
"Bagaimana dengan para Jendral dan pemimpin Estat, saat ini, Xig?" tanya Tyrion sehari setelah mereka tiba di kota Gan.
Mereka tinggal di salah satu kediaman bangsawan kerajaan Joren, kenalan Tyrion. Di sisi selatan kota tersebut.
"Saat ini hanya beberapa dari mereka yang masih melakukan perlawanan dengan mencoba melakukan gerakan pemberontakan." Xiggaz menjawab dari tempat duduk di seberang Tyrion dalam ruang kerja tersebut. "Sedang keluarga kerajaan sekarang berada di selatan wilayah Galasium. Di kediaman keluarga sang Ratu," lanjutnya kemudian menambahi.
"Apa tidak ada satupun dari anggota keluarga kerajaan yang melakukan gerakan perlawanan?" Tyrion bertanya lagi.
"Tidak ada, Tuan." Xiggaz menggeleng pelan. "Sepertinya keluarga kerajaan mendapat peringatan sekaligus keringanan dari wilayah Tanah Mati. Dengan hanya menghukum mati Paduka Raja dan membiarkan darah keturunan dan keluarganya yang lain tetap hidup, asal mereka menjauh dari region tengah ini," tambahnya menjelaskan.
"Hm... begitu ternyata," ujar Tyrion seraya mengangguk kecil mendengar penjelasan Xiggaz. "Wilayah Tanah Mati itu selalu melakukan hal yang beresiko. Pasti karena pemimpin mereka yang naif dan kurang akan pengalaman itu terlalu percaya diri akan keputusan seperti itu," ucap Tyrion lagi yang lebih untuk dirinya sendiri.
"Saya juga tidak mengerti dengan hal tersebut, Tuan. Keputusan-keputusan yang mereka ambil memang sangat aneh," ujar Xiggaz menjawab. "Bahkan mereka melepaskan saya dan beberapa tahanan kota Guam. Tanpa menanyakan apapun," lanjutnya seraya menggeleng tidak percaya.
"Terlebih penting sekarang, siapa saja orang-orang yang masih melakukan perlawanan?" Tyrion mengajukan pertanyaan baru dan melanjutkan topik pembicaraan mereka.
"Di bagian barat daya, di wilayah Estat Nabradia dan Solidor, Tuan Julius dan Tuan Orinus memimpin sebuah gerakan pembrontakan untuk mengambil kembali wilayah tersebut," jawab Xiggaz cepat. "Sementara Tuan Arias melakukan penyerangan di perbatasan barat wilayah Estat Cleyra." Tampak ia menjedah ucapannya untuk menarik nafas pendek, sebelum meneruskannya lagi. "Juga di perairan sekitar kota Xin, Tuan Galvin mengordinasi mantan pelaut kerajaan untuk menghadang dan menyerang semua kapal yang keluar masuk kota tersebut. Sedang Tuan Vistralle tengah melakukan gerakan bawah tanah di wilayah Ceodore dan sekitarnya."
"Apa menurutmu kita bisa menghubungi dan mengajak mereka menyatukan kekuatan?" Tyrion bertanya sambil bertopang dagu. Terlihat seolah sedang ikut memikirkan jawaban atas pertanyaannya baru saja.
"Mungkin beberapa kepala Estat akan sulit untuk menerima Anda kembali, Tuan Tyrion." Xiggaz menjawab dengan jujur, meski terdengar ragu dan berhati-hati.
"Ya, aku juga sadar akan hal itu. Tapi kita tetap harus menghubungi mereka. Karena ini semua demi kebaikan kita bersama," ucap Tyrion menjawab.
"Baiklah, akan saya usahakan untuk sebisa mungkin mengundang mereka semua kemari," ucap Xiggaz seraya mengangguk paham.
"Lalu bagaimana dengan kerajaan lain di wilayah selatan ini, Xig? Ada di pihak mana mereka terhadap wilayah Tanah Mati?" tanya Tyrion lagi.
"Menurut kabar yang saya dapat, beberapa keluarga bangsawan kerajaan lain tampak berseberangan dengan wilayah Tanah Mati tersebut. Meski kerajaan secara resmi tidak mengiyakan hal tersebut.
