
Disuatu siang yang tenang, tiba-tiba Lucia dikejutkan oleh kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.
Tampak Nikolai datang dengan tergopoh-gopoh ke tenda Lucia. Dan tanpa mengucapkan salam sebelumnya, pria itu langsung duduk bersujud dihadapan Lucia.
"Saya mohon nona Lucia. Mungkin saya tidak patut mengatakan hal ini, karena masih belum membalas budi baik anda sebelumnya. Tapi tolong bantu saya sekali lagi, untuk menyelamatkan orang-orang saya" ucap Nikolai yang tidak bangkit dari posisi bersujudnya.
"Tenang dulu, tuan Nikolai. Ceritakan dulu apa yang sedang terjadi?" Lucia tampak terkejut dan segera mengangkat tubuh Nikolai. Dan menuntunnya dimeja tengah.
"Ceritakan kenapa? Apa yang terjadi?" Lucia mengulang pertanyaannya.
"Tadi siang kami kedatangan orang-orang lama kami... Maaf. Sepertinya saya berhutang penjelasan kepada anda. Jadi kalau tidak keberatan saya akan menceritakan tentang dari mana asal kami, dan bagaimana kami bisa berakhir di pesisir barat tersebut" Nikolai tampak sudah menyiapkan mentalnya.
"Silahkan tuan Nikolai. Kami akan sangat senang mendengarnya" ucap Lucia yang memaksudkan kata 'kami' adalah dirinya, Orland, dan Aksa, yang berada ditenda tersebut.
"Mungkin setelah mengetahui kebenarannya, anda akan berpikir dua kali untuk tetap berhubungan dengan kami. Saya akan hargai. Tapi tolong untuk tidak mengikutkan orang-orang saya"
"Kami akan menilainya setelah anda selesai menceritakannya, tuan Nikolai" ujar Lucia kemudian.
Dan Nikolai pun memulai bercerita. "Jadi, kami sebenarnya berasal dari kota pelabuhan di selatan. Kota Xin. Saya bekerja untuk Anna. Dulu Anna memiliki usaha penyeberangan kapal. Kami punya beberapa kapal. Lalu kemudian kami bertemu dengan seorang bangsawan Narva dari salah satu wilayah selatan bernama Tyrion.
"Kami melakukan perjanjian dagang dengannya untuk mengantar barang dagangan. Menurutnya, barang yang ia kirim itu adalah bahan tambang dari wilayah di ujung barat daratan selatan.
"Namun suatu ketika, kami mengetahuinya bahwa ia sedang menyelundupkan budak ke tanah utara. Setelah kami memastikannya langsung kepada orang tersebut, ia malah melakukan hal licik dengan menjebak kami dan membuat kami terlihat seperti penjahat.
"Kami didakwa oleh banyak kelompok dagang sekaligus. Dan usaha kami tutup. Aset kami habis, dan kami jatuh miskin.
"Tapi karena sifat Anna yang keras dan tidak terima. Ia kemudian mulai membentuk sebuah kelompok bajak laut yang menyerang kapal-kapal yang di duga menyelundupkan para budak dan melepaskannya di pantai di wilaya barat, jauh dari wilayah Tyrion.
"Geram dengan tindakan kami, dia memerintahkan untuk memburu sanak keluarga kami. Dan yang pertama dilakukan oleh Tyrion adalah membunuh seluruh keluarga Anna dan membakar rumah-rumah mereka" Nikolai memberi jedah.
Lucia tampak mengerutkan dahinya. Ia merasa miris mendengar kisah tersebut.
__ADS_1
"Dan kemudian Anna membawa sebanyak mungkin keluarga para pengikutnya yang di duga akan menjadi sasaran berikutnya" Nikolai melanjutkan.
"Apakah orang-orang itu?" Tanya Lucia kemudian.
"Benar. Sebagiannya. Sisanya adalah beberapa budak yang berhasil diselamatkan Anna" jawab Nikolai, "dan rencananya kami akan berlayar kebarat. Ke luar daratan Elder. Tapi sialnya, ombak menghempas kapal kami. Hingga kami terdampar di pesisir barat, satu setengah tahun yang lalu" tambahnya.
"Lalu?" Lucia tampak penasaran dengan kisah setelah itu.
"Sebenarnya kami sudah aman berada ditempat itu. Orang-orang yakin kami sudah mati tenggelam atau berhasil keluar dari laut barat ke samudra lepas" Nikolai kembali melanjutkan ceritanya.
