akan banyak orang-orang yang seperti itu, diluar sana. Apa lagi yang tidak pernah mengenal sosok tuan putri" yang berbadan tegap menjawab.
"Andai saja para Yllgarian itu mau membantu. Kita jadi tidak akan kekuarang orang seperti sekarang" prajurit berhelm itu berucap lagi.
"Tapi memang seperti itukan, watak mereka?" Yang berambut ikal menjawab.
"Tapi ini kan tanah mereka juga. Mereka juga tinggal disini" prajurit berhelm menjawab balik.
"Sudahlah, kita tidak usah membicarakan para Yllgarian. Ayo kembali berjaga" saut yang berbadan tegap itu sambil berjalan keluar dari pos jaga. Yang diikuti oleh yang berambut ikal tadi.
Prajurit berbadan tegap itu tampak menarik tubuhnya keatas untuk melemaskan otot. Lalu tiba-tiba sebuah anak panah menembus kepalanya.
"Poe!" Teriak si ikal yang terkejut mendapati temannya sudah tergeletak ditanah dengan bersimbah darah. Namun dengan cepat prajurit itu sadar akan situasi yang sedang terjadi. "Peringatkan semuanya. Kita diserang! Ada serangan!" Selesai berteriak, tampak sebuah anak panah menembus kepala pria berambut ikal tersebut.
"Finn..." prajurit yang mengenakan helm itu segera berjongkok menatap kedua jasad temannya dengan wajah ketakutan. Lalu masih dalam posisi setengah membungkuk ia berlari untuk memberi tahu prajurit yang lain.
-
Raungan suara sirine tambang mengejutkan trio pemburu yang sedang tertidur ditempat tinggal mereka di pemukiman para penambang.
"Ada apa?" Huebert terlihat tekejut menatap berkeliling.
__ADS_1
"Aku melihat api dari arah pantai" ujar Deuxter yang sudah berada di ambang jendela.
"Apakah ada penyerangan?" Huebert bertanya yang kali ini sudah beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku mendengar suara pedang beradu. Ayo!" Ujar Loujze yang bahkan sudah berpakaian lengkap diujung pintu.
Tanpa harus diperintah dua kali, Deuxter dan Huebert segera bersiap dan bergegas menuju kearah desa.
"Kuharap kita tidak terlambat" ucap Deuxter saat mereka meninggalkan area pemukiman para penambang.
Sesampainya mereka di dekat desa, tampak puluhan prajurit tengah berperang. Beberapa terlihat sedang melindungi para penduduk desa. Prajurit lawan tampak mengenakan pelindung besi di pundak, dada dan kaki, sama seperti prajurit Pharos. Hanya saja mereka menggunakan senjata pedang dan tameng, sedangkan prajurit Pharos tidak membawa tameng, namun memakai helm. Sementara cahaya jingga dari api yang membakar desa terlihat menambah kengerian suasana.
"Apa yang terjadi? Apa Urbar melakukan serangan terlebih dahulu?" Tampak Deuxter tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Ayo cepat kita selamatkan para penduduk, Dex!" Teriak Loujze menyadarkan Deuxter yang sempat melamun sesaat.
Loujze langsung berlari dengan cepat menuju kearah desa. Disusul Deuxter dibelakangnya. Tampak ia sudah mengeluarkan senjatanya.
Senjata itu terlihat seperti sebuah pistol namun berlaras panjang. Seperti busur silang yang ia punya. Aksa menamai senjata tersebut dengan 'Senapan Laras Panjang'.
Tampak pula sebuah tabung berisi tekanan udara setinggi pinggangnya dan sebuah wadah dengan ukuran yang sama, berisi pasak kayu sepanjang telapak tangannya.
Huebert memasang sebuah pipa besi yang terlihat lentur dari tabung udara ke bagian bawah senapannya. Lalu setelah mengisi pelurunya, ia mulai membidik kearah para prajurit lawan dari balik bayang-bayang pepohonan.
Satu, dua, tiga, dan hitungan tubuh prajurit lawan yang terjatuh terus bertambah.
Sementara Deuxter yang kini sudah mempersenjatai dirinya dengan pedang dan sebuah pisau sedang, mulai maju menerjang para prajurit lawan yang mengincar penduduk desa yang mencoba melarikan diri menuju kearah hutan Sekai. Pedang nya juga dilengkapi dengan listrik pelumpuh.