"Sudah jelas mereka tidak akan berpihak ke wilayah yang dapat mengambil alih satu kerajaan hanya dalam waktu satu malam saja," ucap Tyrion menanggapi. "Bisakah kau atur juga, supaya orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama dengan kita itu, datang kemari untuk melakukan pertemuan, Xig?" tanyanya kemudian.
"Mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lama, Tuan. Tapi akan saya usahakan untuk secepatnya," jawab Xiggaz dengan cepat seperti biasa.
"Bagus, Xig. Tidak apa-apa lambat. Sekarang ini yang lebih penting adalah para kepala Estat dan jendral-jendral itu dulu,"
"Apa Anda benar-benar sudah yakin akan melakukan hal tersebut, Tuan Tyrion? Jendral dan kepala Estat itu tidak akan senang melihat kehadiran Anda," tanya Xiggaz yang tampak mengkhawatirkan tuannya itu.
"Ya, aku sudah bisa membayangkan reaksi mereka sekarang ini. Tapi kita tetap harus lakukannya," balas Tyrion terlihat sedikit pasrah.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Tyrion. Saya akan segera mengundang mereka," ucap Xiggaz seraya berdiri dari tempat duduknya, sebelum kemudian meminta ijin meninggalkan ruangan tersebut.
"Ini akan jadi pertemuan yang meriah," ujar Tyrion saat melihat sosok Xiggaz hilang di balik pintu ruangan.
-
Tiga hari kemudian di ruang tengah kediaman bangsawan tempat Tyrion tinggal itu, tampak enam pria Narva dengan pakaian mewah khas para bangsawan. Sedang empat di antaranya menggunakan plat besi pelindung dan menenteng pedang di pinggang mereka.
Mereka berenam itu adalah para kepala Estat dan mantan Jendral kerajaan Urbar yang berkenan hadir memenuhi undangan Xiggaz. Dari dua puluh empat undangan yang telah disebar.
Mereka berenam tidak menunggu lama di dalam ruangan tersebut. Tyrion segera memasuki ruangan tepat beberapa waktu setelah mereka berenam masuk.
Semua orang tampak terkejut melihat Tyrion muncul dari balik pintu bersama Xiggaz.
"Berani-beraninya kau muncul lagi di hadapan kami, Tyrion? Apa kau sudah bosan hidup?!" Salah satu pria yang berwajah tegas berambut sedikit panjang dan acak-acakan itu segera bangkit berdiri setelah melihat Tyrion.
Tampak yang lain juga ikut berdiri, menyusul pria tersebut. Semua terlihat terkejut akan kehadiran Tyrion. Sementara Tyripn sendiri hanya tersenyum kecil. sambil tetap berjalan mendekat.
"Kau memang pengecut yang sudah bosan hidup, ternyata." Tampak pria Narva yang lain, yang memiliki brewok lebat di wajah, mulai menarik pedangnya dari sarung yang tergantung di pinggang. "Berani-beraninya kau muncu, di saat-saat seperti ini?" ucapnya lagi dengan nada yang dibalut rasa kesal.
Xiggaz tampak panik melihat bilah pedang yang kini terhunuskan ke arah Tyrion.
"Tahan, Tuan Julius! Tu-tunggu sebentar," sahut Xiggaz dengan tergagap. Mencoba menahan pria itu bertindak lebih jauh lagi.
"Tahan dulu, Julius." Terdengar suara mencegah dari belakang pria berpedang itu.
"Mau tunggu apa lagi, Vistralle? Dia adalah orang yang menghancurkan kerajaan kita dan menyebabkan Paduka Raja kehilangan nyawa," balas pria berpedang yang dipanggil Julius itu terlihat tidak terima.
"Sabar. Tenang dulu, Julius. Kehadiran ku kemari bukan karena aku bosan hidup. Justru sebsliknya. Aku ingin kehidupan lamaku kembali," jawab Tydion dengan tenang seraya mengangkat kedua tangannya. Tanda ia menyerah.