"Sampai tiga bulan yang lalu, beberapa orang-orang kami yang sedang berlayar mencari ikan tidak pernah kembali. Kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka, sampai kemarin beberapa orang menemukan tempat kami.
"Mereka berusaha membawa Anna untuk menukarnya dengan imbalan. Di kota Xin, Anna dicap sebagai buronan yang dihargai dengan dua puluh keping emas untuk yang dapat menyerahkannya hidup-hidup.
"Dan karena mereka yang datang hanya ber lima saja. Maka kami masih dapat menanganinya sendiri. Namun dengan mereka yang tahu tempat persembunyian kami, besar kemungkinan nantinya akan lebih banyak orang datang untuk menangkap Anna.
"Saya tidak meminta untuk menyelamatkan dan menyembunyikan Anna ditempat anda. Saya hanya meminta tolong anda mengijinkan orang-orang kami bersembunyi di balik tebing, di tanah anda. Untuk menghindarkan mereka semua dari bahaya.
"Memang akan kemana anda dan orang-orang anda?" Lucia tampak penasaran.
"Mungkin kami akan memulai hal baru diujung timur daratan utara" jawab Nikolai kemudian.
"Selama kita tidak ikut campur, kurasa tidak akan apa-apa. Toh, tujuan mereka hanya nona Anna saja kan?" Ucap Orland saat Lucia tampak menatapnya, membutuhkan pendapat.
"Benar sekali tuan, hanya Anna yang mereka cari. Jadi bila mereka tidak melihat orang-orang tersebut, mereka tak akan repot-repot untuk mencarinya" saut Nikolai cepat.
"Baiklah, tuan Nikolai. Bawalah orang-orang anda masuk. Kami akan menyiapkan tempat disekitaran wilayah peternakan tuan Selene" jawab Lucia kemudian.
"Terima kasih banyak nona Lucia, terima kasih banyak"
Dan kemudian Nikolai pun bergegas kembali, untuk mulai mempersiapkan orang-orang menuju ke tanah Pharos.
__ADS_1
-
"Bagaimana menurutmu, Aks? Kau tidak berkata apapun tadi" tanya Lucia setelah Nikolai sudah tidak dalam tenda tersebut.
"Memang aku harus berkata-kata? Dia sedang meminta bantuan kepada anda" jawab Aksa seraya sibuk menggambar sesuatu diatas meja.
"Benar, tapi tidak biasanya. Kau tidak menyeletuk ditengah pembicaraan" ucap Lucia lagi dari sisi meja seberang.
"Karena memang tidak ada yang perlu di komentari. Sudah jelas pria itu hanya bermaksud untuk menitipkan orang-orang nya pada anda"
"Maksudmu?"
"Dari cara pria itu berbicara, juga bila apa yang diceritakan tentang perempuan bernama Anna itu benar, maka aku menebak, mereka berdua ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Dan menyerahkan orang-orang mereka kepada anda" jelas Aksa masih belum menatap Lucia.
"Benarkah? Aku tidak merasa tuan Nikolai dan nona Anna akan melakukan hal seperti itu"
"Mereka merasa tidak berdaya. Pria itu sudah putus asa. Apa yang dikatakannya tadi, mirip dengan ucapan anda saat sedang putus asa karena tidak dapat membantu Lugwin" ucap Aksa yang membuat Lucia mengerutkan dahinya. Ia merasa sedikit tersinggung.
"Aku sudah tidak seperti itu sekarang" Lucia membela diri.
"Baguslah kalau begitu. Oh, dan ingat putri. Mereka adalah buronan dari kerajaan selatan. Entah mereka dijebak atau tidak. Mereka tetaplah seorang buronan" kali ini Aksa menatap kearah Lucia.
"Kenapa kau memberitahuku hal tersebut. Aku juga sudah mendengarnya tadi" ucap Lucia yang merasa diremehkan Aksa.
"Nata dan nyonya Amithy sedang berusaha menjalin hubungan dengan kerajaan selatan" Aksa kembali berucap seolah memastikan sesuatu kepada seorang anak kecil.
"Iya, aku tahu itu" saut Lucia sewot.
"Baiklah bila anda sudah tahu" dan Aksa kembali menundukan pandangannya ke kertas di atas mejanya.
Sedang Lucia tampak memasang wajah kesal melihat Aksa memperlakukannya seperti seorang anak kecil.
__ADS_1
-