Prajurit lawan yang terkena pedangnya segera terjatuh lemas, dan kesempatan itu digunakan Deuxter untuk menusukan pisaunya menghabisi nyawa prajurit tersebut. Dan dengan cara itulah, Deuxter berhasil bertahan dan bahkan menghabisi puluhan prajurit yang mengejar penduduk desa.
Sedang Loujze disamping busur silang kecilnya yang sekarang terpasang langsung di pergelangan lengan kanannya, juga membawa sebuah sarung tangan yang memiliki besi tajam pada bagian buku-buku jarinya. Yang juga dilengkapi dengan listrik pelumpuh.
Ia memasuki desa untuk mencari sisa penduduk yang masih tinggal. Atau yang terjebak didalam api. Dan juga menghabisi prajurit lawan yang ia temui disepanjang jalannya.
__ADS_1
Dan karena meraka kalah jumlah, maka prajurit lawan berhasil mendesak mundur prajurit Pharos. Mereka mundur dengan tetap melindungi para penduduk desa menuju ke hutan Sekai.
Tampak Huebert yang sudah kehabisan anak panah, segera berlari keluar dari persebunyiannya dan membantu para prajurit melindungi penduduk desa. Sementara Deuxter mulai kualahan mencoba bertahan dari dua orang prajurit sekaligus.
Sedangkan Loujze kini terlihat kehabisan stamina menghadang lima orang prajurit. Ia sudah tak mampu mengelak saat prajurit keenam mencoba menyerangnya dari belakang.
Namun di saat Loujze sudah bersiap menerima serangan tersebut, tiba-tiba sesosok menerjang prajurit tersebut dari samping. Dan kemudian tampak menyusul beberapa sosok serupa juga dengan cepat menyergap sisa prajurit yang lain, satu persatu.
Loujze belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi, saat kemudian terdengar pekikan yang mengganggu, yang dibarengi dengan suara puluhan kepakan sayap.
Tampak puluhan Yllgarian berwujud manusia kelelawar terbang berkawanan melewati atas Loujze.
Kemudian disusul dengan keributan yang lain dari arah hutan Sekai. Tampak beberapa Yllgarian serupa manusia beruang berlari membabi buta menyerbu kearah prajurit lawan.
Baik Loujze, Deuxter, dan Huebert tampak terkejut dan mulai merasa lega, saat mengetahui itu adalah bantuan.
Loujze juga akhirnya menyadari, bahwa sosok bayangan yang menyergap para prajurit tadi, adalah Yllgarian berwujud manusia macan kumbang.
Melihat kesempatan tersebut, segera digunakan oleh Loujze, Deuxter, Huebert, dan sisa prajurit Pharos untuk melanjutkan pengamanan para penduduk desa menuju hutan Sekai.
Sedang bagi lawan ini merupakan pemandangan yang sangat mengerikan. Puluhan prajurit terlihat mulai panik dan melarikan diri saat menghadapi amukan ganas dari lima belas beruang. Juga serangan puluhan kelelawar dari atas, dan terjangan mematikan dari para macan kumbang.
Dan ketika sisa para prajurit yang mulai panik itu mencoba berlari mundur, tiba-tiba jatuh dari angkasa puluhan manusia setengah banteng yang menutupi jalur menuju kearah bibir pantai. Begitu mendarat, para Yllgarian banteng itu segera berlari menyerudukan tanduk mereka kearah para prajurit tadi.
Tampak diangkasa terlihat kawanan Yllgarian serupa manusia burung hantu. Mereka lah yang tadi mengangkat para Yllgarian banteng tersebut dan menurunkannya di belakang para prajurit lawan.
Sedang kawanan burung hantu itu tidak ikut membantu yang lain menyerang prajurit lawan. Yang menjadi sasaran mereka adalah kapal-kapal yang membawa para prajurit tadi menuju ke pesisir timur.
Dan setelah menemukan persembunyian kapal-kapal tersebut, yang berada di balik sebuah karang disisi selatan, para Yllgarian burung hantu itu mulai membuat formasi. Lalu tampak mereka menukik kebawah dan mulai menyambar para prajurit yang terlihat diatas dek kapal. Dan kemudian melemparnya jauh kelautan.
Pemandangan puluhan prajurit yang terlempar kelaut dibawah sinar bulan yang hanya separuh itu, tidak kalah mencekamnya dibanding serangan empat klan Yllgarian di pesisir timur tadi.
-
__ADS_1