"Kau sudah tidak memiliki kehidupan lagi di wilayah selatan ini, Tyrion," ucap seorang pria Narva lain yang tampak mengenakan baju berwarna merah gelap, yang berdiri paling belakang dari keenam pria yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Benar, hanya pedang inilah pilihan mu sekarang, Tyrion!" sahut Julius dengan lantang.
"Tak perlu berteriak, Julius. Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku sebelum kau menggunakan pedang liar mu itu. Mari kita berbicara selayaknya bangsawan beradab," jawab Tyrion yang masih mengangkat kedua tangannya ke atas, di hadapan pedang yang terhunus ke arah wajahnya.
__ADS_1
"Bedebah, kau masih mau bersilat lidah sekarang? Aku tidak perduli akan penjelasanmu. Orang seperti mu harus mati di tanganku!" Dan tanpa ada yang berusaha mencegah, Julius dengan cepat menarik pedangnya, dan kemudian menebaskannya ke kepala Tyrion.
"Aku punya cara dan kekuatan untuk mengambil alih wilayah kerajaan kita!" Sahut Tyrion dengan cepat sebelum tebasan pedang Julius bebar-benar mengenainya, seraya melempar sesuatu yang berdentang kencang saat menghantam meja.
Mendengar ucapan Tyrion dan suara keping logam menghantam meja tadi, membuat Julius menghentikan tebasannya di tengah jalan.
Yang lain tampak cukup terkejut saat mengenali keping logam yang terbuat dari perunggu di atas meja tersebut. Yang satu memiliki gambar seperti bulan sabit, dan yang satu lagi memiliki gambar seperti akar pohon yang menyebar secara simetris.
"Ini medali perjanjian dengan para Mugger dan Lycan?" Terdengar seorang pria Narva lain yang memiliki perut sedikit buncit, berucap dengan nada tidak percaya setelah mengambil kepingan logam tersebut untuk memastikan.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan mendali ini?" kali ini Julius yang bertanya dengan wajah tidak percaya.
"Sekarang apa aku sudah cukup menarik minat kalian semua?" ujar Tyrion yang perlahan menurunkan tangannya dan membenahi letak kerah jas rangkapannya.
"Baiklah, Tyrion. Kau boleh jelaskan, apa maksudmu dengan rencana mengambil alih wilayah kerajaan kita? Tapi jangan bertele-tele," ujar pria Narva yang tadi menahan Julius. Yang memiliki rambut panjang terkuncir rapi ke belakang.
"Ini tidak akan lama. Aku akan langsung ke intinya. Bila kalian tidak tertarik dengan apa yang akan aku bicarakan ini, maka aku akan segera menghilang dan tidak akan menginjak region tengah ini lagi untuk selamanya," jawab Tyrion seraya berjalan menuju ke salah satu tempat duduk yang ada di dekatnya. Kemudian mempersilahkan yang lain untuk duduk juga, dengan gerakan tangan.
Semua orang terlihat memaksakan menahan diri. Meski jelas terlihat kekesalan di wajah mereka semua, tapi mereka mencoba memberikan waktu pada Tyrion untuk berucap.
"Ayo cepat, segera jelaskan maksudmu," ucap pria berperut sedikit buncit tadi setelah yang lain sudah duduk di kursi di hadapan Tyrion.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan langsung pada pokok masalahnya. Saat ini aku ingin mengajukan sebuah koalisi kepada kalian semua," ucap Tyrion kemudian.
"Koalisi? Kau?" potong Julius yang terlihat tidak mengerti dengan maksud ucapan Tyrion itu.
"Di samping perjanjian dengan Mugger dan Lycan, aku juga mendapat bantuan dari wilayah utara," ucap Tyrion melanjutkan penjelasannya.
"Dari wilayah utara?" Kali ini giliran pria Narva berambut panjang dikucir yang menyela dengan pertanyaan.
"Benar, Vistralle. Dan aku juga akan meminta kerajaan-kerajaan di daratan ini untuk ikut bergabung," ucap Tyrion kemudian. "Namun sebelum itu, aku ingin kalian juga ikut dalam koalisi ini," lanjutnya kemudian.
"Kau ingin mengajak kerajaan-kerajaan daratan selatan ini untuk bersatu melawan Tanah Mati itu?" tanya pria Narva berambut panjang yang dipanggil Vistralle itu.
"Iya. Kita harus menyatukan kekuatan untuk menjatuhkan wilayah Tanah Mati itu. Dan oleh karena itu, aku memerlukan kemampuan kalian dan juga beberapa orang-orang kita yang sekarang tengah bekerja di wilayah tersebut," jelas Tyrion kemudian. "Ini bukan lagi tentang aku saja. Tapi ini tentang mengambil kembali tanah kita," ujarnya menambahi.
Semua orang terlihat diam memikirkan ucapan Tyrion tersebut.
"Apa kau yakin bisa membuat kerajaan lain ikut dalam koalisi yang akan kau buat ini?" pria berperut sedikit buncit itu bertanya.
"Namun bila kerajaan-kerajaan itu membantu kita, pasti pada akhirnya mereka akan meminta upah. Apa yang akan kau janjikan pada mereka? Apakah sebagian dari wilayah kita?" ucap Vistralle menyahut.
"Jelas aku akan menjanjikan mereka sesuatu. Dan hanya wilayah lah, sebuah penawaran yang paling masuk akal," jawab Tyrion dengan tegas dan penuh percaya diri.
"Jadi kau hendak merebut tanah itu hanya untuk kau jual lagi ke kerajaan lain?" Julius terdengar mulai sewot.
"Karena itu jalan terbaik yang kita punya saat ini. Kita bisa mengambil alih tanah kita lagi kelak. Karena kita tahu dan mampu untuk mengimbangi kekuatan kerajaan-kerajaan di daratan selatan ini. Tapi lain halnya bila kita berurusan dengan wilayah Tanah Mati tersebut. Kita tidak akan bisa mengimbangi mereka. Baik saat ini, atau malah nanti saat mereka sudah semakin besar," jelas Tyrion panjang lebar. "Jadi saat ini perhatian utama kita adalah untuk melenyapkan wilayah Tanah Mati itu terlebih dahulu. Bila tidak, jangankan memiliki wilayah, pada akhirnya dengan kekuatan yang mereka milik, mereka akan menguasai seluruh daratan selatan ini," tambahnya kemudian.
Semua orang terlihat terdiam memikirkan ucapan Tyrion yang terdengar masuk akal itu.
"Karena saat ini adalah kesempatan kita. Selagi mereka masih mungkin untuk di hancurkan, dan selagi mereka masih belum cukup handal dalam mengambil kelutusan." Tyrion menambahi untuk meyakinkan yang lain.
"Aku tertarik dengan tawaranmu itu, Tyrion," ucap Vistralle kemudian yang mengejutkan yang lain.
"Vistralle, apa kau sungguh-sungguh?" Julius mencoba meyakinkan Vistralle atas keputusannya.
"Tapi kita harus bicarakan hal ini terlebih dahulu. Tentang bagaimana pengaturan tugas serta kepemilikan wilayah yang akan didapat kedepannya," ucap Vistralle tanpa memperdulikan Julius atau yang lainnya.
"Ya, ini baru yang namanya pertemuan bangsawan beradab. Ayo kita bicarakan hal tersebut, Tuan Vistralle Ceodore." Tampak Tyrion mulai tersenyum.
-
-
Selepas pertemuan dengan kepala Estat dan para Jendral tersebut, mereka pun melanjutkan pertemuan-pertemuan lainnya dan mulai menghubungi rekan-rekan mereka yang lain untuk semakin memperbesar kekuatan yang mereka miliki.
Dan genap seminggu kemudian, giliran Tyrion mempertemukan para kepala keluarga bangsawan berpengaruh di wilayah kerajaan lain di sekitaran region tengah tersebut.
Masih di ruang yang sama di kediaman tempat tinggal Tyrion sementara itu, kini sudah ada lima pria Narva yang duduk mengelilingi meja panjang yang terletak di tengah ruangan. Tidak terkecuali Tyrion yang sudah lebih dulu berada di tempat itu sebelum yang lain tiba.
"Jadi tentang apa semua ini sebenarnya, Tuan Tyrion? Anda tiba-tiba saja menghilang di saat yang sangat genting bagi kerajaan Anda, dan kemudian kembali muncul setelah semuanya selesai," ucap seorang pria Narva berbadan atletis dengan pakaian mewah berwarna coklat tua, yang duduk di sebelah kanan Tyrion.
"Apa yang seorang pengecut seperti Anda inginkan, sampai harus menggunakan muslihat seperti ini untuk mempertemukan kami disini? Apa Anda sedang meminta belas kasih untuk tempat tinggal?" Pria berperawakan tinggi kurus dengan rambut belah tengah yang duduk di sebelah kiri Tyrion, menambahi.
Terlihat Xiggaz yang berdiri di belakang Tyrion tampak tidak terima dengan ucapan dari pria Narva tersebut.
__ADS_1
"Jangan salah menduga dulu, Tuan Thancred. Mungkin ada kesalah pahaman tentang kenyataan yang sedang terjadi terhadap kepergian saya dari kerajaan Urbar," ujar Tyrion menjawab dengan tenang. "Baiklah, untuk permulaan saya akan menjelaskan alasan tentang menghilangnya saya dari tanah selatan ini." Tyrion menjedah, kemudian menegakan punggungnya mencoba mencari posisi yang nyaman untuk bercerita.
"Pertama-tama saya menghilang bukan karena ingin melarikan diri dari tanggung jawab. Tapi saya telah dikhianati oleh kerajaan saya. Garis bawahi kalimat tersebut. Mereka ingin menjual saya ke wilayah Tanah Mati, sebagai ganti dari berhentinya serangan wilayah penjajah itu," ucapnya kemudian.
"Anda boleh menanyakan pada orang-orang penting di kerajaan Urbar tentang hal tersebut. Panglima, Pemimpin Estat, atau Penasehat Kerajaan. Mereka pasti akan menceritakan hal yang sama seperti yang telah saya ceritakan. Mereka pasti sudah menyerahkan saya bila saya tidak segera melarikan diri dari kerajaan tersebut." Tyrion tampak menjedah lagi. Beberapa orang masih terlihat tidak percaya dengan cerita tersebut.
"Tapi itu hak Anda sekalian untuk percaya atau tidak. Namun yang pasti menyerah dan menunjuk kambing hitam bukanlah jawaban untuk menghadapi wilayah tersebut," ucap Tyrion melanjutkan. "Pasti Anda sekalian juga paham akan hal tersebut.
"Lalu mengapa baru sekarang, Anda kembali?" Pria berperawakan tjnggi kurus yang tadi di sebut dengan Thancred bertanya lagi.
"Saya menghilang juga tidak hanya untuk bersembunyi saja. Saya juga mencari segala bantuan yang bisa saya dapatkan untuk melawan balik wilayah Tanah Mati tersebut," jawab Tyrion dengan cepat. "Namun tampaknya karena usaha saya selalu saja di halangi, maka saya baru mendapat bantuan tersebut setelah semuanya sudah terlambat."
Semua orang terlihat mulai merubah pandangan mereka terhadap Tyrion setelah mendengar ucapannya tersebut.
"Yah, sebenarnya itu merupakan hal memalukan dari kerajaan Urbar untuk di ceritakan di sini. Tapi agar semua menjadi jelas dan untuk menghindari adanya kesalah pahaman, maka saya harus menceritakan hal ini di awal," Tyrion masih mendominasi percakapan dalam ruangan tersebut. "Jadi bagaimana? Sekarang Anda sekalian sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan?"
"Saya tidak terlalu perduli dengan alasan Anda, Tuan Tyrion. Tapi yang jelas kini kerajaan Urbar sudah tidak ada lagi. Lalu apa yang Anda inginkan dengan mengumpulkan kami di sini?" ucap seorang pria Narva dengan kumis melintang lebat di bawah hidungnya.
"Apa ini masih tentang wilayah Tanah Mati itu?" Pria Narva berbadan atletis tadi mencoba menebak.
"Benar, Tuan Kilfe. Ini masih tentang wilayah Tanah Mati tersebut. Karena jelas untuk hal ini, kita tidak boleh tinggal diam saja, kan?" jawab Tyrion cepat. "Tempat itu adalah ancaman bagi semua wilayah di dataran Elder ini. Dan cepat atau lambat, dengan kekuatan yang mereka miliki, kita semua akan ditaklukan," lanjut Tyrion menjelaskan.
"Tapi memang benar, wilayah itu adalah sebuah ancaman. Dengan kekuatan yang mereka miliki, yang tidak dapat kita lampaui, perdamaian yang terbentuk sekarang bukan lah sebuah perdamaian yang nyata," ucap satu-satunya pria Narva yang mengenakan zirah pelindung di ruangan tersebut. "Karena perdamaian nyata itu adalah, bila semua wilayah memiliki kemampuan yang sama. Dan menjaga keseimbangan kekuatan tersebut. Bila seperti ini, kita hanya tinggal tunggu waktu saja sampai mereka mulai mengusik kita kedepannya," jelasnya panjang lebar.
"Saya juga setuju. Sekarang, perdamaian terjadi hanya ketika mereka tidak ingin menyerang. Bila suatu saat mereka ingin menyerang salah satu dari wilayah di dataran selatan ini, maka kita semua tidak akan ada yang dapat menandinginya." Pria Narva setengah baya yang duduk di sebelah pria berzirah tadi ikut menambahi.
"Maka dari itu, kita harus bekerja sama. Saya sudah membuat hubungan dengan kerajaan di sisi utara. Mereka semua juga merasa gerah dengan wilayah tersebut," ujar Tyrion menanggapi.
"Apa mereka juga mengusik wilayah utara? Yang kudengar, mereka menjalin kerjasama dengan kerajaan Estrinx. Dan pemimpin mereka adalah keturunan dari kerajaan Elbrasta. Bagaimana wilayah utara bisa geram dengan mereka? Anda jangan memcoba menyesatkan kami, Tuan Tyrion," ujar pria berkumis tadi mencoba memastikan masuk perkataan Tyrion.
"Saya tahu Tuan Hiral masih belum percaya pada saya secara penuh. Tapi selama ini saya berada di wilayah utara. Dan tampaknya aturan mengenai penghilangan kasta serta hak kebangsawanan itu membuat banyak keluarga bangsawan utara merasa kesusahan," ujar Tyrion menjawab. "Para budak dan beberapa penduduk mereka mulai terpengaruh dengan pemikiran tersebut. Dan tak sedikit dari mereka yang melakukan protes, juga tak sedikit yang meninggalkan wilayah dan tuan mereka," lanjutnya menjelaskan.
Semua orang terlihat kembali terdiam memikirkan ucapan Tyrion yang terdengar masuk akal itu.
"Saya tahu sekarang mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa kita hadapi seorang diri. Tapi sekarang ini belum terlambat. Kita masih dapat menghancurkan mereka, sebelum mereka sudah tidak mungkin lagi dikalahkan," tambah Tyrion lagi di tengah kesunyian.
"Tapi senjata yang mereka punya benar-benar sangat kuat. Pasukan kami pernah melawan pasukan mereka saat menyerang Tanah Suci. Pasukan mereka mungkin tak lebih dari lima puluh orang, namun berhasil memukul mundur seribu pasukan yang kami punya. Benar-benar tidak masuk akal. Lalu bagaimana cara kita mengalahkan senjata yang seperti itu?" pria paruh baya tadi berucap. "Saya tidak sependapat dengan rencana yang sembarangan. Yang membuat prajurit kita gugur dengan percumah saja," lanjutnya kemudian.
"Biar saya saja yang mengalami hal seperti itu, Tuan Salire. Prajurit yang gugur dengan sia-sia itu tidak akan pernah terjadi lagi," jawab Tyrion.
"Apa Anda memiliki rencana, Tuan Tyrion?" Pria baya yang disebut Salire itu bertanya.
"Saya punya. Seperti yang mungkin sudah Anda sekalian tahu. Wilayah itu masih tergolong baru, dan dengan wilayah sebesar itu untuk dijaga dan dikelola, mereka harus mempekerjakan sebanyak mungkin orang. Tanpa melihat latar belakangnya." Tyrion kembali berucap. "Jadi masih sedikit sekali orang-orang yang memiliki loyalitas terhadap tanah itu sekarang ini. Dan saya juga sudah berhasil menghubungi orang-orang saya yang sekarang bekerja di wilayah itu. Jadi kita akan mulai mencari kelemahan wilayah tersebut, serta rahasia dari senjata-senjata mereka," lanjutnya kemudian.
Untuk kesekian kalinya, ucapan Tyrion membuat orang-orang yang berada di tempat itu terdiam dan berpikir.
"Tapi saya masih tidak bisa mempercayai Anda begitu saja setelah apa yang terjadi, Tuan Tyrion," ucap Hiral membuyarkan pemikiran yang lainnya.
"Saya mengerti sekali dengan pemikiran Anda, Tuan Hiral. Mungkin ini akan membuat anda sekalian percaya. Bahwa kerjasama kita bukan hal main-main." Tyrion mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang ia bawa sedari tadi. Kemudian meletakan tepat ditengah meja.
"Apa ini medali kerajaan Elbrasta? Dan giok itu, kalau tidak salah adalah lambang dari keluarga Crysthea dari Cilum?" Salire tampak terkejut saat mendapati kedua benda yang diletakan Tyrion di tengah meja itu. Dan dengan cepat meraihnya dan mengamatinya dengan teliti.
Sebuah lempengan tipis berbentuk bujur sangkar sebesar telapak tangan, yang terbuat dari campuran perak dan perunggu. Tampak gambar seekor elang yang melebarkan sayap terpahat di salah satu sisinya.
Kemudian sebuah giok berbentuk seperti tabung sebesar jari telunjuk, dengan ukiran bunga berkelopak lima terdapat di bagian bawahnya, dan ukiran seperti ranting berdaun tampak mengelilingi badan tabung tersebut.
"Apa benda itu asli?" Thancred terlihat tidak percaga saat menerima kepingan medali tersebut dari Salire.
"Anda boleh menghubungi orang-orang yang bertanggung jawab atas benda-benda tersebut, bila Anda sekalian menganggap itu barang palsu, atau barang curian," jawab Tyrion dengan tenang.
Kemudian mulai banyak mata-mata yang terlihat menilai dan menyelidik ke arah Tyrion. Mereka tampak menimbang apakah yang dikatakan Tyrion jujur atau tipuan. Apa motivasi Tyrion yang sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai memenuhi isi kepala semua orang yang ada di tempat tersebut dalam diam.
"Dan bagi Anda sekalian yang beranggapan saya hanya akan memanfaatkan pasukan Anda untuk merebut kembali wilayah Urbar, Anda tidak perlu kuatir. Karena saya juga memiliki pasukan saya sendiri," ucal Tyrion lagi memecah keheningan.
"Apa Anda sudah berhasil mengumpulkan prajurit sisa kerajaan Urbar?" Kilfe bertanya.
"Saya sedang mengusahakan hal tersebut sekarang. Tapi setidaknya saya sudah memiliki seratus pasukan Lycan dan seratus pasukan Mugger. Yang siap digerakan kapanpun," jawab Tyrion dengan percaya diri.
Terlihat meskipun tidak diucapkan, orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut cukup merasa kagum mendengar cerita dari Tyrion sejauh ini.
"Dan anggap saja bila kami mau untuk melakukan kerjasama ini, lalu apa rencana Anda untuk menyerang wilayah tersebut?" tanya Thancred yang terlihat mulai tertsrik dan penasaran.
"Saya hanya bisa menjelaskan rencana saya, bila kita semua telah sepakat dengan kerjasama ini. Jadi bagaimana?" Tampak Tyrion mulai tersenyum samar.
-
__ADS_1